Persediaan Ikan Warga Jakarta Tercukupi

Hal itu dikemukakan kepada UKM usai rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta baru-baru ini. Menurut Mahat dan Hasan Syamsuddin, produksi ikan di Pelabuhan Nusantara Muara Angke tahun ini ada sedikit peningkatan dibanding menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah yang lalu. Yakni berada pada kisaran 1.835.10380 kg dengan nilai Rp 950 miliar lebih. Cold storage mencapai 1,1 ton dengan nilai lebih dari Rp 36 miliar, Pasar Ikan kurang lebih 6,5 ton dengan nilai sedkitar Rp 13 miliar. Jumlah seluruhnya hampir mencapai 10 ton.

Jumlah itu menunjukkan adanya kenaikan cukup signifikan dibanding periode sebelumnya. Kini terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen dan kulaitas ikan agar tetap fresh. Dengan naiknya produksi ikan di Pelabuhan Muara Angke, otomatis bissa mendongkrak kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta dari sektor perikanan.
Selain meningkatkan kualtas pelayanan masyarakat, meningkatkan kualitas kinerja aparat, meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Di samping menjadikan Pelabuhan Muara Angke sebagai Pusat Pelelengan Ikan, juga mengembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan pusat jajan serba ikan (Pujaseri).
“Kami bukan hanya mengemban tugas sesuai Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah untuk melakukan pelelangan ikan, sekaligus merealisasikan Peraturan Daerah (Perda) tentang Destinasi Wisata Pesisir Utara Jakarta,” tambah Mahat. Hasan Syamsuddin mengemukakan, pembangunan sarana dan prasarana sedang berjalan. Diharapkan 2019 pembangunannya selesai dan segera dioperasikan. Jika target 2018 belum terpenuhi, tahun 2019 sarana dan prasarana sudah dapat dioperasikan secara maksimal.
Pelabuhan Perikanan Nasional Muara Angke banyak potensi, dan saat ini dalam pengembangan guna menunjang perekonomian rakyat, khususnya ekonomi nelayan. Karena itu pengembangan Pelabuhan Perikanan Muara Angke bukan hanya dimasukkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2017-2022, tetapi Pemprov DKI Jakarta telah membuat rencana induk sebagai pedoman pengembangan pelabuhan yang pembangunanya dimulai 2019 ini.

DPRD Provinsi DKI Jakarta juga telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Muara Angke untuk menata pelabuhan menjadi dua wilayah. Yakni pelabuhan ikan Samudera yang lebih modern dan bertaraf international. Pelabuhan baru akan dikelola Kementerian Perhubungan. Selain menjadi Tempat Pelelengan Ikan (TPI), Pelabuhan Muara Angke juga diharapkan menjadi pelabuhan pengumpan, tujuan wisata yang modern dan nyaman, serta mampu mengakomodir penumpang dari Kepulauan Seribu. Karena pelabuhan ini satu-satunya milik Pemprov DKI Jakarta, harus terintegrasi dengan transportasi massal seperti Transjakarta, MRT dan LRT.

Terkait kondisi lingkungan, pencemaran dan jumlah toksik di Teluk Jakarta sebagai bermuaranya 13 sungai, setiap tahun meningkat tajam. Akibatnya ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta dinilai tidak sehat untuk dikonsumsi. Hal itu diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Etty Riani. Teluk Jakarta bukan hanya mendapat bahan pencemar dari darat yang masuk mellaui sungai, tetapi juga dari kegiatan di perairan berkontribusi tinggi terhadap pencemaran.

Kegiatan pelabuhan menyumbang bahan pencemar toksik (zat yang bisa menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak normal) dan non-toksik yang jumlahnya sangat banyak. Menurut Etty, akumulasai logam berat dalam sedimen dan biota, khususnya kerang hijau, meningkat sangat tajam. Logam berat bisa masuk ke dalam ikan melalui permukaan tubuhnya. Kemudian sel chlorid pada insang atau melalui proses makan (biomagnifikasi) kemudian terakumulasi dalam organ tubuh, dan bersifat irreversible – tak bisa dilepas.

Akumulasi logam berat dan kerusakan organ yang lebih parah terjadi pada ikan barakuda, pepetek, sokang, beloso, dan kerang hijau. Bahan-bahan toksik itu juga telah mengakaibatkan terjadinya kecacatan pada sironomid di Waduk Saguling, di Jawa Barat. Akaibatkannya ikan tak aman dikonsumsi secara bebas. Mengonsumsi ikan dari Teluk Jakarta berpotensi terkena kanker dan penyakit degeneratif non-kanker.

Perilaku manusia sering mengakibatkan perubahan drastis pada lingkungan. Apalagi di wilayah DKI Jakarta dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Karena itu, perlu pengelolaan lingkungan agar bisa memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Opsinya, perlu pengelolaan terpadau antara sungai, pesisir dan laut sebagai kesatuan, Integreted River Basin, Coastaal and Ocean Management. Mahat dan Hasan Syamsuddin mengakui bahwa kondisi Teluk Jakarta memang tercemar.

Ketua Forum Komunikasi Ikan Muara Angke, Diding Setiawan menyatakan hal yang sama. Pencemaran di Teluk Jakarta tak lepas dari limbah pabrik di darat. “Kami tak bisa berbuat banyak. Sebab, banyak nelayan yang enggan alih profesi. Ikan-ikan yang sudah terkontaminasi limbah tetap dijual nelayan. Tetapi sebenarnya, sebagian ikan-ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta masih layak konsumsi, tidak semuanya tercemar” kata Mahat.
Kepala Suku Dinas (Kasudin) Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi DKI Jakarta, Rita Nirmala ketika dikonfirmasi mengakui, sejak lama kawasan Teluk Jakarta tercemar. Sifat ikan yang mobile, membuatnya rentan dari pencemaran lingkungan. Profesi yang dijalani nelayan berpuluh-puluh tahun membuat mereka enggan alih profesi.

Anehnya, usai menangkap ikan, mereka juga enggan makan ikan hasil tangkapannya, tapi menjualnya ke orang lain. Mungkin, mereka menyadari tingkat pencemaran sudah berada di atas ambang batas. Untuk mengatasi pencemaran, tindakan tegas harus dilakukan kepada pabrik yang membuang limbah – sampahnya ke kali yang akhirnya sampai Teluk Jakarta. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *