Produksi Sampah Plastik Indonesia Terbanyak Kedua di Dunia?

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian sampah plastik di perairan dalam Indonesia, yakni di Selatan Jawa, Bali, dan Selat Makassar. Penelitian yang dilakukan 18 November hingga 25 Desember 2019 untuk mengetahui benarkah sampah plastik di laut Indonesia berasal dari masyarakat Tanah Air.

Kita tahu, Indonesia penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Namun, benarkah sampah plastik di laut itu produksi kita? Atau sampah yang lewat dari utara ke selatan dari negara lain. Itulah pentingnya riset dilakukan. Jenis sampah Styrofoam yang mendominasi di laut Indonesia. Penelitian yang dilakukan LIPI di 18 kota utama Indonesia menemukan 0,27 juta ton hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia selama kurun waktu 2018.

Sampah-sampah tersebut, masuk dari jalur sungai atau muara menuju laut lepas bukan akibat dari transportasi kapal. Sampah styrofoam lebih dominan dari jenis sampah lain, karena sampah plastik botol masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jadi oleh pemulung, botol dan plastik diambil karena masih bisa didaur ulang sedangkan styrofoam tidak bisa.

Untuk mendapatkan hasil optimal penelitian bisa memakan waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Yang dideteksi bukan hanya sampah plastik yang terlihat namun juga sampel air. Air yang diambil menggunakan Rosette bottle untuk dianalisis kedalamannya 1.000 meter lebih. Alat itu ditenggelamkan sampai kedalaman 2.000 – 3.000 meter. Saat alat tersebut diangkat akan menangkap air yang terkontaminasi, lalu dianalisis.

Kita juga perlu tahu larva ikan tuna di mana menetas dan membesarnya, dan dimana harus ditangkap. Karena itu perlu dipetakan secara baik. Jika tidak, kita hanya akan mendapatkan tuna kecil-kecil. Padahal sebenarnya kita bisa mendapatkan yang lebih besar. Ini sangat penting bagi masyarakat. Data tersebut akan digunakan untuk memberikan masukan bagi institusi lain.

Indonesia di urutan ke-2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahun. Data ini terungkap dari hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science. Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan berbagai faktor. Ini akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut.

Indonesia menempati urutan ke-2 disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka. Julukan sebagai negara nomor 2 penghasil sampah plastik di dunia, awalnya diberikan oleh peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck. Australia meski tidak termasuk dalam 20 besar, juga turut membuang sampah plastik ke lautan sekitar 0,01 juta ton. Itu data tahun 2010. Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju. Selama ini volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan, sehingga angkanya dilihat kisaran.

Tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, dan jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai. Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebut, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik murah. Wilcox bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya. Yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga. Dalam siklus 11 tahun, jumlah sampah plastik mengalami peningkatan 2 X lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman jenis sampah plastik terbesar.

Data terkait time series atau data dari waktu yang sangat panjang tentang arus oceanography di daerah samudera, seperti Samudera Hindia dan Selat Karimata. Data time series sangat penting untuk mengetahui berapa jumlah air yang mengalir dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, kemudian bagaimana efeknya, bagaimana suhu, keasinan, sehingga diketahui polanya, perubahan sepanjang tahun terhadap iklim, dan cuaca ekstrim di Indonesia dan dunia.

Untuk memperoleh data time series membutuhkan waktu cukup lama. Karena diperlukan korelasi dengan data stasiun Current, Temperature, and Depth (CTD), serta data biota yang menjadi bahan pembanding untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya. Hasilnya tak langsung keluar karena perlu time series analisis itu dengan data-data yang tahun sebelumnya agar dapat gambaran menyeluruh terhadap aspek oceanography, terkait dengan pola arus, kecepatan arus, keasinan dan lain-lainnya.

Guna mengkonfirmasi hasil penelitian Jambeck, yang menempatkan Indonesia negara ke-2 penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, mendorong Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penelitian sampah plastik di perairan Indonesia. Pmerintah telah membuat rencana aksi nasional (RAN) pengelolaan sampah laut dengan anggaran sebesar US$ 1 miliar dengan target 2025 pengurangan 70% sampah plastik. Untuk mencapai target tersebut, masyarakat, lembaga pemerintah dan swasta harus mengubah perilaku, terutama menekan penggunaan sampah sekali pakai.

Bagi KKP, sebaran informasi tersebut harus bisa dimentahkan dengan data dan fakta yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, BRSDM KKP berencana segera melaksanakan penelitian berkaitan dengan produk sampah plastik yang berasal dari daratan dan masuk ke wilayah laut. Upaya untuk mengungkap produksi sampah plastik yang ada di lautan Indonesia, menjadi tugas penting bagi Indonesia.

Salah satu permasalahan yang kerap kali ditemukan di laut adalah terganggunya kehidupan biota laut beserta sumber daya laut lainnya. Sampah plastik yang masuk ke dalam air, diketahui membawa partikel mikro dan nano plastik yang sangat berbahaya karena bisa termakan tanpa sengaja oleh ikan. Kalau (mikro dan nano) plastik itu masuk ke dalam struktur daging ikan, maka itu akan sangat berbahaya jika kita mengonsumsinya.

Pemerintah Indonesia tengah menyusun konsep untuk pertemuan kerja sama Asia Pasifik (Asia Pacific Economic Cooperation/APEC) yang akan berlangsung Juni mendatang di Cile. Indonesia membagikan pengalaman berkaitan dengan upaya dan kebijakan penanganan sampah plastik di laut yang bisa mengancam lingkungan dan ekonomi. Diperkirakan, mikroplastik yang ada di laut Indonesia jumlahnya kisaran 30 hingga 960 partikel per liter. Keberadaan mikroplastik di laut Indonesia, jumlahnya sama dengan jumlah mikroplastik yang ditemukan di Samudera Pasifik dan Laut Mediterania. Namun, lebih rendah dibandingkan di pesisir Tiongkok, Pesisir California, dan Barat Laut Samudera Atlantik.

Keberadaan mikroplastik di laut Indonesia tak ubahnya monster mini yang setiap saat merusak ekosistem di dalamnya. Keberadaan mikroplastik, harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan yang lebih luas lagi di dalam laut. Salah satu cara yang bisa dilakukan, adalah dengan mengubah perilaku manusia yang menjadi konsumen utama mikroplastik. Setiap tahunnya manusia menggunakan plastik hingga sebanyak 78 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya 2% saja yang dilakukan daur ulang dan sebanyak 32% diketahui masuk ke dalam ekosistem darat yang kemudian masuk ke dalam laut. Sementara, sisanya diolah secara bervariasi untuk kebutuhan manusia lagi.

Dengan fakta tersebut ancaman kerusakan ekosistem di laut semakin besar dan tak bisa dicegah. Jika itu terjadi, maka biota laut akan menjadi korban pertama yang merasakan dampak buruknya. Hal itu terjadi, karena mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh biota laut, akan merobek usus dan merusak pencernaan. Salah satu yang menjadi korban adalah penyu. Jika mikroplastik masuk ke dalam tubuhnya, maka dia akan mati secara perlahan. Penyebabnya, karena jika nanoplastik masuk ke darah, maka itu akan merusak otak.

Bahaya lain dari mikro dan nanoplastik adalah karena ukurannya sangat kecil dan bisa dengan mudah dimakan oleh biota laut dari yang berukuran sangat kecil hingga besar. Untuk itu, saat ada di dalam air laut, keberadaan mikro dan nanoplastik akan membahayakan biota laut seperti penyu yang berukuran besar, hingga plankton yang berukuran super kecil. Padahal, plankton ini dimakan ikan kecil, dan ikan kecil dimakan oleh ikan besar. Nah, ikan besar ini dimakan oleh manusia. Jadi, manusia juga sangat rentan.

Saat mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia, maka bahan pencemar akan bekerja untuk mengusir plastik dan tubuh pada akhirnya akan menjadi penuh dengan polusi. Kemudian, jika mikroplastik dimakan oleh biota laut, maka berikutnya akan muncul tumor di tubuhnya. Walau tidak seberbahaya kanker, namun tumor itu bisa mengancam populasi mereka.

LIPI menilai pemerintah memerlukan sebuah teknologi standar untuk memproses pembuangan hingga pembakaran sampah. Terutama bagi sampah styrofoam agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Kini sedang dikembangkan di LIPI misalnya memakai insinerator yang dilengkapi dengan unit plasma. Dengan mekanisme unit plasma tersebut LIPI menyakini kandungan racun seperti dioksin dapat diurai hingga mendekati nol %.

Unit plasma adalah sebuah alat yang menggunakan metode plasma non-thermal yang menguraikan gas buang yang beracun menjadi tidak beracun.  Metode plasma sendiri adalah teknologi yang menggunakan proses tumbukan elektron yang dapat mengionisasi dan menguraikan gas beracun seperti NOx. SOx, dioxin dan furan menjadi gas yang aman dan dapat dilepas ke lingkungan. Selama ini masyarakat memproses sampah dengan cara dibakar menggunakan insinerator non standar. Cara itu akan menimbulkan kandungan dioksin sehingga bisa meracuni ekosistem sekitar serta membahayakan kesehatan.

Kota metropolitan Jakarta dan daerah penyangga seperti; Bekasi dan Tangerang merupakan penghasil sampah dengan angka signifikan dibanding daerah lain. Bahkan, dalam hitungan KLHK setiap orang di kota tersebut menghasilkan 0,7 kilogram per hari. Sedangkan di daerah kota kecil angkanya antara 0,3 – 0,5 kilogram. Berdasarkan riset yang dilakukan LIPI, tingginya volume sampah di kota-kota besar dipengaruhi gaya hidup masyarakat yang cenderung menginginkan segala sesuatunya serba praktis. Hasil riset monitoring peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menunjukkan pula 59% sampah yang tiap hari masuk ke Teluk Jakarta adalah plastik.

Hasilnya dipublikasikan dalam makalah berjudul “Major Sources and Monthly Variations in the Release of Land-derived Marine Debris from the Greater Jakarta Area” yang terbit pada 10 Desember 2019 di jurnal Scientific Reports. Berdasarkan hasil riset, peneliti mengestimasi aliran sampah dari kawasan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi mencapai 8,32 ton per hari. Angka itu 6 – 16 kali lebih rendah dibandingkan dengan estimasi dalam studi-studi berbasis model.

Berdasarkan persentase 19 kategori sampah plastik yang dikumpulkan di sembilan hilir sungai di Kota Tangerang, Jakarta, dan Bekasi yang berakhir di Teluk Jakarta, sumbangan polistirena Tangerang 31,69%, Jakarta sebanyak 11,47%, dan Bekasi sebanyak 25,45%. Styrofoam, merek dagang busa polistirena, banyak digunakan untuk mengemas makanan.

Urgen pengurangan secara sistematis penggunaan plastik dan polistirena di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Peraturan tentang pembatasan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan sejak Maret 2019 sudah diterapkan di Tangerang, Jakarta, dan Bekasi. Namun plastik sekali pakai masih digunakan dalam kegiatan perdagangan di pasar-pasar tradisional dan layanan pengiriman makanan berbasis aplikasi daring.

Pelarangan penggunaan bahan polistirena untuk mengemas makanan dan minuman baru diterapkan di beberapa kota. Bandung adalah salah satunya. Kebijakan tersebut merupakan inisiatif lingkungan yang perlu diikuti oleh pemerintah daerah yang lain di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Publikasi hasil studi monitoring sampah juga menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi 1,65 juta ton plastik per tahun. Di Indonesia Kota Bandung menjadi pelopor larangan penggunaan styrofoam. Berdasarkan catatan Pemkot Bandung, sampah berbahan styrofoam di wilayahnya mencapai 27 ton per bulan.

Data World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat dunia kini memproduksi hampir 300 juta ton plastik setiap tahun. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah sampah yang tidak didaur ulang. Kebanyakan di antaranya dibuang begitu saja ke laut. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Maret 2019, organisasi lingkungan itu mendokumentasikan adanya peningkatan tajam produksi plastik sekali pakai sejak tahun 2000. Saat ini, dilaporkan 85% sampah laut adalah plastik. Selain itu, diprediksi pada 2030 nanti limbah plastik akan bertambah hingga 104 juta ton.

Isu pengurangan sampah masih jadi problem utama di hampir semua negara. Sampah terutama plastik dan styrofoam pasalnya sulit diurai. Kantung plastik setidaknya butuh 10-20 tahun untuk bisa terurai dengan tanah. Sementara styrofoam baru bisa hancur setelah 50 tahun. (damianus)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *