UMKM Tangguh dan Berkelanjutan Mendukung Kedaulatan Ekonomi Bangsa

Pukulan pandemi Covid-19 cukup keras bagi produk lokal yang sebagian besar berskala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Penjualan produk mereka anjlok. Namun tak ada kata mundur, lelah dan menyerah. Berbagai inisiatif menggeliatkan usaha bermunculan. Upaya itu untuk menjaga usaha, membuka peluang usaha dan mempertahankan pekerja. Dari pengalaman beberapa kali krisis, pelaku UMKM tetap mampu bertahan dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Dalam krisis akibat virus Covid-19 yang oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ditetapkan sebagai wabah dunia, UMKM masih menjadi tumpuan ditengah kondisi perekonomian yang tidak pasti. UMKM tidak hanya berperan dalam ekonomi domestik,
tetapi juga didorong menjangkau pasar asing. Salah satu cara mendorong UMKM menguasai pasar di dalam negeri adalah dengan meminta industri perhotelan beralih menggunakan produk hasil UMKM. Produk itu antara lain; sabun, sampo, tempat sampah, furniture dan sebagainya.

Produk-produk UMKM kita tidak buruk, banyak yang berkualitas. Kita ingin mengurangi defisit neraca perdagangan. Semua harus memiliki komitmen, membatasi impor. Dengan demikian pasar bisa memanfaatkan industri UMKM dibandingkan industri yang bergantung pada bahan baku impor. Untuk itu UMKM harus mampu menciptakan inovasi produk unggulan yang berbeda dengan yang nberedar di pasaran. Dengan cara itu konsumen akan tertarik membeli produk UMKM.

Optimis tersebut diungkapkan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta Prof. DR. Ir Panut Mulyono, M. Eng dalam acara Workshop dan Temu Bisnis Nasional UKM beberapa waktu silam. Dikatakan bahwa perkembangan UMKM terus mengalami pertumbuhan yang sungguh sangat menggembirakan. Hal ini dapat kita lihat, dari data yang tersaji bahwa jumlah UMKM sebelum krisis moneter tahun 1998 – 1999 sebanyak 40
jutaan. Setelah 21 tahun totalnya menjadi 64 jutaan. Berarti terjadi pertumbuhan UMKM sebesar 62,5%. Sebuah angka yang cukup dramatis. Peran strategis UMKM dalam menumbuhkan ekonomi nasional diantaranya adalah penyerapan tenaga kerja. “Hal yang sangat penting bagi sebuah negara agar penyerapan tenaga kerja selalu ada karena pertumbuhan penduduk kita yang sangat besar. Pengolahan sumber daya lokal, pemberian layanan ekonomi yang luas kepada masyarakat, pemerataan
dan peningkatkan pendapatan masyarakat serta potensi pembentukan usaha yang
lebih produktif dan berdaya saing yang cukup luas,” urainya.

Selain itu tentu saja bahwa UMKM di Indonesia juga memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi melalui peningkatan pendapatan domestik broto (PDB) dan juga ekspor. Betapa banyak ekspor kerajinan dari UMKM kita. Sektor UMKM mempunyai sumbangsih dalam menopang penghasilan rumah tangga dan mengurangi tingkat kemiskinan. Sehingga berperan besar.

Selain itu UMKM juga mengembangkan ekonomi lokal. Menciptakan pasar dan inovasi melalui fleksibilitas dan sensitifitasnya serta keterkaitan dinamis antara kegiatan usaha dan memberi kontribusi terhadap peningkatan ekspor non migas. Untuk pemberdayaan UMKM didalam menghadapi pasar global dan era revolusi industri 4.0, menurut Rektor UGM itu, perlu dilakukann upaya meningkatkan kualitas produk, akses pasar dan pemanfaatan teknologi yang tepat agar memberikan pemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat dan bagi bangsa.

Beberapa aspek inovasi yang diperlukan bagi UMKM dalam mengembangkan inovasinya adalah inovasi dalam bidang teknologi, proses produksi, inovasi dalam bidang pemasaran dan jaringan, inovasi dalam disaign produk untuk menyesuaikan agar bentuk-bentuk produk yang diproduksi oleh UMKM sesuai dengan selera dari para pengguna – konsumen.

Dengan penerapan inovasi teknologi tersebut diharapkan UMKM mampu bersaing baik di tingkat lokal maupun di tingkat global. Dalam menerapkan inovasi teknologi ini diperlukan dukungan berbagai aspek, seperti aspek regulasi kebijakan, keungan, kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan teknologi.

Meskipun UMKM telah menunjukan pernanannya dalam perekonomian nasional namun, kata dia, masih ada berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Beberapa di antaranya terkait dengan produksi, pengolahan, pemasaran, SDM, design, teknologi, permodalan dan iklim usaha.

Untuk itu pelaku UMKM harus didorong, dan didampingi untuk meningkatkan kemampuan, menciptakan wawasan, pengetahuan, pengalaman mengelola dan mengembangkan kegiatan usahanya, membangun karakter dan indentitas produk, sehingga mampu bersaing pada era pasar global dan pasar disrubtif. Memberikan inspirasi, memantik inovasi untuk pengembangan produk dan proses produksi usaha yang
berkelanjutan. Membangun jejaring kemitraan yang memberi manfaat dan saling menguntungkan. Terutama yang akan menjamin kelangsungan usaha bagi UMKM.

Banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berhasil, tetapi juga banyak yang gagal karena tidak ada Human Resource-nya yang mampu mengelola organisasi usahanya. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka dibentuklah PT Mitra BUMDes Nusantara sebagai holding agar ada pendampingan. Supaya tidak ada risk estimet salah perencanaan BUMDes. Bila satu BUMDes menyalurkan produk-produk subsidi bisa punya keuntungan
penjualan Rp 100 juta per bulan – setahu Rp 1 miliar lebih. Jumlah seluruh BUMDes di Indonesia sekitar 75.000 BUMDes jika dikonsulidasikan, maka akan terakumulasi Rp 75 triliun net profit – keuntungan bersih.

UMKM merupakan satu program yang sangat strategis dalam pemerintahan periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kemudian dilanjutkan pada periode kedua bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Presiden sadar benar, dan selalu diutarakan diberbagai kesempatan dalam rapat Kabinet bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik buat Indonesia tanpa dibarengi dengan pengurangan kemiskinan dan kesenjangan akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak
akan sustain – berkelanjutan. Akibatnya akan menimbulkan ketimpangan.

Masalah ketimpangan ini menjadi masalah yang serius bagi bangsa Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang terdiri dari multi etnis, multi bahasa multi agama, membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas dasar kesepakatan bersama. Hal terpenting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah mempertahankan persatuan dan kesatuan negara. Salah satu hal yang menyebabkan persatuan dan kesatuan terganggu karena masalah ketimpangan dan kemiskinan.

Ketimpangan baik secara pendapatan, ada yang kaya, ada yang miskin maupun dalam hal kesempatan berusaha. “Bila kesempatan berusaha tak diberikan pemerataan juga akan menimbulkan masalah. Kita bisa melihat banyak negara yang lebih besar, bahkan negara super power seperti Uni Soviet pun pecah akibat ketimpangan. Demkian pula negara-negara Arab pecah, karena masalah kesenjangan dan ketimpangan,”urai Eko Putro Sanjoyo, yang menjadi nara suber utsms dalam temu bisnis UKM tersebut.

Kalau berbicara masalah UMKM, lanjut dia, yang harus dihidupkan adalah
jiwa enterprenuer – jiwa kewirausahaan terlebih dulu. Apa pun usahanya, harus
memiliki jiwa wirausaha. Tidak mungkinseseorang berbisnis, usahanya bisa maju
jika dia tidak memiliki jiwa wirausaha. Dannomor satu, harus memiliki willing to take risk – keberanian untuk mengambil resiko.Banyak UMKM binaan gagal karena begitu ada challenge – tantangan sedikit, mundur tidak berani menghadapi resiko.

Salah satu karakter dari pengusaha adalah keberanian mengambil resiko. Karena berani mengambil resiko itu yang menjadi jembatan usahanya bisa berkembang dan sukses. Disamping itu juga mempunyai ide cemerlang, inovatif, kreatif, mau kerja keras dan pantang menyerah. “Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tetapi memiliki dream – mimpi atau citacita yang jelas, sehingga mampu bergerakcepat. Itu yang harus dibangkitkan. Baru kemudian faktor eksternal, bagaimana membangun ekosistem yang memberikan kesempatan agar ada economic activity – aktifitas ekonomi,” jelasnya.

UMKM tidak bisa jalan jika tidak adaaktifitas ekonomi, tidak ada market – pasar
dan sebagainya. Kegagalan terbesar darisetiap UKM juga karena terbatasnya
modal. Kalau mereka dihadapkan untuk bersaing dengan perusahaan besar pasti
berat. Sebab mereka tidak memiliki net work – jejaring. Kalaupun punya, kalah.
Kemudian tidak punya akses finansial sebesar perusahaan-perusahaan besar
pada umumnya. Juga tidak punya akses pasar. Pun kalah dalam bidang sumber daya manusia (SDM). Di era distrubsi ini, dimana dunia terus berubah, apa yang
sukses sekarang tidak menjamin kesuksesandi masa yang akan datang. Jadi, inovasi
menjadi sangat penting.

Jangankan UKM, kita bisa lihat perusahaan-perusahaan besar yang menguasai pangsa pasar terbesar di dunia di bidangnya, banyak yang kolaps lantaran mereka terlalu rigit, menjadi slow dan tidak inovatif. Seperti Kodak, misalnya, zaman dulu semua film masih pakai film seloluid, bukan digital. Dan Kodak menguasai pasar dunia. Mungkin banyak yang tidak terlalu memperhatikan bahwa Kodak-lah perusahaan yang kali
pertama menciptakan digital fotografi.

Namun temuan yang memang belum sempurna itu, karena baru pertama, tidak dikembangkan, dan oleh Kodak “dimasukan” ke dalam laci. Akhirnya dikembangkan oleh Casio, Canon, Nikon, Sony, Olympus, Minolta yang terus berinovasi teknologi digital sehingga mereka tetap bisa survive. Sedangkan Kodak sudah tidak mampu mengejar ketertinggalannya, dan akhirnya brangkrut. Yang namanya film seloluid, kini tidak ada lagi, semua kamera menggunakan teknologi digital.

Di masa lalu juga ada yang namanya Blackberry begitu fenomenal. Dalam waktu singkat, perusahaan itu maju pesat mengalahkan Motorola dan lainlain. Tetapi tidak inovatif, terlalu terjaga dan puas dengan keberhasilannya, kini dengan adanya smart phone, android yang dimotori oleh Sam Sung kemudian muncul produk-produk China seperti Oppo, Huwai, Xiaomi, OnePlus, akhirnya Blackberry hilang begitu saja, tidak bisa survive.

Kita juga bisa melihat perusahaanperusahaanotomotif, dulu ada Volvo, sebuah perusahaan yang prestise, usianya sudah tua dan terkenal dengan keselamtannya. Namun kini Volvo sudah diakuisisi oleh Geely, sebuah perusahaan baru dari China. Kita juga bisa melihat perusahaan Jaguar dan Land Rover, perusahaan elite yang menjadi kebanggaan pemerintah Inggris, kini diakuisisi oleh perusahaan yang mulanya perakit truk Mercy, Tata Motors yang terus berinovasi dan mempertahankan Economic Force Skills. Banyak perusahan besar lain, karena ketidak-mampuannya berinovatif, tidak bisa survive. Apalagi UKM.

Dimasa yang lalu, semua pemerintahan dukungannya kepada UKM cukup besar. Di era pemerintahan Presiden Soeharto ada yang namanya Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit Investasi Kecil (KIK). Di era pemerintahan Presiden BJ Habibie, ketika Menteri Koperasi dan UKM-nya Adi Sasono, anggaran untuk Koperasi dan UMKM juga besar Rp 11 triliun. Untuk ukuran saat itu (1998 -1999) Rp 11 triliun besar sekali. Namun kenapa, program-program yang dirancang tidak sustain – berkelanjutan. Di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dimana program KUR dimulai (2007), kalau kita mau jujur KUR itu lebih banyak diberikan kepada perusahaan trading – perdagangan.Sebab mudah meng-konform comercial loan-nya, karena setiap bank punya target loan. Kenapa KUR tidak efektif di masa lalu? Karena kita hanya memaksakan, memberikan KUR kepada UKM tetapi lupa bahwa kita tidak meng-handle risk-nya UKM. Oleh pemerintahan Presiden Jokowi, KUR terus dilanjutkan, dan anggarannya dari APBN juga terus ditingkatkan. Untuk APBN 2020 anggaran KUR mencapai Rp 190 triliun. Agar semakin banyak UKM mendapatkan kredit permodalan dengan bunga rendah, bunga KUR terus diturunkan. Diawal pemerintahan Presiden Jokowi bunga KUR 22% pertahun kemduian diturunkan menjadi 12%, diturunkanlagi menjadi 9% dan saat ini hanya 6% per tahun.

Kalau kita ingin program-program loan bisa berjalan dengan baik, yang harus dilakukan adalah membantu mengkriet satu bussines model dimana UKM itu risk-nya kecil. Dengan risk yang kecil, tidak diminta pun bank dengan sendirinya memberikan KUR kepada UMKM. Karena bank itu selalu power business, dalam memberikan kredit kepada nasabah selalu menganut prinsip kehati-hatian. Sebab, bila terjadi kredit macet yang harus menanggung resikonya adalah pengelola bank tersebut.

Jika memperhatikan masa yang lalu, KUR yang benar-benar diberikan kepada UKM atau petani dan nelayan hanya sekitar20% atau tidak lebih dari kemampuanbank untuk mencadangkan kredit macet. Sisanya lebih banyak diberikan perusahaan perdagangan yang relatif sudah jalan, hanya di-KUR-kan saja. Dengan businness model yang risk-nya kecil, tanpa diminta bank akan memerikan kepada UKM.

Tidak percaya? Sekarang banyak
kredit tanpa agunan. Praktis, kredit tanpa agunan – finteck itu risk-nya kecil. Maka kita yang tidak kenal pun sering ditelphone. Mereka hanya melihat dari big data, risk profile dan record transaksi keuangannya. Bila recordnya bagus mereka bisa diberikan kredit tanpa agunan kepada calon nasabah antara Rp 100 juta – Rp 200 juta dan sebagainya. Chalenge – tantangan yang paling besar, bagaimana mengkriet satu model bisnis bagi UKM itu risk profile-nya kecil. Tugas kalangan akademisi – perguruan tinggi melakukan kajian mendalam dan konsep strategis agar UKM itu risk profilenya kecil.


Di KemenDes ada program namanya UKDes. Karena di desa mayoritas profilenya dari sektor komoditi, lebih dari 82% masyarakat desa tergantung dari sektor komoditi. Sekarang nicher – ceruknya dari sektor komoditi harus besar, dan terintegrasi secara vertikal. Kita juga ada satu paradigma yang salah. Demi mendukung yang kecil, kita terus memaksakan usaha-usaha skala kecil. Padahal Indonesia adalah negara berkembang yang GDP per kapita terus naik. UMR Indonesia di Jakarta tahun 1991, misalnya, hanya Rp 50.000,- per bulan. Sekarang UMR di Jakarta sudah mencapai Rp 4 juta lebih per bulan. Jadi, kalau masih menggunakan business proses atau bussiness model dengan UMR Rp 50.000,- tidak akan bisa survive di dunia yang UMR-nya sudah Rp 4 juta. Padahal kita tahu, setiap tahun UMR naik 10%. Artinya setiap 5 tahun dobel, dan jika UMR sekarang Rp 4 juta maka 5 tahun ke depan UMR sudah akan mencapai Rp 8 juta, kemudian 10 tahun lagi Rp 15 juta dan 15 tahun lagi sudah Rp 30-an juta. Kalau dengan UMR Rp 30 juta kita juga menghasilkan miliaran rupiah. Terutama kaum ibu, untuk menjaga kebugaran tubuh, tetap langsing proporsional, dan tetap cantik bisa menghabiskan jutaan rupiah. Itu membuka banyak kesempatan bagi UKM, seperti membuka spa, rumah kebugaran, gim-gim yang dikelola UKM. Di desa-desa pun banyak tempat untuk yoga dan senam yang dikelola oleh BUMDes-BUMDes.

Ada contoh sangat menarik, Desa Ponggoh, di Klatemn, Jawa Tengah, misalnya, di Desa itu ada sebuah kolam renang tua yang dibangun pada zaman Belanda. Karena warga desanya kreatif, kolam renang tua yang semula menghasilkan Rp 15 juta per tahun itu modelnya diubah. Di dalam kolam diberi pasir, karang, ikan, tanaman air, juga televise, sepeda motor, sepeda, dan banyak lagi. Dari luar kelihatannya kolam renang tua, tetapi begitu kita masuk ke dalam, sangat indah. Lebih indah dari Bunaken, di Manado, Sulawesi Utara. Maka tumbuh penyewaan alat-alatnya, home stay dan sebagainya. Ini bisa dibuat oleh UKM di seluruh Indonesia.

Pendapatannya melonjak dari Rp 15 juta tahun 2015 menjadi Rp 6,3 miliar dengan keuntungan bersih Rp 3 miliar. Gara-gara kolam renang tua – jadi cantik, warung-warung makan bermunculan, Pujasera selalu ramai pengunjung, dan perajin sovernir pun kebagian rezeki.

Keuntungan dari pengelolaan kolam renang tersebut dibagikan kepada masyarakat, setiap rumah Rp 5 juta untuk modal menjadikan salah satu kamar rumahnya sebagai home stay. Sekarang, Dasa Ponggoh mengantongi keuntungan lebih dari Rp 10 miliar per tahun. Desa ini punya program membahagiakan semua orang tua yang tidak mampu dengan membeayai hidup mereka dari dana kas Desa. Setiap keluarga juga wajib mencetak seorang sarjana. Yang menggembirakan, kata Eko Putro Sanjoyo, banyak perusahaan besar seperti Astra, misalnya, walau bergerak dibidang otomotif, jika diperhatikan selalu berpatisipasi aktif dalam pembangunan desa yang diinisiasi Presiden Jokowi, Membangun Indonesia Dari Desa. Program pembangunan desa, dengan dana desa yang secara masif diberikan kepada seluruh desa di Indonesia untuk membangun infrastruktur desa, dampaknya, pendapatan masyarakat desa dalam 5 tahun terakhir naiknya hampir 43% lebih dari Rp 572.000 per kapita per bulan menjadi Rp 804.000,- per kapita per bulan.

Apa artinya ? Diperkirakan 7 – 8 tahun ke depan, pendapatan masyarakat desa akan mencapai Rp 2 juta per kapita per bulan. Sekarang penduduk desa sekitar 130 juta jiwa, diperkirakan 7 – 8 tahun ke depan mencapai 150 juta jiwa. Jika dikalikan, 150.000.000 X Rp 2.000.000,- = Rp 300 triliun per bulan. Dengan Rp 300 triliun itu akan mampu menciptakan konsumsi sebesar Rp 1.500 triliun sebulan, Rp 18.000 triliun setahun atau US$ 1,4 triliun GDB. Jumlah tersebut lebih besar GDB Indonesia saat ini yang hanya sebesar US$ 1,2 triliun. Jadi, peluangnya di desa sangat besar. Jika perkiraan tersebut benar terjadi, berapa yang akan beli sepeda motor, berapa pula yang akan beli mobil Avanza, Kijang, dan sebagainya. Potensi itu akan menjadi pasar besar Astra, dan produsen otomotif lainnya. Astra termasuk yang mendampingi UKM di 600 desa, di berbagai daerah Indonesia, memberikan pelatihan sekaligus net work – jejaring pasarnya.

Industri otomotif di Indoneia juga akan dikembangkan, dari otomotif berbahan bakar fosil view menjadi bahan bakar batrai, misalnya. Hal ini akan banyak memberikan kesempatan kepada UKMUKM. Kementerian Perindustrian telah membina IKM bekerja sama dengan produsen otomotif bertenaga listrik agar para IKM itu didik sehingga kelak menjadi bagian dari suplay change untuk industri otomotif. Industri otomotif kita tidak berkembang pesat seperti di China atau Korea, karena supporting suplay change-nya sebagian besar masih impor. Jadi ekspor kita masih tergantung dari komponen impor.

Yang juga surpise, pengangguran di desa hanya 50% dari angka pengangguran di kota. Hal itu terjadi karena banyak sektor informal yang digerakkan oleh UKM jalan cukup baik. Dengan adanya aktivitas ekonomi di desa-desa akibat dari program dana desa, angka kemiskinan di desa dalam 2 tahun terakhir turun lebih cepat dibandingkan turunnya angka kemiskinan di kota. Bahkan 2 kali lipat lebih besar daripada penurunan di kota. Tahun lalu penurunan angka kemiskinan secara nasional 1,8 juta orang, di kota hanya turun 580.000 orang, sedangkan di desa mencapai 1,2 juta orang lebih. Karena itu kesempatan UKM berkembang di desa-desa sangat besar.

Peran perguruan tinggi mengirim mahasiswanya turun ke desa-desa melakukan kuliah kerja nyata (KKN) sebagai pendamping, sangat diharapkan. Namun sebelum dikirim ke desa mereka juga sudah dibekali entrepreneurship skill, sehingga ketika turun ke desa bukan hanya membantu masyarakat desa, tetapi mereka juga bisa melihat peluang-peluang bisnis yang ada di desa. Sehingga setelah menyelesaikan kuliah mereka kembali ke desa membangun desa. (dm- mar – adt)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *