Riak-riak Yang Terkelola Akan Menjadi Akar Kuat Lembaga

M. Hafis sedang mengumpulkan kardus bekas“Saya juga tidak tahu, kenapa Tuhan mempertemukan saya dengan lembaga yang namanya credit union. Setahu saya, Tuhan tidak pernah salah memberikan sesuatu kepada umat – ciptaanNya,” tutur Agus yang oleh masyarakat di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dikenal sebagai seorang Ustad – guru agama Islam, sekaligus Kepla Desa. Sebagai Ketua Kopdit Credit Union Muare Pesisir, periode kedua atau tahun ke-4, kata dia, sebuah perjalanan yang cukup panjang.

Ketika dipercaya oleh anggota untuk memipin lembaga tersebut banyak hal yang didapat. Banyak pengalaman memimpin perusahaan di luar lembaga credit union. Tetapi memimpin gerakkan credit uinion ini perbedaannya luar biasa. “Saya bersentuan langsung dengan anggota masyarakat luas, baik dengan mereka yang sudah menjadi anggota maupun yang belum menjadi anggota gerakkan credit union, saya rasakan sangat…, sangat membumi,” katanya kagum.

Ketika mendapat undangan untuk menyampaikan sambutan pendidikan dasar tentang credit union, di Muara Kakap, salah satu wilayah pengembangan Muare Pesisir, Agus mengaku terharu ketemu seorang nenek usianya lebih dari 60 tahun. Ketika ditanya apakah mbah – nenek tinggal di sini (Muara Kakap), dijawab tidak. Tinggalnya jauh, jalan kaki lebih dari 2 jam. Masih membawa dagangan seadanya, dengan senang hati mengikuti pendidikan dasar credit union yang menjanjikan kesejahteraan.

Ternyata sampai tahun 2014 ini masih ada potret-potret kehidupan yang tidak mencerminkan kesejahteraan. Banyak orang mencari rezeki hanya untuk mempertahankan hidup. “Apakah itu sebuah keuletan usaha, atau keterpaksaan karena keadaan, saya tidak paham. Itulah kenyataan,” tutur Agus, seraya menambahkan bahwa kemiskinan memang sulit dihilangkan sama sekali, tetapi ksalu dikurangi mungkin bisa.

Ketika mengawali memimpin Kopdit Credit Union Muare Pesisir, tidak gampang. Harus berhadapan dengan mereka yang lebih dahulu bergabung, dan punya pengalaman mengelola credit union. Meski punya pengalaman di bidang manajemen perusahaan, mengelola credit union sesuatu yang baru, dan sangat berbeda. Agus mengaku jujur, nyaris mental. Kebijakannya di awal kepengurusan mendapat tantangan luar biasa. “Saudara-saudara kami itu merasa sebagai pendiri, dan pernah membangun Muare Pesisir. Saya melihat, ada ego sentral, mereka sebagai pendiri. Sementara saya orang baru yang diajak mengurus lembaga oleh teman-teman yang sepaham dengan pola pikir saya,” kenang Agus tentang pengalamannya saat awal sebagai ketua terpilih.

Waktu itu, lanjut Agus, Muare Pesisir sudah memiliki beberapa tempat pelayanan (TP) tetapi belum punya satu kantor pun milik lembaga. Ketika bersama pengurus lain memperjuangkan untuk memiliki kantor sendiri di Jln Tabrani Ahmad, berdebatnya setahun. “Saya sempat bertanya-tanya, kenapa untuk membeli kantor lembaga saja sulit. Padahal, uang ada. Akhirnya memang terbeli kantor yang cukup representatif,” katanya lega.

Agus menyadari, dalam membuat kebijakan kadang memang ada hal yang tidak biasa dilakukan orang lain. Tetapi kalau tidak berani membuat keputusan, pasti tidak akan terjadi perubahan. Sebagai orang yang mendapat amanah dari anggota, harus berani membuat kebijakan untuk perubahan menuju yang lebih baik. Waktu itu, kata dia, tidak banyak yang memahami caranya memimpin lembaga. Mustain yang sekarang menjabat CEO, dan dinilai mampu mengimplementasikan pemikiran-pimikiran Agus, masih berstatus staf.

KETUA CU MUARE PESISIR AGUS  RAHMAN DAN MANAJER CU MUARE PESISIR  MUSTAISetelah punya kantor sendiri di Jln Tabrani Ahmad, kepercayaan masyarakat terhadap Kopdit Credit Union Muare Pesisir tumbuh. Perkembangan jumlah anggota sangat pesat. Pola kepemimpinannya, tidak mau dikatakan otoriter, tetapi gaya berpikir pengelola lembaga CU harus berubah. Paradikmanya menyesuaikan perkembangan zaman yang sangat dinamis. Namun tidak boleh meninggalkan akar budaya dimana lembaga itu dilahirkan. Karena Agus pernah memimpin beberapa perusahaan, ilmu itu dikombinasikannya dengan ciri dasar credit union, yaitu saling percaya, bersatu dan bersahabat. “Dengan pemahaman itu akhirnya terbangun komunikasi secara harmonis,” tutur Agus.

Setelah memiliki kantor sendiri dan kepercayaan masyarakat semakin besar, Kopdit Credit Union Muare Pesisir terus mengepakan sayapnya ke berbagai wilayah di Kalimantan Barat. Setelah menambah 4 gedung kantor milik sendiri, saat ini telah selesai pula pembangunan gedung kantor pusat di Sungai Kakap, yang diresmikan pada 29 Maret 2014. “Sekarang 6 kantor sudah milik sendiri. Saya memang tidak senang yang namanya ngontrak. Apalagi lembaga punya uang. Memiliki bangunan sendiri itu investasi aset yang nilainya sangat moderat, tidak pernah turun,” tegasnya.

Cerita pembangunan kantor pusat cukup panjang. Rencana pembangunannya sudah dirintis sejak tahun 2007, ketika Agus belum menjadi anggota Muare Pesisir. Foto peletakan batu pertama pembangunan yang dilakukan Camat Muare Kakap itu ada, tetapi sampai sekarang Agus mengaku tidak tahu tempatnya. “Sebuah lembaga harus punya tanda. Dan kita harus membangun yang namanya kantor pusat. Tetapi untuk membuat tanda itu, riak-riak kecil bermunculan. Saya yakin, sesuatu yang tumbuh tidak instan akan menjadi lebih kuat. Kopdit Credit Union Muare Pesisir tumbuh menjadi kuat karena terjadi konflik internal. Kalau seperti ini akarnya menjadi sangat kuat, karena sudah terbiasa dengan banyak hal,” tegasnya.

Soal layanan kepada anggota, khususnya yang setorannya dijemput, ada yang tak mau lepas dari sang manajer, Mustain. Beberapa kali dialihkan ke staf lain tetapi dia selalu telpon; “Abang aja yang datang, ya!” Ada anggota saking percayanya, hanya berdasarkan slip setoran, bukunya ditinggal di kantor koperasi. Ketika setorannya dijemput, buku tabungan dibawa dikasih unjuk, kemudian dibawa balik ke kantor supaya setorannya diprin, dan buku tabungan itu disimpan di kantor. Sampai sekarang anggota itu merasa nyaman, karena waktu kerjanya tidak hilang.

Ada anggota Kopdit Credit Union Muare Pesisir, Muhamad Hafiz, saat ini tengah menapaki keberhasilannya. Dulu dia dikenal sebagai pedagang ikan di Pasar Flamboyan, Pontianak. Karena dagang ikan kurang menguntungkan kemudian beralih dagang sayuran keliling. Ketika didatangi rumahnya dia sering curhat, minta pendapat tentang usahanya. Apa yang harus dilakukan agar hasil usaha bisa lebih baik. “Sebagai teman, saya memberikan gambaran solusi, dan mungkin ada yang masuk akal,” tutur Mustain yang kini menjabat sebagai top manajemen atau istilah kerennya General Manager (GM).

Ketika masih jualan ikan keliling pakai motor, dengan modal Rp 500.000,- belanja ke pasar. Dagangannya kadang habis, tapi hanya bawa uang Rp 400.000,- Sebab yang lain diutang. Karena modalnya berkurang, harus nombok. Suatu saat Hafiz mengutarakan niatnya, ingin beralih bidang usaha. Pilihannya, mengumpulkan kardus bekas. Usaha ini diperkirakan potensial karena banyak warung yang kardus bekasnya dibuang begitu saja. Padahal sebenarnya ada pengepul untuk dijual ke pabrik daur ulang. Mendengar cerita dan keinginan Hafis yang penuh semangat, Mustain pun memberi support. “Selama hitung-hitungannya masih masuk, da nada lebihnya,” kata Mustain memberi semangat.

Tekadnya bulat, semangat pun berkobar. Hafiz keliling dari warung ke warung dengan motor kebanggaannya, dan mengumpulkan kardus bekas lembar per lembar. Karena orangnya tekun, dan mau kerja keras, dalam waktu beberapa bulan saja usaha barunya itu membongkahkan harapan sukses. Tanda-tanda tersebut terlihat dari peningkatannya menabung. Kalau sebelumnya sebulan hanya menabung Rp 100.000,- bahkan kadang tidak sampai Rp 100.000,- Tapi sekarang, dari lembaran-lembaran kardus bekas itu bisa menabung Rp 5 juta – Rp 6 juta. Luar biasa.

Hasil pengumpulan kardus-kardus bekas itu setiap hari volumenya terus bertambah banyak. Dalam satu minggu bisa mengumpulkan minimal 1 ton. Karena belum punya mobil sendiri, setiap akan mengangkut ke gudang, Hafiz harus sewa mobil orang lain, Rp 200.000,- Sebulan minimal mengangkut 4 kali, maka harus menyiapkan anggaran biaya Rp 800.000,- Setelah dihitung-hitung, Mustain menyarankan beli saja mobil pic up. Tidak usah yang baru. Yang penting masih cukup baik, dan bisa mengangsur pinjaman di koperasi. Karena saran itu masuk akal, Hafiz kemudian mengajukan pinjaman ke Muare Pesisir. Mobil sudah terbeli seharga Rp 40 juta lebih dikit. Dengan mobil “baru”-nya itu Hafiz bisa menekan biaya operasional. Dia tetap mencari kardus sendiri, dan nyopir sendiri,” urai Mustain.

Karena keuangan memungkinkan, sekarang keluarga Hafiz semua menjadi anggota koperasi. Upaya koperasi mensejahterakan anggota, menampakan hasilnya. “Minimal, Kopdit Credit Union Muare Pesisir telah memberikan manfaat,” tutur Mustain. Soal pelayanan, dikatakan, manajemen Muare Pesisir melakukannya secara total. Bukan saja jemput bola siang hari, malam hari pun dilakukan. Bahkan kantor pelayanan ada yang buka 24 jam.

Soal memberikan pelayanan, manajemen Muare Pesisir melakukannya secara total. Bukan saja jemput bola siang hari, malam hari pun dilakukan. Ada kantor pelayanan di beberapa wilayah buka sampai jam 10 malam, bahkan ada yang melayani anggota 24 jam non stop. Untuk karyawan atau anggota yang tidak bisa stor siang hari karena aktivitasnya tidak bisa ditinggalkan, bisa stor atau dijemput malam hari. Tapi hanya stor, tidak melayani pembayaran. Untuk storan malam hari buku transaksinya diprin – cetak keesokan harinya. Tidak semua tempat pelayanan (TP) setiap hari buka siang malam. Tetapi ada yang hanya seminggu sekali.

Kebijakan itu untuk memberikan kemudahan kepada anggota. Khususnya untuk medan – wilayah yang membutuhkan pelayanan ekstra. Pelayanan di Siantan, misalnya, karena anggota rata-rata karyawan perusahaan sawit, buka 24 jam non stop. Di Kuala Karang juga memberikan pelayanan siang malam. Kuala Karang adalah salah satu wilayah – pulau terpencil. Masyarakatnya mayoritas nelayan. Penghasilannya kerja sehari hanya cukup untuk makan hari itu juga. Untuk bisa sampai Kuala Karang harus menyeberangi sungai-sungai besar. Perjalanan dari Kota Pontianak sekitar 5 jam. “Sejak awal karyawan sudah disadarkan bahwa tugas kita sebagai pelayan. Saya selalu memotivasi teman-teman, jadilah orang yang bangga ketika kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain,” jelas Mustain tentang kiatnya memompa semangat anak buahnya.

Sejak Kopdit Muare Pesisir masuk dan membuka kantor pelayanan di Kuala Karang yang berpenduduk 2000 jiwa, anggotanya terus meningkat, dan kini telah tercata kurang lebih 400 orang. Setelah mereka menjadi anggota koperasi, secercah harapan hidup sejahtera mulai menyingsing. Yang dulu tidak punya motor air untuk melaut mencari ikan, sekarang sudah punya sendiri. Bahkan satu keluarga ada yang punya 3 buah motor air.

Di pulau kecil yang penduduknya multi etnis ini; ada suku Budis, Jawa, Dayak, dan China dulu padat sekali. Karena perairan di sekitarnya kaya ikan, hasil tangkap nelayan melimpah, sehingga banyak bos tertarik tinggal di sana. Suatu daerah jumlah penduduk itu biasanya bertambah banyak. Tetapi di Kuala Karang justru semakin berkurang karena banyak warganya yang pindah – pergi ke kota mencari pekerjaan lantaran hasil tangkapan ikannya makin berkurang. “Warga yang bertahan, mereka yang ekonominya pas-pasan. Dengan masuknya Muare Pesisir, ada harapan baru. Sekarang sudah ada 3 anggota yang menjadi agen ikan. Nelayannya anggota Muare Pesisir, yang jadi  agen juga anggota Muare Pesisir,” jelas Mustain seraya diamini Agus Rahman.

Tentang credit union, kata Mustain, masih ada yang beranggapan credit union itu punya Katolik – Kristen. Ketika sosialisasi, misalnya, ada yang mengatakan; Kamu Muslim kok masuk ke sana. “Kami harus selalu memberikan pemahaman yang benar bahwa credit union (CU) ini adalah lembaga keuangan murni, lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat, tidak ada hubungannya dengan agama. Mereka salah paham, bahwa ketika masuk CU akan dibawa masuk Katolik – Kristen. Bahkan belum lama ini saya diundang oleh teman-teman alumni Pondok Pesantren Darul Ulum, mereka mau membentuk BMT, saya diundang untuk sharing – tukar pikiran, apa itu CU. Pertanyaan mereka pun sama, kenapa pilih kok CU?” jelasnya.

Ketika mereka tanya, apa yang bagus di CU, Mustain bercerita panjang lebar. CU itu pendidikan manausianya, kebersamaannya, cara mengatur keuangan keluarga  pemberdayaannya, baik pemberdayaan ekonomi dan pendidikan moral, sangat bagus. Termasuk bagaimana merancang masa depan pendidikan anak-anak agar bisa sekolah setinggi-tingginya. Pada akhirnya mereka tahu bahwa CU tidak ada hubungannya dengan agama.

Ada juga mahasiswi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, melakukan penelitian tentang credit union di Muare Pesisir. Penelitiannya fokus pada minat umat Muslim masuk Credit Union, karena dianggap asing. Dosen pembimbingnya selalu menanyakan, apa keuntungan credit union, kok bukan membuat Koperasi Syariah saja? Mahsiswi yang melakukan penelitian di Muare Pesisir itu menjelaskan kepada dosen pembimbing bahwa di Muare Pesisir berbeda. Sebagian besar anggotanya justru dari umat Muslim.

Sebagai salah satu nara sumber, Mustain menjelaskan bahwa credit union itu kalau mau dikonsepkan ke Islam, ya konsep syariah. Karena di Credit Union itu diatur sedemikian rupa tentang konsep keseimbangan. Tidak hanya lembaganya yang tumbuh dan berkembang, tetapi anggotanya juga menikmati kesejahteraan. Bahkan di credit union itu yang diutamakan justru anggotanya. Dari hasil-hasil yang didapatkan, diutamakan dibagi terlebih dulu kepada anggota baru sisanya untuk lembaga. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *