Sustainable Fesyen Produk Sandang Ramah Lingkungan

Besarnya kebutuhan manusia terhadap produk sandang, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebab, fesyen menumbuhkan industri garmen – pakaian jadi, alas kaki, tekstil aksesori, perhiasan dan sebagainya.

“Clean Clothes Campaign, aliansi terbesar industri garmen dari serikat buruh dan organisasi non pemerintah mencatat, akhir tahun 2017 lebih dari 125 juta pekerja di seluruh dunia terserap di sektor industri tekstil, pakaian jadi dan alas kaki,” tutur Ir. Endah Setiawati S. Pardjoko, S.H., Pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jakarta Selatan kepada UKM di ruang kerjanya.

Endah menambahkan, pasar produk pakaian jadi di seluruh dunia bernilai lebih dari US$ 2,7 triliun, ekspornya mencapai lebih dari US$ 450 miliar dan total nilai industri fesyen mencapai lebih dari US$ 55,7 triliun. Pesatnya pertumbuhan industri fesyen membawa segudang dampak positif bagi perekonomian. Namun juga kerap memantik perdebatan adanya efek negatif dari industri fesyen terhadap lingkungan.

Pakaian yang kita kenakan sehari-hari bisa berasal dari bahan – cara pembuatan yang merusak habitat. Misalnya, penggunaan pestisida yang digunakan untuk melawan hama pada tanaman penghasil bahan tekstil. “Laporan dari organisasi non-profit Earth Pledge menyebutkan, setidaknya ada 8.000 jenis bahan kimia yang digunakan untuk mengolah bahan mentah menjadi tekstil. Dan 25 % pestisida dunia digunakan untuk menumbuhkan tanaman kapas nonorganik,” kata Endah.

Terungkapnya fakta-fakta pedih di balik gemerlap industri fesyen menimbulkan desakan untuk membuat industri itu lebih “beretika”. Dari sana lahir konsep sustainable fashion – fesyen berkelanjutan yang diklaim ramah lingkungan dan sosial. Seiring gencarnya kampanye sustainable fashion, para perancang mode dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali dari Indonesia, mulai berlomba-lomba menawarkan produk fesyen yang berbasis ramah lingkungan dari segi metode pembuatan.

Dari beberapa desainer, antara lain Stella McCartney, Ryan Jude Novelline, dan Lucy Tammam. Selain itu, bermunculan pula label-label fesyen eco-friendly seperrti Amour Vert, Heavy Eco, Geeration Pasifique dan sebagainya. Beberapa hal yang harus dipertimbanagkan dalam pengembangan fesyen berkelanjutan adalah penggunaan serat alami yang bukan berbasis petrolium untuk membuat kain, kancing, kacamata, dan sebagainya. Juga penggunaan selulosa selain kapas, seperti rami, bambu, jagung, kedelai, nanas, pisang, dan banyak lagi. Lalu, penggunaan protein alami seperi stera, angora, bulu unta, wool, kasmir.
Proses pembuatannya pun memfungsikan bahan-bahan alami, seperti polimer jagung (polyalctic acid/PLA). Proses produksi busana juga dapat dilakukan melalui daur ulang atau pengolahan limbah. Sayangnya, sebagian besar perancang dan label fesyen yang berstatus ‘ramah lingkungan’ itu masih bercokol dari benua biru – Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Bagaimana perkebangan sustainable fashion di Indonesia?
Sejak tahun 2015 pemerintah menargetkan Indonesia mampu menjadi salah satu fashion hub dunia pada 2025. Keinginan itu diharapkan bisa terwujudkan melalui kerja sama dengan para peritel utuk memperkuat produk-produk pakaian jadi dengan merek dagang lokal yang berkualitas.

Indonesia memiliki andalan rayon dan polister. Untuk menjadi fashion hub, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian akan menggali sumber alam yang dapat dijadikan ciri khas Nusantara, seperti rami, sutera, serat pisang, serat nanas, dan pewarna alami. Sejak tahun 2016 pemerintah sudah membuat standar untuk produksi pakaian jadi buatan dalam negeri. Standar yang dimaksud dalam hal ukuran all size, agar dapat bersaing di pasar internasional, dan pas dikenakan orang dari negara mana pun.

Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Euis Saidah mengatakan, Indonesia mengawali langkah itu melalui perhelatan Swara Fest di Pantai Nembrala, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir 2015 dengan mengusung tema Road to Indonesia Ethical Fashion. Pemerintah mendorong industri fesyen untuk lebih ramah lingkungan. Langkah awalnya melalui promosi penggunaan bahan pewarna alami khas Indonesia.

Yang digadang-gadang antara lain penggunaan rumput laut untuk warna hijau, nila untuk warna biru, kayu tegeran untuk warna kuning, kayu tinggi untuk warna coklat, dan secang untuk warna merah. Cikal bakal fesyen di Indonesia pada zaman nenek moyang, memang sudah memanfaatkan bahan alami untuk membuat songket atau batik. Karena itu ethical fashion sebenarnya merupakan warisan budaya bangsa bernilai tinggi yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Indonesia punya ciri khas warna sendiri, warna alami. Selain itu ada juga serat alami. Yang menarik acara Swara Fest yang melibatkan 250 orang dalam pembuatan tenun gedongan menggunakan pewarna alam itu berhasil memecahkan rekor MURI. Merdi Sihombing, desainer yang fokus pada pengembangan pewarnaan alami untuk busana mengemukakan, ide ethical fashion memang merupakan hal baru bagi Indonesia. Namun, pemahamannya telah tertanam sejak zaman dahulu. Alam Indonesia sangat menunjang untuk pengembangan industri fesyen ramah lingkungan. Pulau Rote, misalnya, adalah penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Penenun songketnya kebanyakan dari Pulau Ndao.

Berbagai kalangan yang bergerak di bidang industri fesyen berharap, langkah dan upaya untuk membuat industri fesyen lokal lebih beretika tidak berhenti sekadar festival. Ke depan harus semakin banyak label garmen lokal eco-friendly yang mampu go internasional, dan kita bisa menjadi bangsa fahionable yang peduli lingkungan. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *