Wirausaha Muda Unggul Menopang Indonesia Maju

Pemuda Indonesia punya tugas besar mewujudkan moderasi dalam beragama, berbangsa, dan bernegara sesuai falsafah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Hadirnya wirausaha muda unggul akan menopang terwujudnya Indonesia Maju.

Perubahan adalah keniscayaan yang terjadi di semua negara dan pemuda. Pemuda adalah ujung tombak masa depan bangsa. Pemuda menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan dan menjadi motor setiap perubahan.

“Karena, Indonesia lahir dari ide para pemuda, maka pembinaan pemuda dan mengarahkan mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan positif penting dilakukan dalam semua kegiatan yang bersifat formal maupun informal,” papar anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Dimaz Radityo Nazar Soesatyo kepada UKM berkenaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2019 mendatang.

Dia menambahkan, Negara Indonesia ini lahir dari perjuangan para pemuda. Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) melibatkan pemuda. Pengembangan pemuda merupakan hal yang paling strategis dalam perwujudan SDM unggul menuju Indonesia yang maju. Negara hadir menjadi pemantik tumbuh suburnya anak muda mengembangkan potensinya. “Setiap pemuda memiliki potensi beragam. Tugas kita mendampingi  dan memastikan potensi itu agar dapat ditumbuhkembangkan  secara baik,” urainya.

Ada tiga aspek pengembangan kepemudaan yang menjadi fokus pemerintah.  Ketiga aspek pembangunan kepemudaan itu adalah; kepemimpinan, kepeloporan, dan kewirausahaan. Indonesia maju harus ditopang dengan tumbuhnya wirausaha muda mandiri. Kini masanya anak muda tumbuh mandiri dan berusaha. Pemerintah mendorong pemuda yang memiliki potensi dan komitmen mengembangkan kewirausahaan. Pemerintah telah menginsiasi sejumlah program untuk mendorong semangat kewirausahaan di kalangan pemuda.

Ketika ditanya bagaimana bentuk program pembangunan kewirausahaan bagi pemuda,  putra  Ketua DPR-RI, Bambang Soesatyo ini menyebutkan, ada tiga tahap. Pertama, penumbuhan minat di bidang kewirausahaan dengan cara pelatihan – pendampingan. Kedua, dukungan fasilitas permodalan bagi wirausaha muda pemula  yang sudah memulai, namun belum bankable, dan ketiga , apresiasi dan penguatan jejaring untuk kolaborasi.

Pada level pengembangan minat dan bakat kewirausahaan, ada dua titik sasaran. Yakni titik strategis, segmen urban dan rural, perguruan tinggi dan pesantren. Dari sisi komposisi penduduk Indonesia, yang berusia 16 – 30 tahun sekitar 62 juta jiwa. Memang, dengan daya dukung yang dimiliki tidak berpretensi menyasar secara keseluruhan, cukup ambil pilihan-pilihan yang strategis. Antara lain; komunitas kampus, anak-anak muda yang mempunyai nalar akademis kreatif, memiliki motivasi dan terawat semangat belajarnya. Mereka perlu diberikan stimulasi dan pemahaman pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Jiwa wirausaha bukan hanya dagang, tetapi bagaimana seseorang memiliki kemampuan mengenali potensi diri dan mengkonversi potensi yang dimiliki dengan kreativitas dan inovasi menjadi nilai yang bersifat ekonomis. Setelah muncul kesadaran berwirausaha, kemudian bagaimana berani memulai. Mereka yang telah sukses berwirausaha diajak untuk berceraita dan berbagi tips. Pemerintah telah siap memberikan pancing, disesuaikan dengan kebutuhan. Modal, alat, dan kemudahan sesuai bidangnya. Setelah jalan dikolaborasikan dengan dunia usaha, lembaga pembiayaan, baik bank maupun nonbank. Kuncinya, pencarian bakat, penumbuhan, stimulasi memanfaatkan teknologi, kemudian membangun kolaborasi dari berbagai institusi yang memiliki kepedulian.

Dimaz mengajak generasi muda mengisi semangat Sumpah Pemuda dengan prestasi. Menurutnya, Sumpah Pemuda merupakan momen bagi anak bangsa untuk meningkatkan prestasi. Prestasi merupakan kontribusi nyata pengamalan nilai-nilai Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928. Selain mengajak generasi muda mampu menciptakan inovasi-inovasi baru untuk meraih prestasi, Dimaz ingin menyalurkan aspirasi masyarakat agar mereka memperoleh akses permodalan lebih mudah guna mengembangkan usaha dan meningkatkan ekonominya.

Ditemui di ruang kerjanya, Dimaz mengemukakan, di wilayah Jakarta Utara, misalnya, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Mereka sangat memerlukan bantuan memperoleh akses permodalan untuk mengembangkan usaha dan perekonomian keluarga. Di wilayah itu, banyak pedagang kecil; pedagang nasi, tukang sate, dan usaha kecil lainnya. Dia mengaku, sejak bujangan merintis usaha  rumah makan ayam Turki dan Rice Cook. Di Bandung dua dan di Jakarta satu, serta bisnis jam tangan unik yang terbuat dari kayu.

Generasi muda harus berani memulai berwirausaha. Dia akan mengajak anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) membantu mempermudah mencari modal. Dengan semakin banyak wirausaha angka pengangguran bisa ditekan dan berkurang. Total jumlah angkatan kerja tahun 2018 naik sebanyak 2,39 juta menjadi 133,94 juta jiwa dengan jumlah pengangguran sebanyak 6,87 juta. Sedangkan yang bekerja sebanyak 127,07 juta jiwa.  Agar keinginannya terealisasi, dia akan menggendeng HIPMI untuk mengedukasi dan mengembangkan usaha.

Generasi muda harus punya power. Punya planing untuk menentukan masa depan. “Saya merintis usaha, buka warung – jualan nasi sejak masih bujangan,” katanya memberi contoh. Bonus demografi yang dialami Indonesia, menjadi kesempatan besar bagi generasi muda untuk menjawab tantangan masa yang akan datang. Banyak pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Pengaruh dari luar, yang dikhawatirkan terutama pengaruh negatif. Begitu mudahnya akses internet, belum bisa diawasi secara maksimal. Kita membutuhkan generasi muda yang kritis dan konsisten menjaga nilai keagamaan dan ke-Indonesia-an di tengah masyarakat.

Yang kini sedang dikumandangkan pemerintah, “Sumber Daya Manusia Unggul, Indonesia Maju.” Kini saatnya untuk memperbaiki kualitas SDM bangsa secara total agar menjadi bangsa yang unggul. Untuk itu dibutuhkan program yang progresif. “Dunia luar telah mengakui, Indonesia mampu mewujudkan kemajuan berdemokrasi. Namun masih sulit mencetak SDM unggul dalam julah besar yang berdaya saing global sesuai kebutuhan industri,” tutur Dimaz.

Yang juga tidak kalah penting, kata dia, bagaimana mempersiapkan SDM dari kalangan generasi muda produktif. Bonus demografi akan menjadi bencana bangsa jika generasi mudanya tidak kreatif – inovatif. Meningkatkan kapasitas kepakaran dan profesionalitas kaum muda adalah untuk menjawab tantangan. Di era digital, penggunaan aplikasi berbasis internet harus dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan bisnis. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menargetkan pada 2020 nilai bisnis ekonomi digital mencapai 130 miiar dollar AS atau setara Rp 1.759 triliun. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *