Rupiah Melemah, Pengusaha UKM Harus Waspada

Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kreatif dan MICE Budyarto Linggowiyono mengatakan prospek industri usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia tengah menghadapi masa perlambatan. Menurut dia, perlambatan tersebut merupakan imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Melambatnya pertumbuhan UKM, kata Budyarto, disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (US$). Perlambatan tersebut, berimbas merata ke semua jenis UKM, terutama UKM bidang usaha jasa, dagang, dan manufaktur. Ketiga jenis tersebut, kata dia, terkena dampak pelemahan nilai tukar rupiah lantaran sistem produksi da distribusinya bersinggungan dengan kegiatan ekspor dan impor.

Masalah lain yang dihadapi oleh industri UKM Indonesia adalah upah minimum regional. Menurut dia, belum adanya jalan tengah antara pengusaha dan pekerja memperburuk iklim industri UKM Indonesia. Solusinya, menurut Budyarto, adalah penghapusan pajak UKM sebesar 1% dari omzet. Menurut dia, peraturan tersebut menyulitkan lantaran tidak semua pengusaha menerapkan sistem pembukuan yang tertata baik.

Penerapan pajak harus dilakukan secara bertahap dan melalui proses pendampingan. Selain itu, Budyarto menuturkan upaya untuk memudahkan pengusaha untuk mendapatkan pinjaman kredit harus segera dilakukan. Caranya, menggunakan sistem Bapak Angkat melalui perusahaan BUMN, swasta, maupun perusahaan pemerintah daerah. Sistem tersebut mempermudah pengusaha yang tersandung persyaratan untuk mengajukan pinjaman ke bank akibat masalah administrasi.

UKM di negara berkembang, seperti di Indonesia, sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri, seperti tingginya tingkat kemiskinan, besarnya jumlah pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, proses pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta masalah urbanisasi. Perkembangan UKM diharapkan dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap upaya penanggulangan masalah-masalah tersebut.

Tidak seperti perusahan besar, UKM yang didirikan karna inisiatif perorangan ini terkadang tidak terlalu mempunyai persyaratan khusus dalam proses rekrutmen tenanga kerjanya. Itu sebabnya UKM sangat berperan dalam mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia. UKM dapat menyerap banyak tenaga kerja Indonesia yang masih mengganggur.

Pada forum APEC 2013 Oktober lalu, Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan membeberkan 3 masalah klasik UKM di Indonesia. Ada pembahasan seputar pemberdayaan UKM dalam KTT APEC 2013 di Bali. Pemerintah menyatakan, sampai saat ini ada tiga masalah yang dihadapi oleh industri UKM di Indonesia. Kendala pertama yang dihadapi oleh sektor UKM adalah persoalan pembiayaan untuk modal. Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi sebuah masalah klasik sektor UKM di dunia.

Kelemahan terbesar adalah bagaimana mengakses perbankan, mengakses finansial. Pemerintah mengupayakan untuk memberikan kredit usaha rakyat (KUR) kepada unit-unit usaha kecil dan menengah sebesar US$ 2.000 tanpa jaminan. Permasalahan kedua adalah teknologi. Menurut Syarif, banyak UKM masih belum mampu mengoptimalkan teknologi yang ada, contohnya internet dan unsur teknologi lain yang berkaitan.

Syarief berharap dengan selesainya KTT APEC 2013, ada hasil konkret yang didapat untuk pengembangan UKM di Asia Pasifik. Kelemahan ketiga, pemasaran. Ini pun memiliki keterkaitan erat dengan teknologi. Cara pemasaran UKM masih dinilai konvensional, padahal dengan memanfaatkan teknologi seperti internet, UKM memiliki cara lain dalam melakukan pemasaran.

Mekipun saat ini banyak pelaku UKM yang bisa mendatangkan untung besar dari bisnis yang mereka jalankan, namun jika diamati sebenarnya perkembangan bisnisnya masih belum optimal. Sebagian besar pelaku UKM belum berani berinovasi, sehingga kegiatan bisnisnya dan hasil produksi yang didapatkan tidak mengalami perubahan yang berarti. Kondisi inilah yang membuat daya saing produk UKM di Indonesia belum begitu kuat di pasar global.

Banyak pelaku UKM yang harus mendapatkan kerugian cukup besar, karena mereka salah mengambil keputusan. Salah satunya saja seperti kesalahan mengiyakan semua tawaran bisnis yang datang kepada mereka. Dengan tenaga kerja, waktu, dan kapasitas produksi yang masih terbatas, ada baiknya bila Anda membedakan peluang yang potensial dan peluang yang hanya membuang waktu dan tenaga Anda.

Sebagian besar konsumen akan merasa senang apabila mereka diperhatikan dengan baik oleh para pelaku usaha. Karenanya, sebisa mungkin dengarkan keinginan maupun keluhan yang mereka sampaikan dan pahami kebutuhan yang mereka cari. Jangan hanya sekedar menjual produk pada mereka namun after salesnya kurang. Hal itu dapat berpengaruh besar akan loyal atau tidaknya mereka dengan produk atau jasa yang ditawarkan.

Dari sekian puluh juta pelaku UKM yang ada di Indonesia, belum ada setengahnya yang memanfaatkan perkembangan teknologi baru. Baik itu dari segi pemasaran maupun dari segi aktivitas produksi. Contoh sederhana bisa kita lihat dari kurangnya pengetahuan dan skill pelaku UKM dalam menerapkan strategi pemasaran via internet, ataupun bisa juga kita amati dari kebiasaan pelaku UKM yang masih mempertahankan proses produksi secara tradisional, sehingga belum memanfaatkan mesin tepat guna untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Terkadang calon konsumen lebih mudah percaya terhadap suatu produk maupun jasa yang direkomendasikan langsung oleh kerabat maupun teman dekat yang ada di sekitar mereka. Pengakuan dari para pelanggan yang sudah mendapatkan kepuasan dari produk atau jasa Anda, memberikan daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Sehingga tidak heran bila mereka semakin yakin untuk membeli atau menggunakan produk maupun jasa yang Anda tawarkan.

Selain itu, lingkungan sekitar pun berpengaruh. Di mana bila ada orang yang gagal, lingkungannya bukan mendorong, malah membuat orang takut untuk bangkit lagi. budaya orang Indonesia kurang mampu menghadapi risiko, dan cenderung takut gagal, serta tidak bangkit lagi. Budaya itu harus diubah. Dukungan pemerintah terhadap kegiatan UKM juga akan sangat membantu dalam menaikkan perkembangan UKM di Indonesia. Rencana pemerintah yang akan mengenakan pajak sebesar satu persen kepada UKM yang memiliki omzet Rp 4,8 miliar dinilai tidak adil. (adt – my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *