Persaingan Global Sangat Ketat, dan Kerap Kali Jahat

Kita harus serius untuk bersama-sama mengatasi kondisi global yang pahit dan penuh tantangan. Suka atau tidak suka, persaingan global adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Akibat kemajuan teknologi di berbagai bidang, dunia semakin mendekat dan “mengkeret”  menjadi satu, keadaannya mengecil. Menjadi sebuah perkampungan besar saja. Bahkan batas-batas fisik dan geografis yang kita kenali masa lalu kini sudah semakin sirna.

Di dalam persaingan, berjalan sangat ketat dan kerap kali jahat. Mereka yang tidak siap dalam persaingan global, harus rela menjadi pecundang. Kemenangan hanya dimiliki mereka yang siap, dan terus untuk memperkuat diri.  Inilah persaingan global yang tidak bisa kita hindari. Pertanyaannya, di manakah posisi Indonesia dalam peta persaingan global saat ini?

Daya saing kita masih harus terus ditingkatkan. Kita masih memiliki beban masalah yang berat, seperti diingatkan oleh apa yang disebut indikator-indikator daya saing. World Econommi Forum merelis indeks daya saing global tahun 2015 – 2016, dengan menggunakan 12 parameter daya saing yang terdiri dari; institusi, infrastruktur, makro ekonomi, kesehatan, pendidikan, pendidikan tinggi dan pelatihan, kesejahteraan, keadaan pasar efisien atau tidak, pekerja efisien atau tidak, perkembangan keuangan, kesiapan teknologi, keanggihan bisnis dan indovasi menjadi ukuran-ukuran daya saing.

Di antara negara-negara di seluruh dunia, Swiss, Singapura dan Amerika Serikat (AS) mendapatkan ranking tertinggi yang pertama, baru kedua, ketiga dan seterusnya. Indonesia, maaf, bukan berarti membuka keadaan yang pahit, tetapi memang harus disadari oleh seluruh warga bangsa bahwa posisi kita masih di peringkat ke-37. Yang lebih tragis lagi, di kawasan Asia, kita masih di bawah Malaysia yang berada di peringkat ke-32 dan Thailan posisi ke-33.

Kita harus memahami betul bagaimana kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai unsur penting membentuk daya saing global. Dari 188 negara di dunia yang diteliti oleh UNDP, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada diurutan ke 110. Di kawasan ASEAN, nilai IPM Indonesia masih di bawah Malaysia yang telah mencapai 77,3. Peringkat Indonesia di ASEAN di posisi ke-5, di bawah Singapur, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darusalam. Meskipun Indonesia masih lebih baik dari Filipina, Vietnam, Kamboja dan Timor Leste.

Peringkat Indonesia masih sejajar dengan negara-negara lain yang berusia baru 25 tahun, sedangkan Indonesia berusia 70 tahun. Indonesia juga tertinggal dari beberapa negara kecil yang sebetulnya tidak memiliki potensi seperti kita. Inilah tantangan kita semua. Kita, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen bangsa harus berpartisipasi total, berbuat dengan segala langkah dan kemampuan agar daya saing kita naik. Itulah yang disebut sebagai daya juang yang tahu tantangan. Kita harus menjadi pemenang, bukan menjadi pecundang dalam persaingan global yang sangat sulit, pahit, kerap kali jahat dan menantang.

Kita juga masih harus berjuang menurunkan angka kemiskinan yang masih sekitar 11,13% atau sebesar 28,5 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka juga masih tinggi, bercokol di 6,18% atau 7,56 juta orang. Ketimpangan sosial menjadi ancaman terdekat yang harus segera diatasi, bukan saja oleh pemerintah, tetapi masyarakat juga harus mengantisipasi dengan baik. Rasio gini kita mulai memasuki lampu kuning, karena berada di angka 0,412. Angka itu memberikan gambaran bahwa proses pembangunan masih dinikmati oleh sekelompok orang saja. Tidak dinikmati secara keseluruhan dan marata.

Dengan kata lain Indonesia masih harus bekerja keras mengejar kesejahteraan bersama. Antisipasinya, pemerintah terus menggerakkan pembangunan ekonomi, masyarakat mengantisipasi dengan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadi masalah atas kesenjangan tersebut. (Red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *