Terjepit Di Usaha Krupuk Kulit

Anda pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)? Banggalah, karena usaha yang Anda lakukan itu adalah penggerak utama roda ekonom kerakyatan dan mampu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Bahkan Negara-negara anggota Asia-Pasifik Economic Coorporation (APEC) pun mengakui UMKM punya peran besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Di seluruh dunia UMKM menyumbang lebih dari 45% dari total gross domestic product (GDP) rata-rata anggota APEC.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, kontribusi UMKM terhadap GDP Indonesia mencapai 50%. Sebanyak 96% tenaga kerja di Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor UMKM, di mana 23% di antaranya dijalankan oleh wirausaha wanita. Di Indonesia, pertumbuhan UMKM hampir mencapai 8% per tahun.

Dari sekian banyak wirausaha wanita itu Ny Etty Lasmini, sudah 24 tahun menggerakkan usahanya melalui Kelompok Usaha Bersama (Kube) Sumber Rezeki Mampang di bidang usaha kerupuk kulit. Dari Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2013 di Nusa Dua, Bali, menyisakan pekerjaan rumah yang tidak sederhana bagi Indonesia.

Produk UMKM sebagai basis kekuatan ekonomi nasional sejak dahulu hingga sekarang, namun pendekatan pemerintah terhadap UMKM tidak seserius dibandingkan dengan sektor industri besar. UMKM terjepit di tengah upaya pemerintah menggenjot industrialisasi. “Kenyataan itu saya utarakan saat menghadiri undangan seminar bertajuk; Pengkajian Produk Inovatif di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Salah satu produk inovatif UKM itu kerupuk kulit yang menjadi salah satu produk unggulan UMKM DKI Jakarta sejak 21 tahun silam. Walau modalnya pas-pasan, tetapi Kerupuk Kulit Sumber Rezeki sudah terkenal di seluruh Indonesia,” tutur Wakomtap Kadin Indonesia Bidang UKM, Yuke Yurike ST MM kepada UKM.

Padahal, kata wanita kelahiran Bandung 22 Februari 1975 yang juga menjabat Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya itu, produksi  krupuk kulit dapat membangkitkan inovasi orang-orang di wilayah Tegalparang, Jakarta Selatan. “Dari produksi kerupuk kulit itu, Ny. Etty mampu menyerap beberapa tenaga kerja. Belum lagi ibu-ibu rumah tangga sekitarnya yang membantu memasarkan, baik secara langsung maupun usaha warungan. Bahkan Ny Etty sering diminta memberikan kursus tentang pembuatan kerupuk kulit ke berbagai daerah. Tetapi, hingga saat ini belum memperoleh pembinaan dari Dinas Koperasi dan UKM,” papar Yuke Yurike.

“Honornya sih tidak seberapa. Yang penting saya bisa berbagi ilmu dan bahan kerupuk kulitnya dibayar. Saya jelaskan sedetail mungkin tentang produksi kerupuk kulit yang halal toyibah. Sebab, banyak juga anggota masyarakat yang ragu, jangan-jangan kerupuk kulit produk kami terbuat dari kulit babi dan sebagainya,” tutur Ny Etty. Dalam menghadapi persaingan di pasar, lanutnya, terus berinovasi dengan berbagai rasa, sesuai selera pasar dan pesanan. Lewat pesanan rasa dari para konsumen itu dapat menambah wawasan.

Selain memasarkan produknya langsung ke masyarakat, Ny Etty juga mengembangkan pemasaran bekerjasama dengan wirausaha kuliner. Sebelum Kementerian Koperasi dan UKM maupun Badan Ekonomi Kreatif mengembangkan pemasaran hasil produk UKM melalui program OVOP (One village one product), Ny Etty sudah merintisnya lebih dahulu.

Kendalanya soal permodalan. Banyak tawaran dari bank, melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Tetapi untuk memperoleh kredit susah, harus punya agunan. “Kami berharap dapat bantuan modal dari Bank DKI tanpa agunan. Pernah dapat bantuan dari Dinas Sosial untuk KUBE, tetapi hanya Rp 1,5 juta. Walau modal pas-pasan, tetapi produksi tetap berjalan. Memasarkannya melalui berbagai pameran. Dari pameran yang diselenggarakan PKK, Pemprov DKI Jakarta, JIEXPO di Kemayoran, dan di JCC Senayan. Alhamdulillah, hasilnya cukup baik,” kata Ny Etty.

Karena UKM Sumber Rezeki merupakan binaan Komite Dewan UKM Wilayah DKI Jakarta, Ny Etty berharap Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan DKI Jakarta maupun Dinas Pariwisata membantu untuk memperoleh kredit dari Bank DKI tanpa agunan. Sebagai Ketua RT 001 RW 04 Kelurahan Tegalparang, Kecamatan Mampang Prapatan selama enam periode, merasa wajar jika mendapat kemudahan. Ny.Etty mengakui, pada tahun 2000 pernah memperoleh bantuan permodalan dari Bank DKI sebesar Rp 25 juta, dan dari BUMN untuk pengembangan usaha di super market – pasar swalayan. Ternyata pembaran dari pasar swalayan itu jauh lebih sulit di banding di warung Tegal. Pembayarannya per 1 ½ bulan. Itu pun berbelit. Harus tukar faktur, tukar giro dan sebagainya. Akhirnya, ia mundur. Karena modalnya malah mandeg.

“Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan DKI Jakarta sebagai pembina Koperasi dan UKM, termasuk Sumber selayaknya membantu para pelaku UMKM untuk memperoleh permodalan. Depnaker juga mengakui keberadaan UKM, tetapi tidak pernah melakukan pembinaan apa-apa,” ujar Yuke Yurike. Sumber Rezeki, kata Yuke, banyak membina generasi muda dan Ibu-ibu rumah tangga mengembangkan usaha rumahan, melalui Program Dasa Wisma PKK.

Karena sering terganggung soal permodalan, agar usaha tetap berjalan, kadang terpaksa ambil pinjaman bank keliling alias rentenir. Walau gali lubang tutup lubang, tetapi usaha ini sudah berjalan lebih dari 21 tahun. Sejak suaminya yang mantan jagal di Rumah Potong Hewan (RPH) PD Dharma Jaya, meninggal dunia, Ny Etty seolah tak pernah lelah. Ia gigih berusaha untuk membiayai kuliah 6 orang anaknya, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

KUBE digalakan sejak tahun 1990, ketika Prof Dr Haryono Suyono menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) – Menteri Kesejahteraan (Men-Kesra). Kepada peserta akseptor KB berkualitas diberikan bantuan modal Usaha Peningkatan Perekonomian Keluarga Akseptor (UPPKA). Kriteria keluarga berkualitas anak 2 orang. “Meski anak 6 orang, karena semua mengenyam pendidikan tingggi, menjadi keluarga sangat berkualitas. Sehingga saya memperoleh Sertifikat Kelayakan Usaha (SKU) dan sertifikat Mitra Karya Pratama dari Presiden Soeharto. Modal usaha pertama sebesar Rp 5 juta untuk membeli alat-alat, kerejasama dengan Rizal sebagai pedagang kulit sapi dan kulit kerbau,” paparnya.

Peranan media dalam membantu promosi usaha dinilai sangat besar. Karena itu, Ny Etty dekat dengan awak media, dan menjadi mitra usaha. Ungkapan senada diutarakan Rizal, mitra usaha Ny Etty yang menangani pengolahan dari kulit mentah sampai menjadi kerupuk. “Kalau musim panas, kulit bisa kering dijemur sehari. Tetapi jika musim hujan, bisa sampai 3 hari. Kalau banyak pesanan, terpaksa diopen,” tutur Rizal yang siang itu sedang mengamati 3 orang karyawan bagian mencincang kulit.

“Ini kulit sapi impor. Kebetulan, untuk mendapatkan kulit sapi lokal agak susah. Harga kulit sapi lokal Rp 22.000/kg, sedangkan kulit sapi impor jenis Limosin harganya lebih murah, hanya Rp 19.000/kg. Kulit sapi impor terlalu banyak lemaknya.Kami sudah punya lengganan yang setiap hari mensuplai kulit. Namun jumlahnya juga tidak pasti,” kata Rizal. Pada bulan jelang Hari Raya Idul Fitri, kata dia, gampang memperoleh kulit. Namun pada Hari Raya Idul Adha, justru agak sulit. Ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak pada jelang Idul Fitri. Untuk camilan, kerupuk kulit sapi lokal jauh lebih nikmat dibandimng kulit sapi impor. Untuk sayur, kerupuk kulit kerbau jauh lebih nikmat, dan tidak mudah hancur.

Kulit sapi lokal susutnya 65%, sedangkan kulit sapi impor susutnya lebih besar sekitar 73%. Harga kulit kering siap digoreng Rp 80.000 per Kg, setelah menjadi kerupuk Rp 100.000/kg. Rizal mengaku, merintis usaha sejak 35 tahun silam. Semula hanya sebagai sambilan, setelah cukup modal, menjadi usaha permanen, dan punya karyawan 3 orang laki-laki, seorang perempuan. Sistem pengupahannya per 10 hari. Bagi mereka yang masih bujangan, penghasilannya boleh dibilang lumayan.

Pengerjaannya, kulit-kulit yang sudah dibersihkan, dicincang (di potong-potong) dicampur garam kemudian dijemur 2 kali. Setelah itu diungkep selama 2 jam, didinginkan lalu diungkep lagi selama 6 jam, baru dijemur. Amat, Taufik dan Jakwan sudah 24 tahun menjadi keryawan Rizal. Mereka merasa kerasan bekerja, karena sifatnya kekeluargaan. Usaha ini, dirintis oleh almarhum Pak Mardani, yang semula dikenal sebagai pedagang kikil sapi.

Pesanan paling banyak, kata Rizal, biasanya jelang Idul Fitri. Tetapi sekarang tidak bisa jadi patokan. Kadang bisa kewalahan memenuhi pesanan. Cuma, kadang-kadang sehari hanya dapat 2 – 3 lembar kulit sapi atau kulit kerbau, sehingga tak dapat memenuhi pesanan. Idealnya, setiap hari mengolah 7- 8 lembar kulit sapi atau kulit kerbau, sehingga dapat memenuhi pesanan. Sesetan kulit, terutama kulit sapi impor, masih dapat dimanfaatkan, dijual kepada para pedagang sate kikil,” ujar Rizal. (st)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *