Tahun Penuh Kesempatan

Menurut Prof. DR Haryono Suyono, bulan Januari 2017 bisa dianggap sebagai awal gerakkan pembangunan berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang diresmikan pada bulan September 2016. Pembangunan berkelanjutan memiliki target-target ambisius yang mengamanatkan pembangunan inklusif yang harus member kesempatan kepada siapa saja tanpa diskriminasi, termasuk para penyandang disabilitas dan lansia, untuk ikut serta secara aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Oleh karena itu pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mempersiapkan diri dengan memperbarui perangkan Undang-undang (UU) untuk para penyandang disabilitas. Persatuan Warakawuri Republik Indonesia (PWRI) sebagai salah satu organisasi yang menangani lanjut usia, mantan pegawai negeri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam munasnya tahun 2016 memutuskan member bekal kepada para pensiunan dan calon pensiunan sejak seorang pegawai negeri menginjak usia 50 tahun berupa persiapan mental, keterampilan dan semangat untuk tetap terjun dalam pembangunan.

Untuk suksesnya arahan baru itu, pengurus baru PWRI yang dilantik akhir tahun 2016 segera mengembangkan anggotanya yang masih sehat dan segar bugar, tidak kurang dari 80 % dari sekitar 3 juta pegawai yang pensiun, tetap menjadi pendamping 3 generasi bangsanya, dari anak, cucu dan cicitnya dalam pembangunan keluarga, msyarakat dan bangsanya. Mereka dihimbau tetap menyumbankgan kearifan yang telah diakumulasikan selama lebih 30 – 40 tahun sebagai pegawai negeri dan sisa-sisa serta tenaganya untuk membantu kegiatan anak cucunya.

Mereka diajak menaruh perhatian, peduli dan berbagi kepada anak cucunya yang sedang giat membangun dalam kapasitas “ing ngarso sun tulodo” atau “tutwuri handayani” bahkan dalam hal-hal tertentu, apabila memiliki kemampuan, bisa “tut wuri handayani”, alias berbagi modal memperkuat usaha yang dikelola oleh anak cucuinya. Kesempatan menaruh perhatian dan berbagi itu diarahkan sekaligus sebagai amal ibadah guna mengisi program SDGs dengan target-target utama pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan dan pengangguran serta kesenjangan.

Alasannya sungguh tepat karena SDGs mengharuskan agar pembangunan berkelanjutan bukan hanya untuk generasi masa kini tetapi menjamin generasi masa depan, anak cucu bisa melanjutkan kehidupan dalam keadaan damai, bahagia dan sejahtera. Oleh karena itu pada tahun 2017 para anggota lansia yang tinggal di desa dianjurkan sebanyak mungkin membaur dengan masyarakat sekitarnya. Para anggota sejauh mungkin menjadikan dirinya sebagai penggerak pembangunan keluarga dan masyarakat yang ada di desanya.

Sebisa mungkin membantu masyarakat desa yang dewasa ini mendapat dorongan dan dukungan yang makin besar dari pemerintah untuk mengelola pembangunan keluarga dan masyarakat di desanya secara mandiri. Pemerintah memberikan kepercayaan kepada rakyat untuk secara gotong royong merancang pembangunan keluarga dan entaskan kemiskinan secara mandiri, memberikan bantuan dana yang makin besar, berbagai perguruan tinggi memperbantukan tenaga mahasiswa dalam jumlah puluhan ribu melalui kuliah kerja nyata, SMK diberi kesempatan kerja lapangan bersama keluarga dan masyarakat desa, bahkan apabila dikehendaki masyarakat dan penduduk desa bisa ikut pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai kementerian yang menurunkan instrukturnya ke desa.

Kesempatan telah diberikan, tetapi kadang-kadang belum seluruhnya disosialisasikan kepada masyarakat atau karena “terpaksa” pelaksanaannya diborong oleh pegawai kantornya sendiri sehingga tidak menumbuhkan efek ganda bagi masyarakat luas. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *