Perlu Dihindari Kapitalisme di Koperasi

Di dalam UU baru memang terkandung semangat baru yang diharapkan mampu memercepat usaha koperasi Indonesia – menuju anggota sejahtera. “Tetapi perubahan-perubahan itu jangan sampai implementasinya justru mengurangi kegotong-royongan yang menjadi modal dasar koperasi. Gotong-royong, saling tolong-menolong mengatasi kesulitan bersama, dan menuju sejahtera bersama itulah yang diutamakan dalam berkoperasi,” tutur Ketua Koperasi Tankers Pertamina, Ir. Nursatyo Argo, suatu sore dalam perbincangan dengan Majalah UKM, usai Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Tankers tahun buku 2013 yang dilaksanakan Maret 2014 silam.

Lahirnya UU baru yang mengubah istilah Simpanan Pokok menjadi Setoran Pokok dan Simpanan Wajib menjadi Sertifikat Modal Koperasi (SMK) seperti Saham di Perseroan Terbatas (PT), di mana setiap anggota boleh memiliki sebanyak-banyaknya SMK, jangan kemudian yang punya uang banyak akhirnya menguasai koperasi. Yang dikhawatirkan, kata Argo, jika pemilik uang lebih mengikutsertakan modal – menguasai SMK sebanyak-banyaknya, sehingga larinya tidak kekeluargaan, tidak ke azas gotong-royong. Dengan kata lain, tidak ada bedanya dengan perusahaan swasta. Artinya, dalam gerakan koperasi pun yang kaya bisa semakin kaya. Konsep koperasi menjadi besar tidak salah, bahkan sangat wajar, karena untuk kesejahateraan anggota. Yang tidak wajar jika terjadi kesenjangan yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin tetap miskin di lembaga yang mengagungkan kebersamaan.

Kita bisa melihat, ketika perekonomian dunia rontok, ketika Indonesia dilanda krisis perekonomian tahun 1998, yang membentengi hanya usaha-usaha kecil dan koperasi. Karena usaha-usaha kecil dan koperasi menjadi sokogurunya Indonesia sehingga kita tetap mampu bertahan dalam tsunami dahsyat perekonomian. Bukan saja bertahan, bahkan bisa menjadi berkembang. “Boleh saja koperasi menjadi besar, tetapi jangan sampai timpang,” tutur Argo, yang dulu mengaku tidak tahu tentang perkoperasian, tetapi kini dia berhasil membangun Koperasi Tankers menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia.

Kalau konsepnya yang penting besar, kata dia, orang yang punya uang yang akan menikmati. Hampir sama dengan “kapitalis”, walau mungkin masih terlalu jauh ke arah itu. Prinsip dagang, memang begitu. Makna koperasi menjadi tipis karena pemilik SMK paling banyak, dia pula yang lebih besar pengaruhnya dalam menetukan arah koperasi. Meskipun dalam koperasi tetap dibatasi satu orang satu suara, tetapi itu hanya dalam hal pemilihan pengurus – pengawas. Sedangkan dalam menentukan arah koperasi, sebagai pemilik SMK terbanyak, logikanya, dia yang akan menentukan arah agar uangnya aman.

Yang juga menjadi persoalan, terutama koperasi pegawai – karyawan, apabila anggota itu pensiun harus keluar dari koperasi. Selama ini, kalau anggota pensiun atau keluar tinggal ambil tabungannya di koperasi. Tetapi dengan UU No. 17, dia harus menjual SMK-nya kepada anggota lain. Iya kalau harganya senilai waktu beli dulu. Jika tidak ada anggota yang mau beli, koperasi harus membelinya dengan dana cadangan. Pertanyaannya, bagaimana kalau dana cadangan koperasi tidak cukup, dan setiap ada anggota menjual SMK yang beli anggota itu-itu saja karena dia punya uang banyak. Kekhawatiran terjadinya “monopoli” penguasaan SMK pada satu dua orang akan terjadi. Akibatnya jenjang yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap miskin, menjadi kenyataan. Dengan demikian proses “kapitalisme” akan lebih cepat terjadi di koperasi pegawai – karyawan karena anggota pasti pensiun dari instansi – perusahan.

Di Koperasi Tankers, kata Argo, anggota yang pensiun tidak harus keluar dari koperasi. Karena itu manajemen koperasi harus punya kiat, bagaimana penyelesaian tanggung jawab anggota. Kalau anggota belum pensiun, setoran atau pembayaran pinjaman bisa potong gaji. Dengan kata lain, gajinya lebih mudah dikelola.

Setelah pensiun, idealnya anggota yang harus setor ke koperasi. Kesulitan, pasti ada, misalnya, setelah pensiun anggota itu pindah ke luar kota. Tetapi dengan itikad baik bersama, kesulitan itu bisa dieliminir. Dari sekitar 1.000 anggota yang pensiunan ada sekitar 180-an orang. “Selama merasa happy dengan koperasi, dan diperhatikan oleh koperasi, mereka pasti akan tetap bergabung menjadi anggota koperasi. Di Koperasi Tankers tabungan yang besar itu dari pensiunan. Ketika dapat pesangon, sebagian besar uangnya justru ditabung di koperasi,” jelas Argo.

Secara ekonomi, kata dia, koperasi pasti memberikan imbal jasa – bunga lebih baik dibandingkan perbankan. Sehingga mereka merasa koperasi itu menjadi rumahnya juga. Yang membuat mereka masih tetap ingin menjadi anggota koperasi karena hubungan kekeluargaan yang terjalin sangat baik. Ketika mereka pensiun sebenarnya berhak mengambil tabungan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, uang pesangonnya ditabung koperasi. Hal itu tak lepas dari kepercayaannya terhadap kinerja pengurus dan manajemen koperasi yang cukup baik.

Terkait UU No. 17 tahun 2012, Argo mengaku belum melihat dampak langsung, karena sosialisasi dari pemerintah sendiri belum tuntas. Dia penyarankan supaya insan koperasi memahami benar UU tersebut pemerintah harus lebih kenceng melakukan sosialisasi, dan tidak hanya kepada pengurus, tetapi juga kepada anggota koperasi sehingga mereka juga lebih paham. Argo mengaku khawatir, bila anggota tidak mengerti, pasti bertanya-tanya, apa peraturannya berubah?

Untuk menyesuaikan UU, kata Argo, Anggaran Dasar – Anggaran Rumah Tangga (AD – ART) harus berubah. Jika AD berubah, aturan mainnya juga diubah. Tetapi sejauh ini, dia mengaku tidak terlalu khawatir kalau anggota ramai-ramai keluar dari koperasi. “Selama masih merasa ikatan emosionalnya kuat, lalu pengurus dan manajemen koperasi bisa menjaga kepercayaan, rasanya mereka tidak akan ramai-ramai lari,” katanya yakin.

Saat ini Koperasi Tankers ada unit simpan pinjam (USP), dan jasa. Soal permodalan, kata Manajer Tankers, Jhon Nababan, tidak ada masalah. Untuk modal simpan pinjam ada sekitar Rp9 miliar. Itu modal sendiri, di luar modal dari BSM. Simpanan anggota saat ini Rp300.000,- per bulan, telah terkumpul kurang lebih Rp7 miliar. Ketika harus dilakukan pemisahan, SMK-nya dibagi dua, 50% untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dan 50% lainnya untuk Koperasi Jasa. “Bagaimana enaknya saja. Karena pada akhirnya semua yang memiliki juga anggota,” jelas Jhon. Walau kepengurusannya berbeda, manajemennya berbeda, tetapi, kata dia, pemiliknya tetap sama. Lari-larinya kembali ke anggota. Karena itu tidak ada masalah.

Tentang kesiapan Tankers merubah AD- ART, jelas Argo, tidak akan terlalu lama setelah PP diterbitkan. “Jika sudah saatnya diimplementasikan, kami pasti akan segera melaksanakan UU tersebut. Termasuk bagaimana aturan main, akan cepat disesuaian. Sebelum mau ke situ, kami ingin mendapatkan sosialisasi yang lebih dalam, lebih tajam dari pemerintah sehingga tidak salah menerapkan UU. Kalau belum paham, jangan-jangan implementasinya salah. Karena tim manajemen jalan bagus, tinggal atur waktu untuk membuat AD dan ART baru. Pertemuan 2 – 3 kali saja bisa selesai,” tegasnya.

Soal perkembangan Tankers, dijelaskan, sekarang memang tidak terlalu drastis. Target tahun ini (2014) pun tidak naik jauh dari tahun 2013 silam. Kalau di awal pengurusan pertama loncatannya sangat tinggi, sekarang lebih pada memperkokoh pondasi, supaya yang sudah berjalan cukup baik ini lebih mantap, tidak rapuh. Argo menyadari, kepengurusannya saat ini sudah periode ketiga, saatnya penyiapan kepemimpinan baru. Tidak boleh pengurus sekarang turun, koperasinya juga turun. Karena itu pondasi usahanya harus dibangun lebih kokoh. Saat ini dalam proses penguatan lini usaha. “Perjalanan usaha masih on the track. Karena itu selalu saya katakan bahwa 2014 ini masih akan mencapai target. Hanya saja jika dibandingkan 2012 tidak meloncat. Tetapi pasti di atas 2013,” katanya yakin.

Untuk mengatasi terjadinya goncangan, dalam pergantian pimpinan (ketua) tidak benar-benar orang baru. Aturannya, sudah pernah menjadi pengurus. Kalau pengurus itu orang-orang yang sudah terlibat mengurusi koperasi, tidak lagi learning – belajar. Dalam AD Tankers, disebutkan bahwa untuk menjadi ketua paling tidak dia sudah pernah menjadi pengurus, minimal 2 tahun. Itu artinya sejak awal dulu koperasi ini sudah memikirkan bahwa pergantian kepemimpinan itu sesuatu yang harus, tetapi bukan sesuatu yang meloncat baru datang. Dia sudah harus mengalami proses bersama-sama. Sehingga diharapkan lebih mempermulus pergantian. Dan yang paling penting, jiwa dan kecintaannya terhadap koperasi sudah teruji.

“Menurut saya mengurus koperasi itu lebih pada darma bakti – melayani. Karena itu setiap pengurus harus punya jiwa melayani untuk anggota. Kalau dia tidak punya sifat – jiwa melayani, akan sangat sulit untuk bisa menekuni kegiatan berkoperasi. Bila tidak punya jiwa melayani, lebih cocok di perusahaan bisnis. Mengurus koperasi itu harus mau berbagi secara bersama-sama,” jelas Argo. (my – yn)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *