Sarjana Pendidikan Menekuni Dunia Bisnis

Putri Maulidia Sarjana Pendidikan menekuni BisnisKetika memperkenalkan diri menyebut; “Putri Maulidia” namanya. Keluarga dan teman-teman dekatnya biasa menyapa, Putri. Berwirausaha yang baru dimulainya adalah sebagai pilihan hidup gadis bungsu – anak ketiga, kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat 24 Ontober 1989 dari pasangan suami isteri Husin dan Aida yang mengalirkan darah wirausaha dalam diri Putri. Orang tuanya punya usaha buka toko pakaian Muslim.

Putri mengaku sangat bersyukur dan bahagia, karena kehidupannya sehari-hari dalam keluarga besar yang tinggal di Jl Gusti Hamzah No 5 Pontianak selalu kompak, dan saling mendukung satu dengan yang lain. Menghabiskan masa kanak-kanak, dan masa-masa remaja, bahkan sampai saat ini di kota kelahirannya karena kedua orang tuanya tidak mengizinkan Putri melanjutkan kuliah di luar Kota Pontianak. Sekolah dasar (SD) di SD Mujahidin Pontianak, melanjutkan ke SMP di Madrasah Tsanawiyah I dan menamatkan SMA di Madrasah Aliyah Negrei 2 Pontianak.

Sebagai anak yang tidak mau tinggal diam, aktif dengan berbagai kegiatan, Putri merasakan indahnya masa-masa sekolah dulu. Ketika tamat SMA, pikirannya sempat berada di persimpangan jalan untuk menentukan masa depan, antara melanjutkan kuliah, bekerja atau berkeluarga. Ketika menyampaikan keinginan kepada kedua orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di luar Pontianak, mendapat jawaban yang sangat mengecewakan. Orang tua tidak mengizinkan. Alasannya, Putri anak bungsu.

“Awalnya saya protes. Tetapi setelah dipikir-pikir dan direnungkan, saya melihat sisi positifnya bahwa pilihan kedua orang tua itu baik, karena mereka sangat menyangi, dan tidak ingin ada hal yang tidak menyenangkan terjadi pada diri anaknya, saya ikuti saja kemauan orang tua,” kenang Putri yang terpaksa harus menunggu setahun untuk melanjutkan kuliah. Terbiasa aktif, berdiam diri di rumah setahun tanpa melakukan kegiatan apapun, Putri mengaku bosan dan bingung

Keluarga besar Putri, baik dari ayah maupun ibu adalah pengusaha. Karena orang tua Putri juga punya toko pakaian sendiri, untuk mengisi waktu kosongnya Putri ikut jaga toko. Karena sejak kecil tidak pernah terlibat secara aktif di toko, kalaupun datang ke toko hanya mampir dari sekolah kemudian pulang, awalnya Putri canggung untuk melayani pelanggan. Memulai babak baru, Putri berusaha seramah mungkin melayani tamu yang datang ke toko. Membantu memilihkan produk-produk yang dinilai pas – cocok untuk tamunya. Bisa karena terbiasa. Putri semakin aktif ikut mengelola toko, termasuk memesan barang-barang yang akan dijual.

Menikmati pekerjaan adalah satu langkah menuju sukses. “Setelah beberapa lama terlibat aktif mengelola toko, saya merasakan ada kenikmantan tersendiri menghadapi tantangan bisnis. Hal itu belum pernah saya rasakan sebelumnya,” kata Putri yang kemudian berpikir ingin punya toko sendiri. Keinginan untuk berwirausaha itu sempat membuatnya berpikir tidak mau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Ia ingin menjawab tantangan bisnis, dan ingin sukses seperti orang tuanya. Di saat Putri tengah menggebu-gebu untuk berbisnis, dan semangat belajar – melanjutkan kuliah sedikit meredup, orang tuanya justru menyarankan agar si bungsu mendaftar kuliah. Didorong oleh keluarga, disemngati oleh teman-temannya, Putri akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja membantu orang tua.

Putri merasa sangat bersyukur, ketika mendaftar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Pontianak (UNP), yang kala itu membuka kelas ekstensi untuk Jurunsan Pendidikan Bahasa Inggris, diterima. Karena perkuliahannya dilakukan pada sore sampai malam hari, sehingga siang hari bisa aktif membantu mengelola usaha orang tua. Bekerja sambil kuliah, sebagai proses kehidupan yang harus dijalani, diakui awalnya cukup berat. Beban mata kuliah, ditambah aktivitas kampus dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya bingung. Support keluarga dan dukungan teman-temannya yang terus mengalir menghantarkan Putri menggapai gelar Sarjana Pendidikan. Bangga, bahagia dan haru, itulah rasa yang mengharu-biru perasaan kedua orang tuanya saat Putri diwisuda.

Sebagai almamater bidang pendidikan dengan gelar S1, Putri punya skill untuk mengajar Bahasa Inggris di sekolah-sekolah formal tingkat SLTP maupun SLTA, dan terbuka pula kesempatan mengajar di lembaga pendidikan non formal lainnya. Keluarga dan teman-teman dekatnya banyak yang menawari kesempatan itu. Bukan lantaran tidak suka mengajar, tapi karena merasa jalan hidupnya tidak di situ, Putri memutuskan untuk tidak menjadi guru. Dengan kata lain, tawaran yang mengalir itu dia tolak dengan halus, dan tetap berwirausaha, membantu orang tua dan demi masa depannya kelak. “Saya bersyukur, pilihan – keputusan itu direstui orang tua,” jelas Putri, sambil sesekali sibuk melayani tamu yang datang ke toko souvenir & Permata, Zambrud Khatulistiwa, di Jl Patimura No 40 – 41 Pontianak, yang kini menjadi “pangkalan” utamanya.

Adalah sang kakek, yang juga seorang pengusaha sukses, tak disangka-sangka menawari sebuah kios kosong untuk dijasikan tempat usaha. Putri kaget dan bingung, harus menjawab bagaimana, karena belum terlintas mau bisnis apa ke depan. Berkat saran orang tua agar tawaran emas sang kakek untuk tidak disia-siakan. Yang penting, terima dulu. Soal mau bisnis apa, dipikirkan kemudian. Setelah berembuk dengan keluarga yang lain, juga dengan teman-temannya, kios tersebut untuk jualan Souvenir khas Kalimantan Barat. Antara lain; produk-produk tekstil yang diambil dari langganan orang tua, juga dari para perajin yang ada di Kalimantan. “Waktu memulai, berat. Tapi kini, cukup lancar. Hambatan adalah tantangan dalm hidup. Dan hambatan itu berhasil diatasi. Itulah yang membuat saya menjadi lebih dari sebelumnya,” katanya bangga. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Sarjana Pendidikan Menekuni Dunia Bisnis

  1. Terimakasih telah membagi pengalaman berharganya. Sungguh bermanfaat dan menginspirasi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *