Revitalisasi SMK Wujudkan Link and Match dengan Dunia Kerja

Keterhubungan dan keselarasan – link and match antara dunia pendidikan vokasi, khususnya sekolah menengah kejuruan (SMK) dan industri menjadi kunci dalam optimalisasi penyerapan tenaga kerja terampil. Tanpa adanya link and match, lulusan SMK bisa sia-sia, menganggur. Industri pun potensial kehilangan peluang dalam penyiapan tenaga kerja jangka panjang.

Bendahara Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi DKI Jakarta,Drs. H. Achmad Nawawi, SH., Msi mengemukakan, link and match sebagai pola ideal pendidikan vokasi penting menjadi fokus lembaga pendidikan dan industri. Sehingga pengangguran dari lulusan SMK akan bisa ditekan asalkan ada keterhubungan dengan industri.

Keterhubungan dengan industri menjadi kunci mengatasi pengangguran tenaga kerja terampil dari SMK. Jika tidak  terhubung dengan industri, sekolah akan kesulitan menyalurkan lulusan mereka. Sedangkan dari sisi industri, keterhubungan bisa menjamin penyiapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan standar mereka masing-masing.

Ada empat kunci yang perlu dijalankan untuk mengembangkan link and match SMK dengan industri. Pertama, kuantitas. Pengembangan vokasi SMK kini diarahkan tidak lagi pada banyaknya lulusan SMK semata. Lulusan didorong untuk sesuai dengan kebutuhan industri di wilayah masing-masing.

Kedua, kuantitas. Lulusan SMK dipacu agar memenuhi demand – permintaan industri. Hal itu diberi ruang melalui sinkronisasi kurikulum pembelajaran dengan standar industri. Kelulusan SMK menyesuaikan kurikulum ajar didorong melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 mengenai Standar Nasional Pendidikan SMK/ Madrasah Aliyah Kejuruan. SMK diberikan keleluasaan membuat kurikulum yang implementatif. Penyelarasan kurikulum dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan atau industri bisa dilakukan.

Ketiga, faktor kebutuhan sumber daya manusia (SDM) oleh industri. Kebutuhan terhadap beragam pekerjaan terampil dapat berubah-ubah trennya sesuai perkembangan pasar. Terlebih saat ini tengah terjadi revolusi industri 4.0 yang juga menggerus sebagian tenaga terampil. Karena itu, SMK harus mencermati tren yang berkembang. Ada 4 kompetensi keahlian baru (jurusan) yang ditetapkan oleh Kemendikbud berdasarkan masukan dunia usaha – dunia industri dan asosiasi profesi; retail, manajemen logistik, hotel & restoran, dan produksi film.

Permintaan dari empat sektor tersebut akan tumbuh pesat ke depan, sehingga SMK harus menyiapkan tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan. Ritel daring, misalnya, sangat berkembang pesat dan membutuhkan tenaga terampil. Jasa logistik – pengiriman saat ini juga tumbuh pesat.

Keempat, geografis. Keberadaan SMK tidak boleh mengabaikan potensi wilayah yang dibutuhkan pasar lapangan kerja, diminati masyarakat, dan industri setempat.

Badan Pusat Statistik (BPS mencatat, lulusan SMK menjadi penyumbang tertinggi tingkat pengangguran terbuka di Indonesia. Bahkan, Presiden Joko Widodo merespons masalah revitalisasi terhadap 5.000 SMK demi terwujudnya link and match dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2017 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan, untuk membantu menciptakan link and match dan meningkatkan kualitas SMK.

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencatat, pengangguran lulusan SMK terus menurun. Tahun 2016 tercatat 9,8% tahun 2017 menjadi 9,2%, dan tahun 2018 sebesar 8,92%. Angka partisipasi tenaga kerja lulusan SMK dari waktu ke waktu juga positif, mengalami tren kenaikan. Jika tahun 2015 hanya 10,83 juta orang, meningkat menjadi 13,68 juta orang tahun 2018. Kita optimis, revitalisasi SMK yang mulai menunjukkan dampak positif terhadap turunnya pengangguran lulusan SMK terus berlanjut.

Menurut H.Nawawi yang menjabat Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) DKI Jakarta, adanya Inpres Nomor 9 Tahun 2016, Kemendikbud tentu sudah menyusun peta jalan pengembangan SMK, dan meningkatkan kerja sama dengan dunia usaha dunia industri (DIDU). Kemudian melakukan pengembangan dan penyelarasan kurikulum, mendorong inovasi, peningkaran profesionalisme guru dan tenaga kependidikan dan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK.

Bidang garapan revitalisasi SMK akan diterapkan di 5.000 SMK. Yang jadi sasaran revitalisasi akan fokus pada bidang manufaktur, pariwisata, pertanian, kemaritiman, industri kreatif dan energi pertambangan. Sedikitnya ada 142 kompetensi keahlian yang sudah tersedia skema sertifikasinya untuk kualifikasi level II dan III. Kemendikbud fokus ke pengembangan karakter kerja agar lulusan SMK siap  memasuki  dunia kerja.

Saat ini strategi Indonesia dalam mempersiapkan tenaga terampil lulusan SMK yakni pada kebutuhan industri – demand side. Dengan demikian, penyusunan kurikulum dan peran serta industri sebagai calon pengguna semakin ditingkatkan. Hal ini berlaku baik  untuk tingkat nasional, regional, maupun internasional. Karena itu, kurikulum 60% ditentukan oleh dunia usaha. Kemudian, proses belajar mengajar juga lebih banyak pada praktik di dunia usaha dan industri.

Dalam Inpres ditekankan, perlu upaya kerja sama dengan Kementerian – Lembaga termasuk pemerintah daerah dunia usaha atau industri. Untuk mencapai tujuan tersebut, Kemendikbud melalui Direktoat Pembinaan SMK dan Kemenperin bekerja sama dengan PT Komatsu Indonesia dengan melibatkan 35 SMK terpilih se Pulau Jawa. Peluncuran Kelas Komatsu dilakukan melalui sinergi Kemendikbud dan Kemenperin.

Realisasi penyelenggaraan Komatsu Class sudah dimulai sejak tahun 2016 dengan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Industri Alat Berat, sinkronisasi kurikulum, magang guru, penyediaan alat peraga pendidikan serta penyusunan silabus dan modul pembelajaran. Terakhir, Komatsu melakukan uji coba pembelajaran dan praktik kerja di Pusat Pelatihan Komatsu Indonseia bagi 508 siswa SMK sejak April 2018 hingga Juli 2019.

Direktur Utama Komatsu Indonesia, Pratjojo Dewo menyatakan program link and match merupakan bentuk konsistensi atas komitmen perusahaan untuk berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bentuk mempersiapkan siswa SMK untuk memasuki dunia kerja. Khususnya di industri manufaktur alat berat.

Di setiap sekolah ada sekitar 35 siswa yang ikut program tersebut. Sehingga setiap tahunnya akan lulus sekitar 1.225 siswa yang bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri alat berat. Bukan hanya di Komatsu Group, tetapi juga di perusahaan lain. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *