Prof. Agustitin: Mempelajari Ketajaman Bisnis

Mengelola usaha atau Managing The Business merupakan upaya pengaturan secara menyeluruh guna menjalankan sebuah usaha bisnis yang profesional dan menghasilkan tujuan bisnis yang diinginkan. Manajemen bisnis dibutuhkan dalam rangka tercapainya sebuah tujuan sebuah usaha bisnis baik dari aspek profit maupun tujuan lain sesuai yang diinginkan oleh pihak pengelola bisnis.

Sebuah proses pengaturan diperlukan agar usaha tidak sembarangan, mampu melakukan perencanaan, target-target yang diinginkan serta dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan sebuah risiko usaha bisnis. Langkah profesional yang dilakukan sebelum merancang manajemen bisnis biasanya dengan membuat rancangan global bisnis atau yang dikenal dengan business plan.

Business plan menyangkut bagaimana manajemen bisnis dan perencanaannya dari berbagai aspek, di antaranya adalah Business Accument, Customer Focus, Strategic Orientation, dan Driving Execution. Melalui sebuah business yang mantap, biasanya sebuah usaha akan meyakinkan untuk dikelola secara maksimal.

Untuk bentuk usaha bisnis dengan skala kecil pun diperlukan sebuah upaya manajemen bisnis yang baik, hanya berbeda pada ukuran skala saja serta pengerjaannya yang lebih sederhana dan bisa dikerjakan rangkap oleh satu atau dua orang dari pengelola bisnis tersebut.

Dalam kegiatan berbisnis kita dapat mengenal istilah Business Accument- Ketajaman Bisnis, adalah ketajaman dan kecepatan dalam memahami serta dapat  menentukan situasi atau pun kodisi dalam bisnis. Dalam praktiknya, orang yang memiliki ketajaman bisnis adalah orang yang memiliki ‘sense’ bisnis atau mampu melakukan bisnis ‘smart’.

Mereka dapat memperoleh informasi penting tentang situasi, fokus pada tujuan utama bisnis, pilihan relevan dan berkualitas yang tersedia sebagai solusi bisnis, memilih tindakan yang tepat, dan memulai rencana implementasi dalam melakukan pekerjaan yang dilakukan. Ketika mereka mendapati adanya suatu perubahan, maka mereka beradaptasi dengan cepat dan tepat terhadap keadaan yang tidak terduga. Mereka membuat penyesuaian seperlunya dan menjaga kestabilan aktivitas bisnis agar tetap berjalan. Mereka dikagumi oleh banyak orang dalam ketajaman dan kesuksesan bisnis yang dijalankan.

Seseorang yang menjalankan ketajaman bisnis yang kuat biasa kita kenal dengan menggunakan kerangka – konsep bisnis eksplisit atau implisit, secara lengkap, terintegrasi, teruji dengan baik, sebagai bahan assessment dalam menilai situasi bisnis. Konsep kerja ini dapat menghubungkan tujuan dari stakeholder kunci, strategi kompetitif yang diperlukan – untuk sukses, orang-orang dan kegiatan yang diperlukan -untuk memproduksi, menjual produk maupun jasa, dan proses bisnis yang mendukung kemampuan seorang manajer – untuk menangani kompleksitas. Konsep kerja adalah sesuatu yang robust dan berlaku untuk semua jenis kegiatan bisnis. Dalam bisnis tertentu, kerangka kerja ini sering disebut sebagai business model.

Business Accument – Ketajaman Bisnis juga membutuhkan proses berpikir yang terfokus pada faktor kritis – berfikir secara kritis dan rasional, apresiasi terhadap konsekuensi dari pada tindakan yang dilakukan dan dapat diambil serta diperlukannya suatu aktivitas, seperti melakukan monitoring berkelanjutan terhadap situasi yang timbul, dan penyesuaian ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Ketiga ide tersebut dirangkum oleh istilah mindfulness – kesadaran, sense-making- pembuatan akal dan resilience- ketahanan dalam menjalankan bisnis.

Business Accument – Ketajaman Bisnis itu dapat dipelajari, bukan bawaan, keturunan. Seseorang mengembangkan ketajaman bisnis berdasarkan pengalaman bisnis dan pendidikan – pelatihan formal yang dikombinasikan oleh keduanya. Seperti diperlukannya pemahaman dalam personal development – pengembangan pribadi dan penerapan management process – proses manajemen dalam menganalisa dan mengambil keputusan.

Ketajaman bisnis lebih terkait dengan pemahaman bisnis secara menyeluruh. Kecuali pengusaha mengerti apa sifat yang tepat dari bisnisnya, apa tantangan sebelumnya dan bagaimana seharusnya mengatasi tidak dapat membangun merek di pasar yang kompetitif. Seseorang dengan ketajaman bisnis mengambil keputusan yang tepat pada waktu yang tepat untuk kepentingan organisasi dan menjamin peningkatan profitabilitas.

Mengidentifikasi peluang bisnis sukses sebelum perusahaan sejenis dapat membantu menghasilkan pendapatan yang tinggi dan keuntungan. Ketajaman bisnis juga mencakup mengidentifikasi potensi ancaman terhadap organisasi dan mengambil langkah-langkah preventif untuk menangani mereka. Pertanyaan utama sebelum banyak orang, apakah ini ketajaman bisnis dapat diperoleh atau hanya sebuah keterampilan dengan beberapa orang.

Observasi Keen dapat membantu seseorang belajar banyak. Jadi, jika kita ingin memperoleh ketajaman bisnis seperti pemimpin perusahaan besar, kita perlu mengamati bagaimana rumah bisnis mapan dan sukses menjalankan. Coba kita memahami apa yang membuat mereka berbeda dari sisa perusahaan, dan bagaimana mempertahankan posisi kepemimpinan, meskipun beberapa rintangan dan persaingan ketat, yang mengarah ke manajemen bisnis yang baik. Mencatat beberapa poin penting dan mulai melatih diri ke arah itu.

Meningkatkan ketajaman bisnis adalah mungkin, jika kita telah mempelajari dasar-dasar secara menyeluruh. Jadi, aturan utama dan peraturan bisnis harus jelas sepenuhnya. Kecerdasan usaha rakyat berpendidikan tinggi di bidang manajemen tinggi, dan karena itu harus pergi melalui program pelatihan untuk mempelajari konsep manajemen dasar. Seseorang secara otomatis akan mengembangkan bisnisnya ketika menerapkan konsep-konsep praktis. Awalnya mungkin menemukan hal-hal sulit. Bagaimanapun, setiap kegagalan menjadi pengalaman belajar, dan seseorang meningkatkan cara dia melihat hal-hal tersebut.

Untuk melihat perbaikan dalam ketajaman bisnis, dan kemampuan pengambilan keputusan, perlu mengubah cara berpikir. Cobalah menyesuaikan diri dengan cara mengubah bisnis, mempelajari teknologi baru yang terus-menerus diperkenalkan ke pasar. Dengan demikian, kita akan dapat mencocokkan dengan rekan-rekan, dengan cara yang sistematis. Kita juga perlu mengubah sikap, dan bekerja keras untuk membawa organisasi ke posisi di mana kita inginkan.

Ketajaman usaha tidak dapat dicapai kecuali mengimplementasikan rencana. Jadi, kita harus membuat perubahan untuk melihat hasilnya di waktu yang akan datang. Proses berpikir dapat berkembang jika kita mencoba untuk membawa beberapa perubahan kreatif. Setiap percobaan yang kita lakukan dengan fungsi perusahaan akan membantu belajar hal-hal baru dan lebih luas.

Misi utama dari sebuah institusi total quality management (TQM) adalah memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Organisasi pendidikan yang unggul menurut Peters dan Waterman dalam Sallis (2002:27) adalah organisasi yang dapat menjaga hubungan dengan pelanggannya dan memiliki obsesi terhadap mutu. Mereka mengakui bahwa perkembangan sebuah institusi bersumber pada kesesuaian layanan institusi dengan kebutuhan pelanggan. Mutu harus sesuai dengan harapan dan keinginan pelanggan. Fokus terhadap pelanggan saja bukan berarti telah memenuhi tuntutan dan persyaratan mutu terpadu. Organisasi TQM memerlukan strategi yang berjalan untuk memenuhi keperluan pelanggan. Lembaga pendidikan menghadapi tantangan yang cukup besar dalam hubungannya dengan para pelanggan.

Pelanggan memiliki fungsi yang unik dalam menentukan mutu apa yang mereka terima dari lembaga pendidikan. Sebagian besar pelanggan pada mulanya tidak menerima informasi yang cukup tentang layanan yang ditawarkan, dan hal apa yang mengindikasikan mutunya. Selain itu harapan para pelanggan sangat beraneka ragam dan terkadang bertentangan dengan satu sama lainnya. Berdasarkan uraian tersebut maka fokus pada pelanggan merupakan salah satu bagian dalam organisasi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Fokus pada pelanggan menurut International Standard Organization (2000:5) ialah top manajemen harus menjamin persyaratan – keinginan pelanggan yang ditetapkan dan dipenuhinya tujuan meningkatkan kepuasan pelanggan. Whitely dalam Goetsch dan Davis (1994:149-150) mengemukakan karakteristik organisasi yang sukses dalam membentuk fokus pada pelanggan, yaitu:Manajemen menunjukkan – baik dengan kata dan tindakan bahwa pelanggan itu penting bagi organisasi. Organisasi memiliki komitmen besar terhadap kepuasan pelanggan, dan kebutuhan pelanggan lebih diutamakan dari kebutuhan internal organisasi. Salah satu cara untuk menunjukkan komitmen itu adalah menjadikan fokus pada pelanggan sebagai faktor utama dalam pertimbangan kenaikan pangkat – promosi, dan kompensasi.

Organisasi yang bersifat customerdriven- menyesuaikan dengan perubahan selera pelanggan menyejajarkan dirinya dengan para pelanggan. Hal ini tercermin dalam beberapa hal, yaitu;(a) Pelanggan berperan sebagai penasihat dalam penjualan barang dan pelayanan, (b) pelanggan tidak pernah dijanjikan sesuatu yang lebih daripada yang dapat diberikan, (c) pegawai memahami atribut produk yang paling dihargai pelanggan, dan (d) masukan dan umpan balik dari pelanggan dimasukkan dalam proses pengembangan produk – pelayanan.

Organisasi yang bersifat customerdriven selalu berusaha untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan para pelanggannya. Hal ini tercermin dalam; (a) keluhan pelanggan dipantau dan dianalisa, (b) selalu mengupayakan adanya umpan balik dari pelanggan, (c) organisasi berusaha mengidentifikasi, menghilangkan proses, prosedur, dan sistem internal yang tidak menciptakan nilai bagi pelanggan.

Organisasi yang bersifat customerdriven tidak hanya mengumpulkan umpan balik dari pelanggan, tetapi juga menggunakan dan menyampaikannya kepada semua pihak yang membutuhkan dalam rangka melakukan perbaikan. Pemanfaatan informasi pelanggan ini tercermin dalam hal, yaitu: (a) Semua pegawai memahami bagaimana pelanggan menentukan kualitas, (b) Pegawai pada semua level diberi kesempatan untuk bertemu dengan pelanggan, (c) Pegawai mengetahui siapa yang menjadi pelanggan sesungguhnya, (d) Organisasi memberikan informasi yang membantu terciptanya harapan realistis kepada para pelanggan, prinsip dasarnya ialah janjikan apa yang bisa diberikan, tetapi berikan lebih dari yang dijanjikan, (e) pegawai dan manajer memahami kebutuhan dan harapan pelanggan.

Berdasarkan pendekatan TQM, tidak cukup bila organisasi hanya pasif dan menunggu umpan balik yang disampaikan oleh pelanggannya. Berbagai bidang yang kompetitif menuntut pendekatan yang lebih aktif. Mendekati pelanggan berarti melakukan hal-hal yaitu; (a) Memudahkan pelanggan untuk menjalankan bisnis, (b) Berusaha untuk mengatasi semua keluhan pelanggan, (c) Memudahkan pelanggan dalam menyampaikan keluhannya, misalnya melalui telepon, surat, dan datang langsung.

Pegawai diperlukan sebagai profesional yang memiliki kemampuan, dan diberdayakan untuk menggunakan pertimbangannya sendiri, dalam melakukan hal-hal yang dianggap perlu dalam rangka memuaskan kebutuhan pelanggan. Hal ini berarti setiap pegawai memahami produk – jasa yang mereka tawarkan dan kebutuhan pelanggan yang berkaitan dengan produk – jasa tersebut. Ini juga berarti bahwa pegawai diberi sumber daya dan dukungan yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

Organisasi yang bersifat customerdriven melakukan setiap tindakan yang diperlukan untuk secara terus-menerus memperbaiki produk – jasa dan proses yang menghasilkan produk – jasa tersebut. Pendekatan ini diwujudkan dalam hal, yaitu; (a) Kelompok fungsional internal bekerja sama untuk mencapai sasaran bersama. (b) Praktik-praktik terbaik yang berkaitan dengan bidang pendidikan dipelajari dan dilaksanakan, (c) Waktu siklus riset dan pengembangan secara terus-menerus dikurangi, (d) Setiap masalah diatasi dengan segera, dan e) investasi dalam pengembangan ide-ide inovatif dilakukan.

Ketujuh karakteristik tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dan membentuk fokus pada pelanggan. Pada tahap awal setiap organisasi perlu melakukan analisis diri. Dalam analisis ini akan ditentukan karakteristik mana yang sudah dan belum ada dalam organisasi. Organisasi perlu mewujudkan karakteristik yang belum ada tersebut sehingga fokus pada pelanggan dapat terbentuk.

Orientasi strategis adalah metode khusus untuk mengembangkan strategi. Ini adalah metode yang didasarkan pada analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT). Pengembangan strategi dan perencanaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Keduanya mempunyai fokus yang sama tentang kegiatan masa depan suatu organisasi. Di mana perencanaan dimaksudkan untuk mengidentifikasi fokus kegiatan. Sedangkan pengembangan strategi lebih fokus tentang arah masa depan. Strategi adalah terjemahan dari misi sebuah organisasi menuju tujuan yang diharapkan, dan memberikan ide bagaimana tujuan tersebut dapat dikejar.

Manajemen Strategi tentu sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan, karena manajemen strategi dapat membantu perusahaan untuk menghadapi perubahan-perubahan atau ancaman-ancaman yang timbul dan tidak siap di antisipasi oleh perusahaan dimasa sekarang maupun di masa yang akan datang. Menurut Fred R. David proses manajemen strategi terdiri dari tiga tahapan, yaitu, memformulasikan strategi, mengimplementasikan strategi dan mengevaluasi strategi.

Tahap memformulasikan strategi antara lain menetapkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan tantangan yang dihadapi organisasi dari sudut pandang eksternal, menetapkan kelemahan dan keunggulan yang dimiliki organisasi dari sudut pandang internal, menyusun rencana jangka panjang, membuat strategi-strategi alternatif dan memilih strategi tertentu yang akan dicapai.

Tahap mengimplementasikan strategi memerlukan suatu keputusan dari pihak yang berwenang dalam mengambil keputusan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi pegawai, dan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki, sehingga strategi yang sudah diformulasikan dapat dilaksanakan. Pada tahap ini dilakukan pengembangan strategi pendukung budaya, merencanakan struktur organisasi yang efektif, mengatur ulang usaha pemasaran yang dilakukan, mempersiapkan budget, mengembangkan dan utilisasi sistem informasi serta menghubungkan kompensasi karyawan terhadap kinerja organisasi. Mengimplementasikan strategi sering disebut sebagai “action stage” dari manajemen strategis. Pengimplementasian strategi memiliki maksud memobilisasi para pegawai dan manajer untuk menterjemahkan strategi yang sudah diformulasikan menjadi aksi.

Tahap mengevaluasi strategi adalah tahap terakhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat perlu untuk mengetahui ketika ada strategi yang sudah diformulasikan tidak berjalan dengan baik. Evaluasi strategi memiliki tiga aktivitas yang fundamental, yaitu mereview faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi dasar untuk strategi saat ini, mengukur performa dan mengambil langkah korektif.

Visi, misi, dan tujuan perusahaan mempunyai korelasi dengan strategi perusahaan. Korelasi ini dapat dilihat dari peran Visi yang mencerminkan alasan kuat tentang keberadaan suatu perusahaan, Misi yang merupakan pernyataan manajemen mengenai gambaran seluruh perusahaan. Sedangkan tujuan merupakan pernyataan yang berhubungan dengan standar produksi, pasar, dan keuangan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Dari ketiga instrumen ini akan menghasilkan suatu strategi perusahaan yang meliputi bauran produk, target pelanggan, metode produksi, dan berbagai keputusan-keputusan manajerial lainnya.

Korelasi antara SWOT dan strategi perusahaan yaitu, Strategi perusahaan dirancang berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman yang diterapkan melalui  pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada berdasarkan kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada.

(Prof. DR. Agustitin Setyobudi – Penulis tetap Majalah UKM)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *