Poolbag Mengincar Pasar Internasional

Data dari Kementerian Koperasi,  Usaha Kecil dan Menengah menyebutkan, dari 58,4 juta Usaha Mikro, Kecil dan  Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia, baru 30 % yang mengakses pembiayaan perbankan. Lembaga keuangan nonbank seperti koperasi simpan pinjam mungkin lebih mudah diakses, tetapi suku bunganya sulit dijangkau. Ini artinya, masih ada masalah permodalan bagi sebagian besar UMKM yang beroperasi di Indonesia.

“Itu benar adanya. Sulitnya memperoleh kredit bank, karena harus punya agunan, terpaksa kami menjalankan usaha dengan modal seadanya. Walau usaha dengan modal pas-pasan, tetapi kami tetap mengutamakan kualitas. Dengan harapan dapat bersaing di pasar global,” tutur Ny.Pipriyanti, pemilik Poolbag Collection yang memproduksi dan memasarkan berbagai jenis tas di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung, Jakarta Timur.

Ny.Pipriyanti punya optimisme bahwa produk UKM ke depan akan semakin cerah dan berpeluang besar menembus pasar internasional. Itu sebabnya, tas-tas yang diproduksinya berorientasi ekspor. Karena melihat peluang itu, ia memfokuskan usahanya. Ibu empat orang anak itu mengaku hanya bermodal tekad dan optimisme. Kebetulan ada yang memberikan motivasi, terutama adiknya, Adi Putra SE, pemilik  DeMour Collection yang lebih dahulu membuka usaha serupa di PIK Pulogadung.

“Dia juga mensupport usaha ini, sehingga semua berjalan lancar. Prinsip saya, hidup adalah perjuangan yang harus dilakoni. Jika pekerjaan itu kita tekuni dan diyakini akan membawa rejeki, insya Allah, Tuhan memberkahinya. Yang penting punya keyakinan bahwa usaha akan berjalan lancar. Tetapi kita juga harus jeli membaca pasar. Seberkualitas apapun produk kita, kalau buta keinginan pasar, akan sia-sia. Selain jeli melihat pasar, juga dituntut mampu berinovasi, agar hasil produk kita tidak monoton,” ujarnya.

Bicara soal sulitnya UKM memperoleh kredit untuk modal usaha dari perbankan, menurut dia, sebenarnya ini merupakan problem klasik. Tetapi ia juga tidak tahu, kenapa pemerintah tak kunjung menemukan solusi untuk mengatasinya. Persoalan tesebut, juga termasuk problem-problem lain, seperti lemahnya dukungan birokrasi dan ketertinggalan teknologi, pada akhirnya membuat daya saing UMKM sulit beranjak naik.

Kesepakatan KTT APEC seharusnya memang dapat menjadi sentilan buat pemerintah bahwa untuk bisa menggapai pasar global hendaknya terlebih dahulu memperkuat pondasi di dalam. Kita punya modal yang kuat karena sesungguhnya struktur ekonomi Indonesia saat ini didominasi pelaku UMKM.

Negeri ini juga memiliki sumber daya alam yang masih melimpah untuk membawa sektor usaha kecil dan menengah ke puncak kejayaan. Tetapi semua itu tidak akan punya arti jika pemerintah tidak juga mampu menelurkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada sektor UMKM. Apalagi jika pemerintah daerah tidak punya cukup atensi memberdayakan UKM dan pertanian karena terlalu sibuk dengan urusan politik dan jabatan.

Apa yang dirasakan Ny.Pipriyanti, usaha yang ditekuni sudah ketinggalan lebih dari 7 tahun. Tetapi ibu 4 orang anak itu merasa optimis untuk membuka usaha berbagai jenis tas. Baik berkualitas lokal maupun ekspor. Ia berkaca kepada keberhasilan adiknya, Adi Putra, pemilik DeMour Collection yang kini produknya sudah berhasil menembus pasar internasional (ekspor). Usaha itu ditekuni  beberapa tahun lalu itu. Berkat motivasi dan support dari sang adik akhirnya Ny. Pipriyanti bangkit dan siap bersaing dengan perajin-perajin tas lainnya di kawasan PIK Pulogadung untuk merebut konsumen.

“Dengan modal sedikit itu, mudah-mudahaan usaha ini berjalan lancar dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan ekspor. Walau kami baru memulainya,” ujarnya. Soal harga, variatif. Dari yang termurah Rp 10 ribu untuk jenis tas ngaji, sampai ratusan ribu bagi tas yang berkualitas ekspor. Tas-tas produksinya antara lain tas seminar, tas kantor, tas laptop, tas ransel, tas promosi dan menerima pesanan partai besar maupun kecil. Soal harga, tergantung dari kualitas bahan maupun model.

Kalau modelnya ribet dan bahan bakunya mahal, seperti tas-tas kualitas ekspor, harganya sampai Rp 100 ribu lebih. Ada juga tas yang terbuat dari bahan puring, harganya Cuma Rp 8 ribu. Biasanya digunakan untuk tas ngaji atau tas sembako untuk selamatan atau souvenir. Ia bersyukur, usaha tas yang dirintis sejak 1 Januari 2013 itu, kini telah mengalami perkembangan cukup menggembirakan. Itu dapat dilihat dari banyaknya konsumen yang datang ke kiosnya, kawasan PIK Pulogadung Blok C No.9-10 Jl Raya Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. (st)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *