UKM Perlu Dukungan, Indonesia Makin Atraktif Bagi Investor

Tumpuhan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar adalah dari sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) supaya level konsumsi tetap terjaga tinggi. Karena UMKM sektor yang tidak sensitive terhadap pelemahan ekonomi global, dan basis usahanya di sektor konsumsi primer.

Karena itu meskipun semuanya sudah mahfum indentifikasi diprioritaskan dulu persoalan-persoalan UMKM. Paling tidak terkait dengan keterbatasan akses modal usaha, penyediaan bahan baku, kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi (untuk saat ini soal digitalisasi yang infonya baru sekitar 5%) dan pasar baik domestik maupun global. Dengan pisau analisis tertentu, setelah diprioritaskan Kementerian Koperasi dan UKM bisa segera tancap gas.

Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997 – 1998, peran UMKM tercatat dengan baik dalam ingatan publik sebagai sektor yang tangkas dan tangguh. Di tengah gejolak ekonomi global saat ini peran UMKM tetap diandalkan untuk menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian.

Pelemahan ekonomi global hendaknya semakin menguatkan political will – kebijakan kepada sektor Koperasi dan UMKM. Sebaliknya, pelaku koperasi dan UMKM juga harus cepat memanfaatkan momentum ini dengan berbenah diri, dan merapatkan barisan agar kekuatannya menyatu. Sebuah kata mutiara mengatakan; “Keberuntungan tidak pernah datang untuk kedua kali…”

Presiden Joko Widodo saat memperkenalkan jajaran Kabinet Indonesia Maju menyampaikan tugas Menteri Koperasi dan UKM untuk membawa UMKM ke tingkat global. Mengacu pada visi misi Presiden, Kemenkop menyiapkan sejumlah langkah untuk mengembangkan Koperasi dan UMKM di Tanah Air. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki kemudian menyampaikan roadmap – peta jalan pengembangan Koperasi dan UMKM tahun 2020 – 2024, dan ada 5 target yang hendak dicapai, yakni; kenaikan ekspor UMKM, kontribusi UMKM terhadap pendapatan domestik bruto (PDB), rasio kewirausahaan dan UMKM naik kelas. Menteri tidak boleh punya visi sendiri. Sekarang, visi menteri adalah visi Presiden.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 62,58%. Artinya UMKM menjadi elemen penting penggerak utama perekonomian nasional. Kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja serta menekan angka kemiskinan merupakan dua hal penting usaha di sektor ini patut didukung penuh. UKM di Indonesia berpotensi besar menjangkau pasar global. Karena itu UKM didorong untuk tumbuh menjadi kian modern dan masuk ke pemapasaran dalam jaringan. UKM diharapkan masuk pasar global dengan produk yang spesifik. Produk kerajinan tangan berkualitas diyakini bisa menjadi kekuatan Indonesia.

Sebagai latar belakang situasi perekonomian global sedang kurang baik. Di sisi lain selama ini UMKM menjadi andalan dalam menyerap tenaga kerja. Terkait hal ini Presiden berharap UMKM tidak stagnan, harus naik kelas. Produk-produk UMKM harus mampu menembus pasar ekspor selain berkompetisi di pasar dometik. Ada beberapa tantangan yang harus diatasi, mulai dari standar produk, kelembagaan, pembiayaan, dan sebagainya. Semua harus dilakukan oleh Kemenkop dan UKM.

Sesuai arahan Presiden, Menkop dan UKM pun melakukan pembicaraan dengan Otoritas Jasa Keuangan OJK, Gubernur Bank Indonesia, dan Menteri Keuangan. Secara bertahap Menkop dan UKM akan melakukan pembicaraan dengan bank pelaksana, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Skema khusus dibutuhkan pelaku UMKM yang masih mengalami masalah kelembagaan. Kemenkop juga seeding mencari terobosan, yakni melalui kemitraan dengan usaha-usaha besar.

Harapannya pelaku UMKM tidak kesulitan dalam pembiayaan karena ada penjamin. Jadi, pembiayaan tidak boleh hanya bagi-bagi begitu. Sejak awal sudah harus masuk dalam skema pembiayaan yang komersial. walaupun untuk yang kecil-kecil tentu harus ada skema pembiayaan khusus. Hal paling penting, kita juga harus mulai menumbuhkan bibit-bibit UMKM skala dunia, termasuk dalam penerapan teknologi tinggi.

Melihat pertumbuhan sangat menggembirakan, melalui berbagai kementerian pemerintah menyedian program-program pendampingan kepada UMKM agar segera dapat naik kelas. Sejalan hal tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBk terus menunjukan komitnya menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, dan terus mendorong pertumbuhan UMKM melalui Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini tercatat sebanyak 328.810 UMKM menjadi anggota di 54 RKB. Bank BRI juga mengakselesari pelaku UMKM agar go modern, go digital, go online, dan go global sehingga tercipta digital economy esosytem.

Secara berkala Bank BRI melakukan berbagai pelatihan dan pendampingan bagi UMKM. Melalui program BRI Incubator tercatat sebanyak 3.994 pelatihan dilakukan oleh RKB. Anggota RKB BRI juga mendapatkan akses memperluas pasar secara daring melalui blanja.com dan Indonesia Mall. Dalam rangka HUT ke-124 Bank BRI menyelenggarakan program pelatihan bagi 10.000 UKM. Diharapkan pelatihan itu dapat meningkatkan kapabilitas UMKM, sekaligus mendorong pelaku usaha dapat go global.

Pameran yang digelar selama 3 hari itu tujuan utamanya mempertemukan pengusaha UMKM dengan pembeli potesial dari luar negeri. Ada 155 UMKM dan 74 calon pembeli potensial dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Australia dan negara lain dapat bertransaksi langsung dengan para UKM. Bank BRI juga menyalurkan kredit permodalan kepada UMKM, mendorong UMKM naik kelas, melakukan berbagai kegiatan pelatihan, pembinaan, dan program kemitraan.

Pameran UMKM Export BRILian Preneur 2019 yang digelar di Assembly Hall JCC, Jakarta pada 20 – 22 Desember 2019 merupakan salah satu wujud dukungan terhadap UMKM, sekaligus memberikan arti besar bagi pelaku UMKM. Melalui pameran tersebut mereka dapat menunjukan kebolehannya atas karya-karya yang siap diadu dengan produk-produk luar negeri.

Deny Prasetio, pelaku UMKM yang ikut serta pada pameran ini merasa senang karena Bank BRI memberikan sarana untuk terus berkembang. Sebanyak 80% produk yang diciptakan Deny di bawah bendera PT Wirasindo Santa Karya dan bermarkas di Sala, telah diekspor ke sejumlah negara, seperti Clie dan Jepang. Dari sisi material produk yang diciptakan merupakan kolaborasi beragam jenis material, mulai dari kayu, rotan, eceng gondok, hingga pelepah pisang. Itulah kekuatan material yang dimiki Indonesia.

Terkait proses produksi, sekitar 90% handmade dan melibatkan mitra-mitra perajin. Pekerjaan dilakukan secara detail. Dan inilah yang menjadi kekuatan bersaing dengan produk-produk luar negeri. Mahlianor, perajin asal Kalimantan Selatan juga peserta pameran mengaku sudah sekitar 15 tahun membuat keranjinan tangan berupa alat-alat furniture, di antaranya meja lipat, pigura rotan, dan karpet rotan atau yang dikenal dengan sebutan lampit rotan. Meski merupakan usaha rumahan, produk-produk berbahan alami tersebut sudah banyak yang diekspor ke Jepang.


Mengenai modernisasi koperasi, harus menyeluruh mulai penggunaan teknologi, pengorganisasian koperasi yang jumlah anggotanya banyak sehingga lebih efisiean. Di Indonesia cukup banyak koperasi yang anggotanya mencapai puluhan ribu, bankan ada yang 150.000 anggota lebih. Kalau kita melihat perusahaan-perusahaan besar di luar negeri, seperti di Eropa, mereka itu adalah koperasi. Jadi, koperasi harus punya tingkat daya saing yang tinggi. Koperasi mesti lincah bergerak.

Modernisasi koperasi juga mencakup upaya mempercepat gerak koperasi, memperkuat kelembagaan, membangun koperasi dengan usaha produktif, termasuk penggunaan teknologi. Tantangan kita sekarang ada di sisi produksi. Apalagi ekspor kita dalam beberapa waktu terakhir ini turun. Kemampuan produksi harus ditingkatkan kalau mau mendorong ekspor. Kita harus memproduksi barang yang mau dijual, terutama jenis yang banyak dimita dunia.

Banyak potensi produk olahan berbasis kelautan, pertanian, pakaian muslim hingga produk dekorasi rumah seperti mebel. Belum lagi potensi di sektor pariwisata. Pemerintah telah mengindentifikasi permintaan dan menyambungkannya dengan kemampuan UMKM. Jika koperasi juga memiliki kemampuan produksi yang tak kalah dengan perusahaan besar, baik soal kualitas, standar produk, penggunaan teknologi, dan manajemen yang efisien, optimistis perkembangan koperasi ke depan. Pemerintah ingin fokus membenahi dan mengembangkan Koperasi di sektor riil atau produktif.

Di hadapan Kepala Dinas Koperasi dan UKM tingkat provinsi seluruh Indonesia, Menkop UKM menargetkan pada akhir tahun 2020 kontribusi UMKM terhadap eksport meningkat menjadi 18% dari sebelumnya 14%. Begitu juga dengan kontribusi UMKM terhadap PDB Nasional meningkat menjadi 61% dan rasio kewirausahaan menjadi 3,55%. Demkian pula jumlah koperasi modern akan terus ditingkatkan, dan tidak kalah penting UMKM harus naik kelas.

Pada tahun 2024 mendatang, ditargetkan ekspor UMKM sudah harus berada di lavel 30,20%, kontribus terhadap PDB 65% dan rasio kewirausahaan 4%. Beberapa hal kebijakan pengembangan UMKM ke depan.

Pertama, pengembangan UMKM dilakukan dengan pendekatan kelompok, komunitas dan klaster. Aarahnya akan ke one village one produc (OVOP) – satu wilayah satu jenis produk. Daerah harus konsentrasi ke produk unggulan yang berbahan dasar lokal dan memiliki supply – cadangan banyak.

Kedua, prioritas pada sektor riil (produksi) yang berorientasi ekspor dan subtisusi impor. Komoditinya harus dipilih, dan Pemda harus memandu serta mengarah sektor apa yang bakal dikembangkan. Di sini, kta butuh peran market inteligen – informasi pasar yang aktual.

Ketiga, pemberedayaan Koperasi dan UMKM dilakukan secara lintas sektoral dengan One Gate Policy – satu pintu kebijakan, dan melibatkan kemitraan dengan pihak ketiga – swasta. Para pelaku UMKM sejenis diharapkan bersatu dalam wadah koperasi sehingga menyatu dalam kebersamaan. Dengan menyatu – berhimpun dalam wadah koperasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, soal pengadaan bahan baku produksi dalam jumlah besar, misalnya, koperasi yang akan melakukan pengadaan. Dengan demikian, jika pun harus impor biayanya bisa ditekan menjadi relatif rendah. Demikian pula saat melakukan ekspor, koperasi yang akan mengekspornya.

Keempat, pemberdayaan UMKM dilakukan secara variatif sesuai dengan karakteristik dan level UMKM. Yang tidak boleh ketinggalan adalah modernisasi dan inovasi UMKM, harus sama dengan yang diterapkan usaha besar. Orang-orang muda yang penuh semangat, energik dalam berkreasi dan berinovasi diharapkan mampu menciptakan produk-produk baru dengan berbagai varian yang menarik.

Melihat semangat Menkop UKM baru yang dikenal sebagai aktivis dan pendiri Indonesia Coruption Watch (ICW), sepertinya pasang gear untuk kecepatan tinggi. Kini saatnya dunia usaha, terutama para pelaku UMKM perlu menyongsong dengan umpan-umpan pendek, dan bola-bola lambung agar segera di-smashed dengan sabetan tajam – full power dan efisien. Dengan kehadiran teknologi UMKM juga akan semakin cepat melek ilmu untuk usahanya.

Financial Literacy – melek keuangan dalam kegiatan usaha suatu hal yang sangat penting. Mulai dari persiapan, awal perjalanan bisnis hingga pengelolaan usaha tidak akan pernah luput dari kejadian-kejadian penting yang akan menjadi bagian history dari perjalanan usaha yang dilakukan.
Peran seorang pengusaha UMKM dalam mengelola bisnis dianggap penting dalam perjalanan usaha di masa yang akan datang, dan salah satunya yang penting diketahui oleh seorang pengusaha adalah laporan keuangan. Laporan keuangan ini sangat penting bagi pebisnis. Karena tanpa laporang keuangan, seorang pengusaha tidak akan tahu bagaimana kondisi bisnisnya saat itu.

Ada beberapa alasan seorang pengusaha harus mengalami laporang keuangan. Pertama, seorang pebisnis wajib mengetahui setiap perkembangan yang terjadi pada bisnisnya. Karena hal ini bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk memastikan apakah kondisi perusahaan sehat dalam segi keuangan atau tidak. Termasuk juga keuntungan dan kerugian yang dialami oleh perusahaan. Jika belum memahami laporan keuangan sama sekali ada baiknya kita mempelajari laporan keuangan.

Laporan keuangan juga diandalkan karena menjadi standar pengukuran yang bisa dijadikan dasar dalam setiap pengambilan keputusan oleh para manajemen atau pengusaha. Suatu keputusan yang tepat bisa diambil jika laporan keuangan pada kegiatan bisnis dibuat dengan tepat dan rapih setiap periodenya. Keputusan yang diambil beragam, mulai dari pengendalian biaya operasional, pembukaan cabang baru, penanaman modal dan perencanaan manajemen lainnya. Kita bisa perhatikan begitu besar peran laporan keuangan dalam menopang perkembangan bisnis.
Laporan keuangan dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelola bisnis kepada pihak manajemen atau pengusaha. Meliputi kenaikan atau penurunan kinerja perusahaan juga tertuang dalam laporan keuangan sehingga pihak manajemen juga menentukan keputusan apa yang akan diambil pada langkah-langkah selanjutnya.

Setiap bisnis yang berjalan tentu sudah memahami bahwa laporan keuangan bisnis bisa diberikan kepada pihak lain, dalam hal ini pemerintah atau investor. Bisnis dalam sekala besar – nasional wajib menginformasikan laporan keuangan kepada pihak eksternal yang berkepentingan dalam bisnisnya, misalnya, para pemegang saham, pemerintah, investor dan lainnya.

Laporan keuangan dibutuhkan untuk menjadikan bisnis semakin lancar. Karena laporan keuangan bisa menjadi alat bahwa bisnis yang dijalankan terus berkembang. Dan untuk meminimalisir kesalahan atau kecurangan yang bisa saja terjadi pada bisnis kita. Kemungkinan tertipu bisa saja terjadi kepada para pelaku usaha yang tidak memahami laporan keuangan, yang sebenarnya menjadi tombak dalam bisnisnya.


Sesungguhnya peluang usaha bagi UMKM di sektor pertanian dan pangan juga terbuka sangat lebar, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun pasar global. Jika mencermati, banyak sekali permintaan komoditas pertanian yang akan dipasarkan secara langsung maupun sebagai bahan baku untuk industri setengah jadi dan siap dikonsumsi.

Beberapa komoditas pertanian yang diminta UMKM terkadang relatif diproduksi secara terbatas oleh petani karena bukan termasuk komoditas unggulan. Sehingga seringkali menjadi persoalan tersendiri terutama terkait dengan penyediaan bahan baku bagi UMKM. Selain keterbatasan penyediaan bahan baku, UMKM juga menghindari persoalan-persoalan yang terkait dengan keterbatasan akses modal usaha, teknologi, SDM, pemasaran, administrasi dan kelembagaan.

Keterbatasan penyediaan bahan baku dari komoditas pertanian tertentu yang sering dihadapi oleh UMKM, misalnya, buah mengkudu – pace, umbi-umbian di luar singkong, ubi jalar dan tanaman obat. Demikian banyaknya komoditas pertanian dari masing-masing sub sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan) menjadikan pemerintah hanya menetapkan beberapa komoditas pertanian saja sebagai komoditas unggulan yang masing-masing jumlahnya juga tidak lebih dari 10 komoditas, yang pemenuhan dan pengembangannya difaslitasi oleh Kementerian Pertanian, baik dalam bentuk dukungan anggaran maupun pendampingan teknis oleh petugas lapangan.

Komoditas lainnya yang hanya tumbuh dan berkembang di daerah tertentu saja di Indonesia dan dikatagorikan sebagai komoditas andalan – potensial adalah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah untuk pemenuhan dan pengembangannya. Pemerintah pusat hanya akan terlibat dan memberikan fasilitas untuk hal-hal tertentu saja, misalnya, terkait dengan penerbitan regulasi jaminan mutu, keamanan pangan dan dukungan terhadap akses pemasaran.

Karena itu bisa dimaklumi ketika penyediaan bahan baku yang berasal dari komoditas pertanian tertentu, terutama yang bersifat andalan – potensial pasokannya dalam jumlah terbatas sehingga menjadi persoalan sendiri bagi UMKM. Usaha di sektor pangan dan pertanian yang dilakukan oleh UMKM memang seharusnya memperhatikan aspek 3K, yakni; kuantitas, kualitas dan kontinitas. Perlu diketahui bahwa tidak semua komoditas pertanian bisa dihasilkan sepanjang tahun, karena pertumbuhan dan produksinya memang sangat tergantung dengan musim. Kecuali komoditas pertanian yang dengan teknologi tertentu dapat ditumbuhkembangkan di luar musim (off season).

Presiden berpesan; “Jangan sampai masyarakat Indonesia meninggalkan pasar domestik karena terlalu berorientasi ke ekspor yang membuat pasar dalam negeri diserbu produk-produk dari luar. Meskipun ekspor masih didominasi perusahaan besar, pelaku UMKM harus optimis menjalankan usahanya karena peluang bagi UMKM juga masih sangat besar.

Pasar Indonesia makin menarik bagi investor dengan kenaikan kelas ekonomi masyarakat. Apalagi situasi perekonomian global tengah melambat. Jumlah penduduk kelas menengah diperkirakan meningkat dari 74 juta jiwa pada 2012 menjadi 141 juta jiwa pada 2020. Peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat akan disertai peningkatan kebutuhan konsumsi yang bisa memicu pertumbuhan industri. “Indonesia makin atraktif bagi investasi binis global untuk memanfaatkan peluang yang ada. Jangan sampai situasi itu dipakai negara lain sehingga mereka berbondong-bondong memanfaatkan kesempatan ini,” tegas Presiden.

Presiden meminta sertiap pelaku usaha, terutama para pengusaha muda dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Jika momentum revolusi industri tidak dimanfaatkan, Indonesia hanya akan berakhir sebagai negara konsumen yang tak mampu memproduksi kebutuhan masyarakatnya secara mandiri. Masyarakat kelas menengah cenderung memiliki daya beli sehingga menjadi penggerak ekonomi disektor konsumsi. Hal ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha dan industri untuk meningkatkan daya saing di kancah global. Apalagi saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara lain seperti Malaysia dan Korea Selatan, dalam hal daya saing dan produktivitas. Tantangannya bagi Indonesia adalah memanfaatkan momentum agar menjadi negara produsen, bukan sekedar menjadi bangsa konsumen.

Dengan tidak adanya lagi batas perdagangan global, sangat memungkinkan bagi pasar dalam negeri dibanjiri produk atau komoditas dari luar negeri. Dalam rangka mengantisipasi hal itu Presiden menyatakan, pemerintah bakal mempersempit impor dengan tetap membuka ruang investasi, terutama untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

UKM di Indonesia berpotensi besar menjangkau pasar global. Karena itu UKM didorong untuk tumbuh menjadi kian modern dan masuk ke pemapasaran dalam jaringan. Kalau sudah ketemu semuanya, tidak hanya pasar daring di Indonesia, tetapi juga pasar daring global. Pembangunan infrastruktur digital memang belum secepat yang diharapkan. Namun wilayah Tanah Air sudah tersambung akses internet sehingga dapat menopang pemasaran digital.

Pembinaan Bank Indonesia (BI) terhadap UMKM tidak hanya untuk menghubungkan pelaku usaha dengan akses pembiayaan tetapi juga merambah pasar ekspor dan digital. Salah satu cara BI mendorong UMKM ke pasar ekspor, diantaranya menghubungkan perajin kain atau tenun dengan perancang. Dengan cara itu, kualitas produk meningkat dengan desain yang bagus sehingga diminati pembeli domestik dan asing. BI juga menerapkan proses seleksi dan kurasi produk sebelum masuk ke pasar ekspor.

Indonesia kaya budaya. UMKM pun mencoba mengangkat budaya lokal menjadi kebanggaan. Ada pasar spesifik yang dituju. Dari 898 UMKM binaan BI, sebanyak 173 UMKM sudah memperoleh akses pembiayaan dari perbankan dengan plafon pembiayaan senilai US$ 22,6 miliar, dan sebanyak 91 UMKM masuk pasar ekspor dengan nilai transaksi Rp 1,37 triliun dalam setahun terakhir. Selain itu sebanyak 355 UMKM sudah masuk pasar digital meski sebagian masih melalui media sosial, termasuk youtube, Instagram dan Facebook. BI memfasilitasi UMKM agar terhubung dengan kanal e-dagang, dan berhasil mencatat nilai transaksi sebesar Rp 30 miliar.

Potensi ekosistem e-dagang relatif besar dengan dominasi konsumsen dari generasi milenial – berusia 35 tahun ke bawah merupakan pembeli e-dagang yang dominan. Kalangan milenial sangat erat dengan internet dan daring. Mereka ternyata menyukai dan bangga dengan produk lokal. Selain unik dan kreatif, produk lokal juga dinilai sangat bersaing. Ini potensi yang besar bagi UMKM untuk menggarapnya. (marjono)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *