Setelah Tol Laut Muncul Tol Langit

Yang perlu kita ketahui, konsep tol laut bukan membuat jalan tol di atas laut. Melainkan jalur pelayaran bebas hambatan yang menghubungkan hampir seluruh pelabuhan di Indonesia. Tentu, kapal yang digunakan untuk melintasi tol laut adalah kapal-kapal yang memiliki kapasitas dan volume sangat besar.

Selain agar sekali pengangkutan dapat dimaksimalkan untuk mengirim barang dalam jumlah besar. Kapal tol laut juga harus mampu melintasi laut yang memiliki jarak yang cukup jauh. Sampai saat ini masih banyak yang bertanya, manfaat program tol laut. Meski secara tidak langsung seluruh lapisan masyarakat di Indonesia sudah merasakan dampak tersebut.
Salah satu manfaat yang dirasakan dari program tol laut yakni memperkuat jati diri sebagai negara maritim terbesar di dunia bahwa “nenek moyang kita adalah pelaut”. Dengan adanya tol laut membuat harga kebutuhan bahan pokok di seluruh wilayah Indonesia sama rata. Salah satu alasannya adalah jalur dan harga distribusinya yang sudah tidak semahal sebelum adanya program tol laut.

Pelabuhan yang telah diresmikan Presiden Jokowi sudah memiliki fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya, terutama pada bagian fasilitas penampung ikan yang akan dijual oleh nelayan. Lebih besar dan bersih. Sehingga dapat dimanfaatkan para nelayan untuk menjual ikan dalam jumlah yang lebih banyak.

Melalui program tol laut diharapkan angka 7 juta penganggur di Indonesia dapat berkurang karena infrastruktur dari setiap wilayah Indonesia diperbaiki sehingga lebih layak dan menarik untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi yang memiliki bisnis dan biasa melakukan pengiriman barang antar pulau, kini tidak perlu pusing, karena biaya kirim barang semakin murah dan mudah.

Sejak konsep tol laut digagas oleh Presiden Jokowi, Kementerian Perhubungan telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan pemerataan ekonomi antar wilayah di Indonesia sebagaimana cita-cita dari tol laut. Jadi tidak benar kalau program tol laut ditinggalkan. Peningkatan program, tercatat pada total kinerja muatan yang diangkat.
Untuk armada tol laut angkutan barang pada tahun 2016 sebanyak 81.404 MT, terus meningkat 233.139 MT pada 2017 dan pada 2018 kembali meningkat sebesar 239.875 MT. Selain itu, untuk kapal perintis muatan di 2016 sebanyak 67.306 MT dan meningkat jadi 80.080 MT di 2017 dan kembali di 2018 menjadi 97.242 MT. Begitupun kapal ternak, pada tahun 2016 berhasil mengangkut 1.998 MT, tahun 2017 meningkat menjadi 2.101 MT dan 2018 meningkat menjadi 8.534 MT.

Selain itu, Kemenhub terus meningkatkan sinergi dan kerja sama dengan Kementerian Lembaga terkait dengan mengembangkan gudang distribusi bersama BUMN agar pasokan logistik terus tersedia. Tahun 2019 pemerintah mengoptimalkan semua elemen armada tol laut, kewajiban pelayanan publik meliputi, armada PSO kapal penumpang Kelas Ekonomi 26 unit Kapal Perintis, 113 Kapal Tol Laut angkutan barang, 19 kapal (4 kapal induk + 15 feeder), 6 unit kapal ternak, 20 unit kapal lainnya.

Jalur tol laut Indonesia antara lain: (1). Tanjung Priok, Tanjung Batu, Tarempa, Natuna, Tanjung Priok, (2). Teluk Buyur, Pulau Nias Gunung Sitoli, Mentawai, Pulau Enggano, Teluk Buyur, (3). Tanjung Perak, Belang Belang, Sangatta, Nunukan, Pulau Sebatik, Tanjung Perak, (4). Tahuna, Kahakitang, Buhias, Tagulandang, Biaro, Lirung, Melangoane, Kakorotan, Miangas, Marore, Tahuna, (5). Tanjung Perak, Makassar, Tahuna, Tanjung Perak, (6). Tobelo, Maba, Gebe, Obi, Sanana, dan Tobelo, (7) Tanjung Perak, Wanci, Namlea, Tanjung Perak, (8). Tanjung Perak, Tidore, Morotai, dan Tanjung Perak, (9). Tanjung Perak, Nabire, Serul, Wasior, Tanjung Perak, (10) Biak, Oransbari, Weren, Sarmi, Biak, (11). Tanjung Perak, Timika, Agats, Merauke, Tanjung Perak, (12) Tanjung Perak, Fakfak, Kaimana, Tanjung Perak, (14) Tanjung Perak, Larantuka, Adorana, Lewoleba Tanjung Perak, (15). Tanjung Perak, Saumlaki, Dodo, Tanjung Perak, (16). Tanjung Perak, Kalbahi, Moa, Rote, Sabu, Tanjung Perak.

Setelah tol laut, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan istilah baru “tol langit”. Apa itu tol langit? Apakah itu jalan tol yang melintang tinggi di langit seperti dulu orang membayangkan tol laut? Tentu saja bukan. Seperti keterangan tertulis yang diterima majalahukm.com dari Keminfo pada 4 Maret 2019, istilah tol langit dipakai Presiden Jokowi untuk menggambarkan sambungan bebas hambatan bagi sinyal internet di langit Indonesia, yang akan menghubungkan seluruh wilayah di bumi Nusantara.

Istilah tol langit adalah penjelasan untuk seluruh pembangunan infrastruktur jaringan internet. Pembangunan jaringan ini termasuk penyelesaian proyek kabel serat optik Palapa Ring yang melingkari wilayah Indonesia, base transceiver station (BTS), dan peluncuran satelit internet kecepatan tinggi (High Throughput Satellite/HTS). Tol langit yang digunakan Cawapres Ma’ruf Amin saat debat putaran ketiga Pilpres 2019 adalah cara Ma’ruf agar masyarakat lebih mudah mengerti dan mengingat.

Penyederhanaan istilah ini sudah dilakukannya sejak 2017. Saat itu, Ma’ruf Amin menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa muamalah medsosiah. Fatwa ini merupakan hukum dan pedoman dalam beraktivitas di media sosial. Pendekatan Ma’ruf, sangat pendekatan pasar. Waktu itu MUI membuat fatwa MUI bagaimana umat Islam harus memanfaatkan media sosial. Karena cukup panjang, kemudian dibuatlah yang lebih mudah, muamalah medsosiah.

Terkait tol langit ini ada info mengejutkan perihal gagasan Amerika Bersatu yang dicetuskan oleh seorang perempuan muda asli Indonesia yang tinggal di Washington, DC, Tricia Sumarijanto. Dia bergerak cepat, dalam satu minggu sudah 27 negara bagian menyatu dalam gerakan Amerika Bersatu. Artinya warga Indonesia yang tinggal di 27 negara bagian dan 30 kota di Amerika Serikat itu telah menyatu dalam semangat Indonesia Satu.

Pembicaraan lintas udara dengan mudah dilakukan dengan tokoh-tokoh dan petinggi di Tanah Air. Itulah bukti harmoni semangat dan karya nyata sebagai bentuk aplikasi Program Nawacita-nya Presiden Jokowi. Sejalan dengan gerakan anak-anak muda di seluruh Amerika, Amerika Bersatu. Rencana besar yang diambil dari pidato pertanggungjawaban Presiden RI Ir. Soekarno (Bung Karno) itu, kini memasuki masa penentuan kali kedua, jika pasangan calon presiden dan wakil presiden Nomor 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin dalam pemilihan presiden (Pilpres) 17 April 2019, menang.

Si Kerempeng ala Thong Thongshot alias Petruk Kantong Bolong dalam lakon pewayangan Semar Mangun Khayangan itu ternyata juga menjadi pengeja-wantahan Maha Patih Gajahmada, dengan embel-embel 4.0-nya yang luar biasa. Coba kita perhatikan pada medio 22 Februari 2019 yang lalu, Capres Nomor 01, dalam salah satu debat menyebutkan bahwa debut kerja pemerintah yang dipimpinnya telah mengembangkan proyek telekomunikasi Palapa Ring.

Ring itu melingkari Indonesia wilayah barat hingga Indonesia wilayah timur. Pembangunan Palapa Ring untuk menyediakan layanan komunikasi berkecepatan tinggi. Palapa Ring di Indonesia wilayah barat telah 100% selesai dengan panjang fiber optik 2.995 Km. Palapa Ring wilayah tengah mencapai 99% dengan fiber optik 2.995 Km dan Palapa Ring wilayah timur sudah mencapai 95%, dengan fiber optik sepanjang 6.878 Km, diharapkan pada Juni 2019 telah 100% selesai dan diresmikan Presiden.

Karena proses penarikan kabel untuk menghubungkan antar sekolah di pegunungan atau antar puskesmas dan fasilitas-fasilitas publik lainnya di daerah 3T (terluar, terdepan, tertinggal), membutuhkan waktu antara 10-20 tahun, sehingga pemerintah melakukan lompatan kebijakan untuk mempercepat pelayanan internet dengan menggunakan satelit. Kita punya 214 ribu jumlah sekolah di seluruh Indonesia, tetapi masih ada 8.000 – 10.000 sekolah yang belum terhubung dengan internet. Juga ada madrasah dan pesantren, puskesmas dan fasilitas lainnya yang belum terakses internet. Inilah yang akan segera kita dibangun.

Pemerintah tidak hanya bergantung pada operator swasta. Pemerintah juga punya kebijakan keberpihakan berikutnya, setelah program Palapa Ring, yakni fokus membangun dan menyiapkan fasilitas internet untuk sektor pendidikan, kesehatan maupun pemerintahan. Yang akan dilakukan pemerintah bagaimana penyediaan internet berkecepatan tinggi untuk sekolah, puskesmas, kantor desa, kantor Polsek, Koramil dan sebagainya.

Selama ini, jaringan internet hanya menyambungkan sebagian wilayah di Indonesia, terutama di kota-kota yang banyak penduduknya. Wilayah terpencil di kota-kota terluar di Indonesia yang jarang penduduk, masih “fakir sinyal” bahkan tanpa sinyal sama sekali atau blank-spot. Operator telekomunikasi swasta enggan masuk ke sana, lantaran tidak ekonomis. Potensi pemasukkannya tidak sebanding dengan ongkos investasi yang mahal. Nah, untuk membuka isolasi tersebut, pemerintah menggagas Palapa Ring sebagai jalan tolnya.

Harapan dan impian itu tampaknya akan segera terwujud. Karena perusahaan telekomunikasi PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) telah meluncurkan satelit Nusantara Satu di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, sekitar pukul 20.45 waktu setempat atau Sabtu, 22 Februari pukul 08.45 WIB. Peluncuran itu menggunakan roket Falcon 9 milik Space X. Nusantara Satu adalah Sateli Indonesia yang menggunakan teknologi High Throughput Satelilite (HTS), dengan kapasitas hingga 150 Gbps. Artinya, satelit ini 3 X lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang saat ini ada. Teknologi tersebut akan memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar.

Dengan Palapa Ring, tak kurang 57 kota dan wilayah terisolir seperti Ranai di Natuna, Sangihe di ujung utara Sulawesi, Rai Juha di Laut Sabu, Alor, Wetar, Saumlaki, Tual, Timika, Nabire, dan puluhan kota lain di wilayah timur Indonesia, tersambungkan jaringan kabel optik. Dengan keberadaan satelit Nusantara Satu, maka daerah-daerah di Indonesia yang tidak terjangkau jaringan broadband akan dapat tersambungkan. Diperkirakan 25.000 desa yang tidak memiliki koneksi komunikasi internet yang memadai.

Beroperasi pada April 2019, PSN menggunakan satelit Nusantara Satu untuk mengembangkan divisi broadband mereka yang antara lain memiliki klien usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan kafe internet di daerah. Ini sekaligus menjawab pertanyaan Jokowi terhadap Prabowo mengenai infrastruktur apa yang harus dipersiapkan untuk mendorong unicorn-unicorn Indonesia?

Satelit Nusantara Satu mendukung proyek Palapa Ring yang mengintegrasikan jaringan yang sudah ada dengan jaringan baru pada wilayah timur Indonesia (Palapa Ring – Timur). Inilah yang disebut tol langit, dimana komunikasi udara tanpa batas tersambung dari satu pelosok ke pelsosok daerah lain dengan kecepatan tinggi. Tol langit akan membuka peluang digitalisasi bagi pelaku UMKM.

Apalagi perkembangan dunia digital di Indonesia ditargetkan bakal mencapai US$ 130 miliar pada tahun 2020 nanti, atau sekitar Rp.1.978 triliun, mencakup 12% dari GDP Indonesia. Jangan heran bila berkat adanya tol langit ini akan menjadikan salah satu daerah terpencil di Maluku Utara, yakni Pulau Morotai telah ada Wifi gratis. Bahkan penduduknya mampu membeli paket kouta atau data dengan harga yang sama seperti di Ibukota, Jakarta.
Jangan terkejut, bila ke depan, seorang Ngadimin, penulis novel dari sebuah desa kecil bernama Tegalrejo, ujung barat Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mampu menjual novelnya hingga ke Eropa sana. Juga jangan bengong bila Giman, seorang pekebun kelapa yang tinggal di Desa Muneng, Kec. Miri, ternyata mampu memasarkan kopranya hingga ke manca negara berkat aplikasi Tanihub.

Bukan hal yang mengagetkan bila seorang pematung dari Suku Asmat di pedalaman Papua sana punya langganan yang rutin membeli patung-patungnya yang bernama Andrew di Amerika Utara. Berkat tol langit semua yang pelik menjadi mungkin. Indonesia akan sama terkoneksinya seperti Amerika. Di masa depan (bukan 10 – 20 tahun, namun cukup 1 – 2 tahun), transaksi jual beli online di Indonesia akan melonjak pesat dan pasar e-commerce dipredikdi akan menjadi yang terbesar di dunia. Semua itu dimulai sejak rampungnya proyek backbone serat optic Palapa Ring.

Tersambungnya Palapa Ring secara utuh merupakan perwujudan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajahmada 683 tahun yang lalu. Hal ini sekaligus juga merupakan perwujudan dari Nawacita Indonesia. Proyek yang didanai dengan skema kerja sama pemerintah-swasta (private public partnership) ini akan sepenuhnya rampung Juli mendatang.

Pada Agustus 2019 nanti, 74 tahun setelah Indonesia merdeka, Presiden Jokowi berencana memproklamasikan “Indonesia Merdeka Internet” menandai tersambungnya seluruh wilayah di Indonesia dalam jaringan internet jalur broad band. Hal itu membuktikkan janji Patih Gajahmada yang ingin menyatukan Nusantara, kali ini dengan jaringan kabel optik. (mar)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *