Uang Itu Tidak Ada Agamanya

Di luar wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), kiblatnya pengembangan Credit Union (CU) di Indonesia, CU yang memiliki aset Rp 40 miliar sudah termasuk CU besar kelompok atas. Tetapi sangat berbeda di bagian barat pulau terbesar di Indonesia ini, CU dengan aset Rp 40 miliar lebih, seperti CU Stela Maris, Siantan, Pontianak, Kalbar, yang dua periode kepengurusan (6 th) terakhir dipercayakan kepada Marsianus Ami, masih dalam kelompok menengah.

Sejak kepengurusan tidak ada lagi istilah panitia, seperti panitia pendidikan atau panitia kredit, dan langsung diserahkan ke manajemen – pengelola perkembangan CU pada umumnya lebih cepat. “Ketika masuk di jajaran pengurus, sebagai sekretaris kami mulai membenahi hal-hal yang merupakan tanggung jawab pengurus, termasuk model surat-surat keputusan, tanggung jawab yang harus terbagi antara pengurus – pengawas – manajemen,” tutur Ami, begitu biasa dipanggil, membuka perbincangannya dengan wartawan Majalah UKM di salah satu hotel berbintang di pusat bisnis, Kota Pontianak, beberapa waktu silam.

Pada periode kepengurusan pertama, kata dia, masih mengalami banyak hambatan, terutama masalah fasilitas. Karena gedung kantor masih sangat sederhana, untuk melaksanakan fungsi dan tugas kepengurusan – pengawas – manajemen sering agak berbenturan dalam pelayanan lantaran dibatasi oleh kondisi ruangan yang sangat sempit. Waktu itu, kantornya masih di lingkungan gereja, dan menempati tempat tinggal pastor. Memasuki periode kedua sebagai ketua, atas desakan manajemen dan usul anggota ketika melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dicarilah gedung yang lebih representatif.

Asumsi dasarnya, banyak orang yang mungkin tidak yakin kantor kecil seperti “gubug” mengelola uang miliaran. Pengurus berpikir, mungkin berbanding lurus kalau gedungnya bagus, kepercayaan anggota – masyarakat besar, maka pertumbuhan CU semakin pesat. “Masuk periode kedua, kami mencari lokasi yang setrategis, dan dipandang representatif,” jelas Ami. Awalnya, kata dia, ingin lokasi di lingkungan gereja. Pendekatan dengan pihak Uskop untuk minta izin membangun di lokasi tanah milik gereja pun dilakukan. Tentu harus ada perjanjian dengan pihak keuskopan, setelah sekian tahun digunakan kantor CU gedung itu diserahkan sepenuhnya ke pihak gereja, menjadi aset gereja.

“Meniru seperti yang dilakukan CU Lantang Tipo di Sanggau. Mereka modelnya kerja sama dengan keuskopan, kemudian dibuat perjanjian dalam beberapa tahun gedung itu dipakai oleh CU, akhirnya pada tahun tertentu diserahkan sepenuhnya kepada gereja sebagai aset. Gedung utama CU Lantang Tipo di Pusat Damai, seperti itu. Kami mau meniru Lantang Tipo,” urai Ami. Awalnya, lanjut dia, Uskop menyuruh membuat proposal, model MoU, kesepakatan. Menjelang pergantian tutup tahun buku, belum terjawab, dan baru terjawab pada Januari 2 tahun silam dikatakan; tidak bisa. Akhirnya diputuskan mencari kantor, syaratnya masih dekat gereja. Tujuannya untuk mengakomondir anggota yang akan setor tabungan atau membayar kewajiban lainnya tanpa menggunakan transport lagi sehingga dapat menghembat biaya. Karena hari minggu pelayanan kepada anggota tetap dilaksanakan. Akhirnya dapat gedung berlantai 4 yang lokasinya tidak jauh dari gereja.

Setelah memiliki kantor cukup representatif mulailah membagi fungsi dan tugas tugas dari masing-masing elemen dengan menempatkan ruang pengurus, pengawas, ruang rapat, dan manajemen. Dengan begitu agak mudah melaksanakan hal-hal yang mungkin bersamaan dengan tugas manajemen. Misalnya pengurus mau mengadakan rapat pagi atau siang tidak mengganggu kegiatan kerja manajemen.

Meski kantor tidak di area gereja, hari inggu tetap buka. Di Kota Pontianak ini menjadi unik. Ada sejarahnya. Awalnya, kantor hanya buka 1 hari, Minggu. Tujuannya hanya untuk pelayanan umat Paroki. Dengan kata lain, ketika CU Stela Maris didirikan 1995, insklusif, anggotanya hanya umat Katolik. Karena itu perkembangannya lamban. Dari 1995 – 1997 jumlah anggotanya hanya 207 orang. Melihat perkembangannya sangat lambat, pengurus melakukan evaluasi. Akhirnya hari kerja ditambah, Sabtu dan Minggu. Seminggu 2 hari kerja berjalan kurang lebih 1 tahun. Dengan 2 hari kerja, dan mulai membuka pintu untuk umat lain, Kristen Protestan. Wilayah kerjanya juga diperluas dari Paroki, lalu se-Kota Pontianak. Ada perkembangan, tetapi tidak cukup signifikan, hanya sekitar 100 orang.

Melihat perkembangan jumlah anggota tidak cukup menggembirakan, dievaluasi lagi, apa yang salah? “Dilihat dari azas CU memang ada yang dilanggar. Salah satu membatasi orang. Artinya membatasi agama, membatasi suku termasuk di dalamnya, kata Ami. Misi dan cita-cita pendiri CU Frederich Wilhem Refeisien, seorang Walikota di Jerman, CU untuk semua orang, tanpa sekat suku, agama atau golongan. Akhirnya, kata Ami, pola tersebut diubah. Intinya, siapa pun yang berkehendak baik ingin sama-sama bergotong-royong, direrima menjadi anggota.

Melalui CU bisa saling belajar, saling bantu, saling percaya, saling berbagi, saling meneguhkan, saling peduli, saling bekerja sama, saling memberi dan bersolider satu dengan yang lain. Semangatnya; Anda susah saya bantu, saya susah Anda bantu, bergotong-royong mewujudkan kesejahteraan bersama yang berkeadilan. Sehingga pada akhirnya CU menjadi mitra dalam membangun masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan terutama merubah sikap dan mental agar masyarakat lebih bermental positif.

Setelah membuka tirai, dari fase insklusif Katolik, lalu fase insklusif keluarga Kristen selama 9 tahun, kemudian tahun 2005 terbuka untuk siapa saja yang mau berkehendak baik. Ketika mulai membuka pintu untuk umum, petugas lapanganlah yang mengorganisir – mengumpulkan orang, apakah di tempat Pak Rt, Pak Rw, di suro sekalipun atau di tempat pengajian. Juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Di kelompok pengajian, misalnya, siapa ibu-ibu atau bapak-bapak yang berpengaruh didekati secara personal, kemudian pengurus datang memberikan informasi tentang CU, dan manfaatnya ber-CU. Juga juga cukup efektif, menggunakan orang yang sudah cukup lama menjadi anggota, dan sedikit sukses dibandingkan yang lain. Apalagi kalau dia Muslim, lalu memotivasi sesama seiman, dan bercerita tentang kesuksesannya, dampaknya cukup besar.

Ketika sosialisasi itu, kadang memang banyak pertanyaan yang mengarah ke hal-hal sensitif, misalnya, soal kristenisasi. “Kami katakan, kami tidak akan pernah mengkristenkan orang yang menjadi anggota CU. Boleh kita berbeda agama, uang tidak ada agamanya. Kalau ada yang tidak yakin bahwa kami bisa mengelola uang Bapak – Ibu, dan andai kata mendengar desas-desus bawa uang itu digunakan untuk kepentingan gereja, silahkan ambil semua uang Bapak – Ibu, dan berhenti jadi anggota CU. Kadang juga ada yang tanya, kenapa pengurusnya hanya dari orang Katolik atau Kristen? Menjawabnya gampang-gampang susah. Kami menjawabnya, kebetulan mereka sudah mengenal CU lebih lama, punya kapasitas jadi pengurus, dan dipilih oleh anggota,” urainya panjang lebar.

Setelah terbuka untuk umum, perkembangannya sangat signifikan. “Pada tahun pertama yang bergabung menjadi anggota lebih dari 1000 orang. Sampai sekarang tidak ada masalah. Sebelum pindah ke kantor baru, setiap minggu ada pemandangan unik, banyak orang pakai jilbab masuk lokasi gereja. Tetapi mereka hanya bertransaksi, menabung atau mengangsur pinjaman.  Karena perkembangan jumlah anggota pesat, rata-rata 100 anggota baru per bulan, butuh pelayanan lebih baik. Karena itu pengurus segera mencari kantor yang lebih layak, lokasinya tidak terlalu jauh dari gereja.

Terkait dengan keanggotaan, anggota Stela Maris, bukan semua anggota biasa, tetapi ada anggota luar biasa, anak-anak yang simpanannya masih dipenuhi oleh orang tua atau walinya. Anggota itu menabung bukan dari pendapatannya sendiri, tetapi oleh orang tuanya dibiasakan untuk belajar menabung. Jumlah anggota CU Stela Maris saat ini kurang lebih 4500-an. Menurut kreteria Kementerian Koperasi dan UKM, artinya Stela Maris termasuk koperasi besar, karena anggotanya lebih dari 1000 orang, dan asetnya juga lebih dari Rp 10 miliar.

Ketika Ami dikepercayaan sebagai ketua, kondisi lembaga dan kondisi usahanya berkembang alamiah – apa adanya. Hal itu dikarenakan sumber daya manusia (SDM) baik di kepengurusan maupun di manajemen masih kurang. “Setelah dipercaya sebagai ketua, ketika menerima pegawai baru diseleksi, mulai tingkat pendidikan, kepribadian dan sebagainya. Demikian pula ketika pemilihan pengurus ada persyaratan tersendiri. Calon pengurus harus punya integritas, dan mampu apa saja. Yang memenuhi kreteria dipersilahkan mencalonkan diri untuk dipilih. Soal dipilih atau tidak, terserah pada anggota,” jelas Ami.

Sesuai Anggaran Dasar – Anggaran Rumah Tangga (AD – ART), kata Ami, kalau sebagai ketua maksimum dua periode. Apa pun yang terjadi, setelah dua periode sebagai orang yang taat pada hukum – aturan lembaga, tidak akan mencolonkan lagi. Kecuali dia bukan sebagai pengurus lagi, misalnya, sebagai pengawas boleh. Tetapi juga harus mencalonkan diri dan bertarung seperti yang lain, tidak bisa otomatis jadi pengawas. Karena mengelola CU tidak seperti mengelola organisasi biasa, orang lama tidak boleh diganti semua. Menurut standar BKCU Kalimantan 60% masih orang lama, yang diganti orang baru hanya 40%. Hal itu dimaksudkan untuk pengkaderan secara berkesinambungan. Kalau semua diganti, rohnya bisa putus.

Ketika melakukan revitalisasi lembaga, kata Ami, hambatan itu tetap ada. Khususnya terkait SDM, sangat tergantung pada manusianya sendiri. Mengelola orang, kalau orangnya mau cepat berubah sesuai yang diinginkan dan ingin cepat mengikuti perkembangan zaman, gampang. Tetapi ada juga orang-orang tertentu yang sulit mengubah sikap dirinya, karena sudah menjadi kebiasaan lama dan menjadi karakter, sehingga tidak bisa segera memenuhi keinginan lembaga. “Mengubah karakter orang itu tidak mudah,” tegas Ami.

Kemudian kesulitan lain, lanjutnya, adalah masalah waktu. Karena para pengurus itu bekerja di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara di CU tidak mendapatkan gaji, sehingga mencari waktu yang tepat di antara pengurus untuk rapat saja, misalnya, sulit. Mensiasatinya, pertemuan – rapat diadakan pada malam hari. Bahkan, rapat lebih banyak pada malam hari, mulai pukul 19.00 selesai pukul 00.00. Hambatan financial tidak ada karena sudah dialokasikan sesuai program kerja pengurus. Terkait dengan financial, kebijakan lembaga hanya diperbolehkan pinjam uang ke jejaring, CU primer ke CU skunder – Puskopdit, dan Puskopdit ke Inkopdit,  tidak boleh pinjam uang ke perbankan.

Meskipun telah dilakukan revitalisasi lembaga, termasuk revitalisasi manajemen, Ami mengakui, perkembangan CU Stela Maris cukup berarti, tetapi tidak seperti CU lain yang melakukan ekspansi – membuka area baru. Mungkin di area – wilayah tersebut orang sudah mengenal CU, tetapi belum menjadi anggota. Sehingga ketika ada CU yang melakukan sosialisasi – promosi, mereka tertarik masuk menjadi anggota. Stela Maris, kata Ami, belum melakukan ekspansi ke daerah secara serius. Yang dilakukan, sosialisasi dan promosi dekat dengan pusat. Pertimbangannya, CU lain juga melakukan ekspansi di daerah yang sama. “Kami melihat etika. Apalagi SDM Stela Maris juga masih terbatas” jelas Ami, seraya menambahkan bahwa SDM di manajemen, dari OB sampai manajer baru 19 orang.

Dengan jumlah SDM yang belum genap jari tangan dan jari kaki harus melayani 4.500-an anggota dan mengelola aset lebih dari Rp 40 miliar, bisa dikatakan luar biasa. Apalagi sebagian terbesar anggota adalah dari kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang sangat memerlukan pelayanan untuk kebutuhan primer, seperti untuk beli rumah atau membangun rumah, beli kendaraan. Masih sedikit sekali anggota yang mengajukan pinjaman untuk kegiatan produktif, misalnya, untuk buka usaha – dagang. Anggota yang paling banyak kerja serabutan. Ada yang jadi tukang bubut, tukang bangunan, petani penggarap – buruh tani, penjual sayur-sayuran, penjual bakso, pedagang kaki lima. “Ada yang mengembangkan modal kelas menengah, tetapi tidak banyak. Anggota yang jadi karyawan, baik pegawai negeri sipil (PNS) atau karyawan swasta yang punya penghasilan tetap, sangat sedikit,” jelasnya.

Pengurus, lanjut dia, mendorong anggota untuk bergerak di sektor-sektor riil. Semakin banyak anggota yang melakukan kegiatan produktif, apakah untuk berjualan atau usaha-usaha lain, misalnya, membangun property. Ada kendala yang sering dialami. Kalau mereka pinjam untuk usaha produktif dangan jumlah pinjaman sesuai standar yang dilindungi Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) – Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Kalimantan, tidak ada persoalan. Tetapi kalau pengembang property yang modalnya miliaran, pengurus berpikir, dan harus hati-hati dalam memberikan pinjaman.

Mengelola lembaga keuangan yang anggotanya tidak punya penghasilan tetap, dan kerjanya serabutan, perlu kiat tersendiri. Yang menjadi modal utama bagi CU, tetap diyakini dan dipercaya, kata Ami, karena ada pendidikan, pendidikan dan pendidikan kepada anggota. Melalui pendidikan, diberikan pengarahan, pencerahan dan motivasi. Dalam memberikan pencerahan dan motivasi kepada anggota, selalu dikatakan bahwa rahasia orang bisa menabung bukan terletak pada seberapa besar uangnya. Uang itu punya nilai filosofi, sedikit bisa cukup, banyak belum tentu bisa cukup.

“Yang terpenting, bagaimana mengelolanya. Contoh, dulu mereka menganggap, menabung itu dari sisa uang yang diperoleh. Sekarang harus dibalik bahwa menabung itu kebutuhan nomor satu – kebutuhan utama. Kalau menabung adalah sisa dari kebutuhan-kebutuhan lain, dalam praktek hidup tidak pernah ada sisa uang. Anggota harus diyakinkan bahwa menabung menjadi kebutuhan nomor satu, dan yang lain bisa diatur. Untuk mengubah pola pikir seseorang memang tidak mudah,” kata Ami.

Caranya, memaparkan prospek tabungan. Kalau menabung sekian ribu per bulan, dalam kurun waktu sekian tahun akan menjadi sekian juta. Dengan asumsi balas jasa masih mampu diberikan oleh CU sekian persen. Bandingkan dengan lembaga keuangan yang lain yang memberikan bunga 4% – 5%, mungkinkah tabungannya akan lebih besar daripada menabung di CU? Dengan menampilkan prospek tabungan, kadang-kadang agak cepat merubah pola pikir mereka. “Kita hidup bukan hanya untuk diri kita saat ini, tetapi juga memikirkan untuk generasi di belakang, anak-anak kita,” tegasnya. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *