Tingginya Bunga Bank Mengancam Daya Saing Dalam Negeri

Salah satu pusat keuangan dunia adalah Inggris, dan khususnya Kota London. Inggris dan London dianggap sebagai acuan ukuran keuangan dunia, karena mereka menerapkan kehati-hatian yang luar biasa. Namun tahun lalu dunia tergoncang ketika penetapan suku bunga antar bank di London ternyata juga penuh dengan rekayasa.

Mengacu pada apa yang terjadi di Inggris, tidak usah heran kalau kemudian, pertanyaan juga muncul di Indonesia. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melihat adanya kemungkinan kartel perbankan yang mengatur tingkat suku bunga bank di Indonesia sehingga menjadi mahal. KPPU mempertanyakan, apakah ada kebijakan dari otoritas moneter yang menyebabkan terjadinya indikasi ke arah kartel. Apakah ada perilaku dari si pelaku industrinya sendiri, dalam hal ini perbankan kita yang mengarah kepada kartel.

Berangkat dari dua pertanyaan tersebut rezim persaingan di mana pun di seluruh dunia selalu memulai dari pendekatan yang sangat tradisional, melihat dari struktur industrinya, kemudian bagaimana struktur industri itu mempengaruhi si pelaku dari si industri yang ada di dalamnya. Ada beberapa indikasi yang bisa dilihat, misalnya, bunga bank yang terlalu tinggi. Bandingkan dengan Malaysia atau dengan Laos sekalipun, bunga bank kita masih sangat tinggi.

Ketika diturunkan suku bunga BI bukan tidak direspon, tetapi industri perbankan meresponnya kurang elastis. Data BI memang menunjukan ada tren penurunan suku bunga kredit pinjaman dari perbankan. Bicara soal suku bunga kredit perbankan nasional, struktur perbankan kita sangat segmented. Kalau kita mau bicara Bank BUMN, Bank Swasta Devisa, dan Bank Swasta non-devisa, apalagi dengan kelompok bank asing perilakunya berbeda-beda. Boleh dikatakan yang paling rendah memberikan suku bunga kredit pinjaman adalah bank asing.

Dampaknya, saat ini bank-bank besar di Indonesia memiliki pertumbuhan laba terbesar di dunia dengan rata-rata pertumbuhan 23% sepanjang tahun 2012. Bahkan lebih besar dari pertumbuhan laba bank bank di China dengan rata-rata sebesar 21% dan Amerika Serikat (AS) yang hanya 9%.

Bagaimana bank-bank di Indonesia tidak mendapatkan laba demikian besar, selisih antara bunga tabungan dengan bunga kredit di Indonesia cukup besar lebih dari 6%. Bandingkan dengan Malaysia yang kurang dari 2%. Bunga kredit bank di tanah air masih sangat tinggi. Bahkan setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan di angka 5,75% bunga kredit tidak kunjung dari kisaran belasan persen.

Tingginya bunga kredit justru akan mengancam daya saing industri dalam negeri karena akan membebani biaya usaha. selain itu juga kontradiktif terhadsap upaya pemerintah mendorong wirausaha, terutama menghadapi ASEAN Economi Community – masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015 yang sudah di ambang pintu. Dikawatirkan Indonesia hanya akan menjadi penonton karena tidak mampu bersaing.

Terpilihnya Gubernur BI yang baru, Agus Sastrowardojo – mantan Menteri Keuangan, muncul harapan baru Gubernur BI itu mampu membuat kebijakan yang lebih kondusif, dan menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang bagus dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, dan mengikis tingginya kesenjangan di negeri ini. (red) (@@@)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *