Perwujudan Nilai Kebersamaan- Solidarity Values Pada Koperasi Kredit

Oleh:  Abat Elias,S.E.

ilai-nilai Solidaritas pada koperasi tidak sekadar ada rasa empathy terhadap orang miskin, berbagi pada saat hari-hari besar keagamaan, memberikan derma kepada fakir miskin, memberikan makan kepada yatim piatu. Nilai Solidaritas (nilai Kebersamaan) jauh semua dari yang disebut di atas, yang mana kita sendiri kondisinya tidak akan ada gap atau jurang besar antara satu dengan yang lain. Karena itu Nilai Solidaritas harus diciptakan dan dipertahankan serta diperjuangkan sepanjang hayat agar tercipta kemakmuran dan keadilan bersama makluk yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Karena Koperasi tujuan utamanya untuk mencapai “Kesejahteraan Bersama”.

Sesuai dengan pengertian koperasi yang benar yang diputuskan oleh International Cooperative Alliance (ICA) pada konferensi Koperasi sedunia yang dilaksanakan di Manchester, Inggris pada tahun 1995, di sana dikatakan bahwa “Koperasi adalah kumpulan orang yang otonom, yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi  kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya melalui suatu perusahaan yang dimiliki bersama dan diawasi secara demokratis”.  Membangun UU Koperasi Berdasarkan Prinsip-prinsip Koperasioleh: DR. Hans – H.  Munkner (2011-179).

Koperasi adalah kumpulan orang, bukan kumpulan modal atau uang, karena itu orientasi dari koperasi bukan semata-mata mau melipatgandakan uang atau kapitalisasi modal, tetapi kebersamaan yang dapat kita terjemahkan oleh nenek moyang  bangsa ini yaitu gotong-royong – together work. Uang merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan organisasi, tetapi bukan satu satunya. Di Indonesia ukuran kesuksesan koperasi pada umumnya masih pada volume usaha termasuk di dalamnya adalah modal sedangkan faktor-faktor nilai kebersamaannya masih sangat minim hal ini disebabkan karena pola pembinaan sejak awal menggunakan “mindset kapitalistis.”

Bukti nyata dari penerapan sistem kapitalis di Indonesia adalah dunia Perbankan di mana ukurannya adalah uang lewat keuntungan yang diperoleh, modal hasil mobilisasi dana dari masyarakat dengan bunga rendah bahkan tidak memberikan bunga, tetapi dibebani dengan berbagai macam biaya sehingga masyarakat yang tabungan  jumlahnya relatif kecil (5 juta s.d. 10 juta) tidak akan bertambah bahkan semakin berkurang.
Ratio-ratio keuangan yang digunakan juga adalah sistem kapitalis, di mana rasio permodalan yang tidak sesuai dengan ketentuan Bank Sentral diharuskan menambah modal – saham, jika tidak maka diharuskan untuk menjual kepada mereka yang memiliki kapital besar – konglomerat luar negeri yang langsung menangkap sehingga suatu ketika Bank Nasional kita semuanya akan dimiliki orang-orang asing dan kita menjadi penonton setia bahkan menjadi pelengkap penderita di Negara kita sendiri.

Memiliki tujuan dan kepentingan bersama dan secara bersama-sama mendirikan usaha, artinya bahwa koperasi itu bukan milik seseorang untuk tujuan atau kepentingan pribadi seseorang, tetapi milik bersama untuk kepentingan bersama. Jadi kepentingan bersama jauh lebih tinggi dari kepentingan pribadi. Karena itu Pengurus koperasi yang benar-benar menjalankan fungsinya tidak akan menjadi kaya raya karena apa yang diusahakannya untuk membesarkan koperasi yang dimiliki bersama anggotanya.
Koperasi yang berkinerja baik adalah koperasi yang melibatkan masyarakat menjadi anggota (bukan nasabah) sebanyak mungkin, memberikan pelayanan pinjaman atau pelayanan kebutuhan anggota sebanyak mungkin. Semakin banyak masyarakat mendapat pelayanan semakin meratanya kesempatan memperoleh peluang usaha, peluang mendapatkan pekerjaan, peluang mendapatkan income pendapatan, peluang untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi sehingga memudahkan memeroleh pekerjaan atau dapat berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya, dan pada akhirnya semakin kecil gap – jurang pemisah si kaya dan si miskin. Memang tidak akan terjadi sama rata, sama rasa, karena Negara komunis sekalipun tetap menghormati mereka yang memilki kemampuan yang lebih sehingga ada segelintir orang yang memiliki kekayaan/kapital jauh dari yang lain hanya jurang/gapnya tidak terlalu besar.
Jika saja semua pelaku bisnis dan usaha di Indonesia menggunakan nilai kebersamaan- nilai solidaritas mungkin tidak akan ada; gelandangan, tuna wisma, buta aksara, kekurangan gizi, busung lapar karena satu sama lain merasa bersaudara, saling membantu satu dengan yang lain. Dan menghindari persaingan untuk mengejar harta kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Di Koperasi Kredit (Kopdit) – Credit Union (CU) yang menjadi cikal bakalnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di dunia, konsep awalnya juga membatasi kepemilikan (saham).

Seorang anggota tidak boleh melebihi 20% dari jumlah total modal sendiri (total saham) Kopdit sehingga setiap orang tidak akan menguasai baik dari segi memperoleh hasil usaha (SHU) – deviden maupun memperoleh peluang mendapat pinjaman yang terlalu besar dari yang lain. Juga menghindari ketergantungan kepada seseorang, misalnya, jika usulan orang tersebut tidak diterima sebagian besar oleh anggota, maka dia akan mengancam untuk keluar dari koperasi sehingga mengganggu kestabilan permodalan dan pelayanan kepada anggota koperasi.

Wujud kebersamaan juga harus diimplementasikan dalam sikap dan tindakan baik anggota, pengurus, pengawas, dan manajemen Kopdit di mana mereka saling menghargai satu dengan yang lain, tidak menunjukkan bahwa yang memiliki tabungan besar harus dilayani dengan prima (pertama dan utama). Pengurus dan pengawas tidak akan mendapatkan prioritas dalam segala bentuk pelayanan. Bahkan jika ada pengurus atau pengawas yang hendak mengajukan pinjaman, maka dalam keputusan tidak hanya panitia kredit, tetapi melibatkan pengurus dan pengawas yang lain, agar lebih hati-hati dan tidak menggunakan kekuasaan untuk memperoleh previlese tertentu. Hal ini untuk menghindari keputusan-keputusan aji mumpung – menggunakan kekuasaan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Dalam acara konselibrasi – makan bersama, semua jenis makanan sama mulai dari anggota sampai pengurus dan pengawas, semua mengikuti antre menuju meja makan yang sama seperti anggota koperasi biasa, tidak ada meja khusus untuk pengurus dan pengawas. Nilai-nilai kebersamaan inilah yang sulit ditemukan pada jenis usaha lain di luar koperasi. Sikap dan perilaku anggota Kopdit juga mesti tercermin dalam sikap yang bijak dalam menggunakan pinjaman dari Kopdit, karena dana yang dipinjam itu adalah solidaritas anggota lain, dan pada waktunya mereka juga akan menggunakan haknya untuk mengajukan pinjaman. Karena itu setiap person anggota Kopdit harus memiliki sikap solidaritas kepada anggota lain dengan mengangsur pinjamannya tepat waktu dan tepat jumlah sesuai kesepakatan, sehingga anggota lain pun akan dapat menggunakan haknya mendapatkan pinjaman.

Modal Bersama – Modal Kelembagaan, dalam Kopdit modal diklasifikasikan atas tiga bagian besar yaitu; Pertama Modal Hutang; yang terdiri dari hutang dari anggota berupa simpanan sukarela atau tabungan berjangka yang mendapatkan balas jasa simpanan setiap waktu tertentu; harian, bulanan, atau tahunan. Modal ini dapat ditarik sesuai dengan kesepakatan.

Kedua modal Saham; yaitu modal yang disetorkan oleh anggota sebagai bukti memiliki lembaga usaha Kopdit dalam bentuk simpanan pokok dan simpanan wajib atau simpanan lain yang setara dengan simpanan pokok dan simpanan wajib. Balas jasa dari modal saham dalam bentuk Deviden akhir tahun – SHU.

Ketiga adalah Modal Lembaga- Institusional Capital yaitu “Modal Bersama” yang berasal dari dana cadangan umum yang disisihkan setiap tahun dari SHU, jumlahnya sesuai yang telah ditetapkan oleh Anggaran Rumah Tangga (ART) Kopdit masing-masing.
Selain bersumber dari pengisian dari SHU setiap tahun, modal Lembaga atau modal bersama, juga berasal dari hibah yang legal dari luar – apakah dari pemerintah, atau dari swasta, LSM, yang diberikan secara cuma-cuma untuk pengembangan Kopdit, bukan untuk anggota perorangan. Karena itu, anggota perorangan tidak dapat memiliki hak untuk mendapat bagian dari modal lembaga. Jika seorang anggota keluar dari keanggotaan kopdit, maka yang bersangkutan tidak memiliki hak lagi untuk menikmati bagian dari modal lembaga – modal bersama, karena modal lembaga hanya untuk memperkuat dan memperkokoh lembaga koperasi untuk selamanya.

Penggunaannya mungkin untuk membangun kantor, sarana pendidikan, atau membangun sarana kesehatan untuk melayani anggota dan masyarakat umum dan sebagai jaminan terakhir apabila Kopdit dilikuidasi untuk melunasi kewajiban-kewajiban lembaga koperasi kepada pihak ketiga. Anggota yang keluar hanya boleh menarik Simpanan saham dan tabungan-tabungan lain setelah dikurangi beban administrasi. Modal bersama – modal lembaga wujud dari solidarity anggota untuk memperkuat kelembagaan Kopdit terutama untuk generasi penerus Kopdit, karena prinsip koperasi untuk hidup selamanya. Anggota boleh keluar karena meninggal dunia, tetapi Kopdit harus tetap hidup untuk selamanya. Itulah kekuatan solidaritas atau nilai kebersamaan dari kopdit.

Kompensasi – gaji dan tunjangan pengelola Kopdit harus terukur, dan memenuhi prinsip layak dan adil. Terukur artinya tidak terlalu jauh dari yang paling rendah karena masih banyak anggota yang menjadi sasaran koperasi kondisi ekonominya di bawah garis kemiskinan. Layak artinya dengan tugas dan fungsinya seorang pengelola koperasi layak memperoleh kompensasi yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar dari kompensasi lembaga lain di sekitarnya. Sedangkan adil adalah harus mempertimbangkan secara proporsional antara jenjang jabatan dan tanggung jawab dalam organisasi.

Dalam hal ini dianjurkan bahwa gaji pimpinan tertinggi dalam Kopdit sebesar-besarnya tidak melebihi 10 kali dari gaji pegawai yang paling rendah. Misalnya, gaji dan tunjangan office boy – pelayan kantor sebulan Rp3.000.000, maka gaji dan tunjangan General Manager (GM) sebesar-besarnya tidak boleh melebihi Rp30.000.000. Koperasi harus menunjukkan perbedaan dengan lembaga-lembaga yang bercirikan kapitalis, yang tidak membatasi seseorang untuk memperoleh sebesar-besarnya kompensasi karena prinsipnya selalu mengejar prestasi yang diimbangi dengan kompensasi.

Walau untuk memperoleh prestasi dengan berbagai cara, yang penting mencapai target, persetan mereka yang berkemampuan rendah dan rela untuk memberikan imbalan yang paling rendah. Di sini nilai solidaritas – kebersamaannya tidak dipertimbangkan karena tujuan mereka bukan sejahtera bersama melainkan  melipatgandakan penghasilan dan kapitalisasi permodalan.

Demikian sedikit nilai-nilai kebersamaan – solidarity values dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi bagi insan Kopdit di seluruh Tanah Air. Semoga!

(Abat Elias – Ketua I Inkopdit)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *