Walau pun Menjadi Modern, Akar Budaya CU Tidak Akan Berubah

Konsepnya bukan banyak berteori. Teori, ya! Tapi praktek lebih penting sambil mencari pola. Kita harus perang dulu dengan senjata dan strategi yang dimiliki. Menang kalah, soal nanti.

Prinsipnya, harus tahu medan,” tegas Agus Rahman, yang terpilih kembali untuk keduakalinya menjadi Ketua Koperasi Credit UnionMuare Pesisir (CUMP) dalam Rapat AnggotaTahunan (RAT) tahun buku 2012, sekaligus pemilihan pengurusbaru periode 2013 – 2015.

Koperasi Credit Union, kata dia, pangsa pasarnya sangat luas. Tetapi yang menjadi anggota belum seberapa. Kota Pontianak saja mungkin penduduknya sekitar 600.000 jiwa yang jadi anggota Koperasi Credit Union bisa jadi belum ada 5% yang menjadi anggota Credit Union. CUMP yang berbasis mayoritas Muslim harus tampil beda. “Ini menjadi nilai jual tersendiri untuk bersaing secara sehat, bukan untuk menjatuhkan teman lain. Ingat, inilah yang bisa menangkis kesan bahwa Credit Union itu bukan misi, dalam tanda kutif, agama. Saya sering ditanya, Pak, Credit Union itu misi? Saya katakan betul! Tetapi misinya kesejahteraan bagi semua,” tegasnya.

Kehadiran Muare Pesisir, lanjut dia, jauh lebih gampang diterima masyarakat. Bukan berarti anggota Muare Pesisir semua Muslim. Yang non-Muslim pun banyak. Ini yang seharusnya terus dikembangkan. Kesempatannya jauh lebih besar dibandingkan dengan Credit Union yang anggotanya sebagian besar non-Muslim. “Muare Pesisir bisa lebih mudah masuk ke komunitas pengajian – Majelis Taklim,” tutur Agus, seraya mengaku ketika memperjuangan CUMP sempat kena semprot pejabat bupati. Namun dia tidak gentar. “Risiko perjuangan. Saya harus jelaskan apa dan bagaimana misi Credit Union. Alhamdulillah, penasehat CUMP sekarang Bupati Kubu Raya, H Muda Mahendrawan,SH, sekaligus menjadi anggota, nomor 3017. Masih banyak jajaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang menjadi anggota CUMP,” jelasnya.

Ada ciri khas yang dibawa CUMP, yaitu indentik dengan masyarakat Melayu. Budaya Melayu itu pantun. Di manapun Agus muncul, selalu berpantun. Dan itu lengket di benak teman-temannya di gerakan Credit Union. Kalau datang di suatu acara, selalu disuruh berpantun. Pantun Layar Meretas karya Agus sudah dipatenkan oleh Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Layar meretas di ujung tanjung.Anak belanduk dalam perigi. Kubu Raya memang pantasdisanjung karena nyata buat anak Negeri. Pantun lain untuk misi Credit Union; Padang jauh di Bumiayu, tali seutasdipiling pantas. Bersama CU ekonomi maju, solusinyacerdas, miskin diberantas. “Semua CU boleh pakai, karena pantun itu original karya saya, bukan saduran,” kata Agus yang memang senang sastra.

Tentang kepercayaan anggota yang memilihnya kembali sebagai ketua Agus mengatakan; “Jabatan itu hanya ada dua hal. Kalau tidak kita yang meninggalkan jabatan, jabatan yang akan meninggalkan kita.” Artinya,

kalau jabatan meninggalkan kita, jika masanya habis, selesai sudah. Sebaliknya, kalau kita yang meninggalkan jabatan, dalam masa tugas kita dipanggil Sang Maha Esa. Ada Hadis Nabi, “tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat.” Pesan itu, kita harus belajar sejak lahir sampai kita meninggal. “Apakah saya sudah sukses? Sukses itu tidak pernah berhenti pada suatu titik. Sukses itu sebuah proses yang terus berkelanjutan, dan setiap hari terus berubah. Saya banyak belajar dari kehidupan nyata,” jelas Agus yang juga menjabat sebagai Kepala Desa.

Hal yang sangat prinsip, kata dia, CUMP ini harus terus tumbuh dan berkembang menjadi besar. Karena Bupati Kubu Raya dan jajarannya banyak yang menjadi anggota CUMP, kata dia pengaruhnya sangat besar. Satpol PP pun banyak yang jadi anggota CUMP. “Pak Bupati itu sangat peduli dengan ekonomi kerakyatan. Kita harus salut dengan CU lain yang tumbuh dan berkembang bukan dari tengah kota, tetapi dari masyarakat pedalaman. Kalau bicara koperasi, Koperasi Credit Union inilah koperasi sejati. Karena basisnya anggota, swadaya, dan mandiri, tidak mengandalkan pihak ketiga, dari perbankan, misalnya. Atau menunggu bantuan modal dari pemerintah,” urai Agus, yang senang keliling dari ujung ke ujung mensosialisasikan CUMP sekaligus

mengunjungi anggota dan warganya.

Dalam berbagai kesempatan, Agus mengatakan: “Kita diajarkan bahwa tangan yang di atas selalu lebih daripada yang di bawah.” Bagaimana kita membantu orang, kata Agus, kalau kita tidak mampu membantu diri sendiri. Di Credit Union itu diajarkan untuk mandiri. Sebenarnya semua agama juga mengajar kepada kita untuk mandiri, tidak bergantung kepada orang lain. Kita harus berbuat, dan berkreasi. Dalam berbagai kesempatan ceramah, Agus yang sering dipanggil Pak Uztad, selalu mengatakan; “Kita jangan pernah menjadi orang asing di negeri sendiri. Kalau ada satu tempat untuk berkembang, kita harus menjadi agen perubahan. Jangan menjadi korban sebuah perubahan.” Kepada para tokoh, Uztad atau penceramah, Agus selalu mengatakan dirinya ada di Credit Union.

Credit Union, lanjutnya adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan untuk membangkitkan ekonomi umat. “Jangan membuat hidup itu menjadi terbatas. Bukankah nenek moyang kita hanya meninggalkan dua pekerjaan, petani dan pedagang. Tidak lebih daripada itu. Di Koperasi Kredit Union, sebenarnya bukan hanya diajarkan simpan pinjam, tetapi juga diajarkan bagaimana kita berkarya – wirausaha. Usaha apa saja boleh. Dalam ceramah, disadur saja. Dan bukan hanya di masyarakat Muslim. Buktinya saya juga diterima di lingan teman-teman non-Muslim. Saya banyak kenal Romo. Fanatik boleh, dalam konteks iman. Mungkin kelihatannya aneh ketika dalam rapat-rapat saya ada di tengah-tengah mereka. Dan menjadi aneh, mungkin, saya banyak menghafal ayat-ayat dalam Alkitab. Apakah salah? Tidak! Saya mempelajari itu supaya tidak menjadi katak dalam tempurung, hanya tahu saya saja. Sedangkan kita membangun kesejahteraan umat secara bersama-sama,” jelasnya.

Agus sangat ingin diundang di masyarakat Muslim yang sulit ditembus CU Kristiani. “Mari kita bicara sama-sama, bahwa kami juga ada di CU. Kalau di Indonesia yang kini penduduknya hampir 250 juta jiwa, 10% saja menjadi anggota Koperasi Credit Union, perubahan ekonomi sudah luar biasa. Tapi faktanya, anggota CU sekarang ini baru sekitar 2 juta-an. “Kalau di Kalimantan Barat (Kalbar) pemerintahnya mendukung. Mudah-mudahan, pemerintah juga mendukung,” katanya penuh harap. Koperasi Credit Union menurut Agus adalah lembaga keuangan yang benar-benar merakyat, untuk rakyat dan bisa menyesuaikan kebutuhan rakyat. Adakah lembaga lain bisa menerima setoran uang di hari Mingu? Adakah yang bisa melayani nasabah sampai tengah malam di rumah? Jam setengah enam pagi mereka antar setoran juga diterima, dan tidak ada masalah sampai hari ini. Kalaupun ke depan Koperasi Credit Union tumbuh dan maju menjadi modern, tetapi akar budaya CU tidak akan berubah. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *