Strategi Koperasi Menjangkau Pasar Anak Muda

Keberlangsungan koperasi akan sangat dipengaruhi kaum muda saat ini. Berbicara tentang kaum muda, dan bila kita buka kacamata secara nasional tentang kaum muda, kelihatannya cukup memprihatinkan. Karena itu harus ada perhatian kita lebih besar terhadap kaum muda ini.

Generasi muda secara global – tingkat dunia mewakili 18% penduduk dunia atau kurang lebih 1,2 miliar jiwa. Dan 87%-nya dari 18% itu tinggal di Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.Permasalahan yang terus dihadapi kaum muda itu adalah soal tidak memperoleh peluang kerja. Kaum muda Indonesia yang belum memperoleh pekerjaan masih cukup tinggi.

Tingkat pengangguran terbuka usia muda (15 – 29 tahun) mencapai 19,9%. Ternyata para penganggur itu tingkat pendidikannya terbesar adalah SD, SMP atau putus sekolah. Tingkat kesulitan mencari lapangan kerja 5 kali lebih besar dari kesulitan yang dialami orang dewasa. Kalau kondisi ini kita biarkan, tidak ada upaya untuk menurunkannya maka akibatnya akan terjadi pengangguran yang lebih besar, atau pengangguran masal, dan struktural, turun menurun.

Kalau kondisi yang memprihatinkan ini dibiarkan akan turun menurun, diwariskan kepada generasi beriktunya dalam keadaan terpuruk, miskin. Maka gerakan koperasi ditantang, apa peran koperasi dan apa kontribusi koperasi untuk ikut berperan mengangkat generasi muda dari pengangguran. Sangat salah kalau kita mengabaikan potensi kaum muda. Kita harus memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Sebenarnya koperasi menggarap pasar kaum muda ini bukan sekedar menambah jumlah banyaknya anggota. Tetapi dengan terlibatnya generasi muda lebih dini. Kita bisa mengkaderisasi lebih awal, dan menggiatkan terus menerus keterlibatan generasi muda. Kaum muda itu memiliki semangat membara, berapi-api, dan gampang sekali dipengaruhi terkait dengan sesuatu yang baru, terutama teknologi, seperti hand phone, ipad, dan sebagainya.

Kalau ada HP model baru atau aplikasi baru mereka cepat sekali tahu. Sedangkan orang-orang tua biasanya lambat menangkap teknologi baru. Ciri lain, anak-anak muda biasanya ingin bebas. Sebelum hal-hal yang material, penamilan juga meniru gaya yang sedang popular di kalangan anak muda. Untuk menjangkau generasi muda itu perlu pemetaan demografinya untuk melihat potensinya. Koperasi dunia telah membuat pengelompokan berdasarkan tingkat usia. Ada Kids, yaitu usia 0 – 9 tahun, twen 10 – 12 tahun, kemudian teen 13 – 19 tahun, dan young – kaum muda dewasa 20 – 35 tahun.

Ketika mau menentukan strategi bagaimana merangkul kaum muda, kita perlu mencermati – mempelajari perilaku kelompok anak-anak muda. Pada umumnya, anak muda itu konsumtif, mudah terpancing dengan sesuatu yang baru. Pikirannya selalu membeli dan membeli. Para marketer itu konsen sekali pada peta dan demografi kaum muda. Demografi itu penting sekali untuk mengetahui perilaku masing-masing kelompok.

Perilaku anak muda dimanfaat oleh pihak marketer, kalangan industri. Mereka menggabungkan psikologi anak dan kiat-kiat pemasaran. Mereka ingin mengetahui apa yang diperbuat anak-anak dan apa yang membuat anak-anak sangat tertarik. Mereka berani mengeluarkan biaya besar untuk melakukan survey – meneliti dan menganalisis perilaku anak, kehidupan, mimpi-mimpi anak, lalu menentukan strategi apa untuk memasarkan produk-produknya sehingga terjangkau oleh anak-anak.

Di beberapa Negara, seperti Bangkok, Thailand, juga Philipina strategi yang merekalakukan mulai mengadakan pendidikan mengelola keuangan bagi kaum muda. Di Philipin, yang namanya financial letarcy – melek keuangan tidak hanya diberikan kepada kelompok orang tua, tetapi juga diperkenalkan di sekolah-sekolah. Mereka menganggap penting untuk mengetahui bagaimana cara mengelola blok mulai dini. Melalui federasi nasionalnya mereka membuat program tentang aktivitas koperasi yang masuk sekolah-sekolah. Maka dicarilah sekolah-sekolah yang berdekatan dengan koperasi, dan melakukan pendekatan. Kalau kita konsen pada pendampingan kaum muda, bisa dibuat acara khusus seperti apa. Ada kiat-kiat tertentu yang dikhususkan untuk generasi muda koperasi.

Bagi generasi muda yang ingin mendalami tentang koperasi perlu difasilitasi melalui magang. Diajak ke koperasi melihat lebih dekat bagaimana pengelolaan koperasi. Atau dibuat program khusus untuk pendampingan. Gerakkan koperasi di Negara lain sudah mendampingi kaum muda koperasinya dengan memberi pelatihan – memfasilitasi entrepreneur agar bisa lebih kreaktif untuk berwiraswasta. Membantu pengusaha kaum muda sangat efektif untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Kaum muda koperasi juga perlu membuat jaringan, mulai dari tingkat lokal, nasional, regional, dan tingkat internasional. Sehingga mereka bisa saling mengenal, saling berkomunikasi, berdiskusi sharing dan tukar pengalaman sebagai anak muda.

Setiap pemimpin mempengaruhi orang lain dengan caranya masing-masing. Mother Theresa dengan perbuatannya, keluar dari biaranya, pergi ke masyarakat dan membentuk komunitas baru dengan caranya sendiri. Nelson Mandela keluar masuk penjara akhirnya jadi presiden. Bung Karno harus keluar masuk penjara untuk memerdekakan bangsanya dan kemudian menjadi presiden. Itu salah satu bukti bahwa perjuangan itu tidak mudah.

Kita masing-masing juga seorang pemimpin. Setiap orang menjadi pemimpin. Kemempiminan adalah proses mempengaruhi orang lain dengan caranya sendiri. Tindakan pemimpin, mempengaruhi perilaku orang lain. Sama seperti para pengurus koperasi harus mampu mempengaruhi perilaku anggota untuk menjadi lebih baik. Gaya kepemimpinan yang ditampilkan ketika mencoba mempengaruhi orang lain sebagaimana mereka sendiri menganggapnya demikian. Di koperasi kalau kita melakukan hal-hal yang baik, tanpa harus mengatakannya mereka akan menilai bahwa itu adalah baik. Tetapi kalau kita melakukan hal yang tidak baik mereka akan menilai bahwa itu tidak baik.

Pimimpin ada dua katagori, yaitu pemimpin yang reaktif dan pemimpin yang proaktif. Yang reaktif, kalau ada manajernya melelakukan sedikit kurang pas dia akan menegur; “Kenapa begitu!” Hanya itu yang bisa dilakukan, tak ada lagi. Tetapi yang proaktif dia akan bilang; “Mari kita lihat alternatif-alternatif baru yang mungkin akan bisa lebih baik dari kondisi kita saat ini.”

Kemudian ada lagi yang mengatakan; “Wah ini sudah saya katakan kemarin kepada pengurus. Jangan lakukan seperti ini, konsultasi dulu baru bisa kita ambil keputusan.” Bagi pemimpin yang proaktif, memilih pendekatan yang berbeda. Dia akan coba alternatif-alternatif baru. Yang proaktif, sifatnya lebih positif dibandingkan dengan yang reaktif. Yang rekatif lebih menyalahkan situasi, sedangkan yang proaktif, bagaimana mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Kaum muda coba suruh memimpin rapat, tidak ada yang mau. Dia bilang, ah, nggak mau, kamu saja. Kalau disuruh melaksanakan tugas terlalu berat, tidak berani menerima tantangan. Kalau mau memimpin harus paham diri kita sendiri. Apa yang menjadi kelebihan, sehingga orang mau mengikuti. Karena pemimpin itu memberi pengaruh. Pemimpin beda dengan manajer. Namun seorang manajer harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Tetapi untuk menjadi pemimpin tidak harus menjadi manajer atau tidak mesti menjadi manajer. Bekerja pada area yang memerlukan perbaikan, ini tugas pemimpin. Kalau maunya di tempat yang enak-enak saja, itu artinya tidak punya jiwa pemimpin.

Dalam tata kelola koperasi tak semata-mata hanya melihat unsur financial – keuangan, tetapi ada beberapa unsur lain yang mesti diperhatikan. Terkait kepuasan anggota; pelayanan yang prima kepada anggota, internal bisnis, pertumbuhan dan pembelajaran SDM-nya. Jadi, balance core card mendekati masalah keuangan, namun tidak langsung ke sana. Dalam manajemen, idealnya kehidupan anggota ditingkatkan sehingga koperasi pun meningkat. Tidak terbalik, hanya memperkuat institusi kelembagaannya hebat, tetapi anggotanya terlalaikan. Jadi dua-duanya mesti seimbang.

Diperspektif balance core card; keuangan, internal bisnis, anggota atau pelanggan perlu pembelajaran. Setiap perspektif memiliki tujuan strategis. Untuk mengoptimalkan sumber daya koperasi; pengurus, pengawas dan manajemen yang memegang kunci. Koperasi bisa membantu anggota mencapai tujuan keuangannya melalui produk dan pelayanan yang diberikan. Penekanannya adalah kebahagiaan members satisfaction – para anggota. Kebahagiaan dimaksud, karena mencapai tujuan keuangan, mencapai kebebasan keuangan, tidak kawatir lagi dengan hal-hal yang terkait dengan kesejahteraan dalam rumahnya.

Dalam gerakkan Credit Union (CU) – Koperasi Kredit (Kopdit) dikenal adanya access branding dengan 4 perspektif yang memuat 86 indikator untuk membantu mengecek apakah Kopdit masih tetap setia pada misi yang ada dalam rumusan misi sejati Kopdit. Ke-86 indikator ini juga mengukur sejauh mana impact – dampaknya pada cita-cita transformasi sosial yang diperjuangkan oleh gerakan Kopdit. Jadi, access branding adalah tolls untuk memastikan bagaimana mengelola Kopdit mencapai misi sejati. Di gerakkan Kopdit accss branding sudah diperkenalkan sejak tahun 2006, dan diyakini sebagai alat untuk membawa Kopdit mencapai misi sejati.

Ada 7 faktor yang sangat menentukan keberhasilan sebuah Kopdit. Untuk menguji eksistensinya bisa menggunakan 86 indikator. Itu yang namanya penilaian sendiri, assestment. Namun jika memerlukan pihak luar untuk melakukan penilaian, ini yang disebut access branding. Bila koperasi sudah diisi ribuan orang, tapi tata kelolanya tidak baik, akan kolaps. Dampaknya terasa untuk ribuan orang tersebut. Karena satu dengan yang lain saling berkait, jika ada koperasi yang kolaps akan sangat berpengaruh, dan hilangnya kepercayaan.

Karena itu ke-86 indikator tidak boleh dianggap sebagai kendala, problem, masalah, namun harus dilihat sebagai kesempatan memperbaiki diri, memperbaiki tata kelola agar dapat bertahan dan berkesinambungan. Ancaman terbesar, karena merasa sudah nyaman, bahagia, tidak melihat bahwa itu bahaya. Ada bom yang siap meledak. Jadi, branding itu sebuah proses. Di dalamnya ada nilai yang mesti ditepati dan ini keys behavior, moral, perilaku. Access branding bukan hanya sebuah alat untuk branding saja, melainakan juga untuk merubah perilaku dalam tata kelola.

Pengurus memberi janji kepada anggota, bukan sekedar untuk menjual uang, memberi pinjaman, tapi berjanji; “Kami akan menemani Anda dalam menghadapi dan memperjuangkan tujuan keuangan. Kami akan bersama Anda menemani sampai mencapai tujuan keuangannya.” Karena itu nilai-nilai kejujuran, integritas, profesionalisme harus dimonitor. Bila mengikuti access branding, dan sukses itu adalah sebuah bonus. Kalau bisa mencapai access branding, tidak hanya mencapai akreditasi tapi ini bonus, itu yang seharusnya didapat. Jadi motivasinya, bagaimana menterjemahkan access branding ke dalam aksi.

Perspektif pelanggan dan anggota, bicara mengenai produk pelayanan yang mengantar anggota menuju tujuan finansial. Mengantar anggota bebas financial, dan kemandirian dalam keuangan. Pinjaman dan tabungan harus mengantar anggota pada tujuan keuangan. Tidak boleh terjadi orang masuk menjadi anggota dan menabung di koperasi karena melihat figur pengurus dan manajer. Dia berani menabung tetapi ketika pengurus – manajer koperasi diganti semua tabungannya ditarik. Itu yang dimaksud sistem belum jalan. Jika sistem sudah jalan dengan baik berganti orang – pengurus atau manajer tidak masalah. Karena kepercayaan itu sudah digerakan oleh sistem, bukan individu.

Yang dibutuhkan perspektif baru bahwa pengurus, pengawas yang terlibat itu adalah mereka yang mau aktif, dan ada kompetensi yang dipenuhi. Manajemen harus berkualitas, dan gembira. Kalau dia gembira dan bahagia, pasti anggota yang dilayani juga akan bahagia. Jika Kopdit ingin mengikuti access branding, ACCU bisa membantu dengan melatih auditornya seperti yang dilakukan di Kopdit Obor Mas. Tidak perlu khawatir karena pelatihan tersedia. Budaya kerja profesional harus dihayati para staff. Bila terjadi access branding, dan perubahan sampai behavior bukan hanya menantikan gaji, menunggu tutup kantor, tapi sungguh menghayati.

Koperasi perlu perkembangan semua aspek. Namun yang terpenting adalah pertumbuhan dari keanggotaan. Semakin banyak anggota masyarakat yang terlibat dalam berkoperasi, maka semakin banyak yang meningkat kehidupannya. Tolak ukurnya, 30% dari total penduduk yang ada di area koperasi jadi anggota. Mengukur tujuan, berdasarkan harapan seseorang berbeda-beda. Ada yang membayangkan menjadi milioner, ada yang ekspektasi utamanya keberhasailan anaknya di bangku pendidikan, ada juga yang ingin mendapatkan rumah yang bagus. Jadi, sangat berbeda ekspektasi orang per orang. Jika kita mengatakan membantu mereka mencapai financial destination berarti membantu mencapai harapan yang dibuat masing-masing.

Kredit yang diberikan adalah bagian dari usaha koperasi membuat anggota menolong dirinya menggunakan pinjaman itu. Misi Kopdit sudah sangat jelas, tidak pernah berubah sejak dahulu meski bentuk apapun kooperatif. Tapi visi lembaga bisa berbeda satu sama lain sesuai dengan tujuan organisasi yang dirumuskan dalam strategic planning.

Mengaku gerakan kooperatif namun tidak bagus dalam saling bekerja sama, ibarat koneksi internet. Jika koneksinya tidak dilakukan secara baik, tidak properly, maka tidak terjadi komunikasi. Ibarat jaringan, pasti ada elemennya. Apabila tidak terkoneksi lagi, ada elemen yang tidak berfungsi, maka jaringan tidak jalan. Karena selalu berpikir tentang diri sendiri dan merasa punya uang, semua bikin sendiri. Mau berkooperatif, realitasnya tidak mudah karena orang tidak mudah bekerja sama.

Apakah gerakan Kopdit memberi dampak pada kaum marjinal, dan apa betul melawan kemiskinan sungguh-sungguh. Apakah seperti itu atau lebih mengabdi dan melayani kaum menengah ke atas? Kalau mau menerapkan kontribusi yang sejati, tidak ada jalan lain harus mau turun kembali ke akar rumput, ke marjinal. Dalam microfinance, ada alat lain yaitu social performance management, alat pengukur kinerja social. Tujuan microfinance mengangkat orang-orang keluar dari kemiskinan, dan mesti dibuat alat untuk mengukur seberapa banyak orang yang keluar dari lingkaran kemiskinan.

Misi Kopdit sejati yaitu memperbaiki kualitas hidup anggota secara holistik. Ciri anggota yang semakin berkualitas hidupnya, diantaranya mereka merasa bahagia. Indikator bahwa mereka bahagia, mereka mencapai tujuan keuangannya kemudian tidak khawatir akan masa depannya dan bisa mandiri. Poin berikutnya, konsisten dengan gagasan utama menolong diri sendiri, mengelola diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kemudian orientasi pasar terarah kepada masyarakat golongan menengah ke bawah. Swadaya sebagai kekuatan dan jati diri Kopdit.
Ciri utama dan peran utama Kopdit bukan sekedar mengelola keuangan tetapi sebagai lembaga pendidikan nila-nilai yang baik dan benar. Nilai-nilai yang merupakan kekuatan untuk menyelesaikan persoalan dan mewujudkan cita-cita. Nilai-nilai yang dihayati antara lain partisipasi demokrasi, kejujuran, kepedulian, kearifan, keadilan dan keberanian. Inilah yang harus dikembangkan terus menerus. (damianus)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *