Sewindu CUMK : Menjadi Gerakkan Ekonomi Berbagi Berbasis Keluarga

IMG_5681Sebuah inisiatif untuk terlibat dalam pergulatan hidup umat dan masyarakat dalam bidang sosial ekonomi dipelopori Komisi PSE KAMS di Paroki St. Fransiskus Asisi, tanggal 27 Juli 2007. Kesadaran untuk berkumpul dan saling percaya mengelola ekonomi bersama melalui gerakan Credit Union (CU) mulai dalam diri 102 orang sebagai anggota pendiri CU Mekar Kasih. Pada saat itu anggota sepakat mengumpulkan uang sehingga terkumpul aset sebesar Rp 468.546.800,-

Sekarang CU Mekar Kasih sudah memiliki 11.180 orang anggota dengan aset sebesar Rp164.813.864.509,-. CU telah berada di beberapa wilayah dalam Keuskupan Agung Makassar, mulai dari Makassar, Unaaha, Labasa, Baras, Pomalaa, Kendari, Tobadak, dan Messawa.

Kehadiran CU telah membawa kegembiraan dan harapan di tengah-tengah persoalan sosial ekonomi masyarakat saat ini yang masih berhadapan dengan kondisi ekonomi yang labil, pendapatan perkapita masyarakat rendah, angka kemiskinan yang relatif, dan masih tingginya tingkat pengangguran. CU Mekar Kasih sebagai sebuah gerakkan cooperative mencoba mengambil peran sesuai dengan Misinya yakni “Menyejahterakan Anggota Melalui Pelayanan Berkualitas, Pendidikan dan Pelatihan, serta Pendampingan yang berkelanjutan”.

Secara statistik CU Mekar Kasih telah berkembang menjadi sebuah Koperasi dalam skala menengah. Tentu sejumlah hal menggembirakan telah dicapai oleh CU Mekar Kasih. Namun ada dua pertanyaan mendasar tetap muncul: (1) Apakah anggota yang bergabung di CU Mekar Kasih telah mengalami peningkatan kesejahteraan?, (2) Apakah CU Mekar Kasih bisa terus berkembang dan berkelanjutan sebagai sebuah lembaga pemberdayaan umat dan masyarakat?

CU Mekar Kasih tidak dapat dilepaskan dari keprihatinan Gereja Katolik Indonesia sejak SAGKI tahun 2000 (dilanjutkan dalam SAGKI 2005 dan 2010) terhadap 17 Pokok Persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia masa kini antara lain kemiskinan, pengangguran, masalah kesehatan, pertanian, perburuhan dan pendidikan. SAGKI 2000 diarahkan pada perwujudan serta pemberdayaan komunitas basis menuju Indonesia baru. Sedangkan SAGKI 2005 mengajak Gereja Indonesia untuk bangkit dan bergerak mengupayakan keadaban publik bangsa, dan SAGKI 2010 menegaskan kembali panggilan perutusan Gereja dengan tema “Ia Datang supaya Semua Memperoleh Hidup dalam Kelimpahan”.

Dalam bidang sosial-ekonomi Para Uskup di KWI melihat jalan masuk untuk pemberdayaan terkait dengan kemiskinan adalah membangun “Keadaban Publik, Habitus Baru Bangsa” (Nota Pastoral 2004) dimana CU atau Koperasi disebut sebagai salah satu alat. Para Uskup Indonesia (KWI) juga mendukung gerakan CU atau Koperasi yang sudah berkembang di tengah-tengah umat dan masyarakat dalam rangka “Mengembangkan Ekonomi Yang Berkeadilan” lewat Nota Pastoral 2006.

Komisi PSE KWI mengimplementasikan dengan Kesepakatan dalam Konpernas PSE di Klender (2005); Lampung (2008); Manado (2011); Pontianak (2014) dengan mendukung gerakan Credit Union sebagai salah satu gerakan ekonomi berbasis masyarakat yang dapat menolong orang meningkatkan kualitas hidupnya melalui praktek ekonomi bersama – dengan semangat kerjasama. “Option” gereja untuk berpihak kepada masyarakat kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan menjadi mandat kerasulan sosial Komisi PSE KAMS yang diberikan oleh Uskup Agung Makassar. Maka sejak tahun 2006 PSE mendorong pemberdayaan masyarakat melalui gerakan Credit Union.

Secara universal, melalui ensiklik Caritas in Veritate, Gereja mendorong agar kegiatan ekonomi perlu diarahkan untuk mengejar kebaikan bersama. Kini, di tengah-tengah krisis kapitalisme yang akut, banyak orang berpaling kepada kebijaksanaan masa lalu tersebut. Ekonomi berbasis kerakusan dan individualisme terbukti tidak membawa kesejahteraan bersama. Solidaritas dan tanggungjawab bersama untuk keadilan dan kebaikan bersama dalam kegiatan ekonomi sangat penting. Credit Union dapat berdiri pada posisi ini untuk melanjutkan semangat berbagi, solider dan bertanggungjawab untuk kesejahteraan bersama.

***

Sejumlah ekonom dewasa ini menyebutkan bahwa “sudah saatnya setiap orang menggejar kesejahteraan tetapi jangan menjadikan orang lain sebagai mangsa, korban, saingan, musuh, dst”. Penting mengembangkan ekonomi kooperatif (bersama). Prof. Dr. Sri-Edi Swasono menyebutkan gerakan kooperatif mesti mengembangkan nalar untuk bekerja sama (community-based economy) membentuk kekuatan lipat ganda untuk mencapai sinergi (Mubyarto, dkk. 2014).

CU adalah salah satu gerakan kooperatif. CU adalah “kumpulan orang yang saling percaya” bukan semata-mata “kumpulan modal”. Maka CU sejatinya harus mempraktek ekonomi berbagi dan berkeadilan: ekonomi yang melibatkan semua orang dengan tujuan agar semua orang sejahtera; bukan bersaing dan saling menjatuhkan. Dalam ekonomi berbagi yang dipraktekkan CU setiap anggota saling percaya – mengembangkan diri dalam kebersamaan, mau berdaya mulai dari diri sendiri tetapi dalam kebersamaan dengan orang lain, mau bersama dan bekerjasama mewujudkan ekonomi yang lebih adil, dari – oleh – untuk anggota. Maka Basis CU adalah komunitas masyarakat itu sendiri.

Pelopor CU, F.W. Raiffeisen selalu menekankan bahwa pertolongan sejati bagi setiap orang yang mau keluar dari lingkaran kemiskinan adalah dari diri sendiri: yang mau berubah, berusaha, berjuang lebih keras dan bertanggungjawab terhadap hidupnya. Maka bergabung di CU tujuan utamanya adalah menolong diri sendiri agar meningkatkan kualitas hidup baik secara fisik, moral, spiritual (Raiffensen,1860).

IMG_5928CU Mekar Kasih adalah kumpulan orang yang saling percaya untuk mengembangkan ekonomi bersama. Setelah berjalan 8 tahun kumpulan orang ini dapat ditinjau dari beberapa aspek seperti berikut ini: (1). Anggota dari segi jenis kelamin : laki-laki 5.677 orang (51%) dan perempuan 5.503 orang (49%). Laki-Laki lebih banyak dari pada perempuan. (2). Anggota dari segi umur : usia dibawah 10 tahun 4,62% (517 orang), usia 11-17 tahun 3,17% (354 orang), usia 18–25 tahun 8,06% (901 orang), usia 26-45 tahun 52,97% (5.922 orang), usia 46-60 tahun 25,13% (2,809 orang), usia 60-70 tahun 5,29% (591 orang) dan usia diatas 70 tahun 0,77% (86 orang). Anggota dengan usia produktif 26-45 tahun sebagai anggota terbanyak. (3). Anggota dari segi agama : Katolik 71,82% (8.029 orang), Kristen 22,34% (2.498 orang), Islam 4,15% (464 orang), Hindu 1,48% (166 orang) dan Budha 0,17% (19 orang). Saat ini anggota sebagian besar berasal dari agama Katolik.

(4). Anggota dari segi pendidikan : tidak sekolah 1,91% (213 orang), belum sekolah 1,65% (184 orang), TK/SD 19,75% (2.208 orang), SLTP 14,53% (1.625 orang), SLTA 38,88% (4,347 orang), Diploma 7,77% (869 orang), dan Sarjana 15,51% (1,734 orang). (5). Anggota dari segi pekerjaan : Belum bekerja 11,27% (1.262 orang), IRT 19,18% (2.144 orang), Petani 18,33% (2.049 orang), Wiraswasta 13,92% (1.556 orang), Karyawan Swasta 25,76% (2.880 orang), ANS 8,69% (972 orang), TNI/POLRI 0,59% (59 orang), Pensiunan 1,51% (169 orang), Rohaniawan/ti 0,80% (89 orang), (6). Anggota dari segi suku : Toraja 44,92% (5.022 orang), Flores 24,86% (2.779 orang), Muna 14,82% (1,657 orang), Bali 4,63% (518 orang), Jawa 3,85% (430 orang), Manado 207 (1,85%), Tionghoa 1,65% (185 orang), Tolaki 0,83% (93 orang), Ambon 0,47% (53 orang) dan beberapa orang dari berbagai suku lain.

Komposisi anggota CU Mekar Kasih dari segi usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan hampir sama dengan sejumlah CU yang segmentasi pasar masyarakat kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan. Meskipun untuk keanggotaan di Kota Makassar, karyawan swasta menjadi salah satu jenis pekerjaan yang terbanyak.

Hal yang menarik untuk didiskusikan adalah keanggotaan dari segi suku yang sangat beraneka ragam. Hal ini membedakan CU Mekar Kasih dari beberapa CU yang lain termasuk CU Sauan Sibarrung yang lebih dari 97% anggotanya berasal dari suku Toraja. Sementara dari segi agama, anggota CU Mekar Kasih yang beragama katolik menjadi anggota terbanyak yakni 71,82%. Ini tema yang menarik bagi CU Mekar Kasih.

Data keanggotaan CU Mekar Kasih memperlihatkan keanekaragaman baik dari segi usia, tingkat pendidikan, agama, pekerjaan dan suku. Keanekaragaman ini merupakan kekayaan dan bahkan peluang untuk pengembangan. Namun juga menjadi tantangan terkait dengan ‘daya perekat’ yang menyatukan energi seluruh anggota untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Apabila basis CU adalah komunitas maka selanjutnya perlu diperdalam basis dari komunitas itu sendiri adalah keluarga. Keluarga menjadi tema yang menarik dewasa ini khususnya dalam lingkungan Gereja Katolik. Paus memberi perhatian khusus dengan mengajak semua umat untuk merefleksikan kehidupan keluarga melalui sinode luar biasa tahun 2014 yang bertema: Tantangan-tantangan Pastoral Keluarga dalam konteks Evangelisasi dan Sinode biasa tahun 2015 yang mengambil tema: ‘Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat dewasa ini’. Sedangkan Gereja Katolik Indonesia melalui SAGKI 2015 tahun lalu memberi penekanan dan perhatian utama pada Keluarga. Para Bapa Uskup memberikan perhatian kepada panggilan dan perutusan keluarga sebagai gereja kecil yang diutus. Kekhasan SAGKI 2015 adalah merenungkan sejauh mana sukacita Injil itu dialami oleh keluarga dan bagaimana perjuangan keluarga dalam mewujudkan sukacita Injil.

CU Mekar Kasih dapat menggunakan pemberdayaan keluarga-keluarga anggota sebagai basis kekuatan komunitas CU. Pemberdayaan keluarga anggota CU dapat dimulai dengan perencanaan dan pengelolaan hidup. Perencanaan hidup dalam keluarga selalu terkait dan ditopang oleh aspek ekonomi. Maka perencanaan hidup keluarga juga sekaligus perencanaan keuangan untuk kehidupan. Ini sangat penting, mengapa? Ada sejumlah hal yang dapat mempengaruhi keseimbangan hidup seseorang apabila tidak direncanakan dengan baik. Maka pengembangan Credit Union mesti memperhatikan keberlangsungan hidup keluarga.

Perencanaan keuangan keuangan untuk keluarga sangat penting dewasa ini. Ada berbagai alasan mengapa sebuah keluarga harus mempunyai perencanaan keuangan, seperti: (a). Mengatur dana untuk kebutuhan sehari-hari: biaya hidup sehari-hari harus diatur agar bisa memenuhi kebutuhan pokok secara teratur dan berkelanjutan. (b). Merencanakan masa depan : mempersiapkan dana pendidikan anak untuk membiayai pendidikan anak sampai ke perguruan tinggi, untuk membeli tanah atau rumah, untuk ziarah atau umroh, untuk dana pensiun (biaya hidup apabila tidak produktif lagi), dll. (c). Untuk mengurangi ketidakpastian masa depan keuangan: dana perlindungan/asuransi dan dana darurat untuk membayar dan melindungi diri sendiri dan keluarga dari berbagai risiko seperti sakit, kecelakaan, PHK, dan kematian. (d). Meningkatkan kualitas hidup dan mewariskan kesejahteraan kepada generasi berikutnya (anak, cucu, cicit, canggah).

Mengatur rencana keuangan secara sistematis itu penting, untuk kelangsungan hidup di masa sekarang dan mendatang. Dengan perencanaan keuangan yang baik, maka kondisi keuangan keluarga maupun pribadi dapat dikendalikan dengan baik. Semoga tidak terjadi apa yang disinyalir bahwa banyaknya kasus perceraian yang terjadi di Indonesia, setidaknya dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi atau keuangan keluarga. Berdasarkan data Pengadilan Tinggi Agama Jakarta selama 2013 menyebutkan, sebanyak 1.726 kasus atau 20% dari semua kasus perceraian yang ada disebabkan oleh faktor ekonomi (Republika, April 2014). Karena itu, kecakapan dalam mengatur keuangan rumah tangga sangat diperlukan untuk dapat meminimalisir hal tersebut.

Pendidikan dan pelatihan di CU harus mampu mengubah pola pikir anggota tentang diri, keluarga dan masa depannya sehingga mau mempraktekkan pola hidup hemat, tekun dan disiplin dalam mengelola keuangan. Anggota dituntun dan didampingi mengelola keuangan dengan baik dan benar. Meningkatnya kualitas hidup anggota khususnya yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan mesti ditopang dengan sebuah cara hidup yang produktif.

Kontribusi CU terhadap anggota terkait dengan hal ini adalah pada peningkatan pendapatan dalam keluarga. Hasil positif yang diharapkan terjadi pada anggota setelah beberapa tahun menjadi anggota adalah meningkatnya pendapatan mereka. Peningkatan pendapatan dapat terjadi pada 3 aspek dalam CU: (a). Pendapatan dari Balas Jasa Simpanan anggota bulan dan deviden akhir tahun. (b). Pendapatan tambahan dari usaha yang dilakukan dengan meminjam di CU (ini yang masih lemah pada CU Mekar Kasih dapat dilihat pada jumlah kredit beredar). (c). Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang sedang ditekuni karena memiliki kesadaran dan tanggungjawab penuh terhadap diri dan keluarga sehingga tekun dan ulet dalam bekerja.

***

Adolf Kolping adalah seorang imam yang lahir tanggal 8 Desember 1813 yang hidup sejaman dengan Raifffeisen (lahir 1818) di Jerman. Ia ditahbiskan tanggal 13 April 1845 sebagai imam di Keuskupan Koeln. Ia terlibat dalam serikat buruh sebagai pendiri dan pemimpin untuk membantu serikat pekerja memperbaiki kualitas hidupnya yang pada saat itu begitu terpuruk.

Adolf Kolping sangat dekat dengan para pekerja khususnya kaum muda. Ia menekankan perbaikan kesejahteraan dapat dimulai dalam keluarga melalui perencanaan hidup yang matang. Oleh karena itu, menurutnya, setiap pribadi yang dewasa dan mandiri wajib membuat perencanaan hidupnya dan keluarganya. Perencanaan hidup dalam keluarga harus ditunjang oleh kesadaran akan tanggungjawab untuk bekerja keras. Baginya, seorang Kristen yang rajin berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan jiwa, tidaklah cukup. Seorang Kristen sejati haruslah terlibat dalam tindakan dan perbuatan untuk dunia dan sesama. Keterlibatan itu berdasarkan iman sehingga ia bertindak jujur, terbuka, serius dan ikut prihatin serta ambil bagian dalam kehidupan bersama.

Oleh karena itu ia mengajak umat dan masyarakat pada zamannya untuk keluar dari kesulitan ekonomi dengan ikut berpikir, berbicara, bertindak dan bertanggungjawab. Setiap orang belajar untuk terlibat dalam kehidupan bersama dimulai dalam keluarga, kemudian komunitas, dan akhirnya bisa mempengaruhi masyarakat luas. Bagi Kolping tidak ada seorang manusia yang mampu hidup seorang diri tanpa kehadiran orang lain. Kekuatan mulai dibangun dalam keluarga dimana terdapat proses pendidikan dan pembentukan pribadi manusia yang akrab dengan sesama sehingga menjadi pondasi untuk komunitas yang lebih luas.

Capaian kinerja CU Mekar Kasih ditinjau dari perspektif keuangan saat ini perlu mendapat perhatian demi keberlanjutan. CU Mekar Kasih yang lahir dengan misi sosial dari kerasulan gereja mesti memperhatikan beberapa hal demi masa depan lembaga pemberdayaan ini seperti:

(1). Membangun kesadaran dan komitmen bersama anggota yang bergabung di CU sebagai insan-insan yang ingin mewujudkan kesejahteraan bersama dengan saling percaya dan bekerja sama. Setiap anggota yang masuk tidak termotivasi hanya untuk menabung dan mendapatkan bunga tinggi; dan juga tidak hanya menuntut untuk mendapatkan pinjaman besar demi keinginan dan kebutuhan pribadi. Sistim ekonomi bersama mesti dikedepankan dimana prinsip kooperatif aktif menabung dan meminjam secara bertanggungjawab dipraktekkan.

(2). Membangun kesadaran dan komitmen bersama anggota bahwa bergabung di CU untuk merubah diri – menolong diri dalam kebersamaan; maka wajib untuk ikut terlibat berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan CU di komunitasnya melalui pendidikan, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan usaha bersama dalam kelompok binaan.

(3). Memulai dan mengembangkan pemberdayaan berbasis keluarga yang memberi perhatian pada anak-anak dan kaum muda serta pembinaan ketrampilan khususnya bagi kaum perempuan. (4). Meningkatkan kerjasama dan kreativitas untuk mengembangkan usaha bersama dan pemasaran bersama demi meningkatkan pendapatan semua anggota.

CU Mekar Kasih telah menapaki jalannya selama 8 tahun. CU Mekar Kasih sebagai lembaga pemberdayaan hidup harus tetap berkembang, maju dan berkelanjutan. Semua insan CU Mekar Kasih harus bekerjasama dan terlibat aktif untuk membawa CU ini mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh anggotanya. Potensi keanggotaan yang begitu kaya ini menjadi modal untuk bekerjasama dengan semangat kekeluargaan sehingga bersama-sama mencapai kesejahteraan.  Mari “Tanam Kasih, Tuai Sejahtera”, Ewako ….. Nassa mi… (***)

Oleh : Fredy Rante Taruk, Pr

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *