Sebagai Investor Kopdit Pintu Air Mengembangkan Usaha Riil

Barang siapa berusaha secara terus menerus tanpa putus asa, dan berserah diri kepada Tuhan, sekali waktu dia akan mendapatkan keberhasilan.

“Apakah koperasi tidak bisa menguasai; kopi, cokelat, minyak kelapa, ikan, daging sapi, babi dan ayam di NTT? Bisa! Pasti bisa! Pintu Air kerja di bawah pohon cokelat, dan tanah miring saja bisa sukses. Spirit yang ada itulah yang harus dijaga. Koperasi harus menjadi tulang punggung perubahan karakter di Nusa Tenggara Timur.” Begitu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menantang dan membakar semangat gerakkan koperasi saat menjadi nara sumber tunggal seminar tentang perkoperasian, yang diselenggarakan oleh KSP Kopdit Obor Mas & KSP Kopdit Pintu Air, 6 Mei 2019 di Kampus Unipa, Maumere.

Menurut Gubernur, di NTT tidak ada korporasi – perusahaan swasta yang hebat. Jadi, the real business man adalah koperasi. Tetapi koperasi belum membangun korporasi. Kini saatnya koperasi harus menuju korporasi profesional. Secara hati nurani moralitasnya koperasi, dan tetap kekeluargaan. Namun pengembangan bisnis dan pekerjaan-pekerajaannya, harus korporasi.

Koperasi di NTT, khususnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) tidak boleh hanya tertarik punya uang sekian banyak, ratusan miliar – triliun, misalnya. Dia harus tertarik dan bangga bahwa produknya sekian banyak, dan akan menguasai di seluruh NTT. Contoh, minyak kelapa harus dikuasi oleh korporasi yang asalnya datang dari koperasi. Para anggota koperasi di bawah naungan koperasi, membangun usaha – korporasi (PT) untuk menguasai minyak kelapa tersebut di seluruh NTT.

Bila semua koperasi di NTT mengkondisikan ada minyak kelapa, maka minyak dari luar NTT harus ditahan, yang diutamakan adalah minyak kelapa produk NTT dulu. Jika kurang, baru minta tambah dari luar. Jadi, jangan seluruh minyak goreng dari luar masuk NTT, kemudian produsen minyak kelapa di NTT mati. Karenanya semua produk dari NTT harus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Semua produk, khususnya makanan dan minuman yang dihasilkan NTT harus dilindungi.

Pemerintah akan kerja sama dengan koperasi yang punya fighting spirit, masuk melalui akses pendampingan, akses pasar, akses keuangan, guna mendorong inovasi tentang kopi terbaik, ikan terbaik, dan macam-macam inisitaif terbaik lainnya.

Sektor riil yang dibangun dan dikembangkan Kopdit Pintu Air, seperti; rumah produksi minyak kelapa, jasa angkutan, swalayan, Ekorantt, potensi pariwisata dengan luas lahan 4 hektar di Pantai Wailiti, Maumere yang semula akan dibangun pelabuhan adalah langkah strategis menjawab tantangan Gubernur NTT, sekaligus upaya meningkatkan kualitas hidup anggota dan masyarakat pada umumnya.

Berdasarkan Undang-undang (UU) No 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian tidak dibenarkan KSP berbisnis – mengembangkan usaha di luar simpan pinjam, maka, kata Yakobus Jano, Ketua Umum Kopdit Pintu Air yang juga menjabat Komisaris Utama (Komut) dari perusahaan berbadan hukum Perseoran Terbatas (PT) di bawah naungan Kopdit Pintu Air, seperti; PT Pintu Air Asia Unit Pintar Asia Swalayan, PT Pintu Air Asia Unit PCP, PT Pintar Asia Jaya dan PT Garam Pintar Asia, sahamnya dimiliki oleh anggota koperasi. Jumlah anggota Kopdit Pintu Air per 31 Desember 2019 tercatat 231.477 orang. Sedangkan total aset per 31 Desember 2019 sebesar Rp 1,168 triliun.

Dengan saham senilai – nominal Rp 250.000,- per anggota maka anggota telah memiliki 8 unit perusahaan, yaitu; Swalayan, Ekorantt, Rumah Produksi Minyak Kelapa, Jasa Angkutan, SPBU, Produksi Garam, Pertanian Lahan Kering, dan Pariwisata. Karena belum semua anggota menyetor modal saham, maka Kopdit Pintu Air menanamkan modal penyertaan agar kegiatan usaha berjalan lancar.

Menkop dan UKM Teten Masduki didampingi Bupati Sikka Roberto Diogo, dan Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera, dalam kunjungan kerja (Kunker) ke NTT, setelah dari Kupang terbang ke Maumere berkunjung ke KSP Kopdit Obor Mas dan KSP Kopdit Pintu Air. Kunker di Maumere pada 24 Oktober 2020 tidak hanya melihat aktivitas di Kantor koperasi terbesar di NTT, juga berkunjung ke anggota-anggota yang diberdayakan untuk mengembangkan sektor riil. Di KSP Kopdit Pintu Air, mengunjungi rumah produksi Minyak Kelapa PINTAR.

Menkop mengapresiasi pengembangan bisnis sektor riil yang dilakukan Kopdit Pintu Air, lewat produk minyak kelapa (coconut oil) yang melibatkan ribuan petani kelapa anggota Kopdit Pintu Air sebagai sumber bahan baku utama. Kedatangan Menkop yang tidak terjadwal itu disambut Ketua Kopdit Pintu Air Yakobus Jano beserta jajaran pengurus, pengawas dan manager. Teten mengaku gembira ada koperasi di NTT sudah berani mengembangkan usaha sektor rill dengan mendirikan rumah produksi, memproduksi minyak kelapa. 

Dulu Flores terkenal sebagai pengekspor kopra tersesar di Indonesia. Karena harga kopra tidak menguntungkan para petani mereka kemudian menjual kelapanya dalam bentuk gelondongan. Saat ini puluhan bahkan ratusan container tiap minggu kelapa dari Flores dikirim gelondongan ke Pulau Jawa. Dengan adanya rumah produk minyak kelapa dari Kopdit Pintu Air diharapkan akan terus  berkembang menjadi prabrik besar. “Saya menyakini minyak kelapa Pintu Air bisa menjadi brand dari Flores untuk dunia,” ucap Teten. Yakobus bertekad menjadikan Minyak Kelapa Pintar sebagai ikon dari Rotat untuk Indonesia yang diperhitungkan.

Kepada Menkop Yakob meminta untuk mempercepat proses pinjaman LPDB, dan kebetulan Direktur LPDB, ikut hadir sehingga harapan tersebut bisa dipercepat. Rumah produksi minyak kelapa yang menempati bekas Kantor Pusat Kopdit Pintu Air itu diresmikan oleh Wakil Gubernur NTT Drs. Josef Nae Soi, M.M, bertepatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020 dilanjutkan peresmian distenasi wisata Pintar Asia Baech (Wailiti), Maumere, Sikka.

Produk perkebunan kelapa Indonesia bisa berdaya saing jika pasar diperluas. Sejauh ini, produk minyak kelapa (virgin coconut oil) termasuk salah satu produk terbesar yang dieskpor selain minyak goreng kelapa, gula kelapa, kopra, arang dan produk kelapa lainnya. Pasar VCO ke depan akan terbuka lebar, dan tentunya dengan mempertimbangkan gaya hidup masyarakat dunia yang terus meningkat. Pola hidup ini menyebabkan kebutuhan akan makanan dan minuman sehat termasuk organic health oil juga ikut meningkat.

Disamping memproduksi minyak kelapa, Kopdit Pintu Air juga memproduksi garam. Produksi garam dari Nangahale bisa mencukupi kebutuhan garam dari Sikka hingga Alor. Bila produksinya ditingkatkan dengan lahan yang luas, pasti cakupan pasarnya juga lebih luas, dan bisa jual ke luar. Garam yang diproduksi, kata Yakobus,  garam konsumsi beryodium.  Penanggungjawab rumah produksi garam Romo Moses Kuremas mengatakan bahwa Gubernur saat meninjau lokasi tambak garam sekaligus memanen perdana garam.

Untuk mendukung program pengembangan industri pariwisata di NTT, Gubernur berharap Kopdit Pintu Air juga mengembangkan perhotelan. Saat ini pemerintah provinsi lagi giat-giatnya mengembangkan pariwisata sebagai prime mover penggerak utama perekonomian NTT. Maka Kopdit Pintu Air pun mendukung kebijakan Gubernur dengan menjadikan lahan seluas 4 hektar di bibir pantai Wailiti, Maumere yang masih diteduhi ribuan pohon kelapa itu akan dibangun hotel berbintang, kolam renang, tempat bermain, restoran dan sarana rekreasi lainnya.

***

Koperasi itu bukan hanya simpan pinjam. Simpan pinjam oke, tetapi juga harus membuat sesuatu yang nyata di masyarakat. “Hal itu telah disampaikan kepada seluruh bupati NTT dan pimpinan koperasi pada pertemuan di Labuhan Bajo beberapa waktu yang lalu,” jelas Wagub NTT, saat memberikan sambutan pada peluncuran produk Minyak Kelapa Pintu Air sekaligus peresmian destinasi wisata Pintar Asia Bach, Maumere, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020.

whats

Wagub sependapat dengan Bupati Sikka, Roberto Diogo bahwa koperasi adalah investor besar. Di Kabupaten Sikka, kata Roberto, jumlah anggota koperasi mencapai 51% dari populasi penduduk Kabupaten Sikka. Lebih tinggi dari prosentase nasional yang baru 19%. Kalau dikumpulkan, kata Wagub, omset koperasi di seluruh NTT lebih dari Rp 10 triliun. “Uang yang beredar mencapai Rp 4 triliun – Rp 5 triliun. Ini modal yang luar biasa. Kopdit Pintu Air dengan aset Rp 1,168 triliun, investor terbesar. Karena itu kami sangat bangga dan berterima kasih kepada koperasi-koperasi yang ada di NTT, khususnya Kopdit Pintu Air yang telah membuat suatu terobosan di sektor riil, sesuai dengan visi dan misi Gubernur – Wakil Gubernur” jelas Wagub.

Menurut Wagub, para pengusaha pun berjasa bagi pembangunan dan kemajuan daerah Nusa Tenggara Timur. Namun kalau dilihat uangnya, lebih banyak uangnya koperasi. Pengusaha yang datang ke NTT bawa uang Rp 100 miliar – Rp 200 miliar. Itu pun harus jemput mereka. Sedangkan koperasi, mampu berinvestasi triliunan. Kerena itu mereka harus diberikan penghargaan.

“Selain mendorong perkembangan koperasi untuk terus berinovasi menggarap potensi NTT yang luar biasa, kami berdua, saya dan Pak Viktor (Gubernur) sudah melakukan pemasaran dua komoditi, yaitu kopi dan kelor ke seluruh dunia. Dikatakan keseluruh dunia karena pemasarannya melalui 400-an misionaris asal NTT yang bertugas di seluruh dunia. Mereka bersedia memasarkan produk-produk yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Sekarang di Eropa yang namanya Moringa Oleifera – Drumstick tree – Kelor sangat terkenal. Pangsa pasarnya sangat besar, maka kelor kita promosikan melalui; saudara-saudara kita, adik, kakak, dan para misionaris yang sedang bertugas di luar negeri,” jelas Wagub.

Khasiat daun kelor telah tersohor sejak ribuan tahun lalu. Hal ini lantaran tanaman yang berasal dari India bagian utara tersebut mengandung antioksidan dan komponen bioaktif yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Antara lain;

Daun Kelor Mengandung Berbagai Zat Nutrisi. Dua kandungan daun kelor yang penting adalah vitamin dan mineral, antara lain vitamin B6, vitamin B2, vitamin C, vitamin A, zat besi, dan magnesium.  Daun kelor juga mengandung protein nabati. Satu mangkuk daun kelor (sekitar 21 gram) mengandung protein 2 gram.

Daun Kelor Kaya Antioksidan. Antioksidan merupakan salah satu zat yang penting untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh. Kadar radikal bebas dalam tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronik dan berbahaya, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes mellitus tipe II. Beberapa zat yang bersifat antioksidan yang ada dalam kandungan daun kelor, antara lain vitamin C, beta karoten, quercetin, dan chlorogenic acid.

Menurunkan Kadar Gula Darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat menjadi masalah kesehatan serius. Mengapa demikian? Gula darah yang tinggi biasanya tidak akan berdiri sendiri, dan akan diikuti oleh berbagai komplikasi. Seperti penyakit jantung dan ginjal. Itulah alasannya penting sekali menjaga kadar gula darah yang normal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa khasiat daun kelor juga dapat menurunkan kadar gula darah. Namun demikian, sebagian besar penelitian ini masih penelitian yang dilakukan pada hewan. Perlu dilakukan kajian lebih mendalam untuk memperkuat hasil penelitian sebelumnya.

Daun Kelor Dapat Mengurangi Proses Peradangan. Peradangan atau inflamasi merupakan respons natural tubuh terhadap infeksi atau cedera tubuh. Peradangan merupakan mekanisme yang penting dalam proses pertahanan tubuh.

Akan tetapi, proses inflamasi yang berlangsung kronik juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung bawaan dan kanker. Nah, daun kelor mengandung antiinflamasi yang bernama isothiocyanate.

Zat ini penting untuk mengurangi proses peradangan kronis dalam tubuh. Akan tetapi, penelitian mengenai efek antiinflamasi daun kelor ini juga masih terbatas pada studi hewan sehingga dibutuhkan studi lebih lanjut pada manusia untuk membuktikan hal ini.

Daun Kelor Dapat Menurunkan Kadar Kolesterol Darah. Kegunaan daun kelor untuk kesehatan lainnya adalah menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar kolesterol darah yang tinggi sangat berbahaya karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Ada beberapa penelitian pada hewan maupun manusia yang membuktikan bahwa daun kelor bermanfaat menurunkan kadar kolesterol darah.

Melindungi dari Keracunan Arsen. Kontaminasi arsen dalam makanan dan minuman merupakan salah satu masalah kesehatan di beberapa tempat. Dampak jangka panjang kontaminasi arsen dalam makanan dan air menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker.

Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa salah satu kegunaan daun kelor dapat melindungi hewan dari dampak keracunan arsen. Namun, lagi-lagi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut pada manusia untuk menguatkan hasil penelitian pada hewan sebelumnya.

Mengatasi Gangguan Metabolisme Lemak pada Penderita HIV. Gangguan metabolisme lemak bisa terjadi pada penderita HIV yang mengonsumsi obat retrovirus atau obat untuk mengobati infeksi HIV.  Ternyata, ekstrak daun kelor dapat memperbaiki metabolisme lemak yang terganggu dan terbukti pada penurunan angka kolesterol serta trigliserida pada penderita HIV.

 Apa yang kita kerjakan sekarang, kata Wagub, yang terjadi dahulu, warisan nenek moyang, kita sekarang abaikan. Dulu, tahun 1970-an orang Maumere yang naik motor, mereka pasti punya kopra. Kalau tidak punya kopra, tidak bisa beli motor. Sekarang kopra tidak ada. Karena harga kopra murah, kelapa dijual gelondongan ke Pulau Jawa. Kini baru mulai, kelapa yang dihasilkan petani – pekebun diolah oleh para perajin – rumah produksi untuk menghasilkan minyak kelapa agar punya nilai tambah, nilai ekonomi yang lebih tinggi. Melalui rumah produksi minyak kelapa, Kopdit Pintu Air ingin mengembalikan kejayaan petani kelapa di Flores.

***

“Waktu telah berubah, kita harus berubah di dalamnya. Kopdit Pintu Air pun telah melakukan perubahan. Yang dibutuhkan, inovasi dan kreativitas. Dari Pintu Air minyak kelapa menuju dunia. Tak berlebihan saya mengatakan; koperasi itu satu-satunya yang telah berhasil melakukan terobosan untuk melihat bagaimana kebutuhan masyarakat dunia. Dunia sekarang sudah jenuh dengan minyak kelapa sawit. Mereka kembali kepada minyak yang asli, yaitu minyak kelapa. Saya setuju namanya; Minyak Kelapa Pintar, Flores.  Tidak usah pakai VCO, dan sebagainya.

Nusa Tenggara Timur, menurut Wagub, sangat kaya. Orang dari luar bisa melihat itu semua. Tetapi masyarakat NTT tidak bisa memanfaatkan. “Saya harus memberikan apresiasi kepada anak-anak muda yang melakukan riset. Salah satu hasil riset dari kaum muda adalah minya cendana. Telah dilakukan uji coba, yang minum minyak cendana, mereka terbebas dari Covid-19. Karena itu saya menghimbau kepada generasi muda, hal-hal yang dahulu nenek moyang berikan kepada kita, lakukan riset, lakukan improvisasi, kreasi, inovasi berdasarkan riset dan penelitan agar memenuhi stadar – kreteria yang ditentukan oleh internasional,” urainya.

Pemerintah NTT dalam program pembangunan melibatkan lima jalinan yaitu; pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau kelompok masyarakat, pelaku ekonomi termasuk koperasi, perguruan tinggi – akademi dan pers. Semua komponen yang ada di NTT harus diberdayakan, dan harus digerakan secara bersama-sama. Kalau yang sudah dikerjakan oleh swasta, misalnya, sekarang produk minyak kelapa, pemerintah tidak akan mengerjakan, tetapi cari yang lain. Kalau ada yang lain kerjakan, dikasih. Ada lagi yang lain, dikasih. Pemerintah akan mendorong, menyiapkan regulasinya dan dari bagaimana memfasilitasi aksesbilitas.

“NTT tidak bisa hanya begini. NTT harus bangkit. Tidak bisa lagi seperti dulu, biasa-biasa saja. NTT harus take off, harus loncat. Orang lain lari sambil loncat. Kita tidak bisa main-main. Kalau tidak mau melakukan loncatan, akan ketinggalan terus dari provinsi lain,” tegas Wagub seraya menambahkan, salah satu program prioritas Provinsi NTT adalah pembangunan bidang pariwisata.

Pariwisata memiliki makna luar biasa. Berbicara pariwisata, berbicara tentang atraktif alam dan artraktif budaya yang luar biasa. Binatang purba yang dilindungi dunia, adanya di NTT. Keajaiban dunia, danau tiga warna, adanya juga di NTT. Kekayaan nenek moyang kita tiada tara. Songkok dan kain tenun untuk penyambutan tamu-tamu agung, misalnya, bukan kerajinan tangan biasa melainkan kekayaan intelekual warisan leluhur yang telah turun-temurun.

Soal akomodasi, Pemprov NTT sudah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub). Yang diizinkan mendirikan home stay – penginapan, hotel-htel melati, hotel bintang 1 dan 2 bukan perusahaan besar tetapi kelompok-kelompok masyarakat, pengusaha kelas UKM. Sedangkan pengusaha besar porsinya mendirikan hotel-hotel berbintang; 3,4,5 dan sebagainya. Pariwisata menjadi salah satu program prioritas karena pariwisata memiliki mata rantai pasok ekonomi sangat besar.

Dalam akomodasi, misalnya, mata rantai pasok ekonominya dimulai dari; para wisatawan itu datang menggunakan transportasi apa, dia makan apa, tidur di mana kemudian pulang bawa apa. “NTT itu tidak miskin harta, tidak miskin sumber daya alam.  Yang tidak punya adalah aksesbilitas. Aksesbilitas jalan, pelabuhan; udara dan laut. Aksesbilitas elektrilisasi, telekomunikasi dan informasi,” tegas Wagub.

Pemprov berencana mengembangkan hingga 21 destinasi wisata estate baru di NTT. Pengembangan destinasi wisata estate baru ini direncanakan rampung 5 tahun kepemimpinan Viktor Laiskodat – Josef Nae Soi yang merevisi target sebelumnya yakni dalam 3 tahun pertama kepemimpinan pasangan gubernur-wakil gubernur itu. Kebijakan Pemrov menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT. Namun jumlah destinasi wisata estate baru yang dibangun baru mencapai tujuh destinasi, menggunakan anggaran 2019.

Destinasi tersebut terdiri dari Fatumnasi di Kabupaten TTS, Lamalera di Lembata, Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao, Pantai Liman di Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Selain itu, ada Desa Koanara di Kabupaten Ende, Wolwal di Kabupaten Alor dan Destinasi Praimadita di Kabupaten Sumba Timur. Pembangunan bertahap ini dilaksanakan untuk memperkuat seluruh destinasi baru yang telah ada.

Pemerintah tidak mau hanya sekedar bangun tempat, tapi juga mau memastikan dengan pendampingan yang memadai sehingga destinasi yang dibangun itu dapat beroperasi dan dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Destinasi-destinasi tersebut, akan diperkuat baik dari sisi kelembagaan maupun pengelolaannya. Sehingga menjadi role model dan pilot project pengembangan pariwisata estate baru. Pemerintah akan rutin melaksanakan peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan para pelaku wisata berbasis masyarakat.

Peningkatan SDM dan kelembagaan untuk mempersiapkan masyarakat agar dapat menjadi pelaku usaha pariwisata berbasis masyarakat yang profesional dan berdaya saing secara nasional. Kopdit Pintu Air mengapresiasi dan mendukung upaya pemerintah Provinsi meningkatkan kompetensi pelaku usaha, pelaku pariwisata dalam konsep pariwisata berbasis masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Gubernur NTT Nomor 85 tahun 2019 yang diterbitkan tanggal 28 Oktober 2019, Pemerintah menetapkan kawasan wisata lokasi percepatan pengembangan pariwisata estate di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan wisata tersebut terdiri dari Pantai Liman di Kabupaten Kupang, Mulut Seribu di Rote Ndao, Lamalera di Lembata, Moru – Wolwal di Alor, Koanara di Ende, Karena – Praimadita di Sumba Timur dan Mutis – Fatumnasi di TTS. Tujuh destinasi ini dibangun pada 2019.

Berikutnya, kawasan wisata Ile Boleng – Meko di Kabupaten Flores Timur, Bola – Uma Utama di Sikka, Rest Area di Sumba Tengah, Waikelo Sawah di Sumba Barat Daya, Motaain di Belu, Kallaba Maja di Sabu Raijua dan Kawasan Taman Laut 17 Pulau Riung di Ngada. Tujuh kawasan destinasi ini masuk tahun anggaran 2020. Lalu, kawasan wisata Anakoli di Kabupaten Nagekeo, Ina Mbele di Manggarai, Sanonggoang di Manggarai Barat, Ranamese di Manggarai Timur, Wae Liang di Sumba Barat, Insana di TTU, Motadikin di Malaka dan Lasiana di Kota Kupang yang masuk tahun anggaran 2021.

Pemprov NTT membuat berbagai gebrakan untuk mendukung pariwisata yang diharapkan menjadi lokomotif perekonomian NTT, mulai dari pemberlakuan english day, wajib berbahasa Ingris sehari penuh sekali dalam satu minggu bagi pegawai Dinas Pariwisata. Kementerian Pariwisata juga mendukung pengembangan pariwisata di NTT dengan menitikberatkan pada pemasaran destinasi pariwisata melalui iklan bergambar komodo di internet maupun bus-bus pariwisata di luar negeri.

Pengembangan pariwisata di NTT, kata Wagub, harus berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan konsep 5A pariwisata; atraksi, akomodasi, aksesibilitas, Ammenity dan Awareness. Menyiapkan atraksi sebagai daya tarik wisata, pembenahan akomodasi meski sederhana tetapi nyaman. Pembenahan infrastruktur untuk aksesibilitas. Ammenity berupa pembenahan rumah makan, pusat cinderamata, sarana kesehatan dan lainnya. Membangun awaraness agar sebuah destinasi bisa dikenal.

Pariwisata bermanfaat bagi masyarakat, misalnya makanan dan minuman bisa di supply oleh masyarakat sekitar, rumah-rumah warga dijadikan home stay yang layak. Selain kunjungan wisatawan, tentu para investor berinvestasi ke pariwisata NTT. Akan tetapi bila investasi berpotensi merebut ruang untuk mengembangkan perekonomian rakyat disekitar daerah pariwisata dan menimbulkan konflik, bahkan menimbulkan korban jiwa seperti kasus Poro Duka yang terjadi di Sumba Barat, maka harus ditolak.

Pemprov NTT mengembangkan pariwisata berbasis kerakyatan di setiap daerah yang berpotensi pariwisata. Artinya masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program pariwisata. Contoh, memastikan masyarakat dapat membangun fasilitas pariwisata yang berdampak pada ekonomi warga. Pemberdayaan kios-kios yang menjual produk masyarakat seperti souvenir, tenun atau masakan khas di daerah pariwisata.

Intinya masyarakat harus mampu menggaji dirinya sendiri bukan hanya didorong agar digaji oleh pihak investor. Dengan kata lain masyarakat harus dibiarkan berdaulat dan berproduksi di atas tanah miliknya sendiri. Cara tersebut akan menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat, sehingga tidak perlu mencari pekerjaan jauh-jauh ke luar negeri dan pulang dalam keadaan tidak berdaya.

Pariwisata sebagai kekuatan ekonomi baru tak hanya meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak dari investasi tetapi sebagai kekuatan ekonomi baru bagi rakyat sendiri. Sehingga NTT bukan menjadi provinsi yang kaya potensi wisata tetapi rakyatnya miskin. Masyarakat adalah subyek dan obyek yang harus diberdayakan. Pemprov NTT sudah mengumpulkan koperasi dan mengarahkan untuk bekerjasama dengan BUMDes.

Model kerjasamanya sedang dicari agar bisa mengggarap sektor pariwisata di desa. Masyarakat diajak merubah kebiasaan dimulai dari menjaga kebersihan. Setiap hari Jumat, para ASN Pemprov NTT digerakkan untuk mengelola sampah. Meski perlu waktu, namun diyakini masyarakat dapat dibiasakan menjaga kebersihan. “Kita harus persiapkan sumberdaya, dan mempersiapkan perilaku terlebih dahulu. Dimulai dari rasa memiliki terhadap sebuah destinasi. Masyarakat harus dapat manfaat dari pariwisata agar bisa mencintai pariwisata itu sendiri,” ungkap Wagub.

Selain berbasis masyarakat, dikembangkan konsep ekowisata, memperhatikan aspek konservasi, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal dan aspek pembelajaran serta pendidikan. Pariwisata berbasis masyarakat dan ekowisata itu ideal, sekaligus mengembangkan ikatan sosial masyarakat.

Sebagai prime mover economic, pariwisata harus ditata sesuai kareteristik karakter budaya masing-masing daerah. Ini baik untuk destinasi kampung-kampung adat maupun obyek wisata alam. Model penataannya, misalnya, destinasi obyek wisata kampung adat dikembalikan ke posisi semula. Kampung adat dibenahi arsitekturnya seperti dahulu kala agar roh kampungnya terlihat kembali. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *