Pesan Uskup Maumere Kopdit Pintu Air Diharapkan Melahirkan Pejuang dan Pegiat Koperasi

“Berkat Tuhan pangkal selamat. Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya. Jika bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga. Pekerjaan tanpa perjuangan hanya akan melahirkan kebuntuan. Keberhasilan semu perlahan-lahan akan lenyap dengan sendirinya. Pekerjaan dengan ketekunan, dengan tekad yang kuat, dan manajemen organisasi yang profesional akan melahirkan suka cita dalam tugas dan kesuksesan sebagai buah dari kesetiaan.”

Uraian tersebut disampaikan oleh Imam Katolik, Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr., saat mempersembahkan Misa Syukur pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Ke-24, tahun buku 2018 Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air, sekaligus pemberkatan Gedung Kantor Pusat Kopdit Pintu Air, pada  4 Mei 2019 silam. Hadir dalam pembukaan RAT Wakil Gubernur atau Gubernur 2 Nusa Tenggara Timur (NTT) Josef Nae Soi dan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) DR. Agung Sudjamiko, M.M.

Di atas batu yang kokoh, lanjut Uskup, kita bersyukur untuk selalu melayani, tidak saja di wilayah kecamatan, namun juga ke seluruh wilayah kabupaten, provinsi, bahkan lintas provinsi di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air hendaknya mampu berdiri kokoh, garda terdepan dalam memberantas perilaku korup, tidak adil, dan melawan kemiskinan. Insan Kopdit Pintu Air hendaknya tetap menjadi orang-orang sederhana yang bergandeng tangan untuk memajukan kehidupan yang lebih sejahtera.

Ruang kehidupan kita bisa menghadirkan dua hal yaitu; sebagai tempat yang membahagiakan dan menyejukkan jiwa, atau sebaliknya, tempat yang menakutkan dan menyeramkan. Ruang di mana kita berpijak dan melangkah berbakti dan berkarya, mesti menjadi ruang yang penuh kegembiraan dan suka cita. Ruang untuk berbagi berkat dan saling menguatkan, serta meneguhkan satu sama lain.

Namun kita seringkali mengandalkan kekuatan sendiri dalam mengusahakan sesuatu. Sering stres dan frustrasi karena kehilangan target usaha, dan terjebak dalam sikap menyalahkan orang lain, atas kegagalan yang kita alami. Mestinya kita bersikap pasrah, ikhlas dan mengandalkan-Nya dalam perjuangan hidup. Termasuk membangun gedung apa pun. Pertanyaannya, maukah menjadikan ruangan-ruangan gedung sebagai tempat untuk berbagi kasih dan menyalurkan kasih. Apakah KSP Kopdit Pintu Air telah siap menjadi sebuah monumen serentak, movement – gerakan di mana berkat dan rahmat itu bisa dibagikan kepada masyarakat yang sangat kuat dililit oleh lingkaran ketidak-adilan, kemiskinan, dan kekerasan.

Kita semua diperas dan dikungkung oleh ketidak-adilan yang mewabah pada lembaga-lembaga publik, juga lembaga-lembaga privat seperti keluarga. Serta terjebak dalam kemiskinan akibat  pola kekuasaan yang korup, pola hidup konsumtif, etos kerja  lemah, tidak disiplin dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Pada ujung keduanya kekerasan terus berputar pada lingkar kematian. Kita boleh belajar dari sejarah koperasi di dunia untuk bisa keluar dari lingkaran setan ini.

Sekedar untuk melawan lupa, ketika Jerman dilanda krisis ekonomi karena badai salju yang melanda seluruh negeri, petani tidak dapat bekerja karena banyak tanaman tak menghasilkan. Penduduk pun kelaparan. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga sangat tinggi. Sehingga banyak orang terjerat hutang. Karena tidak mampu membayar hutang, maka sisa harta benda mereka disita oleh lintah darat. Kemudian tidak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, diambil alih oleh mesin-mesin. Akibatnya banyak pekerja terkena PHK, dan terjadi pengangguran secara besar-besaran.

Melihat kondisi tersebut Wali Kota Flammers Field, Friedrich Wilhelm Raiffeisen merasa prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia mengundang orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Berhasil dikumpulkan uang dan roti, kemudian dibagikan kepada kaum miskin. Ternyata derma tak memecahkan masalah kemiskinan. Sebab kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tidak terkontrol dan tidak sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya, para dermawan tidak lagi berminat membantu kaum miskin.

Raiffeisen tidak putus asa. Untuk menjawab soal kemiskinan ia mengambil cara lain. Dikumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman lalu dibagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini tak menyelesaikan masalah. Hari ini diberi roti, esok hari sudah habis, begitu seterusnya. Berdasar pengalaman itu, Raiffeisen berkesimpulan: “kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin sendiri. Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama, kemudian meminjamkan kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam.”

Untuk mewujudkan impian tersebut Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi bernama Credit Union (CU) artinya, kumpulan orang-orang yang saling percaya. CU – koperasi yang dibangun oleh Raiffeisen, petani miskin dan kaum buruh berkembang pesat di Jerman, bahkan kini telah menyebar ke seluruh dunia sampai ke Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tahun ini, 2019, Kopdit Pintu Air, yang konsisten menerapkan prinsip-prisip credit union, genap berusia Tiga Windu (24 tahun).

Bermula dari bawah pohon kakau, di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT yang sering disebut sebagai daerah termiskin dan tertinggal di Indonesia, KSP Kopdit Pintu Air seperti diharapkan Uskup Ewaldus Martinus Sedu, Pr. terus berintervensi jauh menyeberang lautan dan terbang tinggi ke; Dompu, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Surabaya, Jawa Timur, Ibukota Negara, Jakarta dan Makasar, Sulawesi Selatan untuk membangun kesejahteraan rakyat. Kopdit Pimtu Air, kini telah menjadi koperasi nasional, dengan sederet prestasi.

“Kopdit Pintu Air diharapkan mampu melahirkan inspirasi-inspirasi baru untuk terus melahirkan pejuang dan pegiat koperasi yang handal di tengah zaman dengan budaya yang serba instan, budaya mencari gampang, dan kesenangan sesaat,” pesan Bapa Uskup Maumere.

***

Kini, Kopdit Pintu Air telah menggapai sukses luar biasa. Keberhasilan yang dianggap keajaiban “dunia” membuat Yakobus Jano, ketua Kopdit Pintu Air tak kuasa menahan lelehan air mata haru – bahagia. Suaranya parau, tersendat patah-patah ketika mengawali sambutannya. “Peristiwa pagi hari ini, bagi kami sungguh berat. Karena ada suatu kegembiraan yang tidak bisa dibayar,” katanya berterus terang.

Pada 24 tahun yang lalu, tepatnya 1 April 1995, bersama 50 orang anggota perintis, lanjutnya sambil menjelaskan bahwa yang duduk di sebelah kanannya adalah para perintis Kopdit Pintu Air, adalah sesuatu yang tak masuk akal. “Kami, 50 orang datang dari kampung ini, Rotat, bukan Desa. Perjalanan 24 tahun sungguh melelahkan. Karena tidak punya kantor, pertemuan bulanan dilakukan di bawah pohon kakao. Segala peristiwa kami lalui. Dari 50 orang itu tidak semua akur. Ada yang minta keluar. Karena untuk berfikir jauh ke depan, bisa dikatakan tidak masuk akal. Belum lagi hambatan dari luar,” kata Yakobus tanpa menjelaskan apa hambatan dari luar yang dialami.

Sampai tahun 2010 atau kurang lebih 15 tahun, jumlah anggota Kopdit Pintu Air baru mencapai 13.460 orang. Diyakini, karena campur tangan Tuhan, semua terjadi. Untuk memberikan dorongan dan semangat, mengadakan Misa Syukur, mengundang Uskup Maumere Mgr. Gurufus Kurubin Pariera, SVD. Sebelum emeritus – pensiun Mgr. Gurufus 3 kali berturut-turut (2011 – 2013) memimpin Misa Syukur, dan tahun 2019 merupakan kali keempat Mgr. merayakan Misa Syukur di Kopdit Pintu Air.

Kekuatan itu memberikan dorongan sangat besar. Boleh dibilang tak masuk akal. “Bagaimana masuk akal?” tanya Yakobus seraya dijawabnya sendiri bahwa selama 9 tahun terakhir pertambahan jumlah anggota sangat pesat. Sampai Maret 2019 total jumlah anggota telah mencapai 227.672 orang. Pada18 Maret 2017 juga mengukir sejarah baru, Mgr. Gurufus melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung megah tiga lantai yang menelan biaya pembangunan belasan miliar. Kantor Pusat Kopdit Pintu Air itu merupakan kantor koperasi termewah di NTT.

“Saya aktif di gerakan koperasi sejak tahun 1989 ketika masih di koperasi mahasiswa. Sampai menyelesaikan doktoral pun masih di koperasi dengan desertasi tentang koperasi kredit. Sejak tahun 1989 sampai 2019 baru kali ini datang di gedung miliknya koperasi yang begitu mewah. Saya tidak menemukan di Jakarta, maupun di Surabaya, atau kota besar lainnya ada gedung semegah dan semewah gedung milik Kopdit Pintu Air yang justru ada di Dusun Rotat, Kabupaten Sikka,” kata Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) DR. Agung Sudjamiko, M.M.

Agung mengaku bangga, anggota Kopdit Pintu Air telah menghimpun aset yang sangat luar biasa. Dia menghitung-hitung, gedung seluas 3.600 meter persegi, untuk alokasi bangunan saja ditaksir sekitar Rp15 miliar. Belum lagi isinya. Kalau dengan isinya kira-kira Rp20 miliar. Itu semua bukan milik pengurus, bukan milik ketua, bukan milik bupati, bukan milik gubernur, atau miliknya pemerintah provinsi, tetapi milik anggota gerakan koperasi, milik semua anggota Kopdit Pintu Air.

Sebagai anggota Kopdit yang ada di Jakarta, Kopdit Sehati, Agung mengaku agak minder. Kopdit Sehati asetnya baru Rp98 miliar, anggotanya baru 13.000 orang. Dibandingkan Kopdit Pintu Air yang notabenenya milik orang dusun, sangat jauh. Kopdit Pintu Air asetnya sudah triliun, anggotanya 200.000 orang lebih. Menghadapi perubahan, aset yang besar itu harus dikelola secara modern.

Menurut Yakobus pribadi, di Flores ada 3 keajaiban dunia. Pertama, binatang purba – komodo di Labuhan Bajo. Kedua Danau Kalimutu yang memiliki 3 warna, dan ketiga adalah Kopdit Pintu Air. Tanpa bermaksud ingin membusungkan dada, dia ambil contoh saudara tuanya, Kopdit Obor Mas yang usianya hampir 50 tahun, anggotanya belum mencapai 100.000 orang. Namun Kopdit Obor Mas juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Kopdit Pintu Air.

Lahir di kampung dengan orang-orang kampung, bisa memberikan suatu spirit dan prestasi, memang membanggakan. Namun tidak boleh lupa diri. Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan Yakobus mengingatkan kepada seluruh anggota; “Jangan merasa ini adalah perbuatan Anda. Anda dan saya hanya berupaya melakukan kebajikan di dunia. Sedangkan yang berkarya adalah Tuhan Allah. Kita hanya sebagai perantara saja.” Yakobus Jano kemudian mengutip ayat dari Alkitab, Ulangan bab 28 ayat 1 – 2; “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan Allahmu akan mengangkat engkau di atas bumi ini.”

Tentang koperasi yang ada di Indonesia, Josef Nae Soi mengaku sangat beruntung mendapat penjelasan langsung dari tokoh sentral, Muhammad Hatta (Bung Hatta) Wakil Presiden RI pertama yang juga Bapak Koperasi Indonesia, kala Josef masih mahasiswa, dan menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa di Universitas Katolik (Unika) Atmajaya, Jakarta. Waktu itu Unika Atmajaya mengundang Bung Hatta untuk memberikan ceramah di kampus.

Josef bertanya kepada Bung Hatta; “Mengapa Bung Hatta mempopulerkan koperasi. Mengapa perekonomian kita – Indonesia harus berlandaskan koperasi?” Bung Hatta menjawab; “Indonesia ini lahir dari kampung. Dari kampung menjadi Desa. Dari Desa menjadi Kecamatan. Dari Kecamatan menjadi Kabupaten, dan akhirnya menjadi Republik Indonesia. Di kampung itulah ada kegotong-royongan. Di kampung itulah ada kekeluargaan.” Itulah alasan Bung Hatta mempopulerkan koperasi. “Saya kira tidak berlebihan, dari kampung – Dusun Rotat lahir Kopdit Pintu Air yang sangat luar biasa sesuai cita-cita Bung Hatta,” tegas Gubernur 2 NTT yang pernah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan mantan Duta Besar berkuasa penuh di Brasil.

Bung Hatta mengatakan; koperasi kebanggaannya bukan jumlah uang, tetapi karakter orang. Jumlah uang nomor dua. Sedangkan yang pertama, kepercayaan untuk mengembalikan uang pinjaman. Semakin banyak orang percaya kepada koperasi, dan semakin banyak perputaran uang di koperasi, itulah koperasi. Perputaran itu yang menjadi kekuatan koperasi. Kalau tidak ada perputaran dan kepercayaan dari anggota, tidak mungkin gedung kantor pusat Kopdit Pintu Air terbangun. Karena kepercayaan dan perputaran yang luar biasa, Kopdit Pintu Air menjadi besar.

Mengingat waktu sekolah, gurunya mengatakan; “Desa makmur negara maju. Desa mlarat – miskin, negara……” tak dilanjutkan. Karena itu pemerintah Provinsi NTT, baik Gubernur 1 maupun Gubernur 2 akan selalu turun ke bawah. Unit Pelaksana Teknis (UPT) tidak usaha terlalu banyak di Kupang, Ibukota Provinsi NTT. Pegawainya harus turun ke desa-desa, kerja di desa. Pemerintah akan melakukan kerja sama dengan koperasi-koperasi yang ada di NTT. Apalagi dengan Kopdit Pintu Air yang tidak ada 1 sen pun uang dari pemerintah, tetapi bisa berkembang luar biasa. “Sebenarnya yang beruntung itu kami, pemerintah. Bapak – Mamak yang menjadikan nama kami besar. Karena itu, tugas kami menjalin kerja sama,” tutur Josef.

Saat pengurus Kopdit Pintu Air audiensi dengan Gubernur 1 Victor Laiskodat, pada 5 Maret 2019, yang bagi Yakobus Jano adalah kali pertama masuk dan ketemu Gubernur NTT di kantornya, telah menyampaikan perlunya uluran tangan bagi gerakan yang beranggotakan 200.000 lebih ini menuju hilir. “Kami datang tidak mau minta uang, atau minta beras. Kami minta pendidikan, pelatihan, keterampilan dan pendampingan. Keterampilan itu akan menjadi modal. Kami yang ada di hulu perlu diberdayakan dengan keterampilan agar mampu berlayar sampai hilir. Orang kaya itu datang dari orang miskin yang bermental kaya. Itu semua tidak bisa terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diberi pelatihan, dibimbing, dan didampingi,” urai Yakobus.

Permintaan tersebut, kata Josef, pasti dipenuhi. Namun Gubernur juga minta ada standar kualifikasi keterampilan, standar kualifikasi kompetensi, dan harus ditentukan oleh masyarakat yang namanya Koperasi Pintu Air itu sendiri. “Karena memang tidak ada teorinya, tidak pernah ada literatur, juga tidak pernah baca buku. Namun, kita bisa bayangkan, dari 50 orang menjadi 200.000 orang lebih, dari sebuah dusun bisa menghasilkan omzet triliunan. Ini kan luar biasa,” kata Josef memberikan pujian.

Karena itu, lanjutnya, Pemprov NTT mengajak Kopdit Pintu Air, Kopdit Obor Mas dan koperasi apa saja di NTT untuk duduk bersama menyusun bersama yang namanya standarisasi keterampilan. “Karena aktivis dan praktisi koperasi pasti lebih hebat daripada profesor doktor, daripada gubernur maupun bupati. Kecuali Wakil Bupati Sikka, Pak Romanus Woga, yang memang ahli koperasi. Kami-kami ini buta tuli tentang koperasi. Hanya ngaku-ngaku, gubernur – bupati itu hebat. Itu harus kami akui. Yang punya etos kerja luar biasa, dari nol sampai triliunan, Pak Jano dan kawan-kawan,” tutur Josef, seraya mendapat tepuk tangan gemuruh peserta RAT. Karena itu, lanjutnya, standarisasi keterampilan akan diminta dari aktivis dan praktisi koperasi.

Dalam membangun bisnis ke depan, pengurus – manajemen harus mampu membuat lompatan-lompatan. Tantangan ke depan tidak semakin mudah, melainkan akan semakin sulit. Teknologi sudah harus digunakan. Mulai dari Amerika, Singapura dan di kapung-kampung sudah menggunakan teknologi. HP-nya sudah android atau smart phone. Teknologi sudah melakukan perubahan terhadap gaya hidup seseorang. Anak cucu kita membutuhkan makan, di kota-kota besar yang sudah ada online-nya, melalui HP bisa pesan makanan dengan cepat.

Suka tidak suka, koperasi adalah perusahaan milik bersama, milik seluruh anggotanya. Maka harus fokus mengembangkan bisnis yang sesuai dengan kebutuhan anggota. Kopdit Pintu Air sudah punya unit usaha riil di luar simpan pinjam sebagai bisnis utama. Dan mungkin ada bisnis-bisnis lain yang akan dikembangkan. Bagaimana system pengembangan bisnis, agar Kopdit Pintu Air menjadi koperasi besar, unggul dan modern, sehingga menjadi contoh koperasi-koperasi lain dalam mebangun bisnis untuk kesejahteraan anggota.

Semua itu bisa dilakukan jika kualitas SDM dikembangkan. Agung menilai, permintaan Ketua Kopdit Pintu Air kepada pemerintah sangat tepat bahwa dibutuhkan pendidikan, pelatihan, pendampingan dan pengembangan SDM agar koperasi mampu meningkatkat ketrampilan berbisnis, koperasi mengatur literasi, kemampuan ekonomi agar bisa meningkatkan produktivitas, membangun partisipasi masyarakat – anggota.

Perkembangan teknologi menjadi hal sangat mendasar. Karena itu kolaborasi bisnis menjadi keharusan. Yang harus melakukan kolaborasi pertama kali tentu internal koperasi kredit. Setelah itu, Kopdit Pintu Air dengan Kopdit yang lain. Kemudian dengan pelaku-pelaku usaha yang lain. Karena hanya berkolaborasi kita bisa membangun, untuk fokus membangun bisnis bagi kesejahteraan anggota. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *