Petani Anggota Koperasi Harus Kaya

Meningkatkan aset lembaga, terutama penguatan modal sendiri dianggap sangat penting, karena modal merupakan faktor utama untuk meningkatkan kegiatan – operasional usaha.

Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Caraka Utama Lampung, yang anggota perseorangan di primer-primer 90% petani, juga membutuhkan permodalan yang memadai untuk menunjang pengembangan produktivitas dan kualitas pertanian anggota. “Karena itu pemupukan modal lembaga harus terus ditingkatkan. Sebagai gambaran, kalau pada tahun 2015 aset lembaga baru mencapai Rp 600-an miliar, maka tahun 2020 targetnya sekitar Rp 1,3 triliun,” ungkap Ketua Puskopdit Caraka Utama Lampung, F.X. Siman.

Mengembangkan kegiatan usaha tidak semata-mata terpenuhinya permodalan dalam bentuk uang, tetapi juga adanya dukungan sumber daya yang lain, misalnya,
sumber daya manusia (SDM), sumber daya produksi, sumber daya teknologi, dan sebagainya. Karenanya pengurus terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya tersebut. Untuk meningkatkan kualitas SDM, ada program pendidikan dan pelatihan secara berkesinambungan. Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian ada kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), dan untuk meningkatkan pelayanan prima kepada anggota, pengurus juga terus berupaya melengkapi sarana dan prasarana teknologi informasi (IT) terkini.

“Sekarang ini  sudah modern. Untuk melakukan transaksi, anggota tidak harus ke kantor. Melalui jaringan IT, ketika petugas di lapangan menerima setoran dari anggota, misalnya, sudah langsung terkoneksi dengan kantor,” jelas Siman. Diakui, karena penggunaan IT ini peralatannya cukup mahal, maka baru beberapa Kopdit yang cukup besar seperti Kopdit Mekar Sai, Kopdit Gentiaras, dan Kopdit Bunga Tanjung yang menggunakan IT terkini. Karena Puskopdit Caraka Utama oleh Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) dijadikan laboraturium, maka yang bisa memanfaatkan untuk belajar IT bukan hanya kopdit-kopdit anggota Caraka Utama, koperasi-koperasi lain, bukan kopdit pun yang berminat belajar IT dipersilahkan belajar di Puskopdit Caraka Utama.

Sebagai anggota Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), Puskopdit Caraka Utama akan tetap memegang prinsip kemandirian, dan menjadi koperasi yang mandiri. Itu sebabnya, terkait permodalan misalnya, tidak pernah berpikir untuk mendapatkan bantuan dari pihak luar, dari pemerintah maupun perbankan. “Kemandirian itu untuk melawan ekonomi kapitalis,” tegas Siman. Di bidang keuangan, Puskopdit Caraka Utama banyak dibantu beberapa kopdit besar yang bersedia menyimpan sebagian dana liquid-nya. Hal ini sangat bermanfaat bagi Kopdit lain yang sangat membutuhkan dana untuk pelayanan simpan pinjam anggota.

Meskipun likuiditas terus dijaga agar pelayanan simpan pinjam primer berjalan dengan baik, namun karena permodalan masih kurang, kadang mengalami kewalahan dan “dengan terpaksa” harus mengajukan pinjaman ke Inkopdit sebagai induk jejaring. Ke depan, tantangan kopdit sebagai lembaga keuangan semakin berat. Selain pasar bebas ASEAN yang lebih popular dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan Negara lain pun mendirikan lembaga keuangan di Indonesia, pemerintah juga semakin gencar menyalurkan dana-dana dengan bunga rendah kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dan kredit untuk rakyat (KUR) melalui perbankan. Namun Siman yakin, jika gerakkan kopdit tetap bersatu dan menegakkan pilar utama Kopdit yaitu; pendidikan, swadaya, solidaritas, dan mandiri kesulitan itu akan dapat diatasi.

Sebagai koperasi sekunder yang memiliki anggota 43 primer, dan tersebar dari Ibukota Provinsi, di Bandar Lampung sampai ke Kota Kabupaten dan Kecamatan, dengan anggota perseorangan dari kalangan petani dan pedagang kecil tugas utamanya menyiapkan dua sisi. Yaitu sisi petainya sendiri, dan satu sisi lainnya terkait dengan teknologi. Di daerah-daerah sudah mulai menggarap bagaimana petani itu sejahtera, sebagaimana tujuan utama berkoperasi. “Di era global dengan kemajuan teknologi yang luar biasa pesat, kata kunci sejahtera, teknologi harus dikuasai,” tegas Siman.

Langkah awal menyejahterakan anggota melalui teknologi sederhana, sudah dimulai. Misalnya, anggota diberi pendidikan dan pelatihan tentang bagaimana membuat pupuk organik, sehingga mereka mampu memproduksi pupuk organik sendiri. Tujuannya, mengurangi pemakaian pupuk kimia yang ternyata berakibat kurang baik terhadap kesuburan tanah. “Sejak 2 tahun silam telah menjalin kemitraan dengan Rumah Eergi, untuk membimbing para anggota memanfaatkan kotoran hewan. Aplikasi kemitraan baru dimulai tahun 2016 ini. Kotoran hewan diolah, sehingga menghasilkan listrik, dan gas yang bisa untuk masak,” kata Haryono Daud, anggota pengawas.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, petani anggota Kopdit digairahkan tidak hanya mengolah lahan, tetapi juga berternak. Di desa, yang namanya petani tidak lepas dari ternak. Baik sapi, kerbau maupun kambing. Karena itu, jika seorang petani memiliki minimal 3 ekor sapi atau kerbau, atau 10 ekor kambing, kebutuhan bahan baku untuk energi itu bisa terpenuhi. Dari fermentasi kotoran hewan, kecuali menghasilkan listrik, bisa untuk masak, juga menghasilkan pupuk organik yang luar biasa dan pakan ikan, serta bisa diolah menjadi cairan untuk campuran pakan sapi, kerbau dan kambing.

Dengan kualitas pakan ternak yang baik, akan cepat membuat penggemukan sapi potong anakan menjadi besar. Jadi, yang namanya tenologi bukan hanya penggunaan computer dan jaringan komunikasi. Bidang pertanian pun perlu tenoklogi modern untuk mengolah lahan pertanian maupun mengolah hasil pertanian. “Lahan pertanian anggota, sangat mungkin tidak bertambah. Yang harus dikembangkan adalah produksinya. Dengan sistem pengolahan modern, yang meningkat bukan hanya kwantitas produksi, tetapi juga kwalitas produknya. Hal mendasar agar penerapan teknologi pertanian berhasil, paradikma – pola pikir petani harus diubah,” urai Haryono.

Jadi, lanjutnya, IT hanyalah salah satu jenis teknologi, yang akan mempercepat proses pengembangan usaha. Di antaranya untuk melakukan traksaksi jual beli. Melalui teknologi informasi, pelaku usaha, terutama wirausaha pemula, dalam memasarkan produk-produknya tidak harus menenteng keliling ke mana-mana, atau harus membuka toko baru, tetapi cukup melalui media online. Sekarang zaman sudah berubah, toko tidak selalu dalam bentuk fisik bangunan, dunia maya bisa menjadi toko. Bahkan sangat efektif, bisa menjangkau ke seluruh dunia.

Efektivitas IT telah dimanfaatkan CU Mart yang dibangun oleh Puskopdit Caraka Utama. CU Mart yang dikembangkan berbeda dengan Alfamart atau Indonemaret, mungkin juga berbeda dengan CU Mart yang bermunculan di berbagai daerah. Karena 90% anggota Kopdit di Lampung petani, CU Mart-nya lebih banyak menjual produk-produk yang berkaitan dengan pertanian. CU Mart mulai operasi setahun, kemudian sejak 4 bulan terakhir dikembangkan dengan IT. Ke depan, CU Mart akan lebih banyak menampung produk-produk anggota. Tujuannya, petani tak hanya bertani, tapi menjadi pengusaha. “Tidak hanya petani produsen, tetapi petani pengusaha,” tegas Siman.

Di tokonya, tidak kelihatan banyak orang yang belanja, tetapi pegawai sibuk mengantar beras pemesan. Produk-produk yang dijual di CU Mart sebagian juga sudah menggunakan merek koperasi. “Kami harus mempersiapkan teman-teman petani dengan konsep petani sejahtera. Jangan sampai ada petani mlarat – miskin karena dia merasa petani. Petani harus kaya. Dan yang penting kaya produksi. Petani sekarang sudah generasi ketiga dari petanipetani awal yang menggunakan cangkul. Sekarang sudah mekanikasi, mereka boleh dibilang orang-orang sekolahan. Ada yang pegawai, tetapi mereka juga punya usaha pertanian,” jelas Haryono.

Untuk mendukung program peningkatkan produksi dan kualitas produk pertanian anggota, Puskopdit Caraka Utama menjalin kemitraan – kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila). Haryono mencotohkan, untuk mengetahui level ke-organik-an padi yang dihasilkan anggota seperti apa, Unila yang bisa menentukan, karena  memiliki laboraturium. “Kalau kita mengatakan organik, harus ada pihak ketiga yang independen. Kita harus jujur, bicara organik, sekarang tidak bisa 100%. Waktu tanam, mungkin tidak pakai pupuk nonorganik, tidak pakai pestisida, tetapi airnya masih campur dengan petani lain yang menggunakan pestisida. Karena itu, pasti belum 100% organik. Maka dibutuhkan catatan terinci dari yang punya kompetensi (Unila),” tegas Haryono.

Kalau mau produksi beras organik, kata Siman menimpali, tidak cukup hanya sehektar dua hektar, tetapi harus satu wilayah yang cukup luas, dan harus melibatkan banyak petani. Salah satu anggota Kopdit Mekar Sae memproduksi beras dari padi yang ditanam menggunakan pupuk organik dan tidak menggunakan pestisida. Tetapi dia tidak berani mengklaim bahwa berasnya, beras organik. Dia hanya katakan, berasnya, beras alami. Anggota tersebut, dulu, ketika memulai dengan susah payah. Tetapi setelah hasil panenya lebih baik daripada yang menggunakan pupuk kimia, secara sukarela akhirnya petani-petani di sekitarnya ikut menggunakan pupuk organik.

Setelah merasakan manfaatnya menggunakan pupuk organik dari kotoran sapi jauh lebih bagus, daripada menggunakan pupuk kimia, mereka membentuk kelompok, dan menyetorkan kotoran sapinya di suatu tempat untuk diolah menjadi pupuk organik. Bahkan kemudian mereka sepakat membangun kandang sapi di satu lokasi, sehingga tidak harus “mikul” jauh. Haryono mengaku tidak tahu pasti jumlah sapi yang dipelihara di satu lokasi tersebut. Yang jelas semakin banyak, karena bertambah terus. “Masingmasing mengurus sapinya sendiri. Jadi, hanya tempatnya saja yang menjadi satu, berdekatan,” tegasnya.

Ketika anggota Kopdit mengaku menjadi petani, kata Siman, jangan hanya menanam saja, tetapi juga harus menyiapkan pupuknya. Sehingga biaya produksi bisa ditekan menjadi lebih rendah. Koperasi juga berperan. Menyiapkan permodalan, melakukan pendidikan, pelatihan, pendampingan, dan membantu pemasaran. “Kalau belum ada contoh, pola pikir petani susah diajak berubah. Tetapi setelah melihat ada yang menggunakan pupuk organik hasilnya lebih bagus, yang lain juga mau mencoba,” jelasnya. Biasanya, kata Haryono, orang mau berubah jika sudah mengalami sendiri. Karena itu, pengurus berupaya mendorong anggota melakukan perubahan cara bertani dengan menggunakan pupuk organik.

Membuat pupuk organik, tidak sulit,  tidak memerlukan waktu khusus, tetapi bisa dilakukan secara kontinyu. Sore hari, misalnya, sepulang dari sawah, mengumpulkan kotoran sapi di suatu tempat, kemudian dikasih bibit bioorganik. Dalam waktu 5 hari sudah jadi pupuk. Hari keenam airnya diambil, jadi pupuk cair. Ampasnya dikeringkan, juga masih bisa dijadikan pupuk. Seperti angon – menggembala sapi, bikin pupuk organik itu bisa dilakukan setiap hari. Semakin banyak orang menggunakan pupuk organik produksinya sendiri, semakin meluas area pertanian organik, semakin sehat kita karena mengkonsumsi makanan produk alami.

Perubahan petani anggota Kopdit di Lampung tidak revolusi – berubah dengan cepat, tetapi evolusi – berubah pelan-pelan namun pasti. Mereka diberi pengalaman oleh orang-orang yang sudah berhasil. “Berubah dalam jangka pendek, dan cepat, tidak bisa,” tegas Siman. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *