Perlu Membuat Program Pendidikan Kewirausahaan Bagi Anggota

FOTO FY KHOSMASMalam Minggu, 22 Februari 2014 di hadapan Pastor Yerimias Yerry,OFM Cap, Drs. F Y Khosmas, MSi bersama 6 orang pengurus lainnya dan 5 orang pengawas berjanji dan bersumpah akan bertanggung jawab atas kepercayaan menahkodai lembaga keuangan beraset Rp 1,470.470.105.758,- milik 120.417 orang, sebagian besar berasal dari pedesaan – pedalaman Borneo, yang bernaung di bawah panji Gerakkan Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Pancur Kasih, Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam pemilihan pengurus dan pengawas yang demokratis, menggunakan sistem elektronik, barang kali sistem ini juga baru kali pertama digunakan di Indonesia, Khosmas meraih suara terbanyak, 493 suara. Usai mengucap janji dan sumpah, ketika memberi sambutan kali pertama sebagai Ketua Umum Kopdit Credit Union Pancur Kasih Khosmas, mengulangi janjinya akan menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai amanah anggota, melanjutkan program kerja pengurus yang sudah dirancang dan disetujui dalam rapat anggota.

Menahkodai sebuah koperasi primer yang memiliki aset triliun dan anggota lebih dari 120.000 orang, memiliki 37 Tempat Pelayananan (TP), (koperasi lain istilahnya cabang) yang tersebar di 5 kabupaten dan kota di Kalbar, serta ratusan karyawan, bisa menjadi kebanggaan, karena koperasi sekelas Pancur Kasih jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, tetapi juga memikul tanggung jawab berat. Salah kelola, tidak saja akan merugikan lembaga yang dipimpin, tetapi juga bisa merusak citra gerakkan koperasi, kepercayaan masyarakat yang kini tengah membaik.

Minggu siang, usai memberikan pendidikan dasar bagi calon anggota baru di Kantor Pusat Kopdit Credit Union Pancur Kasih, 007 – tapi bukan legendaris jagoan hebat di layar perak, James Bond alias Roger More, melainkan Khosmas, pemilik nomor anggota 7, yang sengaja dipilih karena bagi orang Dayak angka 7 itu “keramat”, punya makna tersendiri, menjelaskan: “Amanah anggota yang demikian besar itu adalah tantangan untuk berkarya bagi kesejahteraan anggota yang sebagian besar dari kalangan kurang mampu – miskin – terpinggirkan secara ekonomi dan pendidikan.”

Sebenarnya, lanjut suami Yuliana yang dikaruniai buah hati; Yuli Lela, Fedrik Angga, Melia dan Odie, 3 tahun ke depan (2014 – 2016) tinggal melanjutkan kegiatan pengurus yang baru saja mengakhiri masa baktinya, dan merealisasi program kerja yang disahkan dalam rapat anggota. Program kerja lembaga itu terus berkelanjutan dari pengurus ke pengurus berikutnya, yang setiap tahun buku dilakukan pembaharuan sesuai kebutuhan. “Jadi, pekerjaan rutin dan pasti bisa dilakukan,” jelas Khosmas yang tercatat sebagai salah satu pendiri Kopdit Credit Union Pancur Kasih, yang selama dua periode sebelumnya dipimpin oleh seorang aktivis credit union energik, Dra. Norberta Yati Lantok.

Bukan saja sebagai salah seorang pendiri, tetapi juga pernah lama menangani bidang pendidikan, dan bersama Pastor Yeri sebagai penasehat, Khomas paham benar bagaimana membangun lembaga yang dicintai sesuai Visi; Menjadi Credit Uinion masyarakat Dayak yang terdepan dan berkesinambungan di Kalimantan Barat, dengan Misi; Meningkatkan kesejahteraan social ekonomi anggota melalui pendidikan dan pelatihan yang menghasilkan perubahan pada aspek fisik, mental, emosional dan spiritual serta pelayanan keuangan yang ramah dan professional.

Hati-hati, cermat dan bijak akan dijadikan landasan membangun lembaga dengan tim kepengurusan yang solid. Menjalin kerja sama yang harmonis di antara pengurus – pengawas – manajemen maupun anggota, juga suatu keniscayaan. “Menumbuhkan partisipasi anggota supaya mereka merasa memiliki lembaga yang dibangun dengan berbagai tantangan, salah satu prioritas. Karena lembaga ini milik bersama, seluruh anggota. Dari anggota – oleh anggota – untuk anggota,” tegas Khosmas. Langkah pertama, minggu pertama, yang segera membangun situasi kebersamaan di antara pengurus yang baru (3 orang) dan lama (4 orang).

Penguatan di dalam lembaga, terutama menyangkut komitmen bekerja, baik manajemen maupun pengurus, sangat penting. Sebuah lembaga itu bisa hancur, bukan orang luar yang menghancurkan tetapi dari orang dalam sendiri. Meningkatkan fungsi masing-masing, kata Khosmas, penting, karena hubungan mereka bukan semata perintah kerja, tetapi bagaimana melakukan pendekatan, lalu melihat apa hasilnya. Jika apa yang dikerjakan itu diperhatikan, mereka akan merasa puas. Ternyata ada orang yang melihat, dan ada yang menegur jika ada yang kurang pas atau salah.

Meskipun Kopdit Credit Union Pancur Kasih masuk 10 koperasi besar Indonesia, berinovasi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, dan semakin baik perlu terus menerus dilakukan. Sumber daya manusia (SDM), menurut Khosmas sangat memadai karena dari 233 pegawai yang pendidikannya SMA de bawah hanya 73 orang, selebihnya D3 dan S1, bahkan ada yang S2. Kalau melihat SDM-nya, rasanya sangat memungkinkan untuk melakukan inovasi-inovasi baru.

Walaupun, kata Khosmas, tidak menjamin orang berpendidikan tinggi itu punya kemampuan baik dan sebagainya. “Tetapi paling tidak, mereka sudah mempunyai bekal untuk mengembangkan diri. Sebab mereka dasarnya juga dari awal, ikut pendidikan dasar tentang credit union, dan pendidikan-pendidikan selanjutan. Proses penerimaan karyawan pun semua dari anggota,” urai Khosmas yang juga mengaku keluarga besarnya telah menjadi anggota Kopdit Credit Union, meski tak semua di Pancur Kasih.

FOTO PELANTIKAN PENGURU BARU OLEH PASTOR YERRYDengan jumlah anggota yang sekarang sudah lebih dari 120.000 orang, ke depan, kata dia, pengembangannya akan lebih berkonsentrasi pada meningkatkan kualitas sumber daya anggota, daripada mengejar kuantitas. “Jangan sampai yang sudah ada diabaikan, tetapi merekrut yang baru sebanyak-banyaknya. Kalau yang dikembangkan kualitas sumber daya anggota yang sudah ada – yang lama, loyalitas mereka juga akan meningkat,” jelasnya.

Kopdit Credit Union sebagai kelompok Koperasi Simpan Pinjam (KSP) berdasarkan undang undang (UU) No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian, koperasi simpan pinjam yang menghimpun dana anggota harus menyalurkan kembali dalam bentuk pinjaman kepada anggota, Pasal 93 ayat (6), sedangkan ayat (5) tegas melarang koperasi simpan pinjam melakukan investasi usaha di sektor riil. “Karena tidak diperbolehkan berinvestasi di sektor riil, pengurus merancang – mengarahkan anggota menjadi wirausaha, dan pinjam modal ke lembaga – Pancur Kasih. Yang sudah punya kegiatan usaha, buka warung sembako di rumah, warung nasi, jualan di pasar atau mungkin usaha kerajinan, industry rumah tangga, modalnya bisa pinjam ke koperasi,” urai Khosmas.

Setahun yang lalu, lanjutnya, Kopdit Credit Union Pancur Kasih sudah merintis membentuk kelompok petani karet, tetapi belum jalan. Anggota yang bergerak di bidang perdagangan dan indusatri juga masih jalan sendiri-sendiri, belum ada yang membentuk kelompok. Seandainya terbentuk kelompok warung sembako, misalnya, lalu ada yang menjadi distributor, lebih baik. Soal permodalan, tidak harus pinjam ke bank, tetapi pinjam ke koperasi sendiri, untuk pinjaman skala besar pun mampu.

Untuk di perkotaan memang agak sulit membentuk kelompok, karena mereka bisa langsung ke distributor. “Kalau di daerah-daerah tertentu, terutama di pedesaan atau kota-kota kecamatan mungkin bisa lebih mudah membentuk kelompok, tetapi belum dicoba. Bisa juga anggota yang punya kegiatan usaha di sektor perdagangan membentuk koperasi konsumen, kemudian pinjam modalnya ke Koperasi Credit Union,” jelas Khosmas, seraya menambahkan bahwa sebenarnya sudah ada anggota yang membentuk koperasi ritel, setahun yang lalu.

Koperasi ritel yang diketuai oleh Norberta Yati Lantok itu kelak diharapkan bisa menjadi suplayer warung-warung sembako anggota Pancur Kasih, juga bisa menjadi tempat untuk memasarkan produk-produk anggota Pancur Kasih. Saat ini memang baru jualan di toko koperasi itu sendiri, belum menjadi jembatan anggota yang punya usaha warung. “Idealnya, karena sudah ada anggota yang membentuk koperasi konsumen, suatu saat bisa menjadi distributor untuk toko, atau warung-warung anggota koperasi,” tutur Khosmas.

Semakin banyak anggota yang berwirausaha, kualitas hidup sejahtera tentu lebih baik, dan uang lembaga tidak banyak menumpuk – disimpan di kas atau bank. Semakin banyak uang koperasi itu beredar untuk kegiatan produktif, koperasi tersebut juga akan lebih cepat berkembang karena anggota yang pinjam akan membayar jasa – bunga. Yang perlu menjadi pemikiran pengurus ke depan, kata Khosmas, khususnya untuk bidang pendidikan, membuat program pendidikan dan pelatihan kewirausahaan.

Sasaran utama peserta pelatihan anggota yang sudah menjadi pelaku usaha, meskipun warung kecil-kecilan. Tujuannya untuk meningkatkan sumber daya anggota agar mampu mengelola usahanya lebih baik, sehingga perkembangan usahanya juga bisa lebih cepat. Diakui memang belum memiliki data konkret, berapa banyak jumlah anggota Pancur Kasih yang memiliki kegiatan usaha. Diperkirakan, kata Khosmas, ada sekitar 20% atau 20.000-an anggota.

Tentang ketertarikannya melibatkan diri dalam gerakkan koperasi, Khosmas bilang, karena latar belakang pendidikannya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Setelah lulus kuliah di Universitas Tanjungpura, kemudian mengajar ilmu pengetahuan sosial, dan lebih banyak ilmu ekonominya. “Ketika jurusannya berubah ke Program Akuntansi dan Koperasi, saya mengajarnya mengambil spesialisasi koperasi. Seluruh pendidikan koperasi di kampus saya yang menangani. Ketika mengambil Strata (S2) di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, ambil Jurus Ekonomi Koperasi. Setelah mendapatkan ilmu, ingin mengimplementasikan, ternyata sampai sekarang tidak bisa lepas,” jelasnya.

Keterlibatannya mendirikan Kopdit Credit Union Pancur Kasih, yang kini menjadi salah satu koperasi terbesar Indonesia, dan bukan tidak mungkin, nanti setelah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) – bayar pajak, sekarang sedang diurus, bisa masuk 300 koperasi besar kelas dunia, membaut Khosmas sulit melepaskan diri dari gerakkan koperasi. Karena kegiatan di koperasi sudah menjadi pekerjaan yang sangat dicintai, tidak terlintas di dalam benaknya untuk mencari pekerjaan lain di luar koperasi. “Meskipun saya senang berorganisasi sejak mahasiswa, pernah menjadi Ketua Pemuda Katolik tingkat Kalbar, tetapi sekarang tidak tertarik dengan akitifitas lain di luar koperasi. Masuk partainya, misalnya,” tegasnya.

Di koperasi, kata dia, organisasinya berbeda. Aktifitasnya lebih menantang. Yaitu bagaimana meyakinkan orang supaya mau masuk menjadi anggota koperasi. Khususnya menjadi anggota koperasi credit union, tidak mudah. Orang maunya instan. Disuruh menabung, susah. Di kalangan mahasiswa, tidak banyak yang punya tabungan di koperasi.

Sebagai orang yang “Terlanjur Sayang” seperti lagunya Memes, terhadap gerakkan koperasi, maka seluruh keluarganya, mulai keturunan ayah ibu didorong menjadi anggota koperasi. Bahkan di dalam keluarga dibentuk semacam koperasi, kemudian arisan, setiap tahun waktu Natal semua pulang kampung, kumpul di tanah kelahiran. Dalam kesempatan tersebut menghimpun dana untuk tabungan keluarga. Siapa yang mau pinjam, boleh, tetapi harus dikembalikan karena uang milik bersama.

“Sasarannya tidak hanya untuk saat ini, tetapi sampai anak cucu – turun temurun, dan diharapkan uang itu tetap ada. Bahkan harus bertambah, dan terus bertambah. Agar tabungan bisa bertambah, bagi yang pinjam, kalau mereka merasa pinjam, mau menghargai uang yang dipakai, silahkan memberikan tambahan, tetapi jumlahnya tidak ditentukan, alias suka rela. Tabungan keluarga itu disimpan di lembaga keuangan, credit union, supaya aman,” jelasnya.

Sebagai ketua pengurus Kopdit Credit Union Pancur Kasih, dia berangan-angan, 3 tahun ke depan, Pancur Kasih tidak lagi memusatkan perhatian usahanya di perkotaan, melainkan lebih mengarah ke pedesaan – pedalaman agar keberadaan koperasi betul-betul dirasakan oleh masyarakat yang paling bawah. Nilai-nilai koperasi credit union itu justru ingin mensejahterakan masyarakat yang kurang mampu – miskin dan terpinggirkan secara ekonomi. “Kalau sasaran pengembangannya di kota, mungkin lebih mudah, dan cepat besar karena di kota banyak duit. Supaya dampak koperasi bisa dirasakan masyarakat luas kita harus mengembangkan ke wilayah pedesaan yang lebih jauh. Kita harus mendidik orang desa belajar menabung,” katanya serius. (my).

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *