Usaha Kecil Menengah

Warung-warung di sepanjang jalan dan kios-kios pulsa mungkin tidak pernah menarik perhatian kita, kecuali ketika kehadirannya benar-benar dibutuhkan. Padahal, kita menemuinya dengan mudah di setiap beberapa ratus meter ruas jalan di Indonesia. Sejak krisis ekonomi melanda perekonomian Indonesia telah berubah, di mana usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi penggeraknya, yang mampu menyerap 100 juta lebih tenaga kerja.

Demam entrepreneur merebak di tengah masyarakat. Menggunakan bahasa asing seolah menjadi gelar prestisius di kalangan anak muda dan mewabah begitu cepat. Berbagai acara kompetisi bisnis pun diadakan oleh begitu ragam institusi perusahaan Negara maupun swasta. Banyak istilah yang digunakan sebagai padanan kata entrepreneur seperti; pengusaha, wirausaha – wiraswasta. Namun intinya, digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis – usaha, menggunakan sumber daya yang dibutuhkan sehingga mampu melakukan tindakan yang tepat guna meraih target profit dan kesejahteraan serta mencapai kesuksesan yang diharapkan.

Umumnya, seorang entrepreneur yang sukses memulai usahanya dari bawah, maka perjalanan seorang entrepreneur besar tentu tidak jauh pula dari istilah UMKM. Sektor UMKM punya daya tahan yang luar biasa dari tekanan perekonomian. Sudah dibuktikan oleh UMKM ketika krisis ekonomi tahun 1998. Sebagian besar pelaku UMKM tetap bertahan, bahkan tak sedikit yang usahanya meningkat seusai krisis. Di beberapa Negara, UKM bahkan menjadi pondasi kuat sebagai penopang ekonomi Negara. Hal ini tak dapat dipungkiri, karena pola bisnis yang dijalankan ternyata tepat menjadi ketahanan usaha – ekonomi dalam berbagai dinamika yang muncul.

Aktivitas pelaku UMKM terbukti telah berkontribusi nyata bagi laju pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Indonesia. Hal itu disebabkan oleh aktivitas UMKM yang banyak bergerak pada sektor riil yang menghasilkan nilai tambah bagi pendapatan nasional Indonesia selama ini. Selain itu, UMKM mampu berperan aktif dalam membuka kesempatan kerja, menyerap tenaga kerja hingga mengurangi jumlah pengangguran.

Begitu pentingnya UMKM, sampai dunia internasional pun menginisiasi hari UMKM internasional. Indonesia menjadi bagian dari gerakan dunia internasional di mana tahun 2016 ICSB – International Council for Small Business berinisiatif perlunya Hari UMKM Internasiona. Inisiator Hari UMKM Internasional antara lain; Amerika Serikat, Australia, Indonesia, Korea Selatan, Kuwait, Mesir, dan Argentina melakukan pembicaraan meja bundar di Markas PBB, di New York, AS. Dan setahun kemudian menjadi kenyataan; PBB menetapkan 27 Juni 2017sebagai UN MSME Day. Hari UMKM Internasional adalah bentuk apresiasi dan dukungan dunia internasional terhadap ekonomi kerakyatan yang menjadi tulang punggung kesejahteraan bangsa. Momentum yang luar biasa ini menyemangati para pelaku UMKM di Indonesia.

Berdasarkan undang undang (UU) No. 20 tahun 2008, usaha mikro kecil dan menengah merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun badan usaha yang bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa secara komersial dan mempunyai omzet per tahun sampai dengan Rp300 juta, sementara usaha kecil mempunyai omzet di atas Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar dan usaha menengah yang memiliki omzet di atas Rp2,5 miliar hingga Rp50 miliar.

Kategori jenis usaha ini dibuat agar pemerintah mampu menerapkan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha dan bisnis melalui kebijakan pemerintah, khususnya di bidang ekonomi. Kebijakan ekonomi pemerintah harus menempatkan UMKM sebagai prioritas utama dalam aktivitas ekonomi nasional, mengingat bahwa peran UMKM yang selalu menjadi “penyelamat” perekonomian nasional di setiap krisis ekonomi global yang melanda Negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir.

Yang sering menjadi pertanyaan, bagaimana caranya sektor ini bisa bertahan  dari berbagai jenis badai. Pada umumnya, sektor UMKM punya kelenturan terhadap kondisi ekonomi. Bahkan tak sedikit wirausahawan di sektor ini yang memiliki beberapa usaha. Kecerdikan membaca peluang itu barang kali akan sulit dijelaskan dalam teori-teori ekonomi yang terlalu sulit. Bagi para pelaku usaha di sektor ini, peluang akan selalu dicoba. Kalaupun gagal mereka bisa mencoba peluang yang lain.

Bagi sebagian pelaku usaha di sektor mikro, penjelasan usaha adalah bagian penting dalam menopang perekonomian keluarga. Tanpa usaha itu, mereka akan kesulitan menggerakkan roda ekonomi keluarga. Untuk itu tidak mengherankan jika jumlah usaha di sektor ini sangat banyak. Sensus ekonomi 2016 yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2017 menunjukan, terdapat 26,71 usaha atau perusahaan non pertanian. Jumlah usaha atau perusahaan dalam sensus ekonomi itu meningkat 17,51% dibandingkan dengan hasil sensus ekonomi 2006 yang berjumlah 22,73 unit usaha – perusahaan.

Menurut Sensus Ekonomi tahun 2016, jumlah UMK mencapai 26,26 juta unit usaha atau sekitar 98,23% dari total usaha. Adapun sektor usaha menengah besar (UMB) tercatat hanya 450.000 unit usaha – perusahaan atau 1,67%. Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran mendominasi dalam sensus itu, jumlahnya mencapai 12,33 juta usaha (46,17%), disusul penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum sebanyak 4,466 juta usaha (16,53). Masing-masing lapangan usaha lain yang masuk 15 katagori Sensus Ekonomi 2016 ada di kisaran 1% – 5% dari total usaha.

UMKM seperti apa yang berhasil memberikan sumbangan begitu besar bagi perekonomian masyarakat? Ketika ekonomi China Berjaya, bukan hanya orang-orang Amerika dan Eropa yang “terperangah” oleh sinarnya. Pengusaha-pengusaha asal Jepang, Korea bahkan “lawan” psikologisnya, Taiwan ingin berinvestasi di sana. Dengan metode Guang Xi, jaringan kedaerahan dan kesukuan, bahkan pengusaha keturunan asal Indonesia juga berinvestasi dan memindahkan sekolah anak-anaknya ke China. China adalah magnet, sekaligus masa depan. Banyak orang percaya China akan menggantikan peran Amerika Serikat sebagai penguasa dunia. Sama seperti ucapan banyak orang terhadap Jepang 30 tahun yang silam. Ketika Kaname Akatmatsu mengulas paradigma angsa terbang (the flying geese paradigm) dengan Jepang sebagai pemimpinnya di Asia.

Angsa-angsa yang berada di depan selalu diikuti angsa-angsa lain ke mana pun ia pergi. Ia menjadi navigator. Tetapi dalam perjalanannya ternyata tak banyak angsa yang bisa terus berada di depan. Ia bisa goyah dan gundah sehingga kedudukannya diganti yang lain. Untuk menjadi pemimpin angsa terbang diperlukan Asteroidpreneur, bukan sekedar UKM-preneur, apalagi kalau hanya coba-coba dan hanya bergelut di bidang usaha yang mudah-mudah saja dengan prinsip ATM (awasi – Tiru – Modifikasi). Kapan menjadi industrinya?

Salah satu ciri Negara yang angsa-angsanya cuma ikut-ikutan terbang adalah pengusahanya kesulitan melompat. Usaha-usaha mikronya terbelenggu seperti burung dara yang sayap-sayapnya dijahit. Supaya bisa terbang tinggi, tentu saja belenggu-belenggu itu harus dilepas. Sejak krisis moneter menghantam Indonesia hampir 20 tahun silam, kita menaruh harapan pada UMKM. Jumlah UMK seperti di rilis BPS 26,26 juta unit usaha. Tetapi di lain pihak gairah berindustri turun drastis. Tak ada lagi orang-orang seperti Sukanto Tanoto yang diawal tahun 1980-an bernai membangun industri pulp and paper. Semua anak-anak muda cuma asyik membuat roti, kue, burger, pecel lele, ikan bakar, dan warung gerobak yang di grobak-chise kan.

Bisa diduga ke mana muaranya para wirausahawan seperti ini. Ketika jenuh, mereka beralih menjadi motivator atau pembicara UKM. Modalnya apalagi kalau bukan spirit Robert Kyosaki yang mengajarkan “bagaimana menjadi orang kaya”. Tak sedikit pula yang menamkan cara-cara pemasaran bombastis atau cara-cara spiritual. Kata seorang industrialis, perlu dibedakan benar-benar mana yang merupakan hasil dari suatu percobaan dengan coba-coba. Kelihatannya, lebih banyak yang iseng dengan coba-coba, bukan kesungguhan yang didasarkan bukti-bukti empiris yang dapat digeneralisasikan. Dan tentu saja, bisnis seperti ini lebih banyak hit and run. Tapi tak apa, sepanjang order sebagai motivator masih bisa jalan terus, bukan?

Kita memerlukan UKM untuk menyelamatkan pengangguran, namun untuk memajukan bangsa, negeri ini juga bentuk industri-industri besar yang dibangun berbasiskan pengetahuan, sophisticated management dan profesionalisme. Indonesia butuh pesawat-pesawat kecil yang bisa menembus daerah-daerah pedalaman seperti yang dilakukan Susi Pujiastuti (Susi Air) atau kapal-kapal penjelajah berbobot ringan yang dibuat dari teknologi material komposit yang dibuat Lisa Ludin di Banyuwangi. Kita membutuhkan UMKM untuk membuat desain-desain baju dan keperluan konsumsi ringan, tetapi untuk membuat energy dan otomotif diperlukan usaha-usaha besar. Usaha-usaha besar adalah lokomotif untuk menarik usaha-usaha kecil.

Namun, para incumbent – dalam hal ini pelaku bisnis lama, agar waspada terhadap lawan-lawan baru yang tidak terlihat. Mereka adalah kaum muda yang sangat akrab dengan teknologi dan mesra dengan inovasi. Menunggang kendaraan internet pengusaha muda langsung masuk ke rumah-rumah konsumen, dari pintu ke pintu. Contoh paling fenomenal adalah adanya layan transportasi online, seperti Uber, Gojek, dan Grab. Masih segar dalam ingatan bagaimana kehadiran mereka memancing demo besar-besaran dari para insan transportasi konvensional.

Contoh lain, bagaimana kalang kabutnya bisnis perhotelan. Data wisatawan Bali menunjukkan kenaikan signifikan, namun nyatanya hotel-hotel makin sepi. Penyebabnya tak lain adalah airbnb.com atau courhsurfing.com dan sejenisnya. Dengan prinsip sharing ekonomicy mereka dapat mengubah kamar yang tadinya Rp1 juta menjadi hanya Rp200.000. Wisatawan mana yang tidak tergiur. Lantas bagaimana dengan UMKM yang digadang-gadang sebagai penopang perekonomian Indonesia?

Sejak belasan tahun yang lalu kita sudah bicara pentingnya kewirausahaan. Kita meyakini generasi muda yang melimpah di Indonesia dibandingkan Negara lainnya, mampu berwirausaha. Pilihannya adalah menjadi pelaku UMKM atau UKM. Kuliner, pertanian, peternakan, kerajinan, ekonomi kreatif, pariwisata dan perdagangan adalah yang paling populer. Hampir semua kementerian tiba-tiba tampil menjadi Pembina kewirausahaan. Namun saat pemerintah turun tangan, sebenarnya kaum muda sudah mulai beralih. Mereka tak lagi menjadi pelaku UMKM melainkan membangun start-up.

UMKM dan start-up merupakan dua makhluk yang berbeda. Usaha mikro dan kecil sudah jelas ukurannya kecil. Kebanyakan ambisinya pun tidak besar. Banyak usaha kecil yang hampir selamanya berpikir kecil. Jumlah pegawainya rata-rata 3 – 5 orang dari waktu ke waktu. Jumlah usaha ini banyak sekali dan biayanya sangat lazim diperoleh melalui perbankan konvensional, yaitu pinjaman. Sementara start-up mikir kecil hanya di awal. Mimpi para pelakunya menjadi besar sebesar samudera luas, bahkan pemain global. Dananya pun internasional, bukan melalui perbankan melainkan venture capital. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi umum Indonesia. Negeri ini tergolong miskin, modal dari bank hampir tidak ada. Sementara di banyak Negara lain dana di bank berlimpah karena tidak ada yang meminjam.

Salah satu faktornya, Negara seperti Australia, Jepang, dan Negara-negara lain di Eropa  didominasi oleh orang tua yang sudah terjamin tunjangan lansia. Akibatnya banyak dana mengendap tidak terpakai. Karena itu, bersyukurlah Indonesia yang berlimpah anak muda penuh semangat berwirausaha. Agar berhasil dengan nilai unggul harus miliki ketangguhan bersaing. Pertarungan zaman sekarang adalah bisnis model. Namun, bisnis model itu juga bisa menimbulkan kesan “negatif” bahwa daya beli masyarakat turun – rendah.

Tetapi hasil kajian Prof. DR Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang dilakukan pada tataran mikro menunjukkan bahwa yang sedang terjadi berpindah (shifting) dari kalangan menengah – atas ke ekonomi rakyat. Dan pada elit sekarang sedang sulit karena peran sebagai “middleman” mereka pudar akibat disruptive inonovation, lalu meneriakan “daya beli turun”. Rhenald pun melakukan chek and recheck, kemudian memberikan contoh;

(1) JNE, ini adalah jaringan logistic yang marketshare-nya sudah di atas PT Pos Indonesia, dan nama perusahaannya disebut oleh semua jenis online. Di JNE ia dapat data bahwa pegawainya ditambah terus untuk melayani pengambilan dan pengiriman logistik. Penambahan sumber daya manusia (SDM) beberapa bulan terakhir sudah 500 orang. Suatu jumlah yang cukup lumayan untuk satu perusahaan.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa konsumen dan pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak membeli beras dan minyak goreng via tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar, dan lain sebagainya. Juga tidak banyak yang tahu bahwa angkutan kargo udara dari Solo naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan. Juga dari kota-kota lainnya. Artinya usaha-usaha kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan.

(2) Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan bahwa penjualan yang dicapai anggota Aprindo semester 1 sales drop 20%. Ini mulai mengikuti pola angkutan taksi yang sudah turun 30% – 40% tahun lalu. Apakah karena daya beli? Bukan, penyebabnya adalah shifting ke taksi online. Sama halnya retell dan hotel yang beralih dari konvensional ke online. Artinya, bukan daya beli drop, bukan juga keinginan membeli turun, melainkan terjadi shifting.

(3) Hampir semua produsen besar yang ditemui mengaku omzet mereka naik 30% – 40%. Mulai tepung terigu dicek ke Bogasari sampai dengan obat-obatan (consumer health) dicek ke Kalbe, permintaannya masih naik pesat. Tetapi produsen seperti Gulaku mengaku drop karena kebijakan harga eceran tertinggi (HET) yang mulai dikontrol pemerintah.

Lalu, siapa yang pendapatannya turun, dan mengapa turun? Jawabannya, yang pendapatannya turun adalah grosir-grosir besar yang biasa membayar kepada produsen mundur 45 hari – 3 bulan. Di antaranya adalah supermarket-supermarket besar yang biasa “ngerjai” UMKM dengan menunda pembayaran. Kini dengan munculnya dunia online UMKM bisa langsung, maka supermarket besar kekurangan pasokan. Produsen besar juga menahan stocknya, lebih mengutamakan membuka jalur distribusi baru. Berkat Tol Laut kini para agen penyalur FMCG yang berada di Lombok,NTT, Maluku, Sulawesi dan lain-lain bisa dapat barang langsung dari produsen tanpa melalui middleman di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya.

Kini penerimaan para middleman besar di Pulau Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket-supermarket besar yang terbiasa menjual kepada para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi karena para produsen mulai menata jaringan distribusinya berkat infrastruktur yang bagus dan kedatangan kapal yang lebih rutin (kebijakan tol laut). Itulah yang mereka keluhkan dengan “daya beli turun”. In fact, pasar bergeser, pemerataan tengah terjadi walaupun belum sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera), namun “kekayaan” kelompok mapan di Pulau Jawa (khusunya para middleman) tengah tergerus.

Kita hendaknya bisa lebih jernih melihat bahwa pembangunan infrastruktur dan tol laut ini menimbulkan dampak shifting yang besar, namun dalam jangka panjang akan sangat baik bagi pemerataan kelas menengah. Tinggal tax policy untuk menangani the plutactorats – kalangan super kaya yang jumlahnya sedikit, tetapi menguasai banyak. (damianus)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *