Uskup Agung Ende Mgr Vincencius Sensi Potokota: Kopersi Adalah Jalan Keselamatan

Mewakili rohaniwan – imam; pastor, suster, bruder, pendeta dan ustadz yang aktif dalam gerakkan credit unuion (CU) – koperasi untuk kesejahteraan umat, Uskup Agung Ende Mgr Vincencius Sensi Potokota, mengatakan bahwa kopersi adalah salah satu jalan keselamatan. Hal itu diungkapkan saat memberi sambutan pada pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Puskopdit BKCU Kalimantan, tahun buku 2016 di Maumere, Kota Bunda Maria, Nusa Tenggara Timur (NTT), kota yang memancarkan keindahan alam; laut dan pegunungan nan mempesona, pada 27 April 2017.

Walau sebagai Uskup Agung, Mgr Sensi, begitu akrab disapa, menyampaikan dengan bahasa universal, bukan dari sudut pandang Katolik semata, juga membatasi yang diungkapkan, tidak masuk pada masalah teknis urusan perkoperasian – CU, melainkan lebih pada memberikan sumbangsih semangat bagi aktivis gerakkan yang dinilainya sangat mulia. Menurut Mgr Sensi, para pimpinan agama-agama telah sepakat mewariskan sejarah inisiatif, menggali suatu gerakkan yang sekarang ini kita kenal gerakkan berkoperasi.

“Saya berani katakan; dengan sangat terbuka dan rasa tanggung jawab mendalam kepada siapa saja – seluruh rakyat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan para pemimpin agama-agama selalu memberi sumbangsih pikiran, hadir merembukan dan merancang, kita mau membuat apa supaya martabat manusia Indonesia sungguh-sungguh mendapat tempat dan perhatian semua pihak. Karena itu, apa pun agama-agama yang ada di bumi Indonesia melalui para pimpinan dan perangkat-perangkat pimpinan agama-agama telah berusaha membangun apa yang disebut heritage – budaya untuk mencintai kebersamaan menuju apa yang dicita-citakan yang terkandung dalam isi proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan segala pilar-pilarnya,” urai Mgr Sensi.

Dan kita telah berupaya keras supaya memastikan bahwa salah satu dari sekian banyak jalan menuju cita-cita kesejahteraan dan kebahagiaan, dari awal kemerdekaan para pimpinan agama-agana menyaikin bahwa berkoperasi adalah salah satu jelan keselamatan. “Jalan keselamatan ini bukan rancangan manusia, namun lebih daripada itu, adalah kehendak Allah sendiri yang sangat mencintai manusia. Agama-agama mengajarkan melalui kitab sucinya, manusia adalah mahluk ciptaan Allah dan betapa Tuhan mencintainya. Ketika manusia berdosa, Allah tidak tega membiarkan manusia hancur binasa. Allah pun selalu memberikan jalan terbaik,” jelas Mgr Sensi yang ternyata juga senang humor.

Karena koperasi – CU atau apa pun namanya adalah salah satu jalan keselamatan, Mgr Sensi mengaku, menjadi pelaku dan mencintai koperasi sejak usia dini, sekolah dasar (SD) karena orang tua – ayahnya, ketua koperasi “kampungan” – koperasi kampung yang pengelolaannya masih sederhana, serba manual. “Karena itu saya tak ragu katakan kepada umat; jangan takut berkoperasi. Kami orang Flores, bersama pimpinan agama-agama berusaha keras, dan bermitra dengan pemerintah mengembangkan koperasi. Kalau para imam, pedeta dan ustadz mempercayai – meyakini koperasi sebagai jalan keselamatan, sedangkan umat tidak percaya kata-kata ustadznya, tidak percaya pendetanya, tidak percaya imamnya, saya tidak mengerti. Dukungan kami pun dari lubuk hati paling dalam,” tegasnya.

Telah menjadi tradisi, sebelum RAT diselenggarakan work shop atau seminar nasional dan kegiatan lainnya. RAT yang selalu diselenggarakan dari satu daerah ke daerah lain, 45 CU Primer anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, tersebar di 23 provinsi dari ujung barat; Sumatera, Kepulauan Riau, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, NTT sampai Papua, yang menjadi tuan rumah kali ini adalah CU Bahtera Sejahtera, Maumere.

Menurut laporan Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd, total anggota individu per 31 Desember 2016 berjumlah 444.388 orang. Atau anggota gerakkan CU bertambah sebanyak 9.954 orang. “Ini adalah sumbangan untuk Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) guna mencapai target 10 juta penduduk Indonesia menjadi anggota Kopdit 2020 mendatang,” jelas Sunardi. Sedangkan aset yang dianggap sebagai ikutan, bukan hal yang utama, karena yang diutamakan adalah manusia atau individu, total aset gerakkan Rp 6,2 triliun. Sedangkan aset Inkopdit yang dimiliki oleh 887 CU primer sebesar Rp27,271 trilun. Dari total aset Rp 6,2 triliun, sekitar Rp 5,8 trilun murni merupakan simpanan anggota.

Sunardi berani menjamin dan berani memastikan bahwa simpanan anggota ini tidak ada modal – uang dari luar. Tidak ada titipan simpanan dari Amerika, Swiss, Jerman, Kanada atau pihak lain manapun. Juga tidak ada kucuran dana hibah. Semua murni rupiah milik anggota – rakyat Indonesia. “Kita pantas mensyukur atas apa yang telah kita raih bersama-sama. Apapun yang kita raih bukan karena hebat, tapi karena Tuhan berkenan memberikan rahmatnya atas rencana dalam pengembangan credit union. Kalau melihat gedung-gedung kantor CU begitu megah, jumlah aset puluhan – ratusan miliar, semua karena rahmat Tuhan. Bukan karena hebat rencana kita, juga bukan karena hebat melaksanakannya, tetapi segalanya indah karena rahmat Tuhan,” katanya mensukuri.

Jumlah anggota dan aset masih merupakan yang terbesar dalam GKKI. Menjadi yang terbesar bukan cita-cita. “Menjadi CU yang bermanfaat, mengembangkan CU yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para anggota, bagi rakyat Indonesia, itulah komitmen kami,” tegas Sunardi penuh semangat. Karena itu, lanjutnya, kedatangan anggota Puskopdit BKCU Kalimantan di Maumere bukan dalam rangka provokasi, melainkan karena kerinduan insan credit union untuk jumpa satu dengan yang lain. Di Maumere banyak bintang, atau tokoh CU yang luar biasa. Romanus Woga, yang akrab disapa Rommy, mantan Ketua Umum Inkopdit, bahkan menjadi Wakil Presiden ACCU mewakili Indonesia. Di Maumere juga ada CU besar, seperti Kopdit Obor Mas dan CU Pintu Air.

Kehadiran gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan di Maumere bukan semata-mata hanya untuk mendukung CU Bahtera Sejahtera, yang memang anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, melainkan untuk kebersamaan, menyatukan langkah, bergadengan tangan, bersinergi dengan sesama gerakkan credit union secara keseluruhan. Bersinergi membantu pemerintah membangun melalui kemandirian CU untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Jika potensi masyarakat diadministrasikan secara baik, akan menghasilkan aset bersama. “Mari duduk bersama, berdiri bersama dan melangkah bersama membangun GKKI untuk rakyat Indonesia. Janganlah kita berdebat tentang berpedaan, kehebatan dan sebagainya. Mari berdebat untuk maksimalkan pelayanan kepada anggota, sehingga anggota benar-benar sejahtera,” ajaknya.

Karena kehendak yang kuat dari gerakkan untuk mengelola CU, maka gerakkan ini telah mampu berbuat nyata, gotong-royong di tengah-tengah masyarakat kecil, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), masyarakat yang masih termajinalkan. Melalui RAT, kata Sunardi, anggota selalu diajak untuk mengikuti perkembangan lembaga, sekaligus mengalami berbagai tantangan yang masih dihadapi bersama. Baik tantangan CU primer itu sendiri, maupun tantangan dalam gerakkan BKCU Kalimantan, bahkan dalam GKKI. Karena itu, sudah sepantasnya kita mensyukuri atas apa saja yang telah diraih bersama-sama.

Puskopdit BKCU Kalimantan didirikan pada 27 November 1988 di Kota Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat, dengan nama awal Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalimantan Barat. Sejalan dengan paradikma yang terjadi, BKCU Kalimantan baru memperoleh Badan Hukum (BH) tahun 2010, dengan Nomor BH 927/BH/M.KUKM.2/X/2010, dan berstatus badan hukum nasional. Seiring dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Puskopdit BKCU Kalimantan juga menyesuaikan diri, misalnya, kini telah memiliki sertifikat Nomor Induk Koperasi (NIK), sejak 4 April 2017 dengan nama Puskopdit BKCU Kalimantan. Juga telah memiliki izin usaha simpan pinjam dari Kementerian Koperasi dan UKM, tahun 2010. Nomor pokok wajiba pajak (NPWP) pun telah punya sejak 17 September 2014.

Berbagai regulasi pemerintah terpenuhi untuk memasikan bahwa gerakkan ini legal. Bukan gerakkan yang illegal. Karena ingin legal dan terus terang, sebab memang aktivitas gerakkan tidak ada yang disembunyikan. Seluruhnya didedikasikan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Praktek Pancasila, Bhineka Tunggal Eka, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah nyata dilaksanakan dalam gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan. Buktinya, BKCU Kalimantan diterima di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai latar belakang; suku, agama, adat istiadat berbeda-beda.

Meski berbebeda-beda, kata Sunardi, selalu rukun. Tidak pernah dalam pertemuan BKCU Kalimantan saling menghujat atau mencaci-maki, atau menghinda satu sama lain. Juga tidak ada yang merasa paling benar, paling baik dan paling hebat, yang lainnya tidak. Semua sepakat, ingin kompak bersatu membangun Indonesia, terutama menyentuh rakyat kecil, masyarakat ekonomi menengah ke bawah, yang perlu sentuhan tersendiri untuk menuntun mereka keluar dari lingkar kemiskinan. Keluar dari permasalahan yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, tetapi masih terus terjadi berulang-ulang, sehingga wajahnya adalah tampilan kemiskinan.

Sebagai lembaga, sampai tahun buku 2016 Puskopdit BKCU Kalimantan memiliki 43 anggota CU primer, dan pada tahun buku 2017 bertambah anggota baru 2 CU primer. Menurut Sunardi, sebenarnya bukan sungguh-sungguh baru, tetapi karena gerakkan BKCU Kalimantan memiliki konsep penmgembangan; kalau sudah cukup besar lembaganya dan mungkin wilayah kerjanya cukup jauh, maka primer tersebut dibimbing untuk memandirikan program layanan kepada anggota dari salah satu kantor Tempat Pelayanan (TP). Dua CU primer baru yang diterima sebagai anggota itu merupakan pemandirian 2 kantor TP, yaitu dari CU Mekar Kasih melahirkan CU Mentari Kasih (CUMK) dan CU Barerod Gratia melahirkan CU Krida Raharja (CUKR). Kelahiran kedua CU baru tersebut diiringi dengan kegembiraan, bukan karena perceraian.

Bagi gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan, ber-CU adalah menghayati hidup dengan penuh suka cita. Bukan bersukacita membangun CU tetapi kemudian berkelai karena berbagai masalah yang ditimbulkan oleh apa yang telah dilakukan oleh gerakkan itu sendiri. Lahirnya CU baru, diharapkan selalu ada suka cita. Jangan sampai ada pertengkaran dan perdebatan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anggota melalui credit union.

RAT yang dilaksanakan di Hotel Silvya, Maumere itu mengusung tema: Shaping Our Future. Tetapi tak berhenti di situ, harus lanjut dengan connect collaborate and differentiate. “Tema ini bukan gagah-gahan, tetapi karena semua semangat yang mengingatkan kami kalau mengelola CU haruslah sungguh-sungguh. Kalau kita merasa tidak yakin mengelola CU sungguh-sungguh, silahkan cari lagi. Karena itu kami bicara masa depan, mendiskusikan masa depan supaya cita-cita tidak hilang ditelan zaman,” tegas Sunardi.

Kita, lanjut dia, tidak boleh marah-marah kepada lembaga lain, atau koperasi lain jika di kemudian hari hilang. Tetapi boleh marah pada diri sendiri karena tidak mempersiapkan bagaimana di masa yang akan datang. Oleh karena itu banyak diskusi melalui seminar. Dalam diskusi itu sadar bahwa masa depan harus dirancang. Conect, hal yang harus dilakukan secara bersama-sama, melibatkan banyak orang, terutama anggota CU, karena tugas pengembangan CU bukan hanya kepada pengurus dan pengelola, tetapi pada semua anggota. Sebab, CU milik anggota.

Anggota bukan hanya mengaku sebagai anggota, tetapi harus merasakan dia sebagai pemilik. Dengan demikian dia bisa ikut serta, diberikan kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengembangan maupun dalam pembahasan koperasi sendiri. Disamping itu juga menyadari kita harus memiliki regulasi, sebuah nilai tambah yang lebih tinggi. Ada macam-macam kopi, tapi kemudian muncul kopi luwak. Hanya memlaui proses luwak (dimakan) menjadi mahal. Menjadi penasaran kita dibuatnya. Ada berbagai macam sugguhan kopi. Di Jogya, misalnya, ada kopi joss. Sebenarnya kopi biasa, tetapi bikinnya dikasih bara arang sehingga bunyi josss. Harganya menjadi lebih mahal, dan telah menjadi hidangan kuliner pariwisata di Jogya.

Sunardi mengatakan bahwa gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan ingin tidak sekedar Credit Union, tidak sekedar koperasi. Tetapi ingin Kopdit yang memiliki sebuah differentiate yang dilakukan bersama-sama. Apa itu differensiete-nya? CU masing-masing yang menentukan, tetapi dalam gerakan juga dipastikan. Misalnya, setiap CU dalam jaringan BKCU Kalimantan harus menciptakan sebuah produk solidaritas. Produk solidaritas itu bentuknya berkelompok, misalnya setiap CU anggota membayar iuran Rp 100 ribu dalam setahun, untuk iuran Solduka – Santunan Duka Anggota.

Ketentuannya jelas, harus meninggal dunia. Kalau anggota meninggal dunia ahliwarisnya menerima santunan solidaritas dari sesama anggota CU dalam bentuk rupiah, Rp 10 juta, misalnya. Angkanya satu CU dengan CU lain bisa berbeda, sesuai dengan kemampuan CU masing-masing. Kalau tidak meningal, menunggu kesempatan berikutnya. Uang ini bukan sekedar menghibur-hibur tetapi menjadi nilai tambah dari kebersamaan. Apa pun yang pahit, bisa dilakukan bersama-sama.

Gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan bukan saja menjadi sekunder terbesar dalam jaringan GKKI, baik dilihat dari sisi aset maupun jumlah anggota individu, tahun 2017 ini juga mengukir sejarah baru lantaran salah satu CU Primer anggotanya, CU Sauan Sibarrung, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, meraih penghargaan internasional Accsses Branding dari Asian Confederation Credit Union (ACCU). Prestasi itu tidak hanya mengharumkan CU Sauan Sibarrung atau Puskopdit BKCU Kalimantan, tetapi juga GKKI atau CUCO Indonesia, karena memang baru kali pertama kita meraih prestasi internasional ini.

“Meskipun meraih prestasi internasional, kami tidak akan menyombongkan diri, hanya di BKCU Kalimantan yang bisa menerima access branding. Prestasi itu kami persembahkan untuk Koperasi Indonesia. Kami memang keras kepada anggota, dan tidak main-main dalam mengelola lembaga. Sebab, ketika koperasi itu menjadi rusak karena salah kelola, yang menderita bukan pengurus dan pengelola, yang menderita adalah anggota,” jelas Sunardi. Oleh karena itu, lanjut dia, melaui Dinas Koperasi masing-masing, melalui Kementerian Koperasi agar selalu dilihat, diawasi, ditegur, dibimbing dan dinasehati, supaya selalu berada di jalur koperasi Indonesia. Jalur koperasi yang melaksanakan prinsip-prinsip dan nilai-nialai koperasi.

Menurut Eduardus N Sugi Watu, Bendahara Inkopdit, Puskopdit BKCU Kalimantan dengan CU CU Primer-nya telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan koperasi di Indonesia. “CU adalah rumah kita. Walau antara CU satu dengan CU yang lain ada sedikit perbedaan, tetapi tetap satu rumah. Karena itu tidak perlu ada pikiran yang mengkotak-kotakan, misalnya, ini CU Kalimantan, CU Flores, CU Sumatera, dan lain-lain. Dengan napas dan prinsip-prinsip dasar CU itulah yang menyatukan kita,” tegas Eduardus.

Perkembangan GKKI, lanjut dia, tak lepas dari sejarah panjang yang dirintis 40 tahun silam. Pada awalnya, untuk mengembangkan gerakkan credit union di Indonesia mendapat support dan bantuan dari Negara lain. Mereka menyakini bahwa credit union sungguh cocok untuk dikembangkan di Indoensia, karena kita punya landasan perekonomian koperasi. Saat ini kita sudah bisa mandiri, tetapi perlu disadari jika masih ada Puskopdit yang kopdit-kopdit primernya belum berkembang baik, dan membutuhkan perhatian dari sesama gerakkan. Kita perlu terus membangun solidaritas dalam rangka membangun gerakkan koperasi kredit di Indonesia. Yang kecil didorong untuk berkembang, yang sudah besar perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.

Perkembangan GKKI sebenarnya cukup menggembirakan. Namun memperhatikan trauma kejadian koperasi jenis lain membuat CU harus lebih berhati-hati jika tidak ingin hancur bersama stikma masyarakat terhadap koperasi pada umumnya. Data per 31 Desember 2016 menggambarkan jumlah anggota GKKI yang ada di kopdit-kopdit primer 2.865.000 lebih. Ada pertumbuhan, tetapi tidak cukup besar. Padahal, harapan dan cita-cita GKKI tahun 2020 anggota individu harus mencapai 10 juta orang. “Angkanya memang masih sangat jauh, namun seluruh anggota gerakkan akan berupaya kerja keras sehingga jumlah anggota itu akan mendakati. Dengan semangat kebersamaan saya yakin target bisa dicapai,” katanya optimis.

Sesuai visi dasar gerakkan credit union, melepaskan masyarakat dari ketergantungan bantuan dari luar, maka harus dibangun di atas pondasi kekuatan sendiri dalam semangat solidaritas, dan keswadayaan. Dengan itu kita tiada hentinya berpegang teguh pada 4 pilar gerakkan yaitu; pendidikan, swadaya, solidaritas dan inovasi. Kalau dalam koperasi pada umumnya mungkin pendidikan cuma slogan, tetapi untuk gerakkan CU, pendidikan menjadi kewajiban bagi seseorang bila ingin menjadi anggota. Banyak primer telah melakukan inovasi terkait pendidikan wirausaha kepada kelompok-kelompok. BKCU Kalimantan dengan jaringan primernya boleh menjadi contoh dari kegiatan-kegiatan ini.

Gerakkan Kopdit senantiasa membangun kekuatan dan kemandirian melalui prinsip swadaya. Jika BKCU tegas menolak dana dari luar, tetapi Kopdit di Flores, Kopdit Obor Mas, misalnya, masih mau menerima penyaluran KUR. Ini juga satu-satunya yang mengikuti program KUR dari pemerintah. “Karena kita berada dalam satu rumah, dengan pikiran yang berbeda, instink-instink bisnis yang berbeda, tidak harus membuat kita saling menilai,” kata Eduardus  berharap.

Di tempat lain banyak kelompok dengan nama sejenis koperasi simpan pinjam yang mendapat dana bantuan dari pemerintah. Dan ini, tidak berhasil – jarang sekali yang berhasil, karena masing-masing mempertentangkan berapa duit yang diberikan oleh pemerintah, sudah digunakan untuk apa. Tetapi dengan prinsip keswadayaan yang kuat, kita tidak pernah mempersoalkan itu. Masing-masing tahu diri bahwa semua uang adalah kontribusi dan jumlahnya masing-masing yang berbeda.

Semangat solidaritas yang membuat terus berkembang karena saling membantu. Satu orang anggota, akan membantu anggota yang lain dalam konteks kesulitan. Bukan tidak mungkin, primer yang satu akan membantu primer yang lain dalam konteks Puskopdit. Dan dalam konteks GKKI, Puskopdit yang satu harus bisa membantu Puskopdit yang lain. Puskopdit BKCU bisa memberikan contoh-contoh yang baik; mpendidikan, pendampingan, bagi gerakkan kopdit-kopdit yang lain. Juga bisa memberikan peluang sebagai tempat pembelajaran bagi primer-primer di wilayah yang lain.

Disadari bahwa dalam gerakkan credit union, ke depan dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang dihadapi bisa jadi dari internal sendiri. Tantangan internal lebih kepada manajemen dan mental; pengurus dan pengawas yang cenderung melihat Kopdit sebagai gerakkan yang memiliki uang, komitmen dan integritas menjadi berkurang. Sikap itu harus dibuang jauh-jauh, dan mengabaikan hal-hal yang terkait dengan uang. Karenanya, untuk membangun dan mengembangkan gerakkan harus dibangun komitmen dan integritas moral yang tinggi.

Hambatan lain, tingkat pemahaman anggota maupun manajemen tentang jati diri, nilai-nilai dan prinsip CU masih kurang. Pemahaman yang kurang menjadikan praktek pengelolaan CU keluar dari koridor dan jati diri yang semestinya. Faktor lain, penentuan kebijakan yang tidak demokratis dan sikap apatis anggota yang pasrah menerima atas penetapan kebijakan. Sering kita temukan itu ketika pengurus dengan nafas otoriternya pada akhirnya memaksakan kehendak untuk membuat kebijakan yang mau tidak mau harus diikuti oleh anggota. Namun hal ini tak terjadi dalam gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan.

Momok terbesar adalah kredit macet yang perlu dicarikan solusi serius untuk bisa menyelesaikannya. Kita terlalu terbuka, terlalu bebas karena anggota selain sebagai pemilik juga pengguna, sehingga dalam konteks pelayanan pinjaman syarat-syaratnya cenderung lebih mudah dibandingkan dengan lembaga lain. Dampak dari kemudahan itu kita dihadapkan pada persoalan macet – lalai. Hal ini perlu disiasati dengan berbagai cara sehingga pinjaman yang diberikan harus benar-benar sesuai dengan persyaratan. (mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *