Sally Giovanny : Melestraikan Batik, Memberdayakan UMKM

Ada lima tokoh terpilih sebagai Tokoh Perubahan 2019 versi Harian Umum Republika. Salah satunya pemilik Batik Trusmi Group, Sally Giovanny. Dia terpilih sebagai tokoh perubahan karena berhasil melestarikan batik dan memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Yang menarik dari Sally, karena tahun 2013 dia pernah memperoleh piagam penghargaan dari Museum Rekord Indonesia (MURI) sebagai pemilik toko batik terbesar saat usia baru  23 tahun. Dalam perbincangan dengan Majalah UKM Sally menuturkan bahwa dirinya pernah memperoleh banyak cemoohan karena menikah terlalu muda Ibnu Riyanto.

“Masyarakat sekitar tempat tinggal saya, Trusmi, Cirebon, Jawa Barat, menilai, pernikahan di usia muda hanya akan membuat beban keluarga. Bahkan banyak pendapat mengatakan, usia perkawinan kami hanya akan bertahan seumur jagung. Pandangan meremehkan itu juga kami terima ketika memulai bisnis. Karena saat itu menikah setelah lulus SMA dan belum memiliki ilmu dan pengalaman bisnis. Semua pandangan negatif itu menjadi pesemangat untuk membuktikan, kami bisa,” tuturnya.

Merasa tertantang, Sally dan suaminya mengubah energi negatif menjadi positif. Saat orang lain bilang tidak mungkin jadi orang sukses, justru menjadi semangat, pasti bisa. Sally dan Ibnu mengaku, mulai bisnis batik dari nol, sehingga benar-benar merasakan suka dukanya. Namun semua kisah itu menjadi momentum untuk mengubah bisnisnya besar.

Tekadnya bulat, membesarkan usaha agar bisa membuka lapangan kerja lebih luas. Karena itu terus berusaha lebih visioner dan berinovasi menciptakan produk–produk baru. Dikeyakini dengan melakukan perubahan dari diri sendiri, akan mampu membuat perubahan bagi orang lain.

Batik yang dulu dipandang sebagai busana untuk kondangan, dan mayoritas yang mengenakan orang tua, ia ubah memenuhi selera kaum muda. Model dan motif batinya batiknya lebih beragam. Hasilnya, batik produksinya bisa menjamah semua kalangan dan bisa dipakai disetiap kesempatan. Baik dalam suasana resmi, santai, kondangan, jalan-jalan ke mal dan sebagainya.

Sally juga membangun Toko Batik BT Trusmi di Sentra Batik Trusmi, luasnya lebih dari dua hektar.Bekas pabrik rotan dan tekstil itu dulu oleh masyarakat dianggap angker karena bangunannya mangkrak lebih dari 10 tahun. Oleh Sally disulap menjadi toko batik terbesar dan terluas di Cirebon. Dan bukan hanya menjadi pusat batik, tetapi juga pusat oleh-oleh khas Cirebon, arena permainan anak dan workshop tempat masyaraat belajar membatik.

Saat ini, Sally dan suaminya telah memiliki 10 toko batik di lima kota besar di Indonesia. Bisnisnya kini telah meluas ke bidang kuliner dan properti. Kalau dulu hanya punya 10 karyawan saat ini sudah 1000 pegawai, serta memberdayakan 100 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Meski sudah memiliki lebih dari 1.000 karyawan dan memberdayakan lebih dari 100 UMKM, ternyata belum membuat Sally dan Ibnu merasa puas. Mimpi ke depan, memiliki sejuta keluarga besar Batik Trusmi. Mereka berharap dari usahanya itu akan ada sejuta orang yang diberdayakan untuk berkarya yang bermanfaat.

“Saya ingin menularkan perubahan kepada orang banyak. Karena itu, saya keliling ke berbagai perguruan tinggi, juga dari satu tempat ke tempat lain untuk membagikan pengalaman merintis bisnis. Bagi mereka yang hanya lulusan SMA seperti saya tetap bisa menghasilkan karya. Kita punya kemampuan untuk itu,” kata Sally yang juga juga sibuk mengisi berbagai seminar bagi yang baru merintis bisnis.

Mimpi yang lain, Sally ingin membangun Uinversitas Batik, agar generasi muda mengenal, mencintai dan memiliki keahlian membatik. Karena saat ini perajin batik kebanyakan sudah tua. Generasi muda jarang yang mau membatik. Menurut Sally, mereka menganggap membatik itu kuno dan membosankan.

Padahal, membatik itu sesungguhnya membanggakan karena menghasilkan karya seni bernilai tinggi. UNESCO sudah mengakui bahwa batik sebagai warisan budaya adiluhung. Namun anak-anak muda menganggap, batik itu kurang gaul, tak keren dan membosankan. “Saya ingin mengubah mindset tersebut agar mereka gemar membatik,” ujarnya. Langkah yang dilakukan lanjut dia, gencar kampanye cara membatik ke sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Pengunjung yang datang ke tokonya pun tidak hanya belanja, tapi juga bisa belajar membatik dan membawa hasil batiknya pulang ke rumah masing-masing.

Sally mengaku, kurang lebih 12 tahun jatuh bangun usaha. Banyak hikmah yang diperoleh. Diyakini, tak ada rasa sakit membuat mati. Justru rasa sakit itu akan membuat semakin kuat dan besar. Rasa sakit dan pahit getirnya membangun usaha malah menjadi obat, dan kebahagiaan bagi banyak orang yang turut menikmati buah dari jerih payahnya. Bisnis yang dianggap gagal, jualan kain kafan. Waktu itu mulai belajar mengenai bahan dasar batik ke tetangganya yang perajin batik.Bahan dasar batik ada 3 jenis, yaitu; katun, sutera dan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika memegang kain katun, dia merasa sangat mengenalnya, kemudian langsung pulang mengambil kain kafan. Saat ditunjukkan kepada perajin batik, kain kafan itu merupakan bahan katun, yang biasa  disebut kain mori. “Saya senang, karena bisa menjual kain mori ke perajin batik. Jadi, terbuka peluang besar. Sejak saat itu, saya keliling Desa Trusmi naik sepeda menjajakan kain mori ke perajin batik. Dan dari mereka belajar tentang batik. Kita bisa lho jualan sambil belajar. Saya sudah buktikan,” ujarnya.

Sambil jualan, Sally mulai produksi batik sendiri. Jualannya ke luar kota, antara lain ke Pasar Tanah Abang Pasar Baru, Jakarta. Alat transportasinya mobil box sewaan. Sally dan suaminya biasa istirahat dan tidur di mushola, mandinya di SPBU. Dia mengaku, 3 tahun berjuang, kerja keras dan prihatin sambil mengandung anak pertama sampai lahir.

Ketika buah cinta mereka lahir, dengan rasa cinta pula ke manapun berjualan diajaknya. Bahkan sering terpaksa menidurkan bayinya di lantai mushola hanya beralaskan kain. Walau hati nurani sebagai ibu tidak tega, terpaksa dilakukan karena uangnya harus dibagi; untuk sewa mobil, beli bensin, makan, modal dan membayar perajin batik.

Ketika mulai terkumpul modal Sally membuka toko kecil-kecilan di garasi rumah mertua, dan berbagi tugas dengan sang suami. Dia menjaga toko merawat anak dengan kasih sayang, suami jual batik ke pasar. Toko kecil di garasi rumah mertua itu semakin hari semakin banyak dikunjungi konsumen dan berkembang, sehingga akhirnya membuka toko cabang dengan nama Raja Batik IBR.

Saat sedang menikmati manisnya hasil jerih payah, tahun 2011, badai besar menghantam, dikhianati orang kepercayaan hingga membuat goyah bisnisnya. Dari 3 toko yang dimiliki, terpaksa 2 toko ditutup, dan tinggal mengelola 1 toko. Dari badai yang menghantam bisnisnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik. “Kami sulit, namun terus berusaha untuk bisa bangkit. Berjuang tanpa henti adalah kunci menggapai keberhasilan,” katanya optimis.

Terbukti, akhirnya 2 toko yang sempat ditutup bisa dibuka kembali. Bahkan kemudian bisa membuka toko baru BT Batik Trusmi yang berhasil menghantarkan untuk menerima penghargaan Rekor MURI sebagai toko batik terluas dengan pemilik usia termuda, tahun 2013. Kemudian tahun 2018 Sally menerima piagam penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2017.

Dan pada tahun 2018, Sally menerima piagam penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2017. Sally yakin, siapa pun bisa sukses selama kerja keras, kerja cerdas, tekun dan fokus. Bersama sang suami terus mengembangkan bisnisnya. Bisnis kuliner dan property kini telah menggapai sukses. Konsekuensinya tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang isteri dan ibu untuk ketiga anaknya.

Dan belajar pun tiada henti. Karena haus ilmu, selalu belajar dan mengambil ilmu dari orang-orang yang telah sukses besar. Terbang tinggi jauh ke Balikpapan, Kalimantan Timur, hanya untuk mengikuti seminar tentang Revolusi Bisnis yang disajikan oleh motivator kondang Tung Dasem Waringin. Karena tak pernah belajar di bangku kuliah, katanya memberi alasan, harus banyak belajar di lapangan. Atas sukses yang kini telah dinikmati, Sally selalu mau berbagi kepada mereka yang memtuhkan. (Sutarwadi)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *