Tantangan Itu Tidak Akan Pernah Selesai

Menurunya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ditambah merosotnya harga karet dan sawit petani, “memukul” perkembangan Credit Union Khatulistiwa Bakti (CUKB). “Tantangan tahun 2013 ini lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tutur Ketua CUKB, Dra Selilia Seli, saat berbincang dengan wartawan Majalah UKM di salah satu hotel berbintang di Kota Pontianak, yang malam itu didampingi sang suami, Frans Laten, yang juga praktisi CU, dan kini menjadi General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Crefit Union (BKCU) Kalimantan.

Mungkin, lanjutnya, juga efek dari kenaikan simpanan pokok, dari Rp 100.000,- menjadi R 300.000,- tetapi itu baru kemungkinan. Akibanya, anggota yang menabung dan mengangsur ala kadarnya sehingga berpengaruh pada capaian target. “CUKB belum pernah minus sisa hasil usaha (SHU), tetapi dibandingkan dengan tahun-tahun silam, perkembangan tahun 2013 ini berat,” tegas Seli. Sedangkan program lain, pencapainya sudah 70%. Parameter pertumbuhan itu biasanya dari besarnya SHU, Pertambahan jumlah anggota, dan piutang beredar sebagai program kerja yang telah disahkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Pencapaian target pertambahan jumlah anggota biasanya bisa mencapai 85%, tetapi tahun 2013 ini, meski masih ada beberapa bulan ke depan, diperkirakan hanya bisa mencapai 60%.

Setelah Lebaran silam, memang ada kenaikan, tetapi tidak cukup signifikan. Semua sangat tergantung dari kondisi masyarakat. Kalau mau hari raya, kata Seli, orang di Kalimantan Barat (Klabar) pada umumnya konsumtif, jor-joran, semua ganti baru. Mereka hanya pinjam untuk hal-hal yang tidak produktif. Karena tidak produktif, mereka keteteran mengembalikan pinjamannya. Pengaruhnya pada pertumbuhan CU. “Setelah evaluasi Juni 2013, menurut saya tahun ini kurang menggembirakan,” tutur Seli seraya menjelaskan bahwa CUKB selalau melakukan evaluasi 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan November, jelang penyusunan program kerja tahun berikutnya.

Untuk mengejar target program, pengurus membuat kebijakan baru dan mulai berlaku sejak September, misalnya, menjadi anggota simpanan pokoknya Rp 500.000,-  kemudian simpanan wajib Rp 300.000,- Sekarang, boleh menjadi anggota dengan membayar Rp 100.000,- dulu, kekurangannya bisa diangsur. Atau, dia pinjam ke CU untuk kemduian ditabung kembali. Dengan metode tersebut ada tanda-tanda kemajuan. Sebenarnya ada program insentif bagi anggota yang merekrut anggota baru, tetapi tidak cukup mendongkrak. Soalnya, CU di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak, sudah cukup banyak. Kemudian ada Program Nasional Pembiayaan Mandiri (PNPM) dan program Kredit Untuk Rakyat (KUR) dari pemerintah, sehingga persaingan menjadi sangat ketat.

Kesimpulan dari sharing – tukar pikiran dengan penggerak dan praktisi CU, khususnya di Kalimantan Barat, pertumbuhan CU di tahun ini memang sedikit menurun. Persaingan dengan perbankan yang sekarang mengadopsi cara CU, misalnya Bank Danamon dengan programnya Danamon Simpan Pinjam (DSP), dan Bank Mandiri dengan Mandiri Simpan Pinjam. Dengan modal yang sangat besar mereka memberi berbagai kemudahan. “Kompetitirnya banyak, bukan hanya di kalangan CU, tetapi juga dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya, baik milik pemerintah seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN), juga lembaga-lembaga keuangan swasta,” jelas Kepala Program Studi (Kaprodi) Universitas Tanjungpura (Untan), Kalbar.

Pengembangan ke pedesaan, kata dia, cukup baik, tetapi yang di dalam kota juga ada yang melebihi target. Memang tidak merata, bahkan ada yang defisit. Namun karena sistimnya subsidi silang, maka penghitungannya dikonsulidasi. Program rekrutmen anggota baru, misalnya, di setiap kantor pelayanan targetnya minimal 50 orang per bulan.  Karena CUKB punya 26 kantor pelayanan, maka target rata-rata per bulan minimal 1300 orang anggota baru. Namun hasilnya saat ini, hanya mencapai dikasaran 600 – 700 anggota baru per bulan. “Kalau dibandingkan dengan CU lain, CUKB masih tetap unggul. Operasional masih tetap mampu membiayai, gaji pegawai pun tidak turun. Juga masih ada surpulus – SHU,” jelasnya meyakinkan.

Menghadapi tantangan demikian berat, kata dia, pengurus tidak pernah merasa lelah memberikan motivasi kepada manajemen. Minimal sebulan sekali juga diadakan pertemuan. Untuk lebih mengefektifkan sumber daya, CUKB yang semula hanya memiliki 4 deputi, ditambah menjadi 5 deputi, meliputi; Deputi Usaha, Deputi Keuangan dan Akuntasi, HRM, Deputi Teknologi & Informasi, Deputi SPI. Pembagian kue tanggung jawab lebih kecil, tetapi lebih mendalam. Karena CU lembaga usaha simpan pinjam deputi usaha bisa lebih fokus pada tugas dan tanggung jawabnya; bagaimana mengembangkan usaha, memasarkan produk-produknya, dan bagaimana menagih pinjaman lalai. Kalau selama ini disurati tidak digubris, di-SMS apalagi, ditelpon tidak diangkat, dikunjungi juga tidak dibukakan pintu, biasanya hanya 1 – 2 orang yang datang, sekarang yang datang ramai-ramai, satu tim. Mereka ditanya kesulitannya apa? Jika benar-benar mengalami kesulitan, perjanjian pinjaman ditinjau ulang disesuaikan dengan kemampuan.

Evaluasi dilakukan bulan Juli, langkah-langkah perbaikan efektif baru sebulan lebih, tetapi sudah ada 40-an perjanjian kredit yang direkstrukturisasi. Anggota pinjam ada yang untuk kebutuhan konsumtif, banyak yang untuk usaha namun bangkrut. Yang berternak ayam, misalnya, kalau kena sampar – penyakit, habis. Banyak anggota CUKB yang buka warung kecil-kecilan di rumah, atau dagang di pasar. Yang di kampung-kampung usaha karet atau sawit. Karena kebudayaan Dayak mengajarkan padi tidak untuk diperjualbelikan, padi untuk konsumsi sendiri. Orang Dayak asli belum keluar dari area itu. Walau panennya melimpah ruah, tetap tidak ada konsep menjual. Jika ada warga yang kekurangan beras, konsepnya pinjam. Misalnya pinjam 10 gantang, waktu panen dikembalikan 12 gantang. Di era modernisasi ini memang agak bergeser, tetapi kira-kira hanya 10% saja yang menjual padinya, 90% lainnya untuk kebutuhan hidup sendiri selama 1 tahun – sampai panen berikutnya.

Disamping kondisi masyarakat cukup berat sehingga target tidak terpenuhi, diakui ada staf CUKB yang melakukan kecurangan. “Mental pegawai tidak semuanya baik. Karena sehari-hari urusannya uang, mereka tergoda. Dari 158 karyawan, diketahui ada 2 orang yang melakukan kecurangan. Hal itu diketahui setelah mereka mengundurkan diri keluar dari CUKB. Karena itu dilaporkan kepada yang berwajib. Sekarang seorang sedang disidang di Pengadilan, seorang lainnya belum ditemukan. Kejadian ini mewarnai tingkat kepercayaan masyarakat,” jelas Seli seraya menambahkan bahwa tahun ini, angka 13 membuat rambut tambah keriting, wajah tambah tua, mikiri CU.

Meski mendapat tantangan sangat berat, Seli mengaku tetap survive – bertahan, walau kadang-kadang juga ngambek, jika kebijakannya sebagai ketua dilangkahi oleh manajemen. “Silahkan yang mau jadi ketua. Dikira enak jadi ketua? Tapi lama-lama saya pikir, begitu saja kok nyerah, tidak dewasa banget. Di CU saya paling lama, dan paling banyak mengerti tentang CUKB. Kalau saya saja semangatnya kolaps – tidak peduli, apalagi yang lain,” katanya serius. Menurut dia, sesuatu yang sudah dimulai harus diselesaikan. Dicontohkan, sebagai mahasiswa S3, kalau ada satu hari libur bisa digunakan untuk menyelesaikan disertasi doktornya yang belum selesai, atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Tetapi panggilan hati mengatakan; “Kamu masih punya tugas lain di CUKB.”

Demi CUKB, kepentingan pribadi diabaikan. Ketika suami mengajaknya cuti libur, juga ditolak dengan alasan kuliah baru dimulai, harus mempersiapkan seminar internasional. “Karena mengurus CU hanya separuh, mengurus kuliah dan mahasiswa juga separuh, tidak fokus. Belum lagi urusan rumah, suami dan anak-anak. Di CUKB itu enaknya kompak. Menghadapi persoalan tak saling menyalahkan, tapi saling bersinergi memperbaiki,” jelas Seli yang mengaku pemarah. Terutama jika terkait dengan program kerja lembaga. Kepada stafnya dia bilang, kalau program itu gagal, yang bertanggung jawab dalam RAT memang ketua, tetapi kegagalan itu gambaran staf yang tidak bisa kerja. Jika tidak bisa mendongkrak SHU, yang gagal manajemen. Sebab pengurus sudah mempercayakan kepada manajemen.

“Saya bilang, jangan hanya menuntut gaji naik. Pikirkan juga keberlangsungan CUKB. Sebagai pengurus hanya sementara, 3 tahun diganti. Iya kalau anggota masih percaya saya jadi ketua. Bila tidak, tahun depan (2014) tidak jadi pengurus lagi. Ibarat bunga bakung di ladang, pagi masih segar dan berwarna indah, sore sudah lisut – layu. Kalau ingin CUKB berkelanjutan, kalian kerjanya yang benar. Karena pegawai negeri, saya tidak menggantungkan hidup dengan CU. Yang perlu uang dari CUKB itu kalian,” kata wanita energik yang akan mengakhiri masa baktinya sebagai ketua akhir tahun 2013 dan menyerahkan mandat kepada anggota dalam RAT tahun buku 2013 mendatang. Karena manajemen terus dipacu semangatnya, Seli optimis dan yakin bahwa dengan sisa waktu yang ada sampai akhir tahun 2013, target yang telah dicanangkan akan tercapai.

Dicontohkan, kantor pelayanan (KP) dulu seperti punya kerajaan-kerajaan sendiri, uang ditabung di bank. Pembiayaan Kantor Pusat selama ini juga menyatu dengan KP Imam Bondjol. “Saya bilang, kalau Agustus belum ada pemisahan Kantor Pusat dengan KP Imam Bondjol, kalian saya pecat ganti manajemen. Semua petinggi di CUKB tidak ada gunanya,” tegasnya. Dengan rasa takut, Nicolaus Apin, SE, sang General Manager (GM) menjawab; “Kasih waktu kami”. Setiap ke kantor, Seli selalu menanyakan sejauh mana langkah untuk pemisahan. “Puji Tuhan, Agustus KP Imam Bondjol sudah terpisah dengan kantor pusat. Tetapi operasional kantor pusat masih dalam satu gedung, menempati lantai tiga.

Tugas kantor pusat menangani hal-hal yang sifatnya konsulidasi. Uang yang selama ini dikelola oleh KP – KP, sekarang dikelola kantor pusat. Walau akhirnya semua juga konsulidasi, bila tidak disatukan, KP – KP seperti membangun kerajaan sendiri. Dengan  disatukan, semua bisa cepat dimonitoring. Manajer KP yang tidak mau mengikuti aturan kantor pusat dipersilahkan keluar. “Dari 27 manajer, satu orang yang keluar lantaran statusnya diturunkan dari manajer menjadi staf deputi. Diturunkan karena selalu mengambil keputusan di luar kewenangannya,” jelas Seli. Sebenarnya Apin ingin menahan agar anak buahnya itu tidak keluar dari CUKB, tetapi Seli bilang; “kalau orang mau keluar jangan ditahan, tidak baik, akan manja. Setiap permintaannya tidak dituruti, mengancam mau keluar.”

Satu harapan ke depan, kata Seli, CU itu punya tata kelola yang baik. Apakah tata kelola mengenai keuangan, tata kelola organisasi, juga HRM-nya. Seli punya target ingin menata sistem. Jika sistemnya sudah baik, mau siapa GM-nya, atau pengurusnya silih berganti, CU itu akan terus berkelanjutan. Yang menjadi prioritas pertama, tertib administrasi, baik administrasi keuangan maupun non keuangan. Kalau keuangan dikelola dengan baik, kepercayaan masyarakat akan semakin besar. Soal organisiasi, CUKB sangat baik. Pengurus dan pengawas sangat kompak, tidak ada kubu-kubuan. “Walau saya sering marah-marah, teman-teman memahami. Inilah saya,” kata Seli.

Seli juga sering “dituduh”, yang jadi GM dan manajer orang-orang dekatnya, orang-orang yang disayangi. Bahkan ada yang mengatakan, GM-nya bukan Apin, tapi Ibu Ketua. “Saya tidak tahu, kenapa bisa sabar mendengar semua yang dikatakan, ada anak emas, anak tiri dans ebagainya. Lalu, ada pula yang minta dilakukan fit and proper – uji kelayakan,” katanya. Secara organisasi, Seli mengakui, CUKB belum kuat untuk melakukan fit and propertes. Namun, karena ada permintaan, agar tidak menimbulkan resistensi – kecurigaan – keculasan, perlu direspon. Supaya netral, yang melakukan fit and propertes psikolog. Mereka dipanggil satu persatu, diwawancarai, baru kemudian pengurus. Ketika diwawancarai, ada yang gemetar. Ada yang bilang; “senjata makan tuan.” “Hasilnya dikomunikasikan, ini lho kekurangan kamu. Sekarang senyap, tak ada istilah anak yang disayangi,” jelas Seli. Setelah diamati – dievaluasi, semangat kerja dan kekompakan para deputi dengan staf terasa semakin kuat, solid.

Membangun militansi kinerja di CU, kata Seli, tidak mudah. Jika pembinaannya kurang, staf tidak mengerti bahwa kerja di CU tidak sama dengan kerja di perusahaan, PT, misalnya. Di CU – Koperasi karena semua anggota adalah pemilik, pemegang saham, mereka harus mendapat pelayanan prima. Pengurus dan manajemen, orang yang dipercaya anggota untuk mengelola. “Banyak pegawai yang mentalnya hanya ingin dapat duit, bukan untuk aktualisasi diri. Sedangkan di CU, bagaimana memikirkan agar anggota – masyarakat maju, baru kemudian pendapatan CU naik, gaji pegawai juga naik,” jelas Seli yang berharap, tahun 2014 masih dapat kepercayaan dari anggota untuk memimpin CUKB, lantaran sistem yang dibangun belum tuntas. Sistem yang belum on the track, perlu dibenahi. Namun dia mengaku, tidak punya target waktu tertentu. Setiap tahun punya masalah, punya tantangan – dalam bahasa kitab suci punya perkaranya sendiri. “Di CU tantangan tidak akan pernah selesai,” tegasnya. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *