UKM Sukses Ekspor

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam kunjungan kerjanya ke Denpasar, Bali, beberapa waktu silam sempat berbincang dengan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang sukses mengembangkan bisnisnya dengan berorientasi pada ekspor. “Dua puluh enam tahun yang lalu, seorang pria bernama Tri Dwi Hantoro memulai sebuah usaha kerajinan kulit dengan bermodalkan lima ratus ribu rupiah dan dibantu oleh lima orang pengrajin.

Saat ini usaha tersebut sudah berkembang menjadi 50 orang pegawai staf dan 300 pengrajin yang tersebar di Bali, Banyuwangi, dan Ponorogo. Penjualan rata-rata setiap 6 minggunya berjumlah 7.500 sampai 15.000 produk yang diekspor ke Jepang, Korea, Turki, Inggris, Singapura, dan Italia.

Pelaku UKM kedua sebagai pasangan suami istri bernama I Wayan Sukhana dan Made Yuliana. Mereka membuka usaha aromaterapi 15 tahun lalu secara kecil-kecilan atau usaha rumah tangga pada umumnya. Bisnis mereka berkembang jadi perusahaan penghasil produk perawatan kecantikan berbasis bahan-bahan organik. Bahkan, mereka sudah bisa ekspor sampai ke Australia, Maladewa, Belanda, dan Rusia.

Kedua usaha tersebut mempunyai kesamaan yaitu memberikan kesempatan bekerja kepada penyandang difabel dan mayoritas pekerja merupakan kaum wanita yang berasal dari ibu rumah tangga yang berada di sekitar lokasi usaha. Kedua usaha tersebut telah dibiayai oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI).

Setelah dapat bantuan pembiayaan, usaha Tri maupun pasangan Sukhana dan Yuliana meningkat dari 14 sampai 15 persen, baik dalam hal nilai ekspornya juga kapasitas produksi mereka. Kedua usaha itu merupakan contoh inspirasi dari pengusaha kecil yang kemudian berkembang dan berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia. Dia turut mendorong para pengusaha mengembangkan bisnisnya hingga bisa ekspor dan merambah negara-negara lain.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan hasil dan kualitas para pelaku UMKM. Bahkan tak hanya untuk dalam negeri saja, melainkan di kancah dunia. Perkembangan UMKM selama 5 tahun terakhir sangat bagus. Untuk kepentingan ekspor UMKM, pemerintah sangat responsif. Hal itu terlihat dari kedubes RI di luar negeri sangat welcome dan mengayomi sehingga UMKM meningkat. Produk UMKM akan semakin dikenal di berbagai negara.

Regulasi, dan perhatian pemerintah sangat tinggi untuk mengembangkan dan meningkatkan UMKM. Yang perlu ditingkatkan adalah marketingnya. Pemerintah harus memberikan edukasi kepada pelaku UMKM agar melek teknologi. Di era digital sekarang ini, perlu juga pelaku UMKM diberikan pengetahun soal bisnis online. Banyak UMKM yang bagus produksinya tetapi jualnya tidak bisa.

UMKM industri rumahan dan kecil, harus didukung di online untuk menggenjot penjualan. Ke depan, pemeritah harus mengalokasikan anggaran bagaimana memberikan pemahaman marketing UMKM di media sosial. Tidak bisa dinaifkan, UMKM penting baik domestik maupun ekspor karena dari UMKM muncul pengusaha besar. Kita bisa lihat UMKM batik misalnya sangat banyak. Pemerintah turut aktif dalam acara-acara UMKM. Kementerian perdagangan mengadakan ekspo setiap tahun.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) turut berperan aktif dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 yang diselenggarakan selama 5 hari (24–28 Oktober 2019) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Banten. Dalam acara ini LPEI memboyong 44 UKM binaan yang merupakan peserta dari program Coaching Program for New Exporters (CPNE) dengan kesempatan terbuka untuk bertemu dengan calon pembeli.

Setelah mengikuti serangkaian program pembinaan para pelaku usaha produk alas kaki dan pakaian jadi telah berhasil menarik perhatian pasar Kanada dan pasar tujuan ekspor lainnya. Kesuksesan tersebut tidak lepas dari pembinaan untuk dapat melalukan ekspor yang difasilitasi oleh Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN), Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Kanada dalam Indonesia-Canada Trade and Private Sector Assistance (TPSA) Project yang berlangsung dari tahun 2014-2019.

Program pembinaan yang dilakukan TPSA Project kepada calon eksportir sangat memberi manfaat dalam hal peningkatan produksi, pemasaran, manajemen, dan motivasi untuk maju, hal ini terbukti dari kesuksesan pelaku usaha untuk mendapatkan order dari buyer Kanada dan negara lain. Pemilik CV. Uniqueindo Busana Lestari selaku penerima manfaat menyampaikan, walaupun awalnya amat sulit, namun pembinaan tenaga ahli TPSA kepada pelaku usaha telah membuahkan hasil pengembangan usaha dalam hal manjemen, efisiensi produksi, dan strategi pemasaran untuk kemajuan perusahaan.

Pendampingan yang dilakukan tenaga ahli TPSA Project sangat membangun bagi bisnis Venamon. Hasil dari pembinaan TPSA Project telah membuat  PT Venamon berhasil menarik minat calon buyers bukan hanya dari Kanada, tetapi juga dari negara di kawasan lainnya seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Pelatihan dan pembinaan yang dilakukan TPSA Project telah menjadi kunci sukses bagi kami untuk melirik pasar global yang sangat besar.

Kemendag akan terus berupaya untuk menjalin kerja sama dengan beberapa institusi di beberapa negara untuk mendukung pengembangan ekspor yang dilakukan para pelaku usaha Indonesia. TPSA merupakan proyek kerja sama Indonesia-Canada, Ditjen PEN-Kemendag dengan Pemerintah Kanada untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara.

Bank Indonesia (BI) juga terus mendukung pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnis dan memperluas pasar. Upaya ini diwujudkan BI dengan memfasilitasi UMKM dalam kegiatan business matching (temu bisnis) dan business coaching (konsultasi bisnis) yang menjadi bagian dari rangkaian Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2019. (Ria)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *