Telah Lahir Platform Koperasi Terkini PT Sakti Kinerja Kolaborasindo Rilis Aplikasi Terbaru

Bayangkan sebuah platform atau aplikasi yang dapat hubungkan semua pihak. Mulai dari koperasi dengan anggota, koperasi dengan koperasi, anggota dengan merchant, dan bahkan anggota dengan bank. Kemarin (7/12) aplikasi itu sudah dirilis pada kesempatan Lokakarya PT Sakti Kinerja Kolaborasindo (SKK) di Wisma Inkopdit, Jakarta. “Dengan aplikasi ini, koperasi bisa beri layanan prima kepada anggota dan mitra lainnya”, terang Endy Chandra, Direktur PT SKK di sela acara.

Beberapa produk terkini didemonstrasikan seperti SAKTI.Link, SAKTI.Pay, MyCOOP, dan Horas. SAKTI.Link itu merupakan aplikasi untuk anggota koperasi berbasis android. Lewat SAKTI.Link, anggota bisa cek semua saldo di akun-akunnya secara realtime, baik simpanan maupun pinjaman. Ditambah, dengan adanya Rekening Ponsel Anggota (RPA), anggota bisa lakukan transaksi non tunai di berbagai merchant.

Teknologi non tunai SAKTI berbasis QR Code sehingga mudah diaplikasikan di merchant. “Merchant bisa pedagang kaki lima, warung, outlet, swalayan, hotel, dan lain sebagainya. Intinya semua pelaku usaha bisa menjadi merchant,” ujar pengembangnya. “Teknisnya cukup buat akun bagi merchant, tempelkan papan QR Code pembayaran di lapak atau area kasir, selesai,” imbuhnya.

Kemudian aplikasi SAKTI.Pay ini digunakan bagi para merchant jaringan koperasi. Tak hanya layani pembayaran non tunai, lewat aplikasi ini mereka bisa layani juga top up dan tarik tunai. Dengan cara demikian, merchant yang menjadi jaringan koperasi dapat juga melayani simpan-tarik tunai. “Itu sama dengan fungsi kolektor lapangan di koperasi konvensional. Bayangkan bila merchant itu tersebar merata, anggota bisa dilayani di mana pun dan kapan pun,” terang Endy.

Era Industri 4.0 ini ditandai dengan semangat kolaborasi. PT SKK, yang dilahirkan dan dimiliki oleh gerakan koperasi, sudah siapkan platform untuk itu, namanya MyCOOP. Aplikasi ini bisa diunduh oleh masyarakat luas, anggota atau non anggota koperasi. “Secara umum ditujukan untuk non anggota koperasi. Mereka punya dua opsi: cukup manfaatkan fasilitas digital payment saja atau daftar menjadi anggota koperasi,” terang pengembang. Pada saat mendaftar menjadi anggota koperasi, akan muncul daftar koperasi-koperasi di wilayahnya. “Yang bersangkutan tinggal pilih koperasi yang mana sesuai dengan kebutuhannya,” sambungnya. Di situlah kolaborasi bekerja melampaui kompetisi.

Dengan aplikasi MyCOOP harapannya masyarakat umum mengenal koperasi-koperasi bagus di wilayahnya. Di sisi lain, koperasi juga bisa menjangkau calon anggota seluas-luasnya. “Bayangkan saja setelah mendaftar koperasi tertentu, lalu koperasi mengirim staf verifikator lapangan untuk memverifikasi anggota baru tersebut. Efisien dan efektif, bukan?” ujar Ahmad Haris, Direktur Teknologi PT SKK. Platform MyCOOP ini seperti marketplace yang isinya berbagai koperasi. Karenanya koperasi-koperasi pasti akan terdorong membangun keunggulan komparatifnya masing-masing.

Pada sesi terakhir, pengembang mendemonstrasikan aplikasi Horas, yakni aplikasi messaging yang dapat digunakan oleh komunitas. Nama Horas ini diinspirasi dari sapaan orang Medan, “Horas, horas, horas!” Dengan fasilitas messaging ini berbagai kebutuhan komunitas dapat dilayani secara efisien. Misalnya saja SMS Blast tak perlu membayar seperti bila gunakan layanan perpesanan provider tertentu. Aplikasi Horas ini sampai waktunya bisa ditanam di SAKTI.Link, Pay, dan juga MyCOOP. “Bayangkan berapa ratus juga sudah bisa diefisienkan?” sentil Haris.

Di gerakan koperasi tanah air, PT SKK adalah perusahaan pengembang yang terdepan lakukan inovasi. Kuncinya adalah pengembang dengan pengguna (koperasi) saban tahun gelar lokakarya. Berbagai kebutuhan pengguna menjadi lebih cepat direspon oleh pengembang. Ditambah PT SKK yang dimiliki oleh koperasi, maka visinya senafas dengan gerakan. “Hal ini yang membedakan dengan perusahaan pengembang teknologi lainnya. Di lain tempat koperasi hanya menjadi pengguna dan pengembang memberi layanan. Namun di perusahaan ini, koperasi adalah pemilik dan pengguna layanannya,” terang Endy.

Sejarah SAKTI itu sendiri awalnya berangkat dari kebutuhan KSP TEB Artha Mulia, sejak tahun 2015. Ibaratkan KSP TEB adalah rahim yang sediakan sel telur berupa ide-ide layanan atau fitur. Pengembang hadir dengan sel sperma berupa teknologi yang menerjemahkan berbagai kebutuhan itu menjadi sistem dan aplikasi. “Kami bahagia bahwa sekarang SAKTI bisa digunakan oleh berbagai koperasi dan Credit Union di Indonesia,” ujar I Wayan Sujana, Ketua KSP TEB. “Makin banyak yang menggunakan SAKTI, akan lebih efisien bagi koperasi untuk kembangkan aneka fitur sesuai kebutuhannya,” sambungnya.

Tercatat ada 22 koperasi/lembaga yang ikut mendirikan PT SKK, yaitu: CU AHA, Koperasi AHA Tani Sejahtera, Koperasi AHA Nelayan Sejahtera, Koperasi AHA Niaga Sejahtera, Koperasi AHA Cipta Mandiri, Koperasi AHA Transportasi Jaya, Koperasi AHA Griya Permai, dan Yayasan Pendidikan Katolik Andreas SOL. Kemudian Puskopdit Gandong Maluku Utara, CU Mutiara Dobo, CU Gonzalo Veloso, CU Mandiri Probolinggo, CU Sondang Nauli, KSP TEB Artha Mulia, CU Mitra Mandiri, PT Tanah Mas, dan Kopdit Kabari Pangkal Pinang. Kemudian ada juga CU Harapan Kita Belawan, Kopdit Sehati Lampung, Puskopdit Jakarta, CU Seia Sekata Sumatera Utara, dan CU Budi Murni.

Nama SAKTI itu sendiri merupakan akronim dari Sistem Akuntansi Koperasi berbasis Teknologi Internet. Dan sekarang tak hanya menjadi sistem akuntansi, melainkan sebuah platform teknologi finansial bagi koperasi. “Dengan para programmer dan infrastructure engineer muda-muda, kami yakin PT. SKK dapat kembangkan aneka platform yang canggih bagi gerakan Credit Union atau koperasi di Indonesia,” ujar Romo Karoldus Jamrevav, dari CU AHA-Ambon, selaku Komisaris Utama. []

Ditulis oleh: Firdaus Putra, H.C. dari Koperasi Kopkun, Purwokerto.

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *