Strategi CU Menjangkau Pasar Anak Muda

Keberlanjutan Koperasi Credit Union (CU) akan sangat dipengaruhi kaum muda saat ini. Karena itu menggarap pangsa pasar generasi muda lebih dari sekedar menambah anggota; namun dengan maksud mengembangkan kepemimpinan masa depan demi keberlangsungan hidup Koperasi Credit Union.

Merekalah yang harus meneruskan kerja kita sekarang ini. Salah kalau kita mengabaikan potensi pasar kaum muda ini” ungkap Drs. Herkulanus Cale, Ketua Pengawas Puskopdit BKCU Kalimantan dalam Workshop Youth Marketing, salah satu rangkaian kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2012, yang dilaksanakan 10 – 13 Aperil 2013 di Batam.

Kalau kita buka kacamata secara nasional tentang kaum muda cukup memprihatinkan. Karena itu harus ada perhatian yang lebih besar dari kita terhadap kaum muda. Secara global – tingkat dunia, generasi muda mewakili 18% dari penduduk dunia atau kurang lebih 1,2 miliar jiwa. Dan 87%-nya dari 18% itu tinggal di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Permasalahan yang terus dihadapi kaum muda itu adalah soal tidak memperoleh peluang kerja. Kaum muda Indonesia yang belum memperoleh pekerjaan menduduki posisi tertinggi di Asia. Tingkat pengangguran terbuka usia muda (15 – 29 tahun) di Indonesia mencapai 19,9%. Sedangkan Philipina 17%, Banglades 18%. Padahal kalau melihat kondisinya, selintas kita menyangka pengangguran kaum muda di Bangladesh atau Philipinan lebih tinggi, ternyata tidak.

Pengangguran terbuka kaum muda Indonesia itu tingkat pendidikannya terbesar Sekolah Dasar (SD) dan SMP atau putus sekolah. Tingkat kesulitan mencari lapangan kerja kaum muda ternyata 5 kali lebih besar daripada kesulitan yang dialami orang dewasa. Di Kalimantan Barat (Kalbar), misalnya, Herkulanus memberi contoh, penduduk miskin 8,17% dari jumlah penduduk. Atau sekitar 363.310 jiwa. Sedangkan tingkat penganggurannya menurut data statistik Agustus 2012 sebesar 3,48%. Sedikit menurun, 0,40% dibandingkan tahun sebelumnya (2011). “Saya kira Koperasi Credit Union memberikan kontribusi untuk penurunan pengangguran yang 0,40% itu,” jelasnya.

Kasus lain, karena Kalimantan Barat dekat dengan Malaysia, banyak kasus trafficking – perdagangan manusia, dan kebanyakan generasi muda, terutama kaum perempuannya. Jika kondisi ini dibiarkan, tidak ada upaya untuk menurunkan akibatnya akan terjadi pengangguran yang lebih besar, atau pengangguran masal, dan struktural – turun temurun. Bila kondisi yang cukup memprihatinkan ini kita biarkan, kata Cale, akan turun temurun diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan terpuruk, miskin. Gerakan Koperasi Credit Union ditantang apa perannya, dan apa kontribusi Koperasi Credit Union untuk ikut mengangkat – mengentaskan generasi muda dari pengangguran. “Sangat salah kalau kita mengabaikan potensi kaum muda. Mestinya, kita harus memberikan perhatian khusus kepada mereka,” tegas Cale.

Koperasi Credit Union dalam menggarap pasar kaum muda selayaknya bukan sekedar menambah jumlah banyaknya anggota, tetapi dengan terlibatnya generasi muda lebih dini berarti kita telah melakukan kaderisasi lebih awal. Generasi muda perlu terus didorong untuk terlibat aktif dalam gerakan Koperasi Credit Union melalui primer-primer. Kita tahu kaum muda memiliki semangat yang membara, berapi-api dan mereka gampang sekali dipengaruhi terkait sesuatu yang baru, terutama teknologi seperti hand phone (HP), ipad, BlackBerry dan sebagainya. Kalau ada HP model baru atau aplikasi baru mereka cepat sekali tahu. Sedangkan orang-orang tua biasanya lambat menangkap teknologi baru. Ciri lain, anak-anak muda biasanya ingin bebas. Selain hal-hal yang bersifat material, penamilan mereka juga meniru gaya yang sedang popular di kalangan anak muda.

Untuk menjangkau generasi muda itu, Koperasi Credit Union perlu pemetaan demografinya untuk melihat potensinya. Dari ACCU telah membuat pengelompokan berdasarkan tingkat usia. Ada Kids, usia 0 – 9 tahun, lalu tweens 10 – 12 tahun, kemudian teens 13 – 19 tahun, dan young adults – kaum muda dewasa 20 – 35 tahun.Ketika kita mau menentukan strategi bagaimana merangkul kaum muda ini, kita perlu mencermati – mempelajari perilaku kelompok anak-anak muda. Pada umumnya, anak muda itu konsumtif, mudah terpancing dengan sesuatu yang baru. Pikirannya selalu membeli dan membeli. Para marketer itu konsen sekali pada peta dan demografi kaum muda. Demografi itu penting sekali untuk mengetahui perilaku masing-masing kelompok.

Cale mengaku punya pengalaman, yang membuatnya “malu”. Suatu hari pergi gereja dengan anaknya yang baru berusia 10 tahun. Karena tidak ada rencana belanja bekalnya tidak tidak siap. Ketika melintasi sebuah toko, tiba-tiba si buah hati menunjuk mainan. Satria Baja Hitam. Dia minta dibelikan “satria” idolanya. Karena tidak punya bekal cukup, tidak dibelikan. Akhirnya dia menangis berguling-guling di depan toko tersebut. “Wah, malu. Dibujuk dengan berbagai alasan, dia tidak mau tahu. Dia tetap menangis. Itu senjatanya,” tutur Cale. Kita orang tua, lanjutnya, sering melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan belanja. Misalnya, dari pada stress, orangtua mengalah saja untuk membeli barang-barang yang diingini oleh anak-anak mereka. Pergi dengan anak ke mall beli berbagai macam barang yang tidak direncanakan. Kita memang tidak konsisten. Melihat orang tua itu, anak beranggapan bahwa orang tuanya selalu siap membawa uang banyak.

Untuk anak yang sudah lebih besar, biasanya terus menerus memaksa merengek dengan mengemukakan alasan apa yang diminta itu sangat penting baginya. Minta dibelikan HP, misalnya, dia akan mengatakan; “teman-teman sudah punya HP, malulah nggak punya sendiri.” Soal teknologi, aplikasi, akses anak-anak lebih cepat tahu. Mengakses internet sudah menjadi bagian dari budaya anak-anak. Orangtua umumnya tidak mengerti sejauh mana anak-anak mereka menjadi pangsa pasar on line. Anak-anak kerapkali online sendiri. Bisa dilihat mereka mengisi waktunya seperti apa. Kadang, waktu sekolahpun mereka bolos pergi ke warnet dan sebagainya. Semua berkaitan dengan teknologi. Karena mereka lebih pandai menggunakan teknologi. Akhirnya kita – orang tua yang harus belajar kepada anak-anak.

Perilaku anak muda itu dimanfaatkan oleh marketers – kalangan industri. Mereka ingin mengetahui apa yang diperbuat anak-anak, dan apa yang membuat mereka tertarik. Oleh karena itu mereka rela mengeluarkan biaya besar untuk melakukan survei – meneliti dan menganalisis mengenai perilaku anak, kehidupan, mimpi-mimpi anak, lalu mereka menentukan strategi apa untuk memasarkan produk-produknya sehingga terjangkau oleh anak-anak.

Strategi industri untuk menjangkau pasar anak-anak, Buzz or street marketing, “Buzz Marketing a new twist on the tried-and-true “word ofmouth” method. Ide mencari anak-anak yang terkenal dalam masyarakat dan meminta mereka menggunakan atau memakai produk yang dipasarkan agar tercipta kehebohan tentang produk tersebut. Para marketers mencari anak-anak yang menjadi idola. Seperti misalnya, penyanyi cowboy yunior. Sampai anak kecil pun bisa meniru gayanya. Sampai pakaian, gaya rambut pun ditiru. Mereka betul-betul ingin lengket dengan idolanya.

Kalau diperhatikan, kata Herkulanus, para marketers ini tidak segan-segan mendatangi sekolah-sekolah dan mensponsiri material pendidikan, seperti misalnya, Kraft “healthy eating” kit mengajar tentang pedoman makanan Indonesia (menggunakan produk-produk Kraft). Menjadi supplier teknologi bagi sekolah dalam pertukaran visibilitas perusahaan yang tinggi. Kesepakatan yang eksklusif dengan makanan cepat saji atau perusahaan minuman menawarkan produk-produk mereka di sekolah atau di suatu wilayah. Memajang iklan di kelas-kelas, di bus-bus sekolah, di komputer, dan sebagainya. Kontes-kontes dan program-program insentif. Mensponsori event-event sekolah. Para produsen dan provider seperti telkomsel, Indosat promosi sekolah-sekolah, kadang memberikan nomor dan pulsa gratis. Mereka tahu anak-anak itu menggunakan HP untuk hal-hal yang remeh temeh. Pulsa pun dijual murah. Dengan uang jajan Rp 5 ribu anak-anak sudah bisa beli pulsa. Anak-anak kecil sekarang banyak yang membawa HP sendiri, dan beli pulsa dari uang jajannya.

Di beberapa negara, seperti di Thailand dan Philipina strategi yang mereka lakukan mulai mengadakan pendidikan mengelola keuangan bagi kaum muda. Ada satu contoh di Philipin, NATCCO melaksanakan konsep the Aflatoun bermitra dengan Child savings International yang bermarkas di Amsterdam. Program ini dilaksanakan di sekolah-sekolah terpilih di Philippin dengan koperasi-koperasi lokal, Cooperative Development Authority (CDA), dan Departemen Pendidikan.

Mereka menganggap penting untuk mengetahui bagaimana cara mengelola keuangan mulai dini. Melalui federasi nasionalnya mereka membuat satu program tentang aktivitas Credi Union. Mereka mencari sekolah-sekolah yang berdekatan dengan CU, dan melakukan pendekatan kerjasama dengan sekolah melibatkan guru-guru di sekolah itu. Mereka dilatih tentang Koperasi Credit Union, kemudian menerima tabungan dari anak-anak sekolah.

Walau di Indonesia Koperasi Credit Union merupakan gerakan dan para anggota “diwajibkan” mengajak seluruh keluarganya menjadi anggota koperasi, namun belum berhasil dengan baik. Satu hal penting yang perlu diperhatikan, kata Cale, bagaimana melatih anak, mendampingi anak dengan cara pembelajaran yang baik dan bijaksana. Dalam pendampingan kaum muda itu bisa kita buat acara khusus, atau kiat-kiat tertentu yang dikhususkan untuk generasi muda CU. “Memang sudah sekian lama dipikirkan bagaimana di lingkungan Puskopdit BKCU Kalimantan ada satu hari yang dibuat khusus untuk merayakan CU, atau boleh dikatakan eforia dalam rangka ulang tahun Puskopdit BKCU Kalimantan. Kalau mau yang lebih besar, tingkat nasional pas ulang tahunnya Inkopdit.

Yang juga belum kita lakukan, kata Herkulanus, memasukan kaum muda dalam struktur lembaga. Di negara lain sudah ada. “Ketika mengikuti workshop di Philipin, salah satu kelompok menampilkan struktur organisasi CU-nya, di situ ada perwakilan kaum muda. Kita perlu memasukkan kelompok muda dalam struktur organisasi. Kalau ada perwakilannya mereka akan membawa aspirasi kaum muda Credit Union. Begitu cara mereka untuk melibatkan kaum muda di CU,” jelas Cale.

Bagi generasi muda yang ingin mendalami tentang CU, lanjut dia perlu difasilitasi melalui magang. Diajak ke CU-nya untuk melihat lebih dekat bagaimana pengelolaan CU. Atau dibuat program khusus untuk mereka – pendampingan. Di negara lain sudah ada program pendampingan kaum muda Credit Union dengan memberi pelatihan, juga memfasilitasi entrepreneur bagi kaum muda agar mereka bisa lebih kreaktif untuk berwiraswasta. Kadang mereka masih takut-takut karena merasa baru mulai berusaha. Kalau memberikan pinjaman kepada wiraswasta pemula, kita tidak sekedar memberi pinjaman, tetapi juga perlu melakukan pendampingan, pelatihan, agar mereka lebih percaya diri dan bisa berkembang. Di beberapa CU sudah ada yang melakukan pendampingan bagi wirausaha pemula. “Membantu pengusaha kaum muda ini sangat efektif untuk mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan,” jelasnya.

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *