UMKM Perlu Bentuk Koperasi

100_3268Di era pasar bebas seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) membuat pelaku usaha Indonesia, termasuk UMKM perlu meningkatkan daya saingnya. UMKM perlu membentuk koperasi untuk menghadapi persaingan usaha tersebut. UMKM harus produktif, kreatif dan meningkatkan kewirausahannya. UMKM perlu membentuk koperasi karena memiliki sejumlah manfaat. UMKM akan lebih mudah memasarkan produknya jika menggunakan satu merek yang sama di bawah koperasi. Selain itu, biaya promosi juga dapat ditanggung bersama sehingga bisa lebih murah.

Tentu, manajemen koperasinya juga harus baik. setiap UMKM ditentukan untuk membuat produk seperti apa. Kemampuan membaca pasar juga penting agar dapat bersaing dengan pelaku usaha lannya. Pasar bebas tak bisa dihindari, tetapi harus dihadapi. Untuk itu UMKM perlu memikirkan keunggulan setiap produknya sehingga menjadi sesuatu yang unik di pasaran. Contoh, makanan dan pakaian khas daerah Indonesia dapat menjadi produk yang diandalkan di pasar bebas. Namun, dibutuhkan inovasi agar produk tersebut terus berkembang dan tak terkesan kuno. Kreativitas sangat dibutuhkan. Begitu juga dengan penggunaan teknologi agar pemasaran produk dapat lebih luas. Perekonomian digital yang menjadi tulang punggung masyarakat informasi suatu keniscayaan yang terus berkembang di wilayah Asia. Pertumbuhan usaha rintisan yang mengadopsi teknologi informasi menandai keniscayaan itu.

Semakin bertambahnya pelaku UMKM juga mendorong meningkatnya daya saing usaha. Pelaku butuh terobosan memperluas dan mempercepat penetrasi pasar. Terobosan diyakini berdampak pada tumbuhnya iklim usaha yang sehat, dan mampu menyejahterakan masyarakat. Perusahaan besar mampu membangun jejaring pasar yang kokoh sehingga tidak perlu kawatir menghadapi persaingan. Berbeda dengan pelaku UMKM yang terbatas modal usahanya, sehingga kesulitan memperluas jejaring pasar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan dipengaruhi pembangunan regional dan UKM berbasis digital. Oleh karena itu kedua sektor tersebut perlu digarap serius, baik dari sisi kebijakan maupun kesiapan infrastruktur. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi regional di luar Jawa perlu didorong. Saat ini pertumbuhan ekonomi di luar Jawa masih rendah.

Daerah dengan ekonomi yang berpenghasilan lebih rendah, jika ditumbuhkan, akan tumbuh lebih tinggi dariapada daerah dengan ekonomi berpenghasilan lebih tinggi. Di samping itu, pemerintah juga perlu meingkatkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis digital. Mengutip kajian Deloitte (2015) penggandaan tingkat penetrasi pita lebar dan keterlibatan UMKM secara digital dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2%.

100_7736Melalui teknologi digital, UMKM dapat meningkatkan pendapatan hingga 80%. Selain itu, meningkatkan kesempatan kerja hingga 1,5 kali, menaikan inovatif hingga 17 kali dan lebih kompetitif secara internasional. Agar kedua sektor itu tumbuh, pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur, konektivitas antar daerah, dan e-dagang. Khusus pengembangan perdagangan elektronik atau e-dagang, pemerintah perlu meningkatkan akses pita lebar, membantu UMKM masuk bisnis digital, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan layanan pembayaran eletronik.

Penggunaan teknologi digital tidak saja lebih mudah, tetapi juga lebih efisien dan membuat perusahaan memenangi persaingan. Teknologi akan memudahkan perusahaan dalam berbisnis. Inovasi pada teknologi akan lebih mendorong pertumbuhan yang lebih signifikan. Perubahan yang terjadi di masyarakat dunia juga menuntut perusahaan untuk berubah. Praktik generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Perusahaan perlu mencari cara untuk memanfaatkan fenomena ini. Perubahan yang terjadi di masyarakat harus diikuti dengan perubahan di keseluruhan organisasi perusahaan. Pemasaran tradisional sudah tidak efektif lagi. Begitu juga model transaksi dengan konsumen dan pemasok, harus menjadi digital. Kondisi seperti ini akan membentuk lanskap teknologi informasi dan bisnis di Asia Pasifik pada tahun 2016 ini. Sudah banyak negara di Asia Pasifik yang telah melakukan transformasi teknologi. Singapura, Jepang, Tiongkok, dan Taiwan adalah contoh negara yang telah bertransformasi dan menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Terkait pasar MEA, pelaku usaha tidak perlu terburu-buru untuk menyasar negara-negara ASEAN lainnya. Dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa Indonesia menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara yang perlu digarap terlebih dulu. Kalau punya modal dan produksi yang besar, mungkin tak masalah membidik pasar luar. Akan tetapi pasar Indonesia juga sangat potensial dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN. Guna mendorong perkembangan UMKM lebih pesat, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembiayaan dengan menurunkan bunga kredit usaha rakyat (KUR) dari 12% menjadi 9% (2016) dan direncakan turun lagi menjadi 7% pada tahun 2017 mendatang.

Bahkan negara-negara ASEAN sepakat mendukung pembiayaan bagi UMKM serta menciptakan iklim yang memungkinkan UKM berkembang. Peran UKM sangat penting untuk menumbuhkan perekonomian di negara-negara ASEAN. Selain itu,pelaku UKM juga dapat memperoleh manfaat dari integrasi MEA. Terkait dengan skema  KUR, dapat digunakan pelaku usaha rintisan di sektor industri kreatif. Agar kredit tepat sasaran, tantangan terletak pada infrastruktur pendataan jumlah dan profil calon debitor. Pertumbuhan industri kreatif harus diakui ditopang usaha rintisan berskala UKM.

Pengembangan industri kreatif harus berdampak sosial ekonomi kepada masyarakat. Pemerintah menargetkan sektor ekonomi kreatif mampu berkontribusi ke produk domestic bruto (PDB) 12%, ekspor nasional 10%, dan penyerapan tenaga kerja 13 juta orang pada tahun 2019. Untuk mencapainya, salah satunya perlu kebijakan baru atau deregulasi. Pada akhir 2014 kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sebesar 7,1%. Lalu penyerapan tenaga kerja sekitar 12 juta orang. Rata-rata ada penambahan 200.000 orang yang terserap di industri kreatif per tahun. Untuk mencapai target tersebut, semua pelaku rantai industri kreatif harus bekerja keras. Subsektor di ekonomi kreatif yang berpeluang berkembang pesat adalah kuliner, mode, kerajinan tangan, aplikasi dan pengembangan gim.

Produk kreatif perlu memiliki kualitas optimal. Pemasarannya juga perlu memperhatikan faktor kedekatan konsumen. Terkait pemasaran produk kreatif ini, desentralisasi menjadi penting. Pameran karya, misalnya, tidak melulu harus dilakukan di Jakarta. Sesuai hakikat ekonomi kreatif yang berdampak sosial, pemakaian ruang harus ditambah. Sektor industri ini cukup potensial, terutama produktivitas mereka dalam menghasilkan barang. Dukungan pembiayaan diperlukan untuk meningkatkan produktivitas mereka, salah satunya dari perbankan. Skema KUR dapat dioptimalkan untuk mendukung pendanaan subsektor industri kreatif. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengusulkan kepada pemerintah besaran alokasi anggaran Rp 1 triliun dari Rp 120 triliun total anggaran KUR tahun 2016. Soal distribusi, KUR kreatif dapat mengikuti pola penyaluran sebelumnya, yakni melalui bank-bank yang sudah ditunjuk pemerintah.

Fokus KUR kreatif ada tiga subsektor, yaitu kerajinan, mode dan kuliner. Di setiap subsektor itu terdapat pelaku berskala rintisan. Ketiga subsektor tersebut sudah produktif dan berpeluang besar tumbuh pesat. Sebagai gambaran, ruang lingkup industri kuliner mencakpup antara lain; restoran, warung makan, kedai makanan, dan jasa boga. Mengutip buku cetak biru ekonomi kreatif kuliner tahun 2015 – 2019, rata-rata persentase kontribusi kuliner ke sektor ekonomi kreatif 32,44%. Jumlah rata-rata tenaga kerja yang diserap 3,782 juta orang.

Tingkat partisipasi tenaga kerja terhadap ketenagakerjaan sektor ekonomi kreatif 31,85%. Kontribusi ekspor subsektor ke sektor mencapai 10,51%. Kontribusi nilai tambah subsektor mode rata-rata selama 2010 – 2013 terhadap industri kreatif 27,93%. Jumlah tenaga kerja rata-rata 3,796 juta orang. Tingkat partisipasi terhadap ketenagakerjaan sektor industri kreatif tercatat 32,43%. Subsektor kerajinan mencatat rata-rata kontribusi terhadap sektor ekonomi kreatif 14,88% selama 2010 -2013. Total tenaga kerja 3,020 juta orang. kontribusi pekerja ke ketenagakerjaan sektor 25,80%.

Penyerapan KUR baru berkisar 30% – 4o% dari alokasi Rp 120 triliun tahun 2016. Penyerapan KUR itu sebagai tantantan serius. Selama ini, tantangan serapan terletak pada infrastruktur pendataan jumlah dan profil pelaku usaha. Oleh karena itu Bekraf berupaya menjalin kerja sama dengan komunitas pelaku kreatif untuk memperlancar penyaluran pembiayaan kreatif. Sebagai contoh, baru-baru ini Bekraf menjalin kerja sama dengan Bukalapak untuk memajukan UMKM Indonesia melalui pemanfaatan digital. Dalam substansi kerja sama itu Bekraf dan Bukalapak berkomitmen melakukan pendampingan pemasaran daring, fasilitasi hak cipta, dan pembinaan pengembangan produk kreatif.

Di luar komitmen tersebut, Bekraf menilai Bukalapak sudah memiliki system data profil pedagang berikut tren penjualannya. Ini akan mempermudah lembaga pembiayaan, seperti bank, untuk masuk menyalurkan KUR. Pemilihan Bukalapak sebagai mitra kerja sama dilatarbelakangi persamaan visi, membesarkan UKM lokal. Bekraf juga tengah mematangkan wahanan incubator bernama program BEK UP. Program ini menawarkan inkubasi, pendanaan, dan kebutuhan usaha rintisan yang terintegrasi. BEK UP akan diresmikan sebelum akhir tahun 2016. Harapnnya adalah meningkatkan kompetisi tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif. Yang juga sangat penting, perlu adanya peta jalan pembiayaan bagi sektor industri yang dimotori Bekraf. Hal ini akan mempermudah bentuk dukungan pembiayaan. (dita)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *