Prof. DR. H. Eddy Suratman,S.E., M.A. : CU Harus Mengikuti Perkembangan Zaman

Setelah perang dunia kedua, negara-negara di dunia tidak mau lagi terlibat dalam perang dunia ketiga secara fisik. Kita, sedang berada di zaman itu, perangnya adalah perang ekonomi. Aturan geografis kewilayahan tidak relevan lagi dalam bisnis masa ini. Kita bisa berinvestasi di mana saja. Dan semuanya berkat bantuan teknologi. Teknologi itu sendiri, tidak selalu menguntungkan, baik dalam kacamata mikro maupun makro ekonomi. Kita bisa mempercepat kerja dan mempermudah kehidupan, namun pada sisi lain banyak lapangan pekerjaan yang hilang akibat kehadiran teknologi.

Di berbagai belahan dunia banyak masyarakat yang menjadi semakin makmur dengan kehadiran teknologi. Namun masih banyak pula yang tertinggal dari lajunya perkembangan zaman. Dan kesenjangan antara kedua kelompok yang maju dan tertinggal itu semakin hari justru semakin jauh. Dalam bahasa ekonomi pembangunan, disebut terjadi divergensi. Kita sering mendengar tentang Uber, perusahaan taxi, AirBnB perusahaan akomodasi, Skype perusahaan komunikasi, Alibaba perusahaan retailer, Facebook perusahaan sosial media, dan Netflix perusahaan sinema? Ya! Mereka sedang menjadi raksasa.

Perusahaan tersebut menjadi kampiun di bidang usaha masing-masing, namun tidak satu pun yang memiliki secara lengkap wujud fisik peralatan teknis yang biasa digunakan oleh pesaing-pesaingnya. Dan ini membutktikan bahwa teknologi komunikasi telah memotong dengan sadis banyak sekali rantai proses produksi yang dulu menjadi wajib untuk dibangun saat pebisnis menjalankan usaha. Fenomena ini disebut dengan disruptive era of innovation and technology.

Begitupun smartphone. Kemajuan industrinya berhasil merangkum 5 benda sekaligus menjadi satu wujud kotak serbaguna. Pada 15 tahun yang lalu, hampir tidak mungkin menjumpai orang di pinggir jalan dengan mudah mengakses smartphone yang mempunyai banyak fungsi; televisi, kamera foto – video, komputer, music player, dan telepon genggam sekaligus dalam wujud sebuah benda yang lebih kecil dari buku. Teknologi cerdas itu ada dalam genggaman, dan hampir semua orang di perkotaan menggunakannya selama 24 jam sehari. Karena itu disebut smartphone.

Dalam dua tahun terakhir, berbagai lokakarya – seminar nasional, yang sedang in dijadikan tema adalah tentang Revolusi Industri 4.0. Bagi pelaku bisnis, khususnya mereka yang usianya di atas 50 tahun dan tidak paham teknologi informasi (IT), Industri 4.0 dianggap sebagai momok menakutkan. Tetapi bagi anak-anak muda yang kreatif dan inovatif, Industri 4.0 merupakan pintu kesempatan yang sangat lebar untuk meraih sukses bisnis. Sekarang banyak pebisnis muda sukses dan menjadi miliarder, bahkan nilai aset usahanya mencapai triliunan hanya dalam kurun waktu 3 – 4 tahun sejak memulai menjadi start-up.

Menyadari begitu pentingnya Industri 4.0, dan demi keberlanjutan masa depan Credit Union (CU), sering juga disebut Koperasi Kredit (Kopdit), ketika CU Khatulistiwa Bakti (CUKB) menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018, sehari sebelumnya diselenggarakan kegiatan seminar bertema Strategi CU dalam Menghadapi Industri 4.0. Sebagai narasumber Prof. DR. H. Eddy Suratman, S.E., M.A., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (FEB Untan), Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Penerima Satya Lencana Karya Satya, tanda penghargaan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Presiden RI Joko Widodo tahun 2018, calon Rektor Untan yang masih menunggu dilantik oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang juga Konsultan Kementerian Keuangan RI dan Bank Dunia itu mengaku terus terang, sebagai ekonom tidak paham tentang teknologi.

Mengawali presentasinya Prof. Eddy mengaku; Saya bingung disuruh bicara industri 4.0. Saya ini ekonom. Kalau disuruh bicara target-target ekonomi, lancar. Tetapi disuruh bicara soal industri 4.0. Saya mulai saja dengan cerita. Sekitar 8 bulan yang lalu, ke Perancis. Di Paris, visanya untuk pergi ke Eropa tidak perlu urus ke berbagai negara, tetapi cukup satu saja kita bisa masuk ke seluruh negara Eropa yang tergabung dalam Masyarakat  Ekonomi Eropa.

Setelah dari Paris, harus ke Polandia. Terbang ke Warsawa, Ibukota Polandia, tidak lagi membutuhkan visa karena seperti terbang dari Medan ke Pontianak, atau dari Pontianak ke Palangka Raya. Karena Polandia juga bagian dari Masyarakat Ekonomi Eropa, dalam benak uang yang digunakan juga sama, EURO seperti di Belanda, Jerman, Swiss, dan di mana pun pakai EURO sebagai mata uang yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.

Mendarat di Warsawa, kemudian keluar tanpa perbekalan apa-apa, kecuali uang EURO yang ada di kantong. Sesampainya di pintu gerbang airport untuk menuju ke hotel, bertanya kepada petugas; Taksi menuju hotel tempat saya menginap kira-kira berapa EURO membayarnya? Petugas menjawab; Kami tidak menggunakan EURO. Di sini EURO tidak berlaku. Kami hanya menggunakan mata uang Polandia (PLN). Mata uang Polandia disingkatnya PLN. Singkat cerita, panik karena tidak punya uang untuk membayar taksi dari airport ke hotel. Lalu tanya, di mana ada tempat penukaran uang yang dekat? Petugas itu bilang, tempatnya agak jauh.

Yang ingin saya sampaikan, Polandia adalah salah satu negara Eropa, tetapi negara yang agak miskin dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Nampak dari kondisi airport dan lain-lain. Tetapi negara ini sudah menggunakan teknologi informasi 4.0 yang sedemikian dahsyat. Ketika melihat saya panik karena tak punya mata uang Polandia, petugas itu bertanya; Apakah bapak punya kartu kredit atau kartu debet di negara bapak? Saya jawab; Punya! Kemudian dia bilang; Tidak usah khawatir, seluruh taksi, toko, penjual di pinggir jalan semua punya akses untuk menggunakan mata uang negara bapak.

Saya naik taksi menunjukkan kartu, bisakah pakai ini? Dijawab; Bisa! Diantar sampai hotel, begitu kartu ditempelkan di mesinnya, tek, di hand phone langsung keluar angka terpotong Rp79.000 sekian ratus rupiah sebagai ongkos taksi. Menginap di hotel, harus membayar itu biasa. Tidak usah diceritakan. Saya haus, beli air mineral di hotel harganya pasti lebih tinggi. Biasa, pengalaman sebagai orang miskin masih lekat. Saya keluar hotel cari toko di pinggir jalan. Polandia mirip-mirip Indonesia. Ketemu toko kecil – warung, kalau di Pontianak bisa beli rokok batangan. Saya tanya, mau beli air mineral tidak ada uang, bisakah pakai kartu ini? Ibu pemilik toko menjawab; bisa! Saya ambil 3 botol air mineral, dia langsung tempelkan kartu di mesin, uang terpotong Rp8 ribu lebih. Industri 4.0 ini luar biasa.

Tidak pernah membayangkan bahwa rupiah Indonesia yang saya punya itu berlaku dengan sangat baik ketika di Polandia. Selama 3 hari di Polandia, tidak pernah menukarkan uang satu rupiah pun. Makan di restoran, naik taksi, beli tiket kereta semua menggunakan kartu. Artinya semua dibayar dengan mata uang rupiah yang ditransfer menjadi mata uang Polandia. Di masa lalu tak terbayangkan. Tidak heran, salah satu mahasiswa S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Untan, dalam disertasinya menghitung bagaimana kemungkinan negara-negara Islam, atau sekian puluh negara yang dominan Islam membentuk mata uang tunggal. Mata uang Dinar, misalnya, atau mata uang apa yang mungkin dipakai. Setelah dihitung, lagi lagi, dolar lagi yang kuat.

Yang mau saya ceritakan, negara-negara yang agak tertinggal dari negara maju lain pun sudah melaksanakan industri 4.0 dengan sangat baik. Dan kemajuan industri 4.0 ini tidak mungkin bisa kita bendung. Kita harus beradaptasi menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Terus terang saja buka rahasia, sebenarnya saya orang yang gagap teknologi. Banyak orang yang tidak tahu, dan tidak percaya. Ini sekaligus untuk memotivasi, tapi jangan dijadikan pelajaran. Kuliah S3 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), belum bisa menggunakan komputer. Saya satu-satunya mahasiswa S3 yang tidak punya laptop. Datang seperti orang kampung pada umumnya, mencatat apa pun yang disampaikan dosen. Batuk pun dia, saya buat dalam kurung, dosen batuk. Supaya bisa belajar ulang, bisa mendramatisasi dan menghayati kembali bagaimana suasana kelas saat belajar, semua saya catat. Teman-teman selalu mentertawakan, mahasiswa S3 tidak bisa komputer.

Positifnya dari situasi itu belajar lebih keras dari teman-teman. Saya tidak pernah mencari buku-buku di internet untuk menyelesaikan tugas-tugas. Semua tugas dikarang dari otak sendiri dan tulis tangan. Setelah itu baru dikasihkan ke orang lain untuk diketik ulang. Karena itu sampai sekarang tetap lancar menulis dengan tangan. Tentu saja ketika mulai menulis desertasi tidak bisa menggunakan komputer. Saat itulah belajar komputer. Beli komputer, saya tempatkan di samping tempat tidur supaya akrab dengan dia. Akhirnya mengerti dan paham menggunakan komputer. Mungkin banyak orang mengira saya tahu komputer dari dulu. Padahal baru bisa menggunakan komputer di ujung-ujung pada saat menyelesaikan program doktor. Itu mungkin salah satu sebab mengapa bisa meraih Cum Laude terus, karena belajar lebih keras daripada teman yang lain.

Ilustrasi ini, ujung-ujungnya CU Khatulistiwa Bakti tidak bisa melawan, dan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan. Meski tidak secara ekstrim. Menyesuaikan diri, tetapi jangan cepat-cepat untuk meninggalkan pola-pola lama karena konstituen, anggota, komunitas CU Khatulistiwa Bakti di kampung-kampung sebagian masih tradisional, dan mereka tetap masih harus dilayani secara baik dengan pola lama. Saya menyebutnya dua sistem. Sistem yang baru dilakukan untuk masyarakat perkotaan atau masyarakat tertentu, tetapi sistem lama tetap dipertahankan. Dampak dari industri 4.0 ini sistemik, dan luar biasa. Kalau tidak hati-hati akan banyak orang terkejut, dan tidak siap dengan keadaan, mereka berhenti. Banyak study menunjukkan, titik paling kritis dari situasi ini akan terjadi pada tahun 2025, sekitar 6 tahun dari sekarang.

Sebenarnya, saat ini pun sudah mulai terasa. Di Jakarta, misalnya, dulu banyak sekali perusahaan taksi. Tetapi taksi konvensional yang dominan di Jakarta sekarang tinggal dua, Blue Bird dan Expres. Sisanya yang dulu ada, terpaksa mati pelan-pelan. Industri 4.0 memungkinkan kita tidak menggunakan taksi konvensional. Karena taksi online lebih murah, biaya tetap, kita tak dibawa belak-belok. Coba kalau menggunakan taksi yang menggunakan argo, sementara kita tidak tahu jalan dari titik satu ke titik kedua tempat tujuan yang sebetulnya jalan lurus, karena di kota itu tidak paham dibawa ke mana pun diam saja. Yang mestinya bayar Rp15.000, akhirnya bayar Rp35.000. Sudah rugi uang, rugi waktu.

Pertumbuhan ekonomi pasti terpengaruh Industri 4.0. Negara-negara yang bisa menyesuaikan dengan cepat pertumbuhan ekonominya akan naik. Sedangkan negara yang gagap dan ragu-ragu untuk menyesuaikan Industri 4.0 pertumbuhan ekonominya bisa terganggu. Indonesia untuk beberapa hal kelihatan gagap. Soal belanja online aturan-aturannya lebih lambat dari kebutuhan. Misalnya, bagaimana untuk memotong pajaknya. Baru tahun lalu (2018) pemerintah menemukan strategi. Menteri Keuangan Sri Mulayni cukup cerdas. Hasilnya tahun 2018, untuk kali pertama dalam 10 tahun target penerimaan pajak pemerintah terlampaui. Dan target penerimaan pajak Rp1.900 triliun (2019) diperkirakan juga terlampaui karena regulasi bisa menangkap seluruh transaksi dari online sudah dihasilkan oleh pemerintah.

Ekspektasi konsumen, orang tak lagi belanja menunjukkan seleranya kalau melihat barangnya secara langsung. Orang sudah mulai bisa menunjukkan seleranya hanya melihat gambar yang diunggah di internet. Jadi, ekspektasi konsumen juga berubah. Dan orang belanja tidak hanya belanja di kotanya, tetapi dalam waktu yang sama bisa belanja barang-barang yang dihasilkan berbagai negara. Luar biasa. Kalau kita tidak bisa menyesuaikan, pangsa pasar akan diambil oleh negara lain dengan cepat dan pertumbuhan ekonomi kita bisa turun.

Di Kalimantan Barat, tahun 2018 pertumbuhan ekonomi 5,06% lebih rendah dibandingkan dari pertumbuhan ekonomi nasonal yang mencapai 5,17%. Dan, 55,23% dari pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat itu dihasilkan oleh konsumsi rumah tangga. Jadi, kalau sistem yang ada tidak bisa menangkap ekspektasi konsumsi masyarakat, maka bisa menurun konsumsi masyarakat, dan bila itu terjadi ekonomi akan terdampak, turun. Produk-produk yang hasilkan juga harus menyesuaikan.

Hubungan antar negara pun mesti menyesuaikan. Belum lama ini ditandatangani tentang pertukaran informasi nasabah perbankan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan Menteri di Negara Swiss. Kalau dulu orang yang menggelapkan uangnya di Swiss aman-aman saja, sekarang semua data dibuka oleh pemerintah Swiss. Itu dampak positif dari Industri 4.0. Karena itu para penjahat harus hati-hati. Singapura dan Swiss terbuka, di mana mau menyimpan uang yang tidak halal itu. Masyarakat juga terdampak.

Hukum Moore berlaku! Moore menyatakan bahwa sekali dalam 18 bulan, kompleksitas mikroprosesor komputer meningkat 200%. Belakangan, dibutuhkan waktu lebih singkat. Lompatan luar biasa dengan teknologi informasi sebagai pelaku utama adalah kata kunci dari revolusi industri 4.0. Jika dulu revolusi industri 1.0 dimulai dengan penemuan mesin uap (James Watt 1769), untuk mendukung mesin produksi, kereta api dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula bergantung pada tenaga manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga mesin uap. Dampaknya, produksi dapat dilipatgandakan dan didistribusikan ke berbagai wilayah secara lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini juga menimbulkan dampak negatif dalam bentuk pengangguran masal.

Lalu industri 2.0 ditemukannya enerji listrik (1850) dan konsep pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19 telah menandai lahirnya revolusi industri 2.0. Enerji listrik mendorong para imuwan untuk menemukan berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesin telegraf, dan teknologi ban berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi hingga 300%.

Industri 3.0 membuat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat awal abad 20 dengan penemuan komputer kali pertama (1970-an), melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis. Mesin industri tak lagi dikendalikan oleh tenaga manusia tetapi menggunakan Programmable Logic Controller (PLC) atau sistem otomatisasi berbasis komputer. Dampaknya, biaya produksi menjadi semakin murah.

Industri 4.0 digunakannya internet of things untuk menyelesaikan berbagai masalah hingga menjadi pemikir dalam proses industri (dicetuskan di Jerman pada 2011, masih berlangsung sampai hari ini). Disadari atau tidak, kemudahan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari berkat kehadiran teknologi, juga memberi ancaman yang “menakutkan” bagi banyak profesi. Era revolusi industri 4.0 menyediakan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran makin meningkat. Hal ini tentu akan menambah beban masalah lokal maupun nasional. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, generasi muda wajib memiliki kemampuan literasi data dan teknologi.

Adalah Prof. Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Prof Schwab (2017) menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup, dan kompleksitas lebih luas.

Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi 4.0 antara lain; (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D.

Berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan manusia telah berubah secara fundamental. Seperti disampaikan oleh Presiden Jokowi, revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan tak terduga menjadi fenomena yang akan sering muncul pada era revolusi indutsri 4.0.

Kita menyaksikan pertarungan antara taksi konvensional versus taksi online atau ojek pangkalan vs ojek online. Publik tidak pernah menduga sebelumnya bahwa ojek – taksi yang populer dimanfaatkan masyarakat untuk kepentingan mobilitas manusia berhasil ditingkatkan kemanfaatannya dengan sistem aplikasi berbasis internet. Dampaknya, publik menjadi lebih mudah untuk mendapatkan layanan transportasi dan bahkan dengan harga yang sangat terjangkau.

Yang tidak terduga, layanan ojek online tidak sebatas sebagai alat transportasi alternatif tetapi juga merambah hingga bisnis layanan antar (online delivery order). Dengan kata lain, teknologi online telah membawa perubahan yang besar terhadap peradaban manusia dan ekonomi. Disrupsi tidak hanya bermakna fenomena perubahan hari ini (today change) tetapi juga mencerminkan makna fenomena perubahan hari esok (the future change).

Prof. Eddy Suratman menjelaskan bahwa era disrupsi telah mengganggu – merusak pasar yang telah ada sebelumnya tetapi juga mendorong pengembangan produk – layanan yang tidak terduga pasar sebelumnya, menciptakan konsumen yang beragam dan berdampak terhadap harga yang semakin murah. Dengan demikian, era disrupsi akan terus melahirkan perubahan-perubahan yang signifikan untuk merespon tuntutan dan kebutuhan konsumen di masa yang akan datang.

Mindset – pola pikir perubahan harus disiapkan untuk menyosong era industri 4.0. Manusia yang berubah adalah manusia yang hidup, selalu menjelajahi. Ibarat berenang di laut, harus di atas gelombang, tidak di bawah gelombang, dan jangan datar terus. Berenang di kolam renang, berbeda dengan berenang di laut apalagi laut yang pasang. Kita memerlukan alat, memerlukan keterampilan baru. Begitu juga CU, harus menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan era industri 4.0.

Lanskap perekonomian global bergeser dan berubah. Volatilitas pasar keuangan meningkat, pengetatan perdagangan berpotensi mendisrupsi berbagai sektor ekonomi nasional. Ketika kita masuk dalam peradaban smartphone, harus digunakan seproduktif mungkin. (dm)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *