Sistem Pangan Harus Kuat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, sistem pangan yang kuat akan membuat rakyat Indonesia tidak mudah tergoncang oleh gejolak harga pangan dunia. Namun, sistem yang kuat ini harus dibangun dengan mengoptimalkan sumber daya lokal.

Melalui upaya-upaya ini kita optimis Indonesia akan semakin mandiri di sektor pangan di masa depan. Hal ini sangat penting mengingat di tahun mendatang jumlah penduduk Indonesia semakin banyak. Saat ini sudah mendekati 250 juta jiwa. selain itu jumlah penduduk kelas menengah akan meningkat sangat tinggi. Jika 2 tahun yang lalu 50 juta, pada tahun 2030 mendatang diperkirakan mencapai 135 juta.

Dalam rapat koordinasi terbatas, Presiden bersama kementerian dan institusi  terkait menyusun rencana aksi untuk meningkatkan ketahanan pangan. Rencana aksi tersebut akan dilaksanakan pada tahun ini, 2013, dan menjadi program akselerasi di samping program-program kemandiran pangan yang telah dijalankan. Produksi pangan akan fokus pada 5 jenis pangan strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, gula dan daging. Dengan demikian, diharapkan kita  tidak akan terguncang oleh gejolak harga dunia.

Model pembangunan yang merusak alam serta merusak ekosistem, dan keanekaragaman hayati harus diakhiri. Untuk mengatasi kekurangan gizi harus diintervensi langsung oleh semua sector terkait, seperti kesehatan, penyediaan pangan yang cukup, penanggulangan kemiskinan, keluarga berencana, dan pendidikan, terutama pendidikan untuk perempuan. Setiap anak harus mendapatkan gizi yang baik pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak janin dalam kandungan, hingga anak berusia 2 tahun.

Ketidaktahanan pangan dan gizi buruk tidak hanya menjadi tantangan Indonesia, tetapi juga tantangan dunia. Tantangan itu semakin besar karena buruknya sumber daya tanah dan air, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Adapun penyebab langsung gizi buruk sangat kompleks. Misalnya, tidak cukupnya persediaan pangan yang aman, beragam dan bergizi. Selain itu juga kurangnya akses terhadap air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Demikian juga dengan tidak tepatnya pemberian makanan kepada anak dan pilihan diet untuk orang dewasa.

Indonesia telah berupaya mengatasi kelaparan dan kekurangan gizi. Upaya itu telah memberikan hasil nyata, yakni penghargaan dari FAO, karena Indonesia dinilai berhasil menurunkan angka kelaparan. Jika pada tahun 1990 – 1992 sebanyak 19,9%, pada tahun 2010 – 2012 menjadi 8,6%. Prestasi ini melebihi proporsi yang ditargetkan Millenium Development Goals (MDGs) yakni 9,9%.

Hari Pangan Sedunia tahun ini diperingati dengan melakukan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Gizi. Tujuannya untuk meningkatkan kerja sama dan koordinasi fungsional untuk mewujudkan ketahanan pangan. Sektor pangan sudah menjadi prioritas program kerja pemerintah. Hasilnya, pada tahun 2008 kita berhasil swasembada beras. Pada tahun 1998 – 2004 pertumbuhan luas panen padi hanya 1,03%. Sedangkan tahun 2005 – 2013 pertumbuhannya mencapai 1,36%. Pertumbuhan produksi dari 1,35 menjadi 2,8%. Pertumbuhan produktivitas gabah kering giling per hektar dari 0,36% menjadi 1,42%. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *