TWTJ Gerakan Menyelamatkan Credit Union

Semua anggota gerakan Credit Union (CU) – Koperasi Kredit (Kopdit), terlebih anggota CU Bonaventura harus memahami bahwa CU bukan sekadar badan usaha yang mirip credit union, atau sekadar latah menggunakan nama credit union. “Sebagai credit union, CU Bonaventura konsekuen mengimplementasikan konsep, semangat dan roh (spirit) credit union,” tegas Ketua Pengurus CU Bonaventura Y. Noria, S.F.K., M.Si., saat menyampaikan pertanggungjawaban pengurus dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018, pada 16 Februari 2019 di Gedung Samudera Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar).

Dalam kesempatan tersebut disampaikan 7 poin penting yang harus diketahui oleh semua anggota CU Bonaventura. Pertama, supaya semakin memahami bahwa CU Bonaventura adalah milik seluruh anggota, yang  adalah sekumpulan orang, saling percaya dalam ikatan pemersatu, sepakat menabung bersama untuk mengumpulkan modal bersama, dan dipinjamkan di antara sesama anggota dengan jasa yang layak, untuk tujuan produktif demi kesejahteraan. Penting ketahui bahwa tujuan CU adalah mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang, dan memberdayakan mereka agar mandiri, mampu bertindak sendiri.

Kedua, CU Bonaventura sebagai CU sejati, berusaha untuk mengemban dua misi utama, yaitu misi ekonomi dan misi sosial. Pada misi ekonomi, CU Bonaventura berusaha untuk menjadi lembaga keuangan yang sehat, aman, dan terpercaya. “Dan ini harus diperjuangkan – diwujudkan,” tegas Noria. Sedangkan misi sosial, lanjut dia, membantu anggota meningkatkan kualitas hidup, baik fisik, moral maupun spiritual. Filosofinya, membantu orang untuk membantu dirinya sendiri.

Ketiga, CU Bonaventura berusaha untuk menjalankan tata kelola yang baik. Kita berusaha agar CU Bonaventura benar-benar dikelola oleh orang-orang yang baik dan sistem yang baik. Sistem yang baik membuat anggota harus patuh pada apa yang menjadi peraturan lembaga. Peraturan disepakati dan disahkan dalam rapat anggota sebagai payung hukum lembaga. “Peraturan dibuat, bukan untuk main-main atau diabaikan,” tegas Noria.

Keempat, untuk mewujudkan misi sosial, CU Bonaventura memberdayakan anggota agar bukan hanya menjadi “penumpang” CU. Namun berusaha agar anggota kelak bertumbuh, dan berkembang menjadi “pengemudi” CU. Kalau hanya jadi penumpang di CU Bonaventura, tak ubahnya menumpang bus, atau menumpang kendaraan umum lainnya. Penumpang tidak perlu tahu peta jalan, boleh ngantuk, bahkan boleh tidur nyenyak dalam kendaraan. Tidak perlu merawat “kendaraan” CU dan tidak mau tahu dengan risiko.

Tetapi kita berharap, anggota CU Bonaventura bertumbuh-kembang menjadi “pengemudi” CU. Seorang pengemudi yang baik, akan mengemudi untuk menuju titik tertentu, dan sampai tujuan dengan selamat. Sehingga seluruh penumpang merasa senang – bahagia. Pengemudi mutlak tahu jalan, tak boleh terlena, tidak boleh ngantuk agar tidak mengalami kecelakaan. Sopir harus mampu merawat kendaraan dan berani mengambil risiko.

CU Bonaventura adalah Kita. Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. “Bukan untuk pengurus, pengawas, atau manajemen. Pengurus, pengawas, dan manajemen juga anggota namun mengemban tugas sebagai pelaksana. Karena itu, jika pengurus dan pengawas main-main dengan tanggung jawab yang dipercayakan oleh anggota, maka anggota boleh pecat pengurus – pengawas.

“Anggota CU Bonaventura tidak cukup hanya menjadi ‘penumpang’ CU, tetapi harus benar-benar mau menjadi ‘pengemudi’ CU, agar CU berkelanjutan. Kita ingin, kelak anak cucu juga mengalami CU Bonaventura memberikan harapan hidup bagi mereka. Jadi, kalau hanya memikirkan CU Bonaventura hebat sekarang, kita gagal,” tegas Noria.

Kelima, dalam rapat anggota (RA), baik Rapat Anggota Khusus (RAK) maupun Rapat Anggota Tahunan (RAT), anggota memiliki kekuasaan tertinggi untuk dan dalam menentukan bagaimana CU Bonaventura akan dibawa, diarahkan. Ada beberapa catatan penting. Kita semua tidak cukup hanya menjadi anggota yang baik-baik saja. Menabung teratur dalam produk yang disediakan. Pinjam sesuai kemampuan, sesuai produk pinjaman, dan mengangsur tepat waktu tepat jumlah (TWTJ), sesuai perjanjian.

Keenam, tahun 2019 merupakan tahun tata kelola bagi gerakan CU di jejaring Puskopdit BKCU Kalimantan. Karena itu CU Bonaventura fokus pada tata kelola yang baik. Sesuai petunjuk Puskopdit BKCU Kalimantan kepada 43 CU primer anggotanya, mulai November 2018 seluruh Manual Operasional (MO) formatnya seragam. Dan CU Bonaventura telah menerapkan 4 MO, yaitu; MO Keuangan, MO Kredit, MO Organisasi, dan MO HRM – human resource management – Manajemen Sumberdaya Manusia. Memberdayakan anggota jadi manusia yang baik dan berkualitas, menjadi tugas CU Bonaventura sebagai lembaga yang berjuang menggunakan tata kelola yang baik.

Atas dasar itu RAT CU Bonaventura tahun buku 2018 memilih tema; Dengan Tata Kelola yang Baik, Kita Wujudkan Anggota yang Militan, Menuju CU Bonaventura Berkelanjutan. Militan artinya, kata Noria, berusaha untuk benar-benar mempunyai semangat juang yang tinggi, penuh gairah, penuh pengabdian. Bukan loyo. Matahari sebenarnya terbit cerah, tetapi wajahnya seperti matahari terbenam. Muka pun panjang seperti pepaya Bangkok. “Kita harus benar-benar menjadi anggota yang militan agar CU Bonaventura berkelanjutan,” tegas Noria membakar semangat anggota.

Ketujuh, RAT paripurna dilaksanakan setelah melaksanakan RAT kelompok di masing-masing tempat pelayanan (TP). Sampai akhir 2018 CU Bonaventura memiliki 11 TP dan semua melaksanakan pra RAT dengan baik. Sehingga hasil kerja di setiap kelompok sudah dipertanggungjawabkan kepada anggota di setiap TP.

Melalui pra RAT, hasil kinerja manajemen di masing-masing TP dapat diketahui TP yang bekerja keras dan berprestasi untuk diberi piagam penghargaan. TP dengan kategori Surplus Hasil Usaha (SHU) Tertinggi TB 2018, diraih oleh TP Sanjingan Besar. Kategori Penurunan Tertinggi Prosentase Pinjaman Lalai (KL) TB 2018 diraih oleh TP Sanggau Ledo, dan kategori Pertumbuhan Anggota Tertinggi TB 2018 diraih oleh TP Sanjingan Besar.

Ketua Pengurus Puskopdit BKCU Kalimantan, Edi Vinsensius Petebang, S.Sos., mengatakan, dari 43 gerakan CU primer yang bernaungan di bawah Puskopdit BKCU Kalimantan, dilihat dari sisi anggota, 21.000 orang CU Bonaventura menempati urutan ke-8, dan peringkat ke-7 dari segi aset yang mencapai Rp292,552 miliar, peringkat ke-10 dari segi SHU Rp1,2 miliar lebih. Dari 60 unit koperasi di Kota Singkawang yang mempunyai Nomor Induk Koperasi (NIK) dari Kementerian Koperasi dan UKM, CU Bonaventura merupakan koperasi terbesar dari segi aset maupun anggota.

Dalam gerakan credit union dunia – World Organisation Credit Union (WOCU) tahun 2018 merayakan 200 tahun lahirnya Friederich Wilhelm Raiffeisen, pendiri credit union. Dalam perayaan tersebut diambil tema; Menyalakan Kembali Ideologi Raiffeisen dalam Setiap Hati Aktivis Credit Union. Prinsip-prinsip Raiffeisen-lah yang harus kita pegang dan dilaksanakan dalam credit union. Edi Petebang mengingatkan, ada 5 spirit Raiffeisen yang harus selalu dipertahankan, dan dilaksanakan dalam gerakan CU. Dalam pendidikan dasar selalu diajarkan – diingatkan bahwa;

Kemiskinan disebabkan oleh cara berfikir yang keliru. Orang CU memandang, orang miskin itu karena cara memandangnya yang keliru. Bukan karena dia tidak punya modal, bukan pula ditakdirkan oleh Tuhan kita miskin, melainkan cara berfikir yang keliru.

Kesulitan kaum miskin hanya dapat diatasi oleh orang miskin itu sendiri. Karena itu jangan berharap minta bantuan pemerintah, minta bantuan perusahaan, atau minta bantuan orang kaya. Tetapi kita sendirilah yang bisa mengatasi kemiskinan kita.

Kaum miskin harus mengumpulkan uang secara bersama, dan meminjamkan kepada sesama mereka. Itulah yang dilakukan di CU. Kalau orang hanya sesekali ke Kalimantan Barat, heran melihat di kampung – pedalaman ada CU asetnya mencapai ratusan miliar, sementara rumah-rumah orang sederhana. Bisa, karena mereka bersatu dan menyimpan bersama-sama secara teratur sedikit demi sedikit.

Pinjaman harus digunakan untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan penghasilan. Sekarang sudah digencarkan oleh gerakan CU anggota Puskopdit BKCU Kalimantan. Pinjaman untuk produktif harus diberi prioritas, bukan pinjaman konsumtif. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam. Karena itu, jika pinjam di CU tak diminta jaminan. Dia ditanya, sudah berapa lama menjadi anggota CU, sudah pernah pinjam belum, ada pinjaman di tempat lain tidak? Juga ada 3 prinsip utama yang diajarkan oleh Raiffeisen yaitu; Swadaya, Solidaritas, dan Pendidikan.

Di daerah-daerah ada pejabat atau orang kaya yang mau nitip uang ke CU. Hal itu tidak bisa, karena bertentangan dengan prinsip CU. CU hanya boleh menerima dana tabungan dari anggota, hanya boleh meminjamkan uang kepada anggota. Pendidikan adalah yang paling utama. “Kalau CU tidak melakukan pendidikan, bukan CU lagi namanya. Hanya CU-CU-an saja,” tegas Edi Petebang.

Gerakan koperasi di seluruh dunia telah berkontribusi besar dalam menangani krisis keuangan. Berkontribusi besar tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama pemberantasan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, pendidikan dan lingkungan. Di banyak tempat CU menjadi sebuah aksi nyata masyarakat bangkit dari ketertindasan, kemiskinan dan keadilan. CU juga menjadi alat pemersatu, media rekonsiliasi bagi masyarakat multietnis, multiagama di seluruh dunia.

Ada contoh, di Sambas dan Singkawang terutama, CU betul-betul menjadi media rekonsiliasi pasca ribut-but antar etnis beberapa tahun silam. “Dulu, pasca kerusuhan cari cara lain sulit membangun kerukunan dan kebersamaan. Tetapi melalui CU, orang bisa rukun dan bersatu. Di CU anggotanya juga sudah beragam, dari berbagai etnis dan pemeluk agama. Jadi, CU itu betul-betul menjadi tempat rekonsiliasi,” urai Edi.

Yang paling terasa dampaknya, lanjut Edi, CU mampu mengubah mindset – pola pikir masyarakat. Khususnya di pedesaan, orang menjadi bijaksana dalam mengelola keuangan rumah tangga, dan mampu merencanakan masa depannya. Inilah kontribusi terbesar CU dalam membangun manusia Indonesia, mendidik anggota agar mampu merencanakan keuangan rumah tangga.

Sebagai sebuah gerakan besar, 43 CU primer anggota Puskopdit BKCU Kalimantan bukan hanya di Kalimantan Barat, tetapi tersebar di 18 provinsi; Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kendari, dan Papua. Total aset gerakan Rp6,5 triliun. Lebih besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Singkawang yang hanya sekitar Rp1 triliun. Pinjaman beredar Rp4,3 triliun. Kemudian jumlah anggota 458.000 orang, SHU Rp27 miliar.

Yang membanggakan, kembali ke visi awal CU tentang kelompok – komunitas basis, sekarang sudah ada 750 kelompok binaan di CU CU primer anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, ada 5.900 orang di dalamnya, 1.300 kelompok basis dengan total anggota 25.000 orang. Patut dibanggakan bahwa gerakan CU anggota BKCU Kalimantan juga telah mampu memberikan lapangan kerja untuk 1.900 orang. Mungkin, pegawai di Kota Singkawang belum mencapai sebanyak itu. “Jadi, kontribusi CU bisa dibilang luar biasa,” tutur Edi V. Petebang. Diharapkan, ke depan kontribusi CU akan semakin besar.

Sebagai gerakan patut dibanggakan, karena 2 tahun berturut-turut (2017– 2018) CU Sauan Sibarrung, di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, salah satu anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, memperoleh sertifikat Access Branding dari Gerakan CU Asia. Sertifikat Access Branding diberikan untuk CU yang melaksanakan tata kelola dengan baik. Salah satu cirinya, kredit lalai 5% – ke bawah. Di Indonesia, hampir 900-an CU primer yang juga bernama Koperasi Kredit (Kopdit), baru CU Sauan Sibarrung yang memperoleh Access Branding.

Di tahun yang sama (2018), CU Sauan Sibarung dan CU Tilung Jaya, di Putusibau, Kalbar, memperoleh predikat Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional. “Semoga prestasi itu menginspirasi, memotivasi, dan memberi semangat kepada para aktivis CU, termasuk CU Bonaventura untuk meningkatkan kinerjanya sehingga suatu saat mendapatkan penghragaan serupa,” kata Edi berharap.

Di samping kabar baik, Edi Petebang mengakui, ada kabar yang kurang baik, masih terjadi frout, satu dua orang melakukan penyalahgunaan kewenangan yang dia miliki. Sekarang orang-orang tersebut sudah ada yang menjalani hukuman di penjara, ada yang sedang proses peradilan, ada pula yang tengah diperiksa oleh polisi. Kenyataan memprihatinkan itu, menjadi peringatan bagi gerakan CU, terutama yang berada di manajemen. “Tidak boleh ada penyalahgunaan serupiah pun dalam gerakan CU. Akan ketahuan, sebab setiap awal tahun ada program, dan akhir tahun dievaluasi – dipertanggungjawabkan. Tidak boleh melakukan sesuatu secara tiba-tiba di tengah jalan tanpa diprogramkan,” tegas Edi.

Tugas pengurus, memastikan keberlanjutan gerakan CU melalui tata kelola yang sehat dan terintegrasi untuk meningkatkan kualitas anggota. Baik pengurus Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), Puskopdit, maupun CU primer harus memastikan bahwa CU harus berkelanjutan. Sangat berdosa, sungguh berdosa jika CU hanya seumur jagung. Yang kita inginkan CU berkelanjutan, esok, lusa, dan selama-lamanya. Kuncinya satu, melakukan tata kelola eksternal, tata kelola internal dan tata kelola individu secara baik. Dengan melakukan tata kelola terintegrasi, dan secara bersama-sama akan melahirkan sistem CU yang baik, orang-orangnya juga baik. Kalau sistemnya sudah tertata, siapa pun jadi pengurus – manajemen, harus mengikuti sistem tersebut.

Gerakan CU saat ini menghadapi sejumlah tantangan berat. Yang terbesar di internal gerakan CU sendiri, yaitu bagaimana menerapkan tata kelola CU secara konsisten. Walau sejauh ini dikatakan sudah baik, namun harus terus diperbaiki. “Contoh,” kata Edi Petebang, “indikator tata kelola per 31 Desember 2018 sekitar 70% CU yang ada di gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan belum standar menurut Pearls. Untuk CU Bonaventura sudah ada 6 yang ideal menurut standar Pearls. Walau masih ada 8 yang belum ideal, namun sudah dalam kategori cukup baik dan sehat.”

Tantangan internal itu, misalnya, terkait kredit lalai (KL) masih cukup tinggi. Di gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan KL-nya masih sekitar 18%. Oleh gerakan CU telah disepakati bahwa KL adalah silent killer – pembunuh berdarah dingin. Kalau tidak dikelola dengan baik, pelan-pelan KL akan mematikan CU. Diakui, CU Bonaventura KL-nya baru mendekati 1 digit, masih sekitar 11%. Pengurus, pengawas, dan manajemen sudah bekerja keras, sehingga hasilnya lebih baik dari tahun sebelumnya. Diharapkan tahun buku 2019 KL CU Bonaventura akan menjadi 1 digit – di bawah 10%.

Tanpa menyebut nama CU, menurut Edi, ada beberapa CU anggota Puskopdit BKCU Kalimantan yang tata kelolanya sangat baik, misalnya, ada 3 CU yang KL-nya di bawah 1%, dan ada 5 CU KL-nya di bawah 5%. Namun ada juga 4 CU yang mendapatkan SHU minus. Untuk menekan KL, sekaligus menyelamatkan gerakan credit union 43 anggota Puskopdit BKCU Kalimantan telah menyepakati kebijakan tepat waktu tepat jumlah (TWTJ) sebagai gerakan bersama.

Kadang, orang yang tidak tahu CU termasuk anggota yang belum paham, sering mengatakan; CU KL-nya tinggi tetapi bisa RAT di tempat bagus, bisa bayar gaji pegawai, dan bisa membuat berbagai kegiatan. Kenapa? “Salah satu sebabnya, di CU penghitungan KL berdasarkan TWTJ. Berbeda dengan lembaga lain, bank misalnya, orang bisa bayar bunga saja, bayar pokok bisa nanti-nanti. Tetapi di CU tidak bisa. Kalau hanya dibayar jasanya saja, pokoknya tak dibayar, dianggap lalai. Apalagi kalau keduanya tak dibayar. Dulu CU juga tidak begitu memperhatikan TWTJ. Namun sejak 2 tahun terakhir, di gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan menghitungnya harus tepat waktu tepat jumlah – TWTJ, tidak boleh dikurang-kurangi,” tegas Edi.

Tantangan internal lain, kata dia, kredit beredar masih relatif rendah. Standar ideal kredit beredar adalah 70% – 80%. Namun, jika dirata-rata saat ini masih belum ideal. Pertumbuhan jumlah anggota juga masih rendah, komitmen pengurus dan pengawas belum dijalankan maksimal, pemahaman aktivis terhadap gerakan dan rasa memiliki juga belum baik. “Yang memprihatinkan, di beberapa CU masih ada klik-klik kecil antarpengurus maupun antarmanajemen,” jelas Edi.

Sedangkan tantangan eksternal, di antaranya; Kondisi perekonomian global diperkirakan melambat beberapa tahun ke depan. Pemerintah sendiri hanya mampu mentargetkan pertumbuhan ekonomi 5,1%. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Hal itu juga berdampak pada CU dan sektor-sektor riil lainnya. Tantangan berikutnya, karena harga komoditas petani; karet, sawit, dan produk-produk lain anjlok, berkontribusi turunnya tabungan anggota CU, dan tingginya KL. Di beberapa daerah yang andalan utamanya karet dan sawit, KL-nya meningkat.

Tahun 2019 adalah tahun politik. Diharapkan, siapa pun yang terpilih menjadi presiden, pemerintahannya akan pro ekonomi kerakyatan, pro koperasi. Informasi dari Kementerian Koperasi dan UKM, target DPR sekarang sebelum masa sidang berakhir akan mengesahkan Undang-undang (UU) Koperasi yang baru. Semoga UU yang baru nanti tidak bertentangan dengan spirit dan semangat koperasi.

Memberdayakan generasi milenial sebagai pemilik masa depan bangsa dan negara juga menjadi tantangan yang tidak mudah. Sebagian dari generasi milenial itu telah menjadi orang kaya. Menurut data di pasar modal, sekitar 26% investor generasi milenial, anak-anak yang muda. Di Puskopdit BKCU Kalimantan juga telah menyiapkan sejumlah upaya, di antaranya telah meluncurkan aplikasi untuk memudahkan anak-anak muda berhubungan dan bertransaksi dengan CU melalui HP androidnya.

Revolusi industri generasi 4.0 dan finansial teknologi (fintech). Revolusi industri 4.0 sudah datang, dan tidak mungkin kita menghindarinya. Ciri khasnya internet of tink dan artificial inteligent. Segala sesuatu akan berkaitan dengan internet. Ada kecerdasan-kecerdasan buatan. Robot-robot akan menggantikan pekerjaan manusia. Data dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan diperkirakan tahun 2025, sekitar 70% Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) akan disokong oleh teknologi berbasis IT. Di beberapa daerah sudah system e-budgeting, sehingga orang akan lebih mudah mengontrolnya.

Dari berbagai study internasional memprediksikan dalam 4 tahun ke depan akan tersedia 133 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia dari perkembangan teknologi. Namun di sisi lain akan terjadi pengangguran sekitar 7 juta orang karena pekerjaannya diambil oleh internet, diambil oleh robot. Di CU pun akan terkena dampak, misalnya, akan hilang pekerjaan tukang pos, kasir bank, agen asuransi, dan sebagainya. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *