Tol Trans Jawa Memberi Ketenangan Para Sopir Truk

Jalan tol adalah penyambung konektivitas wilayah yang diharapkan juga menjadi penopang kesejahteraan masyarakat melalui simpul-simpul baru ekonomi yang terus tumbuh. Jalan tol bukan hanya memangkas jarak dan waktu, tersambungnya jalur tol Trans Jawa juga turut mengubah kebiasaan di jalan raya. Para sopir truk dan bus kini bisa menikmati perjalanan agak tenang menyusuri ujung barat hingga timur Pulau Jawa.

Sumber ketenangan para sopir tak lain lantaran frekuensi pungutan liar (pungli) di jalan raya mulai berkurang. Isu pungli masalah klasik dan tak kunjung selesai. Seorang sopir truk bercerita, belakangan ini dia cukup lega untuk berkendara di jalur tol Trans Jawa. Para sopir tak perlu was-was dengan ancaman kejahatan dan pungli. Dulu, banyak keluar biaya ke polisi di setiap daerah atau lampu merah tertentu.

Selain pungli, saat ini truk tidak harus melewati jembatan timbang sehingga menjadi lebih hemat. Para sopir memang menginginkan rasa aman dalam menjalankan kendaraan. Dengan menggunakan jalan bebas hambatan, bisa menghindari pengendara sepeda motor maupun mobil yang kerap ugal-ugalan di jalan raya. Melalui tol dapat menghemat waktu dan jarak tempuh perjalanan. Sebelum Trans Jawa tersambung, perjalanan untuk mengangkut alat berat dari Jakarta ke Surabaya membutuhkan waktu hingga 3 hari. Tetapi sekarang, 2 hari sudah sampai.

Namun, belakangan pembangunan jalan tol yang terus digenjot oleh pemerintah saat ini mulai dipersoalkan. Apa yang salah? Benarkah pembangunan infrastruktur khususnya jalan tol hanya bisa dinikmati dalam jangka panjang? Jalan tol dibangun untuk memperlancar angkutan logistik. Tetapi setelah tol tidak digratiskan lagi, truk-truk pengangkut logistik banyak yang kembali lewat jalan lama. Konsekuensinya, harus menghadapi pungli lagi.
Pemerintah menyadari, membangun infrastruktur untuk langsung menurunkan biaya logistik tidak dalam waktu singkat. Dengan adanya jalan tol Trans Jawa lanskap logistik juga akan berubah. Namun, tidak cukup dalam waktu 1 tahun, bisa 3 – 5 tahun. Kita harus cukup sabar. Jalan tol Trans Jawa menjadi alternatif bagi pemakai atau pemilik barang yang ingin waktu pengiriman dipangkas. Konsekuensinya, ada tambahan biaya.

Kalangan pengusaha menilai, tarif tol masih cukup mahal. Untuk jarak Jakarta – Surabaya, mobil pribadi tarifnya Rp 600.000, sedangkan untuk truk, bisa 2x atau 3x, tergantung jumlah bannya. Keluhan para pengusaha direspon positif oleh pemerinah dengan melakukan rasionalisasi tarif per kilometer. Juga dilakukan gruping. Semula ada 5 golongan, menjadi 3, yaitu; 1, 1,5 dan 2. Artinya, yang paling besar terdiskon lebih dari 30%. Tujuannya, ingin mengembalikan konsep – marwahnya.

Hal itu dilakukan karena selama ini tarif berdasarkan as-nya. Semakin banyak as, semakin mahal. Padahal, truk harus didorong untuk menggunakan as lebih besar sehingga beban ke jalan lebih kecil. Tidak berhenti di situ. Karena logistik sifatnya long system harus diberikan insentif lagi untuk jarak jauh. Maka dari Jakarta – Surabaya terdiskon 15% dari Rp 700 ribuan, akhirnya hanya membayar Rp 580 ribuan.

Selain itu juga ada diskon yang hanya berlaku pada klaster II, klaster III, dan klaster IV. Perinciannya, klaster II meliputi gerbang tol Palimanan dan keluar di gerbang tol Kali Kangkung, demikian sebaliknya. Kemudian klaster III dari gerbang tol Banyumanik dan keluar di Warugunung, demikian sebaliknya. Selanjutnya klaster IV yakni masuk gerbang tol Kejapanan Utama dan keluar Grati, serta sebaliknya. Bagi pengguna yang masuk dan keluar selain dari dan menuju gerbang tol tadi, maka diskon tarif 15% tidak berlaku.

Para pengusaha logistik mengakui, ada penghematan waktu sekitar 2 hari, tetapi karena multi moda tidak jalan, dari ujung berangkat sampai bongkar muatan juga lama, dan ada biaya untuk kuli, jika ditotal penghematannya kecil, tidak bisa menutupi biaya. Karena system pembayaran ke sopir borongan Rp 2,5 juta adalah untuk; tol, parkir, makan, pungli, dan sebagainya, maka yang menentukan masuk tol atau tidak adalah sopirnya. Jika sopir mau lewat tol, artinya uang jalan yang harus dikeluarkan cukup besar. (red) @@@

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *