UKM Bertarung Merebut Pasar Ekspor

mami bb 014Saat menuju Candi Borobudur, kita akan melewati deretan patung-patung batu di pinggir jalan. Salah satunya hasil karya patung pahatan batu kali dari Studio Kinara-Kinari di Muntilan, Magelang. Studio milik Mas Edy ini sudah dikenal memiliki buyer (pembeli) tidak saja dari dalam negeri, namun juga dari berbagai negara. Studio ini banyak menghasilkan karya patung batu dan aneka patung Budha bersila dari berbagai ukuran yang dikirim ke berbagai penjuru dunia.

Inilah sebuah contoh kegiatan ekspor yang dimotori usaha bisnis rumahan dan usaha kecil menengah (UKM). Kegiatan ekspor memang tak melulu didominasi para pengusaha kelas atas. Dari bisnis rumahan dan usaha kecil bisa pula menembus pasar dunia. Tidak saja hasil karya seni dari batu kali. Namun apa saja yang mudah direspon di pasar internasional asal produk kreatif, khas, berkualitas, dan bernilai jual. Orang mancanegara biasa akan menyukai jenis-jenis kreativitas yang berbau etnik dan unik seperti dari Jogjakarta, Bali, Solo, dan kota lainnya. Termasuk barang kerajinan, tekstil, furnitur, garmen, dan lainnya.

Wirausahawan sejati adalah orang yang berani bersaing dengan kompetitornya dan berani mengambil risiko, termasuk kegagalan. Jangan sekali-kali meremehkan usaha skala kecil. Walaupun skalanya masih kecil, jika dikerjakan secara serius, usaha itu memiliki potensi cerah untuk merambah pasar luar negeri. Dewasa ini, pemerintah begitu gencar mengayomi para pelaku UKM untuk terus berinovasi mengembangkan produknya agar bisa bersaing dengan produk luar. Merebut peluang ekspor merupakan target utama bagi pelaku bisnis UKM.

Modal dasar meraih peluang ekspor mewujudkan rencana besar itu bukanlah perkara gampang. Namun, bukan pula sebuah usaha yang sulit diwujudkan. Syaratnya, harus selalu menjaga kualitas produk. Untuk mencapai syarat-syarat ekspor, harus mau mempelajari kompetitor lain yang sudah merambah pasar luar negeri. Survei pasar hukumnya wajib bagi calon eksportir karena harus tahu kapasitas produksi dengan kuota ekspor yang ditetapkan buyer luar negeri. Selain itu, harus bersedia membuat produk sesuai pesanan pelanggan di luar negeri.

Yang tak kalah penting, gemar mencari dan membina relasi-relasi bisnis. Jangan lupa ikuti selalu ajang pameran-pameran produk UKM, karena di situ merupakan tempat buyer luar negeri berkumpul mencari produk lokal untuk dijual di pasar internasional. Aneka bisnis UKM yang berorientasi ekspor banyak sekali contoh yang berhasil merambah pasar internasional. Produk dari UKM, seperti produk craft, yang mencerminkan lokalitas biasanya disukai pasar luar negeri.

Pertanyaannya; betulkah kegiatan mengekspor barang itu sulit dan ribet? Pada prinsipnya kegiatan jual beli lintas negara ini sama seperti kegiatan transaksi konvensional. Hanya saja, kita perlu mengenali seluk-beluk regulasi dan dokumen ekspor dalam bahasa Inggris. Inilah tugas dari marketing ekspor; dari menggaet buyer, mempromosikan produk, mengirim, hingga lakukan layanan lainnya.

Mengenai alur kerja marketing ekspor, dipaparkan Teresa Soetaryo dalam bukunya Sukses Ekspor, Cara Jitu Tembus Pasar Dunia. Teresa mengisahkan cara berkarier di marketing ekspor dari step by step alur ekspor, cara negosiasi, hingga layanan pasca kirim. Ingin tahu lebih lengkap mengenali alur ekspor? Simak dalam buku Sukses Ekspor, Cara Jitu Tembus Pasar Dunia. Buku ini dibuka dengan gambaran produk-produk yang cocok dipasarkan ke luar negeri. Buku ini dilengkapi vocabulary dunia ekspor, seperti bill of lading, packing list, sales contract, dan lainnya.

***

DSCN7396Timur Tengah adalah salah satu pasar non tradisional yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan ekspansi produk asal Indonesia. Kita mempunyai peluang masuk ke pasar Timur Tengah melalui Dubai, Uni Emirat Arab. Produk asal Indonesia seperti busana muslim serta produk manufaktur untuk konsumsi sehari-hari seperti makanan olahan menjadi produk-produk yang sangat potensial dan bisa diterima di negeri Timur Tengah. Memang, produk Indonesia masih kalah dibandingkan dengan produk asal Malaysia dan Singapura, akan tetapi variannya sangat terbatas.

Produk dari Malaysia dan Singapura kebanyakan manufaktur biasa. Masih sangat kurang untuk busana muslim, makanan olahan, produk perikanan. Di Timur Tengah ikan dari Laut Mediterania, jenisnya tidak variatif. Yang ada kayak ikan gabus semua. Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi produk laut yang belum digarap maksimal. Hasil laut, seperti ikan tuna, cakalang, dan lobster, merupakan komoditi ekspor andalan selain migas. Ada beberapa pengusaha UKM yang berhasil mengekspor produk olahan laut, seperti filettuna dan udang beku, ke pasar Jepang dan Korea.

Kedua negara itu merupakan konsumen utama bagi produk laut Indonesia. Kunci sukses agar dapat mengekspor hasil laut ke Jepang dan Korea, yakni higienitas produk harus terjamin, sanitasi kebersihan pabrik benar-benar harus dijaga kebersihannya. Selain harus memperhatikan kesegaran produk, sarana angkutan dari pabrik menuju bandara harus lancar. Untuk mendapatkan semua itu, harus mendaftarkan produk ke badan POM untuk diteliti kandungan gizinya.

UKM akan sangat diuntungkan dengan pemasaran ke Dubai, karena di sana pengapalan hingga penyimpanan gudang cukup membayar biaya jasa, tanpa dikenai pajak atau bea masuk. Kecuali, bila perusahaan tersebut ingin memasarkan barang jadi ke pasar UEA, baru dikenai pajak final 6%. Itupun beban yang lebih murah dibanding pasar benua lain. Karena di Dubai tidak dihitung bea masuk per kompenen, sangat cocok bagi UKM kalau kita berpikir ingin mengembangkan investasi – membangun usaha hilir di Dubai untuk kepentingan ekspor.

Selain busana muslim, yang sudah cukup dikenal di pasar internasional, UKM Indonesia yang tertarik ke Negeri Para Emir itu perlu juga memikirkan penjualan produk halalan Thayiban. Maksudnya, adalah produk-produk olahan yang dihasilkan dari produk yang tersertifikasi dan jelas muasalnya. Selama ini baru produk halal, sekarang harus masuk juga thayiban. Kita jual furniture, misalnya, kayunya harus tersertifikasi, bukan barang curian. Kebutuhan seperti itu besar di negara Timur Tengah, terutama furnitur. Beberapa produsen mebel anggota Koperasi Industri Kayu dan Mebel (KIKM) telah melakukan ekspor tidask langsung ke Timur Tengah. Disebut ekspor tidak langsung karena yang beli ke Klender, pusat industri mebel di Jakarta Timur pengusaha dari Timur Tengah, kemudian dijual di negaranya.

Bisnis furniture tidak akan pernah surut karena furniture merupakan salah satu kebutuhan utama untuk mengisi rumah hunian. Bisnis furniture reproduksi adalah usaha membuat mebel bergaya antik atau klasik art deco dengan kayu bekas sebagai bahan utamanya. Bahan kayu ini biasanya diambil dari bongkaran rumah tua dan tiang listrik peninggalan Belanda yang dulu memakai kayu ulin dari Kalimantan. Di Yogyakarta, banyak sekali sentra produksi mebel reproduksi dan rata-rata mereka sudah berhasil menembus pasar Eropa dan Amerika yang terkenal selektif akan kualitas produk. Kunci sukses agar menembus pasar internasional adalah mereka bekerja sama dengan pemilik show room atau art shopdi Bali untuk sekadar mendisplay barangnya di sana.

Perlu diketahui, Bali merupakan pintu utama untuk mengenalkan produk lokal ke orang asing. Bali adalah pusat pariwisata yang banyak dikunjungi oleh orang asing.

Berdasarkan laporan States of Global Islamic Economy 2013-2014, 2014 -2015 dan 2015-2016, belanja Muslim untuk makanan minuman halal dan gaya hidup (fashion, wisata, obat, kosmetik, media dan rekreasi) mencapai 1,62 triliun dolar AS pada 2012, dua triliun dolar AS pada 2013 dan turun menjadi 1,8 triliun dolar AS pada 2014. Untuk makanan dan minuman halal saja, nilainya mencapai 1,088 miliar dolar AS pada 2012, 1,081 miliar dolar AS pada 2013 dan meningkat 4,3 persen menjadi 1,128 miliar dolar AS pada 2014. Nilai belanja makanan dan minuman halal pada 2014 itu setara 16,7 persen dari total belanja global untuk makanan dan minuman dan nilainya diprediksi akan mencapai 2,6 triliun dolar AS pada 2020. Selama tiga tahun berurut itu pula, Malaysia jadi indikator terdepan dalam produksi makanan halal dan jadi tujuan utama wisata halal. Sementara konsumen makanan dan minuman halal terbesar adalah Indonesia, Turki, Pakistan dan Mesir.

***

Meski sebagian negara-negara Timur Tengah terutama anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengurangi subsidi, peluang ekspor produk halal Indonesia ke sana masih terbuka. Di tengah harga minyak yang masih lesu, ekspor Indonesia memang mendapat tantangan, apalagi Indonesia sedang mencari pasar baru termasuk Timur Tengah, terutama GCC. Negara-negara pengekspor minyak seperti Arab Saudi, Bahrain dan Qatar sudah defisit APBN serta mulai mencabut beberapa subsidi bagi masyarakat. Itu bisa jadi berpengaruh, tapi belum signifikan. Ekspor Indonesia ke OIC baru 12 persen, kalau ada guncangan, dampaknya tidak terlalu besar.

Mengacu pada laporan States of Global Islamic Economy 2015-2016 terbitan Thomson Reuters, Pusat Ekonomi Islam Dubai dan Dinar Standard, konsumsi makanan dan minuman halal masih terus tumbuh positif dengan rata-rata 12,8 persen per tahun. Meski ekonomi negara lesu, pemerintah negara-negara GCC pasti akan menjaga daya beli. Terlebih di sana belum ada pemberhentian pekerja secara masif meski subsidi dikurangi. Dengan pendapatan tinggi, US$ 102 ribu per tahun di Qatar, misalnya, daya beli mereka masih bagus. Subsidi berkurang pun masih terjangkau untuk mereka. Ditambah bantuan sosial negara, daya beli masyarakat GCC tidak trurun signifikan.

Peluang menarik turis halal masih terbuka. Belanja warga GCC untuk berwisata juga tidak berkurang. Hal ini menjadi indikator relatif tahannya masyarakat di sana walau ekonomi nasionalnya melambat. Krisis itu ada di pemerintah dan rakyat dijaga daya belinya dengan menjaga kestabilan harga. Berhadapan dengan defisit APBN, pemerintah negara-negara GCC memanfaatkan cadangan devisa dan menarik investasi di luar. Sehingga beban tidak sepenuhnya dilimpahkan kepada rakyat. Yang jadi soal kalau konflik di beberapa negara Timur Tengah masuk ke GCC. Selama itu tidak terjadi, masih ada peluang buat Indonesia menarik wisatawan dari sana. Ini  juga momen untuk menawarkan produk halal Indonesia yang mengandalkan sumber daya domestik seperti agribisnis dan kelautan yang modalnya rupiah.

Kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Emirat Arab selama ini masih sangat minim. Nilai ekspor langsung ke negara teluk itu cuma US$1,09 miliar tahun lalu. Selain itu, baru tiga perusahaan yang membuka kantor operasi di Otoritas Zona Bebas Jebel Ali (JAFZA) Dubai. Kerja sama itu bisa lebih besar lagi, bukan dari perdagangan langsung, tapi melalui pembukaan kantor cabang ekspor perusahaan asal Indonesia. Kalau ekspor kurang signifikan, karena JAFZA atau UEA bukan negara tujuan ekspor langsung. Mereka tujuannya memang untuk singgah sebentar sebelum ekspor.

Dubai ini zona pemrosesan seperti Batam, sudah ada jaringan kargo udara hampir ke seluruh dunia. Bahkan, semua kota Amerika dia bisa masuk kecuali Miami. Kereta api juga ke seluruh jazirah Arab. Afrika juga terhubung dari Dakkar, Maroko, sampai Afrika Selatan. Selain itu posisinya juga di tengah, sehingga pengiriman barang lewat udara cuma 8 jam. Kadin Indonesia berencana untuk melakukan penjajakan serius atas tawaran Otoritas JAFZA. Anggota Kadin yang membutuhkan pusat pengapalan bakal tertarik memanfaatkan layanan di Dubai. Begitu pula perusahaan logistik atau pergudagangan yang mencari kontraktor untuk mendirikan gudang di Timur Tengah atau Afrika.

Kementerian Perdagangan juga optimistis ekspor Indonesia ke wilayah non tradisional akan menggeliat. Ini seiring dengan pertumbuhan ekspor produk nonmigas. Promosi yang dilakukan secara gencar di Amerika Latin dan Afrika mulai menampakkan hasil dan dalam dimensi mereka masing-masing cukup baik. Memang, kinerja ekspor ke negara-negara tersebut masih fluktuatif setiap bulan. Meski demikian, kontribusinya terhadap total ekspor nasional meningkat walaupun relatif kecil. Belum ajeg (kinerja ekspor), masih ada dinamika dengan new emerging.

Pangsa pasar di negara-negara non tradisional masih di bawah 20% dari total ekspor. Berdasarkan data Kemendag, ekspor non migas ke negara-negara non tradisional mengalami penurunan sebesar 1,05% dari US$19,29 miliar menjadi US$19,08 miliar. Kontribusi ekspor nonmigas Indonesia ke pasar non tradisional berdasarkan kawasan ialah Asia sebesar 25,12%, Afrika 21,34%, Timur Tengah 19,03%, Amerika Latin 13,71%, Eropa Tengah dan Timur 12,73%, Eropa 5,81%, Australia dan Oseania 2,02%, dan Amerika lain 0,24%.

Direktorat Eropa Tengah dan Timur (Dit. ETT) Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM mendorong pengusaha lokal untuk melakukan ekspor ke kawasan Eropa Tengah dan Timur karena peluang yang cukup besar. Ada 22 negara di Eropa Tengah dan Timur merupakan untapped market yang masih terbuka peluangnya untuk digarap. Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan RI total nilai perdagangan RI dengan kawasan Eropa Tengah dan Timur pada tahun 2015 mencapai USD. 5,17 miliar. Komoditas Indonesia yang dibutuhkan oleh kawasan Eropa Tengah dan Timur antara lain CPO, karet alam, rempah-rempah, kopi, teh dan cokelat. (amira)

***

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to UKM Bertarung Merebut Pasar Ekspor

  1. Shifa nur janah says:

    Ukm Bakso mercon hj Rina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *