Tahun 2014 Bisnis UKM akan Mencapai Rp 18,6 Triliun

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor kehidupan lainnya menjadi lebih baik. Usaha keciln dan menengah (UKM) tidak ketinggalan ikut mencicipi manisnya perkembangan teknologi tersebut. Pemanfaatan teknologi oleh pelaku UKM mampu menjadikan usahanya berkembang dengan pesat. Perputaran bisnis di kalangan pelaku UKM nilainya bisa melonjak pesat mencapai triliunan rupiah jika saja mereka menerapkan solusi teknologi komunikasi yang tepat.

Eksecutive General Manager (GM) PT Telkom Divisi Business Service, Slamet Riyadi menuturkan, prospek bisinis UKM melalui TIK akan mencapai Rp 18,6 triliun di tahun 2014 mendatang. Melonjak 60,3% dari nilai bisnis tahun 2010 yang hanya sebesar Rp 11.6 triliun. “Dengan solusi TIK yang tepat, bisnis UKM per tahunnya bisa bertumbuh 12,83% jika dilihat dari Compound Annual Growth Rate (CAGR).

Melalui dukungan solusi TIK yang sesuai kebutuhan para pebisnis UKM, Slamet bahkan optimis nilai bisnis di kalangan UKM ini akan mulai menikat 10,9% menjadi sekitar Rp 12,87 triliun di tahun 2013. Menurut Slamet, komunitas yang melek TIK, mulai tumbuh dan membutuhkan solusi serta mobilitas yang bisa menunjang kelancaran bisnisnya. Kebutuhan akan TIK di segmen UKM ini sayangnya, selama ini belum dilayani secara serius.
Itu sebabnya, Telkom membentuk Divis Business Service (DBS) untuk melayani para pelaku bisnis UKM. Posisi kami di sini tidak hanya sekedar memberikan solusi TIK saja, tetapi juga untuk membantu masyarakat memberdayakan ekonominya,” papar Slamet. DBS sendiri, kata dia, dibentuk oleh Telkom untuk mengelola pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan TIK yang tepat.

Beberapa aplikasi cloud computing berbasi platform as as service (PAAS) sudah disiapkan oleh PT Telkom, di antaranya e-UKM, aplikasi untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), aplikasi untuk pengelolaan koperasi, pendidikan dan lain sebagainya. Kebijakan bagi segmen UMKM sudah harus menjadi prioritas, mengingat kelompok usaha ini paling tahan menghadapi krisis. Dengan demikian pondasi perekonomian semakin kuat. Peran ini terlihat dari kontribusi atas produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja. Pangsa UMKM terhadap total kelompok usaha di Indonesia mencapai 99,99%. Jadi, jika memberikan kredit kepada UMKM, berarti membantu sekian banyak usaha di negeri ini.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM sampai Juni 2013 jumlah total UMKM 55,2 juta unit usaha atau 99,9% dari total unit usaha di Indonesia. UMKM juga menyumbang 57,94% terhadap PDB, yakni Rp.4.303,57 triliun. Adapun serapan tenaga kerja UMKM mencapai 107,65 juta orang atau  97,24% dari total tenaga kerja di Indonesia.

Undang-Undang (UU) No 20 tahun 2008 tentang UMKM mengatur kreteria UMKM dan usaha besar. Usaha yang omzet per tahun mencapai Rp 300 juta dengan aset maksimal Rp 50 juta masuk dalam kreteria usaha mikro. Untuk usaha dengan omzet per tahun  Rp 300 juta hingga Rp 2,5 miliar, aset  di atas Rp 50 juta hingga Rp 500 juta masuk dalam kreteria usaha kecil. Adapun untuk usaha menengah harus memiliki omzet per tahun Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar dengan aset antara Rp 500 juta sampai Rp 10 miliar. Usaha dengan omzet per tahun lebih dari Rp 50 miliar dengan aset lebih dari Rp 10 miliar masuk dalam kreteria usaha besar.

Hal yang patut menjadi perhatian adalah proporsi dari setiap kelas usaha tersebut. Jumlah usaha mikro mencapai 54,559 juta unit atau 98,82% dari total unit usaha di Indonesia. Jumlah usaha kecil sebanyak 602.195 unit – 1,09%, usaha menengah 44.280 unit – 0,08% dan usaha besar  4.952 unit – 0,01%. Fakta bahwa mayoritas unit usaha di Indonesia merupakan UMKM – dengan bagian terbesar berupa usaha mikro – menyadarkan pentingnya perhatian penuh  bagi mereka.

Apalagi hingga kini UMKM masih menghadapi sejumlah masalah, seperti kesulitan mengakses perbankan, kurang menguasai informasi pasar, lemahnya konsistensi menjaga mutu produk dan layanan pengiriman produk, dan problem lainnya. Beragam masalah yang dihadapi UMKM itu kerap dianggap sebagai persoalan klasik yang selalu muncul. Problem yang berulang membuat seolah-olah persoalan UMKM hanya itu-itu saja.
Besarnya populasi pelaku UMKM tak pelak menjadikan kompleksitas penyelesaian masalah-masalah tersebut. Hal yang selalu harus diingat, meskipun disebutkan sebagai masalah klasik – hingga sekarang belum ada solusi mutakhir untuk menyelesaikan persoalan klasik tersebut. Padahal UMKM sudah membuktikan perannya sebagai unit usaha yang bertahan di tengah kondisi perekonomian berat saat usaha besar terengah-engah menghadapinya. UMKM memenuhi baktinya untuk menjaga perekonomian bangsa di saat sulit.
Pelaku UMKM memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri manufaktur Indonesia. Dari UMKM 55,2 juta unit usaha, sebanyak 4 juta unit di antaranya industri kecil menengah (IKM). Di antara 1% – 2% merupakan IKM yang bergerak di industri komponen. Pengembangan pasar komponen melalui pengaturan tingkat kandungan dalam negeri harus menjadi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan IKM. Peningkatan daya saing mutlak dilakukan agar mereka semakin kompetitif. Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015 akan menjadikan persaingan semakin ketat.

***

Keahlian Yayat Hidayat berinovasi membuat sukses menghidupkan kembali bisnis sandal gunung yang hampir mati. Kini, dengan membuat sandal outdoor aneka warna dengan merek dagang Sabertooth, Yayat meraup sukses luar biasa. Sukses usaha seseorang kadang tidak datang dari sesuatu yang ia sukai. Tetapi dengan kemauan belajar yang kuat seseorang bisa saja meraih keberhasilan. Yayat telah membuktikannya. Meskipun awalnya tidak menggemari dunia kerajinan sandal, setelah tekun mempelajari kegagalannya, dan terus berinovasi, hasilnya sandal gunung merek Sabertooth digemari masyarakat. Mungkin  sebagian masih asing dengan merek Sabertooth, namun jika menyebut nama Sandal Dody, barang kali Anda yang cukup lama tinggal di kota kembang, Bandung, bakal mengenalnya. Sebab merek sandal ini sudah beredar di pasaran sejak tahun 1980-an, dan menjadi produk “wajib” bagi para pecinta alam. Sabertoot merupakan merek baru, mulai beredar di pasaran sejak tahun 2010, menggantikan merek Sandal Dody.

Kisah Yayat membuat sanda berawal selepas ia kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Pasundan, Bandung. Kebetulan Yayat dan Doddy sama-sama aktif di sebuah masjid. Pada tahun 2002, jalinan kerja sama semakin kuat saat Doddy memintanya jadi pemasok sandal. Meski tawaran itu cukup menarik, usaha untuk mewujudkannya tidak semudah yang dibayangkan. Sebab Yayat tidak paham soal bisnis sandal. Apalagi membuatnya. Saat itu minat utama Yayat adalah dunia otomotif. Beruntung, sang ayah yang perajin sepatu di daerah Parakan Saat, Bandung, mau mengajarinya membuat sandal.

Pertama kali Yayat memasok Sandal Dody tahun 2004. Sejak saat itu dia diminta Doddy membuat sandal. “Saya belajar dulu, dan berulang kali desain saya ditolak,” tuturnya. Setelah berhasil memenuhi pesanan pertama, Yayat akhirnya rutin memasok 500 pasang sandal tiap bulan. Harga sepasang sandal kala itu Rp 30.000,- Waktu itu outlet Sandal Dody di Bandung tinggal tersisa 3 unit. Padahal sebelumnya ada belasan outlet yang tersebar sampai ke Sumatera.

Suatu hari, tahun 2008, Doddy menyatakan ingin fokus menggarap produk outdoor dengan merek Jayagiri. Lantaran jalinan kerjasama dengan Yayat sudah seperti kualrga, Doddy lantas menyerahkan merek Sandal Dody kepada Yayat. Hingga tahun 2009 Yayat bertahan dengan merek Sandal Dody. Namun ia merasakan bahwa usahanya tidak bertambah maju. Setelah mempelajari minat pasar, tahun 2010 Yayat membuat sandal outdoor dengan aneka warna. “Bisa dibilang, ini sandal outdoor pertama yang berani menggunakan aneka warna,” ujar Yayat. Tak hanya menciptakan desain, Yayat juga mengganti merek dagang menjadi Sabertooth.

Menyadari luasnya pasar di dunia maya, Yayat lantas menawarkan sandal produknya lewat sejumlah situs jejaring social dan membuat website. Modal awalnya kala itu sebesar Rp 10 juta yang diambil dari tabungan. Pada Februari 2010 mendapat suntikan dari PT Perkebunan Nusantara (PT PN) VIII sebesar Rp 20 juta. Tak disangka, inovasi produk sandal outdoor aneka warna itu mendapat sambutan hangat di pasar. Sejak diluncurkan April 2010, setiap bulan Yayat bisa memproduksi 2.500 – 4.000 pasang sandal. Di luar merek sendiri, ia mengaku tiap bulan juga memasok sandal merek lain. jumlahnya cukup besar 300 pasang per bulan.

Dari produksi sebanyak itu, sekitar 70% di antaranya sandal outdoor dengan aneka warna. Sisanya sandal outdoor warna hitam seperti yang kebanyakan beredar di pasar. Dengan harga Rp 70.000,- – Rp 85.000,- per pasang, tiap bulan Yayat bisa menangguk omzet ratusan juta. Model pemasarannya menggunakan jalur dunia maya mampu menjerat pembeli asal Malaysia. Melalui pedagang perantara, Yayat mendapat pesanan 6.500 pasang sandal. Paling lambat awal tahun depan, pesanan terebut sudah harus dikirim ke negeri jiran. Menghadapi permintaan semakin banyak, Yayat meningkatkan kapasitas produksinya. Soal permodalan, tidak mengalami kesulitan karena mendapat dukungan dana pinjaman dari PT PN VIII sebesar Rp 150 juta.

Respons positif dari pasar manca negara itu kian menggelorakan semangatnya. Tahun depan dia bersiap melebarkan saya usaha dengan menambah rekanan bisnis lewat system konsinyasi. Sasarannya pasar di Singapura dan Brunei Darusalam. Tak tanggung-tanggung, targetnya 100 outlet baru.
Semua orang memiliki peluang yang sama untuk meraih sukses. Ir Eddy W Santoso yang membangun PT Teras Desa Intidaya, untuk membudidayakan jamur lingzhi, hiratake, shiitake, hon shimeiji, jamur tiram, jamur kuping, maitake, dan enoki kini juga menggapai sukses.

Memulai usaha budidaya jamur di saat krisis moneter terjadi, kata dia, bukan perkara mudah. Pada awalnya, lelaki lulusan Teknik ITB ini tidak tertarik untuk terjun menekuni bisnis budidaya jamur. Dia lebih berminat menekuni bisnis komputer sebagai peluang usaha yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun sayang, perjalanan bisnis komputer yang telah dijalankannya selama 15 tahun ini harus gulung tikar diterjang badai krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997.

Kegagalannya dalam menjalankan bisnis komputer membuat Eddy harus berpikir keras dan berusaha bangkit dari keterpurukan yang sedang Ia alami. Saat itu permintaan komputer nyaris terhenti, sehingga Ia harus mencari peluang bisnis baru yang lebih menjanjikan di tahun-tahun yang akan datang. Sejak kejadian tersebut, setiap hari Eddy melakukan riset pasar dan belajar dari para pengusaha sukses yang ada di sekitarnya. Setelah melakukan pengamatan cukup lama, Eddy menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bisnis jamur sebagai usaha barunya.

Peluang tersebut diambil Eddy karena pada dasarnya tanaman jamur cukup mudah untuk dibudidayakan, terutama di daerah dingin seperti Jawa Barat. Selain itu kandungan gizi pada jamur juga tinggi, sehingga peluang pasarnya pun masih sangat terbuka lebar. Setelah 3 tahun melakukan budidaya jamur, Eddy semakin optimis bahwa dirinya tidak salah memilih peluang bisnis. Pasalnya dari tahun ke tahun, permintaan pasar jamur semakin meningkat tajam. Bahkan sering kewalahan memenuhi permintaan jamur dari kota Bandung dan Jakarta.

Melihat permintaan jamur (terutama jamur hiratake dan jamur lingzhi) terus meningkat, Eddy memanfaatkan lahannya yang di Lembang untuk budidaya jamur. Tidak hanya itu saja, Eddy menggandeng para pemuda di sekitar lokasi tersebut diberikan pelatihan budidaya jamur, untuk kemudian direkrut sebagai karyawan. Sukses  Eddy tidak berhenti sampai disitu. Ia memperluas bisnisnya, menjalin kerjasama dengan beberapa petani plasma guna mencukupi permintaan pasar jamur obat yang terus meningkat. Eddy tak pernah lelah memberikan motivasi kepada masyarakat sekitar dengan mengenalkan macam-macam jamur dan manfaatnya bagi konsumen. Selain itu Eddy juga berharap, agar masyarakat Indonesia mulai mengembangkan bisnis jamur karena potensi pasar lokal maupun internasional masih sangat terbuka lebar.

Kue pukis adalah kue tradisional yang sering kita jumpai di pasar-pasar tradisional maupun di koto roti. Kue ini memiliki rasa gurih yang khas. Biasanya di dalamnya diselipi selai nanas atau rasa lainnya sesuai selera. Kue pukis biasanya mempunyai dua warna kuning dan cokelat.

Menurut beberapa sumber para pengusaha kue jenis ini berasal dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Hampir sebagian besar pedagang kue pukis di pasar-pasar di kota besar di Jawa, berasal dari daerah ini. Pak Kuat, pria kelahiran Gombong 38 tahun silam, sudah 17 tahun berkecimpung dalam usaha kue pukis. Selepas tamat SMP tahun 1996 dia langsung mengadu nasib ke Jakarta, ikut salah seorang kerabatnya yang berjualan kue pukis.
Setelah beberapa tahun singgah di beberapa kota besar seperti Jakarta, Banjarmasih, Surabaya, akhirnya tahun 2006 Kuat memutuskan untuk menetap di Jogya, dan membuka usaha di kota gudeg tersebut. Usahanya terus berkembang, tidak hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Kuat kini memiliki 4 orang karyawan.

Menurut Kuat, kendala yang sering dialami adonan tidak bisa mengembang sempurna. Untuk mengatasi hal tersebut Kuat punya trik jitu, yaitu meneteskan air nanas kira-kira 10 tetes ke dalam adonan. Komposisi yang bagus untuk membuat adonan; 1 kg kelapa, 1 kg gula, 3 butir telor ayam dan 2 kg tepung. Setiap hari Kuat bisa menghabiskan 25 kg tepung trikgu. Dari setiap 2 kg tepung trigu bisa menghasilkan 150 buah kue. Setiap bungkus isi 10 buah dijual Rp 5.000,- Omzet per hari bisa mencapai Rp 500.000,- – Rp 600.000,-
Dalam menjalankan bisnisnya Kuat dibantu oleh sang isteri dan 4 orang tenaga pemasaran. Memasarkannya meliputi 4 pasar di wilayah Jogya utara. Pelanggannya ibu-ibu rumah tangga yang sering belanja ke pasar tradisional. Ketika musim hujan, biasanya penjualannya menurun karena banyak pelanggan yang tidak belanja ke pasar.

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *