Perubahan Pola Fikir Berkoperasi

Oleh: Prof. DR. H. Agustitin Setyobudi, M.Pd, Ph.D

Sekitar 400 tahun yang lalu, seorang filsuf asal Perancis, Rene Descartes, mengatakan; “Aku berpikir, maka aku ada.” Berpikir memiliki banyak aspek. Banyak orang mengira, berpikir hanya sekadar hal-hal teknis, soal menghitung, melihat guna, dan mencari keuntungan. Namun, berpikir teknis hanya satu bagian kecil dari tindak berpikir manusia. Ada pola berpikir lain, misalnya, berpikir reflektif dan kontemplatif untuk memahami suatu hal di dunia secara mendalam dan lebih menyeluruh.

Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya proses berpikir karena adanya keinginan untuk melakukan perubahan. Dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang dijumpai disebabkan kemampuan berpikir itu sendiri. Jika dulu untuk melakukan perjalanan jauh orang menggunakan kuda, kini orang menggunakan berbagai jenis kendaraan seperti; sepeda motor, mobil, kereta api, atau pesawat terbang.

Jika dulu orang menggunakan tv hitam putih, kini tv-nya berwarna. Kalau dulu orang sulit mengetahui berbagai kabar – informasi yang ada di seluruh dunia, kini semua dapat diakses dengan mudah lewat internet. Segala kemudahan ini ada, karena adanya pola pikir manusia yang menginginkan perubahan.

Perubahan adalah esensi dari kemajuan, berarti harus berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik. Berpikir perubahan adalah cara yang dinamis ditandai dengan selalu mencoba hal yang baru. Berpikir perubahan, memiliki pola pikir yang produktif. Pola pikir seperti ini akan menciptakan ide-ide baru, sekaligus membuat seseorang bisa melangkah lebih jauh dalam mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki. Sehingga tidak hanya terpaku pada apa yang sudah ada, yang mungkin saja dapat membuat hancur bila tidak mampu merespon perkembangan yang terjadi.

Pada era global, dengan dinamika sosial yang semakin cepat tentu dibutuhkan kecepatan – percepatan berolah pikir agar tidak tertinggal dalam percaturan kehidupan. Berpikir perubahan adalah membangun suatu sikap, kebiasaan yang produktif menjadi kenyataan dalam kehidupan. Cara melakukan perubahan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan keteguhan hati akan menuntun kekuatan bersikap dan berperilaku statis, beralih kepada berpikir dinamis – aktual.

Dalam dunia usaha ada berbagai perubahan yang dapat dijumpai. Misalnya, jenis produk-produk baru yang bermunculan. Semua itu menandakan bahwa perubahan banyak terjadi di dunia usaha. Namun ada entrepreneur yang tidak menyadari adanya berbagai perubahan, dan tetap tak melakukan perubahan terhadap usaha yang digeluti. Perubahan yang terjadi setiap saat jika tidak ditanggapi secara cepat dan tepat, produk usahanya akan kalah bersaing dengan produk-produk lain.

Manfaat yang bisa dipetik dari berpikir perubahan, antara lain; Pertama, berubahnya cara berpikir dari tidak baik, menjadi lebih lebih baik atas dasar kebenaran. Kedua, memiliki kecepatan dalam berpikir untuk melakukan kreasi, inovasi dan solusi dari setiap perubahan yang terjadi. Ketiga, selalu ingin tahu dan cenderung pada hal –hal baru. Keempat, cenderung untuk mencoba hal – hal baru yang lebih bermanfaat. Kelima, munculnya kemampuan berkreasi pada diri seseorang. Keenam, membuat orang semakin percaya diri dalam menjalani kehidupan, dan Ketujuh, meningkatkan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah.

Kita dapat melihat orang-orang yang memiliki keunggulan pada umumnya mereka yang keluar dari paradigma pemikiran statis – linier, seperti para filsuf dan ilmuwan terkenal. Para entrepreneur – wirausaha dengan keberanian dan kemampuannya menjadi tokoh-tokoh maju dan menguasai berbagai kepentingan publik.

Terkait bekoperasi, juga harus terjadi perubahan. Utamanya perubahan dalam melakukan bisnis koperasi, namun tidak bertentangan dengan jati diri koperasi. Tentu, yang harus diubah pengelolaannya. Jika dulu dikelola secara tradisional, konvensional, sekarang seharus dilakukan dengan teknologi digital.

Menurut Neni Nurmayanti Husanah, perubahan merupakan sesuatu yang unik karena terjadi dalam berbagai kehidupan berbeda-beda. Walau memiliki beberapa persamaan dalam proses, namun tidak bisa disamakan. Kata Vincent Gaspers, perubahan bagian terbesar dari kegiatan bisnis. Sedangkan Cateora (MGH) mengatakan; Cara masyarakat memecahkan masalah yang tercipta di lingkungannya.

Khodijah mengatakan; berpikir merupakan representasi simbol dari beberapa peristiwa. Sedangkan menurut Drever, berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara tepat dan seksama, dimulai dengan adanya masalah. Jadi, berpikir itu keaktifan pribadi yang mengakibatkan penemuan terarah pada tujuan. Berpikir mengarahkan kita menemukan pemahaman – pengertian yang kita kehendaki. Berpikir adalah proses dinamis, individu bertindak aktif dalam menghadapi hal-hal yang bersifat abstrak.

Pada proses berpikir individu membuat hubungan antara obyek yang ada untuk menemukan pemahaman tertentu. Dengan memikian dapat disimpulkan bahwa perubahan berpikir adalah satu keaktifan pribadi yang mengunakan ide-ide dalam rangka menciptakan sebuah perubahan.

Telah diketahui, koperasi merupakan soko guru perekonomian Indonesia. Makna soko guru perekonomian, koperasi merupakan pilar – tulang punggung perekonomian di Indonesia. Sebagai soko guru perekonomian, koperasi merupakan jenis badan usaha, sekaligus badan hukum yang sangat cocok dengan ideologi perekonomian Indonesia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa, “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Tentu yang dimaksud bahwa perekonomian itu merupakan suatu susunan kebijakan yang sistematis dan menyeluruh. Mulai dari susunan tingkat nasional sampai ke susunan di daerah provinsi, kabupaten – kota di seluruh Indonesia.

Asas kekeluargaan menunjukkan bahwa koperasi mewujudkan cita-cita bersama masyarakat memiliki kehidupan ekonomi lebih baik. Karena itu Koperasi mendapat misi, berperan nyata dalam menyusun perekonomian atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi, yang mengutamakan kemakmuran masyarakat. Bentuk koperasi merupakan pilihan ideologi. Meski koperasi memiliki prospek bagus, namun ada stigma koperasi cenderung dikelola oleh orang tua. Hal itu membuat generasi muda semakin tak tertarik untuk mengetahui koperasi.

Guna mengatasi tantangan itu, perlu dilakukan rebranding – pembaharuan koperasi sehingga generasi milenial dapat merima koperasi agar tidak menjadi sejarah di masa mendatang, dan benar-benar menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Karena itu perlu dibuat kajian rebranding koperasi, dimulai dengan melakukan analisis tentang generasi penerus – generasi milenial, mengenai karakter dan tantangan yang dihadapi, kemudian menentukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk pembaruan image – citra.

Era milenial merupakan era pergantian generasi lama (generasi X) dengan generasi Y. Generasi X akan memasuki usia pensiun dan generasi Y memasuki usia produktif. Ada pendapat ahli mengenai rentang waktu kelahiran generasi Y. Namun dalam analisis ini, penulis menggunakan istilah generasi milenial untuk generasi muda yang lahir 1980-an – awal 2000. Sebelum menentukan langkah-langkah untuk rebranding koperasi guna menarik minat kaum milenial, perlu diketahui secara singkat mengenai karakter generasi milenial dan tantangan yang dihadapi di era milenial.

Generasi milenial memiliki pola komunikasi sangat terbuka dibanding generasi sebelumnya. Pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Generasi milenial dinamis, cenderung individualistik dan menyukai hal-hal yang cepat. Karena itu, kunci utama rebranding koperasi adalah penggunaan teknologi informasi yang bersifat personal.

Generasi milenial sangat erat kaitannya dengan teknologi informasi; pertama, User Generated Content (UGC) lebih dipercaya kaum millennials ketimbang informasi satu arah. Kedua, Millennial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi. Ketiga, Minat membaca secara konvensional kini sudah menurun karena Generasi Y lebih memilih membaca lewat smartphone. Keempat, milennial pasti lebih memilih ponsel daripada televisi. Kelima, Millennial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan mereka.

Berdasarkan hal tersebut maka penggunaan teknologi informasi efektif untuk mendekatkan generasi milenial dengan koperasi. Penggunaan teknologi informasi yang bersifat personal dan memiliki UGC pada handphone – smartphone, bukan dengan televisi atau radio.

Beberapa tantangan yang dihadapi koperasi di Era Milenial; Pertama, fenomena Bonus Demografi. Bonus demografi merupakan peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan. Bonus demografi tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kelompok usia tidak produktif dan yang produktif. Pada 2030 angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%. Menurut Sri Mulyani, kondisi Indonesia surplus angkatan kerja produktif berbanding terbalik dengan negara-negara maju. Namun, bonus demografi yang dialami Indonesia bisa jadi ancaman, jika generasi usia produktif, gagal menciptakan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, tantangan globalisasi, seperti pasar tunggal Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Globalisasi membuat negara-negara di dunia tanpa batas. Masyarakat suatu negara dapat melakukan transaksi dengan masyarakat negara lain secara bebas. Selain itu, ada pula pembentukan pasar tunggal, salah satunya MEA. Pembentukan MEA memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara lain di seluruh Asia Tenggara. Sehingga kompetisi semakin ketat. Hadirnya pasar global mengharuskan koperasi benar-benar siap bersaing dengan entitas bisnis dari negara lain di pasar global. Jika tak mampu bersaing koperasi akan tergerus kompetisi pasar.

Ketiga, persaingan Koperasi dengan Badan Usaha Lain. Koperasi harus bersaing dengan entitas bisnis lain; PT, CV, dan UD. Entitas bisnis – badan usaha itu dari segi pendirian sangat mudah karena tidak perlu mengumpulkan banyak orang, bahkan UD dapat didirikan perseorangan. Selain itu pendirian PT, CV, dan UD dapat selesai dengan cepat dan tidak berbelit-belit urusan dengan birokrasi.

Berdasarkan uraian di atas, jika koperasi ingin tetap eksis, maka koperasi harus mereposisi image – rebranding sesuai dengan karakter generasi Y dan tantangan yang akan dihadapi di era milenial. Adanya perubahan yang ekstrem memberikan kenyataan bahwa hidup itu dinamis, dan berubah-ubah. Seiring perubahan yang terjadi, akhirnya memicu pola pikir – mindset dari individu

Pola pikir adalah kesatuan dari keyakinan yang kita miliki, nilai-nilai yang kita anut, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, dan pendapat yang kita keluarkan dalam memandang diri sendiri, orang lain, dalam kehidupan ini. Dengan demikian, mindset adalah semacam filter yang kita bangun untuk menafsirkan apa saja yang kita lihat dan alami. Pola pikir memberi tahu bagaimana hidup ini harus dimainkan, yang akhirnya akan menentukan apakah akan berhasil atau tidak. Demikian pula orang yang menghadapi perubahan.

Ada beranggapan, perubahan bukanlah hal penting. Namun ada pula orang yang mempercayai, perubahan hal yang penting. Di sini pola pikir menggerakan perilaku kita sehingga Psikolag, William James berkata; “Yakinlah bahwa hidup Anda berharga, maka keyakinan Anda akan menciptakan faktanya”.

Agar berhasil, perlu memahami pola pikir masing-masing. Dan harus membawa ke tingkat sadar, memerhatikan dengan baik, melihat apakah ada pikiran-pikiran negatif yang harus buang. Jika tidak, keyakinan negatif yang tersembunyi akan mengendalikan diri kita. Bila tidak mengetahui pola pikir kita, tak dapat melakukan apapun terhadapnya. Kalau tidak menyukai hasil-hasil yang didapatkan selama ini, jelas kita harus mengubah pola pikir. Pada saat itulah kita akan mengerti apa seberapa pentingnya perubahan.

Seorang entrepreneur pasti berkarakter produktif, bukan konsumtif. Entrepreneur akan selalu berusaha “mencari cara baru” untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien, mencari alternatif lain bila sumber daya yang ada terbatas. Entrepreneur cenderung menjadi job creator daripada sekedar job seeker. Semua karakter tersebut disebabkan oleh jumlah total pola pikir positif, kreatif, keuangan, dan pola pikir produktif yang dimiliki.

Pola pikir produktif bisa ditumbuhkan apabila kita menghargai dan memahami kelimpahan maupun keterbatasan yang ada. Dengan pola pikir produktif, semua hambatan akan diubah menjadi peluang untuk meminimalisasi ancaman, dan semua kekuatan akan menjadi suatu kesempatan untuk lebih dikembangkan kesempatannya.

Kecerdasan finansial, lebih ditekankan pada konsep ekonomis. Untuk mencapai kecerdasan finansial ala covey maupun kiyosaki, harus melakukan kreativitas finansial. Kreativitas finansial berusaha mengubah mindset yang ada pada diri masing-masing mengikuti pola pikir manusia sejahtera yang efisien dan sesuai konsep ekonomis.

Kreativitas secara finansial dalam kenyataannya merupakan kesediaan untuk berpindah dari zona yang dianggap nyaman sebelumnya menuju ke zona baru yang penuh tantangan. Seorang yang kreatif akan mampu melakukan perpindahan tersebut dengan perhitungan yang matang sehingga menghasilkan zona baru yang lebih nyaman pada masa depan dengan mengorbankan kenyamanan hari ini.

Wirausaha adalah orang yang pandai – berbakat dalam mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, dan mengatur permodalan operasinya. Dalam Ensiklopedia Ekonomi, Keuangan, dan Perdagangan, Entrepreneur adalah seseorang yang mengambil bagian dalam, atau yang mengusahakan sesuatu. Dalam teori ekonomi, seseorang yang berusaha, mengambil inisiatif, dan mengusahakan suatu perusahaan. Orang-orang yang bertanggung jawab karena mengambil inisiatif untuk mengembangkan, menjalankan dan mengendalikan suatu organisasi perdagangan. Mereka menanggung resiko dan ketidaktentuan.

Jika berhasil, akan mendapatkan keuntungan, jika gagal memikul kerugian. Jadi jelas, kewirausahaan memiliki kaitan erat dengan yang disebut; berpikir perubahan. Seorang entrepreneur jika ingin maju haruslah menyikapi segala perubahan yang ada dengan pola pikir kreatif – inovatif. Adanya berbagai perubahan akan menjadi hal utama yang memicu keberhasilan seorang wirausaha dalam mengolah dan memaksimalisasi kesempatan yang ada demi kemajuan kinerja usahanya.

Rebranding koperasi harus dilakukan secara mendasar, dengan melakukan perubahan regulasi di bidang perkoperasian. Salah satu hal terpenting, mengurangi syarat pendirian koperasi dari minimal 20 orang pendiri menjadi 5 orang pendiri saja. Hal ini untuk mempermudah pendirian koperasi, karena mengumpulkan 20 orang cukup sulit, terutama di era milenial. Kaum milenial mempunyai kecenderungan individualis dan menyukai hal-hal praktis. Maka untuk menarik minat generasi milenial persyaratan pendirian tersebut harus diubah.

Generasi Y sangat dekat dengan teknologi informasi. Bila ingin mendekatkan generasi Y dengan koperasi, penggunaan teknologi informasi menjadi strategi paling jitu. Penggunaan teknologi informasi harus optimal, dapat memberikan kemudahan bagi anggota maupun masyarakat luas untuk mengakses koperasi melalui perangkat digital. Koperasi dapat menggunakan website atau aplikasi pada handphone – smartphone untuk membagikan informasi.

Generasi milenial perlu mendapatkan edukasi tentang koperasi melalui media sosial. Edukasi harus dilakukan menggunakan konten autentik, menarik dan populer. Pendekatan ini telah dilakukan oleh Kementrian Koperasi dan UKM RI melalui akun media sosial seperti website, instagram, dan twitter. Ada juga video-video tentang koperasi pada channel youtube yang dapat digunakan untuk membuka wawasan masyarakat tentang koperasi.

Koperasi perlu melakukan pendekatan pada pengusaha sektor UKM dan para founder – pendiri start-up, agar memilih koperasi. Pendekatan ini akan menjadi efektif apabila dilakukan perubahan regulasi untuk memudahkan pendirian koperasi. Dengan langkah-langkah rebranding koperasi berdasarkan analisis karakter dan tantangan generasi milenial, diharapkan koperasi dapat menjadi dekat dengan generasi milenial, menghapus stigma jadul dan kuno yang melekat pada koperasi sehingga dapat memikat generasi milenial untuk mengembangkan koperasi di Indonesia.

Berpikir perubahan adalah suatu keharusan karena perubahan adalah sebuah esensi dari adanya sebuah kemajuan. Menjadi maju dapat berarti bahwa kita harus berpindah posisi menjadi semakin ke depan dari posisi kita semula. Perubahan harus dikelola dengan baik agar mengahasilkan hasil yang memuaskan.

Koperasi sebagai soko guru perekonomian di Indonesia diharapkan dapat terus ada dan menjadi sebuah sistem ekonomi modern untuk menciptakan keadilan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat luas. Perekonomian di Indonesia diharapkan dapat berjalan sesuai dengan cita-cita konstitusi, yaitu perekonomian yang berdasar atas asas kekeluargaan dan demokratis. (Prof. Agustitin, Penulis Tetap Majalah UKM)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *