Puskopdit Jabar Tidak Pernah Dipercaya oleh Anggota

Rencana Strategis (Renstra) jangka menengah sebagai mimpi gerakan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Jawa Barat, ingin masuk dalam urutan 10 besar Puskopdit di Indonesia. Saat ini menurut data dari Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), sampai akhir tahun buku 2012 Puskopdit Jabar masih berada diurutan 18 dari 35 Puskopdit dan 6 binaan.

Jenjang yang harus dilewati memang masih sangat jauh, dan harus kerja keras, kerja cerdas dengan inovasi-inovasi baru. Sebab Puskopdit yang berada di atasnya tentu juga tidak mau tergusur begitu saja. Apalagi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) memberikan kuda pacu – semangat untuk saling berlomba guna mencapai Visi gerakan tahun 2020 yang telah dipatok, aset Rp 100 triliun dan anggota 10 juta orang. Puskopdit yang berada di urutan paling buncit dari 10 besar adalah Puskopdit Caraka Utama Lampung, memiliki 36 anggota Kopdit Primer dan anggota inidividu 43.763 orang, aset Rp 362,257 miliar. Puskopdit Jawa Barat yang memiliki 78 anggota Kopdit Primer, dan anggota individu 24.361 orang, asetnya lebih besar, Rp 484,734 miliar.

General Manager (GM) Puskopdit Jabar, Ahmad, mengakui bahwa perjalanan Puskopdit Jabar tidak mulus.“Namun kondisi manajemennya saat ini sudah sangat sehat,dan setiap tahun sisa hasil usaha(SHU-nya) terus meningkat.Puskopdit Jabar, kata Ahmad, selama 7 – 8 terakhir, pernahdisebut-sebut sebagai “satu-satunya” Puskopdit yang diaudit secara rutin setiap tahun oleh Inkopdit. “Saya senang,dengan diaudit secara baik dan benar oleh Inkopdit bisa terbebas dari masalah-masalah, khususnya soal keuangan,”tuturnya saat berbincang dengan Majalah UKM, dua pekan silam di Kantor Puskopdit Jabar.

Sebagai koperasi tingkat sekunder, Puskopdit Jabar pernah tidak dipercaya oleh anggota, primer-primeratau gerakan. Waktu itu tabungan gerakan di Puskopdit sebesar Rp 86 juta. Tetapi uang yang ada hanya Rp 15 juta. “Selebihnya (Rp 71 juta) habis karena biaya operasional Rp 2 juta, sedangkan pendapatannya hanya Rp 1 juta per bulan. Jadi rata-rata setiap bulan minus Rp 1 juta. Akibatnya, lama-kelamaan simpanan habis tersedot untuk biaya operasional. Bukan saja anggota tidak mau menabung, karena tabungannya makin habis, muncullah pula kata-kata yang menyakitkan bagi pengurus Puskopdit. Untuk menutupi utang, pernah gedung milik Puskopdit itu akan dijual,” urai Ahmad.

“Puskopdit harus berubah!” itulah yang disampaikan Ahmad kepada pengurus, khususnya kepada Ketua Puskopdit, Karni. Perubahan itu, antara lain; pengelolaannya harus profesional. Artinya ada manajer yang mampu pengelola Puskopdit secara baik dan benar. Namun Ahmad yang ditawari untuk menglola Puskopdit, justru ingin keluar, karena Puskopdit sudah divonis; selamat meninggal dengan sukses. Puskopdit pernah berbuat sesuatu untuk anggota, tetapi harus punah karena salah urus.

Ahmad yang kala itu sebagai staf digaji Rp 250.000,- ketika ditawari jabatan lebih tinggi dia tidak mau. Setelah dibujuk akhirnya dia menyanggupi untuk mengelola Puskopdit Jabar dengan syarat, gajinya 15% dari SHU. Permintaan itu dikabulkan oleh pengurus, tetapi juga dengan syarat, jika SHU-nya minus, berarti tidak gajian. Akhirnya terjadi kesepakatan. Kalau biasanya menerima gaji Rp 250.000,- sebagai manajer gaji pertamanya awalnya hanya Rp 115.000,- tetapi setiap bulan terus naik. Pada bulan keempat gajinya sudah masuk ke angka Rp 250.000, lagi.

“Bulan pertama memang belum mampu menciptakan SHU yang besar. Tetapi bersyukur, sudah bisa menciptakan SHU, sehingga bisa gajian. Dalam kurun waktu 3 tahun sudah menerima gaji Rp 3 juta. Sangat besar untuk ukuran waktu itu. Namun kebijakan pengurus berubah, gaji tidak berdasarkan prosentase lagi, tetapi dengan pola penggajian baru, ada gaji pokok, tunjangan dan lain-lain,” jelas Ahmad yang kini gajinya mencapai belasan juta. Kalau masih menggunakan kesepakatan 15%, kata dia, jauh lebih besar.

Berdasarkan pengalaman, Ahmad menularkannya kepada manajemen di primer-primer bahwa SHU harus naik setiap tahun. Adalah sangat ironis – lucu kalau seorang professional gajinya naik, tetapi SHU-nya turun. Profesionalisme perlu dipertanyakan, dari mana dapatnya. Karena untuk menentukan dasar gaji adalah dari SHU. Untuk itu SHU harus naik, supaya gaji juga naik, dan kesejahteraan meningkat. “Rata-rata SHU sekarang terus meningkat. Tetapi itu, bukan karena saya hebat. Mungkin karena rindunya gerakan ingin profesional,” katanya merendah.

Meski pun koperasi, gaji itu juga harus wajar. Yang tidak wajar, kalau kerjanya 24 jam. Tidur saja mekiri koperasi, tetapi gajinya hati nurani – upah minimal (UMR). “Buat saya wajarlah, gaji sudah di atas Rp 15 juta. Sebagai manajer Puskopdit disebut berhasil. Dan bukan hanya berhasil mencetak SHU tetapi juga berhasil mendorong primer-primer anggota Puskopdit Jabar bertumbuh sehat,” urainya.

Yang mendorong gerakan Kopdit di Jawa Barat terus bertumbuh karena memiliki big dream – mimpi besar. Mimpinya kata Ahmad, pada tahun 2020 anggota Puskopdit Jawa Barat harus menjadi koperasi-koperasi yang terbaik, terunggul, terpercaya dan tersehat. Untuk menjadi terpercaya, salah satu persyaratannya Kopdit harus punya kantor sendiri. Untuk kepemilikan kantor, tahun buku 2011 Puskopdit memberikan kredit kepada primer sebanayak 12 primer. Hasilnya sudah mulai Nampak, tahun 2012 bertumbuhan primer-primer sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dua tahun lagi Ahmad sudah harus memasuki usia pensiun. Namun karena kinerjanya menunjukkan prestasi yang membanggakan, dia diharapkan akan bisa terus mengawal big dream, visi 2020. Mimpi itu, kata dia, sudah menjadi Renstra dan telah disosialisasikan kepada primer-primer anggota, bahkan sudah action. Ada 8 langkah untuk bisa mencapai mimpi tersebut. Untuk primer, karena Credit Union (CU) atau Puskopdit ini dasar utamanya adalah member base – keanggotaan atau orang, maka jumlah anggotalah yang harus ditingkatkan. Di Jawa Barat, potensi untuk meningkatkan jumlah anggota luar biasa. Jawa Barat penduduknya sangat padat, tetapi sekarang ini masih menimbulkan pertanyaan, kenapa anggota Kopdit masih sedikit sekali. Kalah dengan daerah-daerah lain, seperti; Sumatera Utara, Kalimantan Barat, atau Flores.

Karena itu Puskopdit bersama primer-primer anggota berusaha kerja keras bagaimana perekrutan jumlah anggota. Strategi yang dilakukan Puskopdit Jabar, kata Ahmad, karena tidak mempunyai tanggung jawab secara langsung, yaitu mendampingi primer-primer anggota. Dicontohkan, primer mengadakan sosialisasi tentang gerakan Credit Union – Kopdit ke perusahaan-perusahaan, dan merekrut karyawannya menjadi anggota koperasi. Dengan model ini pertumbuhan jumlah anggota cukup signifikan. Memang pertumbuhannya hanya dikisaran 20%, tetapi sudah cukup bagus, karena sesuai dengan target. “Mimpi saya pribadi, di Jawa Barat, kalau dengar koperasi yang baik, sehat, terpercaya adalah Kopdit,” katanya penuh semangat.

Menurut penafsirannya, usia itu ada dua macam, yaitu usia biologis dan ada usia historis. Usia biologis itu, sebagai karyawan pensiun 2 tahun lagi. Kalau sebagai professional dikontrak samapai tahun 2020, harus berhenti pada tahun 2020 itu. Usia biologis itu ada batasnya, meninggal dunia. Sedangkan usia historis, walau orangnya sudah meninggal dunia, namun karyanya masih akan sangat pajang, dan diteruskan oleh generasi berikutnya. “Karena itu saya ingin meninggal sesuatu yang terbaik bagi Puskopdit Jawa Barat, agar Puskopdit ini bisa mencapai 100 tahun, 200 tahun atau 300 tahun lagi. Oleh sebab itu, ketika saya diminta mimpi, itulah mimpi saya,” katanya.

Puskopdit juga membantu primer meningkatkan aset. 2 – 3 tahun terakhir pertumbuhannya luar biasa. Ada yang sampai 200%. Ahmad memberi contoh, misalnya Kopdit Melania yang 3 tahun silam sebelum ada big dream, asetnya baru Rp 11 miliar sekarang sudah Rp 70 miliar. Padahal, untuk mencapai Rp 11 miliar itu dikelola selama 16 tahun. Namun dengan big dream, hanya dalam waktu 3 tahun perkembangannya sangat fantastis. “Sebab, mereka termotivasi dengan adanya mimpi besar tersebut,” tegasnya. Di samping itu, lanjutnya, Puskopdit juga memfasilitasi, memberi pendanaan, dan pendampingan kepada calon anggota. Kalau ada anggota primer yang usahanya visible, layak, melalui primer didukung pendanaannya.

Dulu, kata Ahmad, Puskopdit Jabar selalu meratapi nasib dan seolah-olah pasrah dengan keadaan. Padahal, keadaan yang sulit itu adalah tantangan, sekaligus peluang untuk maju menggapai sukses. Yang menjadi barometer selalu Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Di kedua daerah itu Kopditnya maju begitu pesat, asetnya triliunan, dan anggotanya juga ratusan ribu. Padahal dari potensi keanggotaan, Jawa Barat jauh lebih besar dibandingkan Kalimantan Barat. Dari potensi uang yang beredar, di Jawa Barat pasti lebih bagus dibandingkan dengan di Kalimantan. Dari segi sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat potensinya pasti sangat besar. Pertanyaannya, ada apa di Jawa Barat.

Diakui bahwa tidak – belum semua anggota Puskopdit bisa mengikuti big dream. Namun semua anggota Puskopdit akan diajak sesuai komptensi SDM yang ada di masing-masing Kopdit. Untuk meningkatkan kualitas organisasi memang dibutuhkan SDM yang mumpuni maupun sumber daya modal. “Tetapi yang paling hebat, sebenarnya sumber daya team work. Sumber daya team work justru bisa mengalahkan sumber daya modal dan sumber daya manusia. Karena kalau di team work itu jalan masing-masing, tidak kompak akan rusak. Karena itu, sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas, memelihara, dan menjaga kekompakan team work ini,” tuturnya.

Kepada seluruh gerakan, dia menyarankan agar mulai sekarang harus tampil beda, harus bisa memberikan pelayanan prima, pelayan yang lebih daripada biasanya, dan lebih dari yang diharapkan anggota. Dengan memotivasi primer menjadi lebih maju, otomatis Puskopditnya juga terangkat. Diakui bahwa sekarang ini Puskopdit Jabar masih belum cukup besar. Aset Puskopdit Jawa Barat sampai akhir Desember 2012 baru mencapai Rp 85 miliar.

Dari berberapa aspek, sebagai manajer bolehlah Ahmad dikatakan cukup mumpuni. Tetapi ketika disinggung tentang kaderisasi, mencari kader penggantinya, dia mengakui kegagalannya. Padahal seorang pemimpin yang dikatakan sukses itu dia bisa membawa lembaganya ke arah kemajuan, dan mampu melahirkan calon-calon pemimpin baru yang akan menggantikannya.”Terus terang, dan jujur saja saya tidak bisa menciptakan calon pemimpin yang baru. Beberapa kali dievaluasi, dan saya juga menerima, itu mungkin kelemahan,” katanya. Menurut dia, di seluruh gerakan Kopdit di Indonesia kaderisasi di manajemen ini memang masih lemah. Berbeda dengan kaderisasi pengurus yang berjalan dengan baik.

Ahmad mengatakan, sebelum benar-benar mundur, calon penggantinya sudah dipersiapkan. Paling tidak, 3 tahun sebelumnya sudah magang mengikutinya sehingga ketika pas waktunya mundur penggantinya sudah menguasai. “Jangan sampai Puskopdit yang dulu minus, sekarang berlimpah kekayaan, kemudian dikelola orang yang tidak memiliki kemampuan akhirnya minus lagi,” pesannya. Ke depan, lanjutnya, Kopdit ini semakin baik, semakin maju dan modern ketergantungannya kepada sistem, bukan kepada orang. “Puskopdit Jabar hebat bukan karena manajernya Ahmad, tetapi karena sistemnya. Kami sedang membangun sistem tersebut,” jelasnya.

Pemikiran manajemen, dalam hal ini manajernya Ahmad, kata Ketua Puskopdit Jabar, Syafrizal Ikram,SE,MSi,AK, seirama dengan pemikiran pengurus. Karena semua berkaca kepada masa lalu. Kaderisasi manajer, di mana dia diberi wewenang untuk mengoperasionalkan koperasi, harus dilakukan. Karena semua itu berangkat dari fakta. Oleh sebab itu pengurus merespon untuk menyusun Renstra yang dibuat empat tahap, masing tahapan 2 tahun. Ketika Ahmad memasuki masa pensiun 2015 sudah dipersiapkan SDM di tingkat manajemen agar estafetnya berjalan dengan baik.

Renstra, kata Syafri, disusun menjadi dua sekmen, yaitu segmen target primer dengan indikator-indikator aset, pertumbuhan anggota, maupun pertumbuhan SHU, secara garis besar semua dibuat dalam Renstra. Sehingga bisa menjadi acuan primer untuk menuju visi 2020. Segmen kedua, dibuat untuk tingkat Puskopdit. Indikatornya sama, yaitu pertumbuhan asset, pertumbuhan SHU, pertumbuhan anggota, dan yang tidak kalah penting menseting generasi berikutnya untuk estafet Puskopdit. Indikatornya sama, yaitu pertumbuhan asset, pertumbuhan SHU, pertumbuhan anggota, dan yang tidak kalah penting menseting generasi berikutnya untuk estafet.

Permasalahannya, untuk mendapatkan calon mengambil estafet itu tidak instan, tetapi harus melalui proses. Kalau misalnya tidak siap dari internal, harus mencari calon-calon dari luar. Tetapi statusnya dia sebagai karyawan, dididik terlebih dulu dengan pola pendidikan 3 – 6 bulan, dan syaratnya untuk mengambil estafet seorang manajer. Di samping strata pendidikan, yang juga tidak kalah pentingnya adalah idealism – moralitas. “Memang tidak mudah, dan harus dipersiapkan. Karena estafet itu harus jalan maka perlu direncanakan dan tertuang dalam Renstra sampai dengan tahun 2020. Dengan demikian, di Puskopdit nanti tidak akan kehilangan pengelola yang tahu, profesional dan memahami rohnya Credit Union (CU),” urainya.

Sekarang Puskopdit Jabar sudah menyusun kurikulum-kurikulum calon manajer, baik ditingkat Puskopdit maupun di tingkat primer. Karena kendala dan permasalahan yang dihadapi sama. Calon-calon manajer itu perlu dididik tidak hanya dari sisi konsep manajemen secara umum, tetapi dia harus diberi bekal konsep manajemen koperasi. Karakter yang dibangun di Kopdit melalui edukasi – pendidikan anggota untuk bisa memahami koperasi secara benar. Kalau anggota sudah tahu rohnya koperasi, tidak akan ada kesulitan bagi manajemen.

Estafet itu bukan hanya dari sisi manajer, tetapi juga dari sisi pengurus. Pengurus itu berasal dari anggota. Oleh karena itu jangan sampai manajer yang memiliki visi sangat jauh ke depan, dan sangat bagus, tetapi pengurus tidak bisa mengimbangi. Akan berbahaya. Karenanya manajer harus diimbangi oleh pengurus yang kompeten. Pendidikan-pendidikan kepada anggota adalah persiapan agar estafet pengurus berjalan dengan baik. Pengurus juga harus paham bagaimana mengelola koperasi secara benar, karena penguruslah yang mengambil kebijakan. (dm)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Puskopdit Jabar Tidak Pernah Dipercaya oleh Anggota

  1. yohanes tarmidi says:

    Slamet pagi, mau tanya Pa, harta lain-lain bisa dimaknai sebagai kategori apa saja ya Pa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *