Sewindu CUMK Budaya Membangun Hidup Sejahtera

PENGURUS HASIL RAT TH BUKU 2015Hak untuk hidup harus didukung oleh kewajiban untuk melindungi hak itu. Karena setiap manusia berhak untuk hidup, maka dia berkewajiban melindungi hak hidupnya. Tak seorang manusiapun mampu hidup sendiri, kecuali hidup bersama orang lain dengan saling melindungi hak hidup masing-masing dan hak hidup orang lain sebagai sesama dalam masyarakat.

Manusia terbatas dan tergantung pada sesama dan pada alam (nature/universe) sebagai sumber penyuplai kebutuhan hidup individu dalam keluarga dan masyarakat. Interaksi dependensial atau hidup bersesama di antara sesama warga masyarakat, karena saling tergantung dan saling butuh untuk memelihara, merawat, dan melindungi hidup setiap warga atau kelompok warga adalah suatu keniscayaan.

Tanpa hidup bersesama mustahil manusia mampu melindungi hidupnya dan hidup sesamanya. Masyarakat terbangun melalui interaksi dependensial di antara sesama agar bisa hidup bahagia atau sejahtera. Warga masyarakat pun sadar akan nilai-nilai seperti nilai keadilan dan kasih sayang yang mereka anut dan yang mengikat mereka dalam menjalani hidup masing-masing dan hidup sosial (hidup bersesama). Warga masyarakat saling berbuat adil dan berbagi kasih dengan saling melayani, saling mengabdi, dan saling bantu di antara sesama demi sejahtera yang dinikimati bersama. Hidup sejahtera tercermin pada kualtas hidup yang berkecukupan, dinamis, harmonis, dan bahagia. Iinteraksi dependensial di antara warga dan kelompok warga yang saling berbeda justru melahirkan kemandirian (otonomi, kedaulatan), persatuan, dan keutuhan masyarakat.

Semakin intensif interaksi dependensial antar warga masyarakat, maka semakin kuatlah kemandirian itu. Masyarakat memanfaatkan kemandirian sebagai kekuatan hebat untuk bahu membahu bekerja sama (bergotong royong) dalam membangun masyarakat sejahtera. Masyarakat sejahtera dibangun bukan tanpa nilai. Keadilan dan kasih sayang (perikemanusiaan) adalah, antara lain, dua nilai utama yang menuntun masyarakat untuk membangun hidup sejahtera dengan tetap mengacu pada sadaran, kesetiaan dan ketaatan pada kewajiban melindungi hak hidup setiap warga dan hak hidup semua warga masyarakat. Seluruh proses untuk mencapai kesejahteraan, berdasarkan nilai keadilan dan nilai kasih sebagai kembar nilai pengikat untuk mencapai kesejahteraan sebagai cita-cita, adalah kebudayaan. Subjek pelaku kebudayaan dan subjek penikmat hasil-hasii dalam berkebudayaan adalah manusia dalam berbagai social in-groups (komunitas).

Untuk melindungi hak manusia untuk bisa hidup layak sebagai manusia, dia wajib kerja keras demi pemenuhan haknya untuk hidup. Kebiasaan baik (kultural) untuk bekerja keras dengan mengolah alam secara arif (anggapan bahwa manusia adalah bagian dari alam (tubuhnya) atau pars pro toto. Manusia wajib bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan pakai. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konsumtif secara arif karena tidak merusak alam sebagai bagian dari tubuhnya, menyehatkan tubuhnya.

Jika tubuh sehat dan kuat, maka dapat menjadi medium yang sehat dan kuat bagi hidupnya aku-sadar-rohani (jiwa) yang juga sehat dan kuat. Tubuh yang sehat dan kuat menjadi wadah tangguh bagi pengembangan aku-sadar-rohani (jiwa). Pengembangan aku-sadar-rohani yang hidup dalam tubuh sama dengan pengembangan ratio atau akal budi yang sadar-tahu kebenaran (rasional), pengembangan sadar-mau (voluntas/free-will/kehendak bebas) yang bebas memilih yang baik atau berguna, dan sadar-rasa (kalbu). Ada dua sadar rasa, yaitu rasa kebahagiaan (happiness) dan rasa kesenangan biologis (pleasure). Benarlah ungkapan medis bahwa mens sana in corpore sano, aku-sadar-rohani yang sehat hidup dalam tubuh yang sehat. Fisiologi dari sistem anatomi tubuh manusia memberi “pertanda” tentang hadir dan berfungsinya ratio, free-will, dan kalbu. Happiness dan pleasure sah dalam kendali keadilan dan kasih sayang.

Sebagai pekerja keras manusia dijuluki homo faber. Sebagai homo faber (tukang) dia bekerja untuk sedapat mungkin bisa memenuhi segenap kebutuhan (makan, mimjum, pakai) dalam hidupnya. Dia juga disebut homo ludens, manusia seniman dan olahragawan yang bekerja keras untuk memenuhi rasa keindahan (happiness) dan rasa kesenangan (pleasure). Homo faber dan homo ludens menyatu dalam etos kerja yang berkesungguhan dalam hidupnya dan dalam hidup bersesama. Terlepas dari homo faber dan homo ludens, manusia adalah imago Dei atau citra Ilahi.. Nilai keadilan, kasih sayang, kejujuran, keikhlasan, kesatriaan, kemurahan hati, kerendah-hatian, kesetiaaan, dan nilai-nilai lain yang berkeutamaan (vitual) ada juga dalam setiap manusia, meski serba terbatas. Kita sadar bahwa sifat-sifat Ilahi tercermin dalam manusia sebagai hasil ciptaan-Nya.

Homo faber dan homo ludens tak terlepas dari cari makan, minum, pakai agar boleh bersenang-senang dalam arti yang sehat dan bahkan berbahagia dalam suatu rasa haru dan pesona serta rasa syukur atas kelimpahan kebutuhan hidup yang secara melimpah tersedia di depan mata kita. Mengolah isi daratan dan lautan harus secara adil dan penuh perhatian serta kasih agar tetap melimpah kandungannya sepanjang hidup manusia secara turun temurun. Gadhi berpesan kepada dunia bahwa bumi ini sesungguhnya cukup bagi pemenuhan kebutuhan umat manusia. Namun, bumi ini tak akan pernah bisa cukup bagi umat manusia yang serakah.

Kita patut menyaksikan betapa hubungan fungsional antara iptek dan alam di tangan manusia. Perang dunia I dan II telah menunjukkan betapa teknologi, sebagai anak kandung ilmu pengetahuan telah membawa kebinasaan bagi umat manusia. Kita menyaksikan, betapa tamak bangsa ini menguras dan melumat habis isi daratan dan lautan untuk pemerkayaan segelintir pemilik modal dan penguasa yang tamak dan serakah. Perselingkuhan antara penguasa dan pemodal menjadi kekuatan raksasa yang menggunakan teknologi canggih untuk mengeruk habis isi tanah dan air (laut) Indonesia.

MISA DI RAT MK THNBUKU 2015Karena itu, warga Credit Union Mekar Kasih (CUMK) harus tampil sebagai contoh dalam bekerja keras dengan jujur, adil, dan kasih sayang kepada orang lain sebagai sesama. Warga CUMK harus memberi contoh cemerlang tentang kejujuran dan kepandaian serta skill dalam mengelola keuangan dan berbagai bentuk dana dalam berbagai kegiatan ekonomi, pertanian, dan industri. Kesejahteraan sebagai sebuah ideal menuntut kerja keras, kejujuran dengan kegiatan olah keuangan dan dana lewat usaha untuk selalu dapat menemukan cara baru yang lebih efisien (hemat) dan efektif yang membawa hasil nyata.

Penemuan novelties (hal-hal baru), baik dalam cara baru yang tetap efisien dalam proses sehingga efektif membawa hasil, seharusnya tetap menjadi kajian untuk ditemukan hasil maksimal (jumlah) dan optimal (kualitas) dalam arti ekonomis (homo economicus). Selain itu, ketekunan dan disliplin dalam bekerja dan merawat jalan hidupnya CUMK agar tetap terjaga sehingga langkah demi langkah yang ditempuh berada dalam jalur bisnis usaha yang berkeadilan dan berkash sayang. Betapa indahnya jika CUMK dapat menunjukkan ethos kerja tinggi sambil menabur rasa adil dan kasih sayang di antara sesama anggota yang semakin sejahtera sebagai ibadah dalam membangun regnum Dei (kerajaan keadilan dan kasih sayang) di bumi pertiwi tercinta.

Betapa kontradiktif perkembangan CUMK jika yang dicapai akhirnya bukanlah kesejahteraan anggotanya, melainkan beban yang menganiaya anggota karena tak ada itikad baik dan rasa tanggung jawab (budaya Toraja) atau tak ada rasa malu (budaya Bugis-Makassar) anggotanya untuk menjamin keberlangsungan hidup CUMK. Pasti CUMK tidak akan berrfungsi sebagai Santo Klaus, tapi juga bukan sebagai orang yang atas nama hemat sangat sulit memberi dana bantuan bagi pengembangan ekonomi warga. Kontrol dan evaluasi serta remedial treatments bagi anggota-anggota agar bekerja dan berusaha dengan benar secara ekonomis, industrial dan sosial, baik dalam home-industry, maupun dalam koperasi modern yang seharusnya tahan banting terhadap berbagai challenges. Kita CUMK tidak sekadar bereaksi terhadap tantangan-tantangan, melainkan memberi responses yang jitu, cepat, adil, rasional dan arif terhadap tantangan-tantagan yang tak akan hentinya menerpa CUMK yang sedang maju. (***)

oleh Ishak Ngeljaratan

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *