UMKM Sebaiknya Berhimpun Dalam Wadah Koperasi

Kesejahteraan rakyat terus membaik dibandingkan awal kemerdekaan 74 tahun yang lalu. Pendapatan penduduk Indonesia saat ini meningkat berkali-kali lipat. Volume ekonomi Indonesia sudah melompat tinggi dari peringkat terbawah dunia. Yang lebih optimis lagi Yayasan Indonesia Forum mengatakan tahun 2030 Indonesia akan memiliki GDP US$ 5,1 trilun, dan kita akan menjadi kekuatan nomor 5 di dunia. Itu bisa kita capai, dengan catatan generasi muda percaya diri, mau terus menerus kerja keras.

Aktivitas usaha baru, bisnis baru yang menciptakan lapangan pekerjaan baru sangat disumbang oleh para entrepreneur wirausaha. Sehingga sebenarnya wirausaha adalah pahlawan ekonomi rakyat. Hakekat entrepreneur – wirausaha, adalah orang yang aktif untuk berkarya bagi kemajuan di masa mendatang. Orang yang punya ide, kreatif, inovatif, berani melakukan sesuatu yang baru, berani mengambil resiko, apakah terobosan, penemuan, dan idenya kelak berhasil atau tidak. Dia juga orang yang tidak pasif, menyerah pada nasib.

Wirausaha-wirausaha muda yang kreatif, inovatif akan punya kesempatan besar untuk menggapai sukses. Dengan adanya teknologi – internet, dan fasilitas-fasiltas lainnya, tinggal klik, kesempatan wirausaha muda terbuka luas. Untuk mendapatkan perbandingan, juga bahan-bahan belajar lainnya, tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri, misalnya. Dengan memanfaatkan jaringan internet, kita akan mendapatkan semua dengan lebih mudah dan lebih murah. Teknologi, membuka kesempatan kita untuk mengembangkan ide-ide baru, desain-desain baru yang lebih menarik.

Dalam kontek bisnis – dunia ekonomi, wirausaha adalah orang yang membuat produk – jasa baru – membuka pasar yang belum ada, bisa memberikan nilai tambah terhadap barang dan jasa yang diproduksi, menghubungkan modal sehingga modal itu makin berkembang, menciptakan lapangan kerja baru. Untuk itu pemerintah memberikan bantuan dan pinjaman kepada para sarjana calon wirausaha dan lembaga pengelola dana bergulir kepada wirausahawan.

Pelatihan kepada 1000 orang peserta training of Chance kewirausahaan secara gratis dari Universitas Ciputra Interprenuer Center dan pelatihan bagi 200 peserta calon wirausaha dari anggota Himpunan Pengusaha Mikro Kecil Indonesia (HPMKI), salah satu contoh. Bersinerginya program kebersamaan diyakini akan melahirkan wirausaha-wirausaha handal, mandiri dan memiliki daya saing yang merupakan solusi dalam mengatasi dan menyelesaikan masalah pengangguran maupun kemiskinan, yang pada akhirnya dapat lebih mensejahterakan rakyat.

Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan seluruh unsur generasi muda kita akan membawa rakyat dan bangsa Indonesia menjadi Negara the best of the new energi economic melalui kewirausahaan. Wirausaha tidak indentik dengan pengusaha mikro, kecil dan menengah. Beda! Tetapi hampir pasti, dan lazimnya seorang wirausaha ketika memulai usahanya yang disebut start small itu mulai beraktivitas di usaha mikro, kecil dan menengah, sehingga ada pertautan erat diantara wirausaha dengan bidang-bidang usaha yang berangkat dari kecil, kemudian tumbuh menjadi makin besar. Jika wirausaha di Indonesia terus berkembang, maka bisnis – usaha dan ekonomi di seluruh Indonesia akan bergerak dan berkembang.

Melalui gerakkan kewirausahaan nasional kita ingin meningkatkan rasio antara jumlah wirausaha dengan jumlah penduduk Indonesia lebih 2%. Saat ini pengusaha Indonesia baru mencapai 0,50%. Apabila hal ini tercapai maka dapat dipastikan penyerapan tenaga kerja akan meningkat, kemiskinan menurun, dan pada akhirnya kesejahteraan rakyat semakin meningkat lebih baik. Untuk Negara berkembang, termasuk Indonesia, yang dinamakan kesejahteraan rakyat itu meningkat manakala kemiskinan juga terus berkurang.
Bila kita rasional, cerdas dan mengerti keadaan, melalui UKM dan koperasi, bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja baru sehingga bisa lebih banyak lagi tenaga kerja yang terserap. Di sinilah pentingnya kewirausahaan, pentingnya UKM dan koperasi yang harus dikembangkan di seluruh Indonesia. Jika UMKM dan Koperasi berkembang, berarti ada aktivitas baru, ada pekerjaan baru. Saat ini dan di masa-masa mendatang, masih terbuka peluang dan kesempatan luas bagi para wirausaha dan calon wirausaha untuk mengembangkan usaha – bisnis dan kegiatannya.

***

Suatu bangsa – masyarakat yang memiliki penguasaan Iptek makin tinggi, maka akan memiliki modal – capital bagi penemuan-penemuan baru, karya-karya baru, kreativitas baru. Itulah modal utama bagi seorang entrepreneur – wirausaha. Pemerintah – pengusaha yang telah sukses juga ingin memberikan bantuan kepada usaha rintisan baru, seperti bantuan permodalan dan pelatihan.

Yang kita butuhkan tinggal satu lagi, yaitu kebersamaan membangun optimisme – menyingkirkan rasa rendah diri dan pesimisme. Bangsa Indonesia membutuhkan kebersamaan membangun ekonomi. Pemerintah tidak boleh gatal jika dikritik keras. Sebaliknya, para pengkritik pun harus memberikan jalan keluar atas situasi yang dihadapi bangsa Indonesia.

Kebersamaan inilah yang hingga detik ini masih menjadi impian. Kebersamaan itu bisa dibangun melalui koperasi. Koperasi boleh besar, harus besar dan bisa besar. Menurut konsitutsi membangun perekonomian Indonesia yang paling pas, berkoperasi. Belanda, Swedia, Perancis, Jepang, basis perekonomiannya juga koperasi. Negaranya menjadi maju karena berkoperasinya dibangun secara baik.

Situasi saat ini sangat memungkinkan koperasi bisa tumbuh dan berkembang menjadi besar. Secara regulasi undang-undang (UU) N0 25 tentang Perkoperasian memberikan kesempatan kepada koperasi untuk melaksanakan kegiatan usaha di semua bidang ekonomi. Bahkan UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Larangan Usaha Tidak Sehat, Pasal 50 huruf I memberikan pengecualian kepada koperasi. Artinya koperasi boleh monopoli.

Koperasi adalah sebuah perusahaan berbasis anggota. Karena itu koperasi harus bermanfaat bagi anggota, dan membuat anggotanya menjadi hebat, tenteram, kaya dan sejahtera. Kalau ada kelebihan kapasitas, UU mengatur boleh usaha di luar anggota. Contohnya koperasi punya pasar, berarti yang dilayani bukan hanya anggota. Koperasi jasa angkutan; Koperasi Taksi, misalnya, yang dilayani sebagian besar justru bukan anggota, tapi masyarakat luas. Koperasi yang punya hotel, Kospin JASA, misalnya, yang dilayani juga masyarakat luas.
Koperasi juga boleh membikin asuransi, membuat pabrik, membangun perumahan, mengelola perkebunan dan sebagainya. UU No 25 menyebutkan secara tegas; Koperasi menjalankan kegiatan usaha dan berperan utama di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat (Pasal 43 ayat 3). Karena bidang usaha yang demikian luas, bila dikelola dengan baik, jujur, profesional, kreatif, inovatif koperasi akan tumbuh, berkembang dan maju menjadi besar.

Transformasi diperlukan agar koperasi semakin dikukuhkan sebagai sokoguru perekonomian nasional sekaligus sebagai kendaraan andalan bagi bangsa dalam kompetisi dan kolaborasi global dengan bangsa-bangsa lain dalam memajukan suatu tatanan dunia baru yang lebih adil, humanistik, dan memajukan lingkungan hidup.

Transformasi dengan hasil revolusioner dan dampak luas perlu dilakukan secara sistemik dalam dua arah. Pertama, dilakukan terhadap seluruh jalinan sistem gerakan koperasi mulai dari level individu, satuan-satuan koperasi, asosiasi perkoperasian di berbagai bidang dan tingkatan, pemerintah di berbagai bidang dan tingkatan hingga pemerintah nasional. Kedua, dilakukan dalam semua dimensi secara holistik dari gerakan koperasi sebagai sebuah sistem yang hidup (living system).

Watak koperasi koperasi perlu dipahami dengan lebih baik oleh semua pihak yang terlibat secara langsung. Diperlukan pula keberanian untuk meninggalkan pola pikir dan pola tindakan yang menyamakan koperasi dengan usaha-usaha ekonomi swasta atau milik pemerintah begitu saja. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pembentukan visi koperasi dan gerakan koperasi yang luhur, ”menjanjikan” bagi segenap pemangku kepentingan (stakeholders), tetapi juga masuk akal, realistis atau dapat dicapai, dan terukur.

Kerjasama perlu dilakukan untuk memperoleh sinergi yang makin besar di antara berbagai koperasi, mulai dari hulu ke hilir maupun secara horisontal. Hal ini bermanfaat untuk memperluas jangkauan koperasi terhadap sumber daya-sumberdaya yang diperlukan untuk menciptakan nilai tambah bagi segenap pihak yang terkait. Integrasi perekonomian pedesaan dan perkotaan, misalnya, dapat dilakukan melalui jejaring dan kolaborasi antara koperasi di sektor pertanian, perdagangan (seperti grosir, distributor, dan supermarket di kota), dan koperasi karyawan di perkotaan.

Strategi pembaharuan (renewal), yaitu pengembangan semangat atau roh koperasi dan gerakan koperasi melalui komitmen setiap individu dan kelompok untuk berjibaku memajukan koperasi sebagai amanah, misi dan panggilan hidup. Setiap pribadi, setiap kelompok, dan seluruh bangsa mengalami kebangkitan spiritual untuk memupuk modal sosial, modal intelektual, dan modal finansial untuk mendukung kemajuan koperasi dan gerakan perkoperasian.

Salah satu tantangan serius bagi koperasi adalah dikembangkannya sistem pengakuan dan penghargaan serta bagi hasil dari usaha-usaha koperasi yang menghargai kinerja dan berkeadilan. Usaha-usaha koperasi perlu dikembangkan menjadi tempat kerja yang mampu memberikan kesejahteraan yang ”menjanjikan” bagi para karyawan yang ada saat ini dan juga bagi generasi muda yang idealis untuk berkarya di usaha-usaha koperasi.

Koperasi agak lambat menjadi besar lantaran dianggap sebagai usaha sambilan. Koperasi fungsional, misalnya, karena anggotanya pegawai, dikelola paruh waktu, atau setelah tugas kantor selesai. Koperasi yang didirikan oleh pedagang atau pengusaha, biasanya mereka menggap dirinya juragan, dan lebih mengutamakan usahanya sendiri. Jika ingin maju yang mengurus koperasi harus orang yang mengerti tentang koperasi, punya idealisme mengembangkan koperasi, harus fokus dan full time.

***

Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) merupakan bagian dari koperasi. Karena keberpihakan dan kebijakan pemerintah terhadap UMKM dan koperasi saat ini benar-benar konkret, diharapkan setiap UMKM bisa dalam bentuk koperasi. Sebelum Kredit Usaha Rakyat (KUR) diluncurkan, pemerintah sudah banyak memberikan bantuan untuk penguatan lembaga, bantuan sosial kepada para pelaku UMKM dan koperasi, bantuan advokasi, program pelatihan, program pemasaran dari hulu sampai hilir.

Pemerintah membantu promosi, mendorong pelaku UMKM dan koperasi bisa melakukan promosi dan pemasaran ke luar negeri. Secara kontinyu pemerintah melakukan eksibisi ke luar negeri. Di Jakarta, juga memiliki gedung Smesco – UKM. Sekalipun usaha kecil menengah, tetapi punya promotion center – exhibition center bergengsi, lokasinya sangat setrategis, di Jl Jend Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di Smesco UKM itulah pelaku UKM dan koperasi yang memiliki produk-produk unggulan bisa dipromosikan dan dipasarkan.
Dibangunnya Pusat Promosi produk-produk UKM dan koperasi, merupakan bukti konkret komitmen dan keberpihakan pemerintah untuk memajukan UKM dan koperasi. Soal bahan baku, pada prinsipnya pemerintah juga membantu. Kita harus bersyukur karena Indonsia sangat kaya raya. Semua bahan baku yang dibutuhkan untuk industri apa pun ada. Apalagi kalau hanya untuk UMKM dan koperasi, kita memiliki semuanya. Kalau ada produk UKM yang membutuhkan bahan dari luar negeri (bahan antara), pemerintah masih bisa memfasilitasi dengan suatu bimbingan.

Kementerian Koperasi dan UKM, sifatnya hanya menstimulasi, dan membimbing. Karena bukan kementerian teknis sehingga semua dalam bentuk bimbingan, advokasi dan pelatihan. Selebihnya diserahkan kepada pelaku UKM dan koperasi itu sendiri. Kalau jalannya sudah dikasih tahu, kearah mana yang lebih baik, pelaku UKM dan koperasi diharapkan bisa mengimplementasikan.

Dalam menyalurkan KUR pelaksananya bank-bank pemerintah, seperti; Bank BNI, Bank BRI, Bank Bukopin, Bank Mandiri, Bank BTN, dan belasan BPD juga diberi kepercayaan untuk menyalurkan KUR. Bahkan sekarang ada 3 koperasi yang dipercaya menjadi penyalur KUR yaitu Kospin JASA Pekalongan, Kopdit Obor Mas, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Guna Prima Dana, Badung, Bali.

Karena KUR dananya dihimpun dari masyarakat yang disimpan di bank, kemudian diputar lagi maka bunganya relatif rendah. Untuk mendapatkan KUR bisa secara langsung ke bank, bisa juga dengan sistem channeling. Misalnya, perbankan meminjamkan melalui institusi keuangan non bank, seperti koperasi sekunder, KSP, kemudian KSP menyalurkan ke sektor riil.

Penyaluran KUR tidak ada suatu pembatasan, misalnya, Jawa Barat lebih besar dibandingkan Kalimatan, Sumatera Utara atau Papua. Semua permintaan, sepanjang memenuhi persyaratan akan dipenuhi. Persyaratannya saat ini juga makin dipermudah. Kalau dahulu konsumen – rakyat yang masih punya kredit konsumtif tidak boleh pinjam KUR, sekarang boleh pinjam.

Dari sisi ide, kebijakan pemerintah itu sangat membantu. Namun daya serap implementasi penyaluran belum seperti yang diharapkan. Banyak faktor, meski untuk usaha mikro tanpa kolekteral – jaminan, namun kadang masih perlu proposal usaha dan sebagainya. Bagi usaha mikro membuat proposal usaha, dan laporan keuangan menjadi kendala tersendiri. Oleh karena itu perlu advokasi di semua tingkatan untuk membantu usaha mikro dan Koperasi.
Dan sebaiknya usaha mikro, kecil itu berhimpun dalam koperasi sebagai wadah ekonominya. Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sudah merancang sebuah program yang diberi nama Sentra Bisnis Koperasi. Bila program tersebut bisa berjalan dengan baik akan memberikan kepastian harga, khususnya bagi petani, dan produk-produk unggulan, dimana kita sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen.

Bagi usaha mikro – kecil, seperti Warteg yang penting adalah pelayanan cepat, mudah, dan murah. Ada contoh riil yang dilakukan oleh KSP Kodanua, salah satu besar di Indonesia dengan jumlah anggota dan calon anggota 18.000-an, tersebar di 4 provinsi (21 cabang), melayani Warteg di lingkungan pabrik. Pedagang warung nasi itu agar ekonominya bergerak untuk melayani karyawan – karyawati pabrik.

Persyaratan meminjam dana di Kodanua antara lain; punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), baik KTP dari Sulawesi, Sumatera Utara maupun dari Jogyakarta. Yang penting dia itu punya indentitas. Kemudian dia punya tempat tinggal, entah kontrak, numpang atau rumah sendiri, bisa juga sewa. Para pengusaha kecil itu sangat jujur. Mereka tidak ada pikiran untuk membawa lari uangnya ke luar negeri.

Karena koperasi simpan pinjam, dia harus buka simpanan. Sebagian disimpan sebagai jaminan, bila dia tidak punya jaminan seperti BPK kendaraan. Setelah ketiga persyaratan itu lengkap, kemudian disurvei, dan esok harinya pinjaman sudah cair. Prosesnya hanya 3 hari, dengan jasa relative ringan, hampir sama dengan KUR. Sebagai lembaga keuangan, koperasi melayani usaha mikro seperti; pedagang pasar, penjual sayuran, tukang bakso, penjual gado-gado, adalah tepat. Karena mereka butuh modal untuk beli bahan baku, tetapi tidak punya akses ke perbankan.

Program itu bisa dinamai Lima Tujuh, misalnya. Implementasinya, pagi-pagi jam 5 modal diberikan kepada pedagang untuk kulakan, kemudian jam 7 malam ditagih. Namanya usaha mikro modal yang dibutuhkan cukup Rp 300.000,- – Rp 500.000,- Kalau koperasi mau menggarap sektor riil usaha mikro, keuntungannya sangat tinggi. Jual sayuran untungnya bisa sampai 100%, tinggal bagi 2 selesai. Masyarakat terbantu, koperasi dapat untung.
Pertanyaannya, mau tidak datang ke pasar, menutup gengsi, dan tidak perlu merasa koperasinya sudah besar. Menjadi besar karena tumbuh dari yang kecil-kecil, dari recehan. Recehan itu justru tersebar di mana-mana. China dan Jepang, membangun ekonominya juga dimulai dari recehan. Jepang terkenal dengan ekonomi Gunung Fuji. Kalau kita melihat Gunung Fuji, saljunya di atas. Tidak ada puncaknya bila tak ada kaki gunungnya. Yang namanya Mitshubisi, Sumitomo, Marubeni cuma trader, pedagang. Produsennya kecil-kecil perumahan. Di China dan Taiwan juga begitu.

Bila meniru mereka kurun waktu yang dibutuhkan 10 tahun saja sudah sejahtera. Dengan catatan, harus benar-benar dikerjakan secara serius. Jangan tahun ini oke, tahun depan tidak, kemudian tahun depannya lagi rame eforia, lalu hilang lagi. Pengurus – pengelola koperasi harus jemput bola, aktif, tidak hanya menunggu order, selesai. Prof. Muhammad Yunus, peraih Nobel, hanya membutuhkan waktu 10 tahun untuk mensejahterakan orang-orang miskin di India. (mar)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *