Yakobus Jano Mengalirkan Air Kehidupan Dari Lereng Gunung Kimang Buleng

“Dibesarkan dengan sakit, dicibir, diejek, diolok, dicemooh, bahkan dibilang ‘gila’. Namun, karena komitmen pada kesejahteraan bersama dan Tuhan menjadi dasar keyakinan, maka Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air mampu bertahan, terus bertumbuh, berkembang sampai hari ini,” tutur Ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano kepada Majalah UKM, melukiskan ziarah – perjalanan Kopdit terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tahun 2020 genap berusia seperempat abad (25 th), didirikan pada 1 April 1995.

Andai tak terjadi wabah yang menggemparkan dunia dan menyengsarakan umat manusia di seluruh muka bumi, yaitu wabah Corona, Covid-19, pengurus Kopdit Pintu Air didukung penuh anggota yang ditetapkan dalam RAT tahun 2018 sebagai program tahun buku 2019, saat merayakan Pesta Perak direncanakan mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Dusun Rotat, tempat kelahiran Kopdit Pintu Air yang beranggota kaum Nelayan pe-Ternak pe-Tani Buruh (NTTB).

Hari ulang tahun (HUT) ke-25 Kopdit Pintu air memiliki pertalian unik dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Bank Rakyat Indonesia (BRI), almamater Yakobus Jano. Di tahun yang sama ketika KSP Kopdit Pintu Air merayakan HUT ke-25, negara kita Indonesia merayakan HUT ke-75, dan BRI dimana Jakobus banyak menimba ilmu keuangan, merayakan HUT ke-125 tahun. Ini merupakan sebuah kebetulan, semacam pertalian yang luar biasa.

Acara yang telah tersusun antara lain; Peluncuran produk minyak goreng kelapa merek Pintar, produk garam, peluncuran program pendaftaran anggota system online. Peluncuran produk-produk baru tersebut untuk menjawab tantangan Gunernur NNT Viktor Laiskodat dalam seminar sehari kala Kopdit Pintu Air berusia Triwindu (24 th) 2019, dimana Kopdit Pintu Air menjadi penyelenggara seminar bersama saudara tuanya, Kopdit Obor Mas. Gubernur mengatakan: “Saya tidak mau setiap tahun hanya mendapat laporan jumlah anggota sekian puluh ribu, aset koperasi sekian ratus miliar. Laporkan kepada saya produk apa saja yang dihasilkan oleh koperasi, produksinya di kabupaten mana saja, dan berapa banyak telah memanfaatkan potensi yang dihasilkan masyarakat NTT.” Direncanakan pula peluncuran buku sejarah Kopdit Pintu Air dan buku Napak Tilas Yakobus Jano.

Bisnis utama Kopdit Pintu Air memang di bidang keuangan, produk-produknya antara lain; Simpanan Saham (simpanan pokok dan simpanan wajib) dan Non Saham. Simpanan Non Saham terdiri atas Simpanan Bunga Harian (Sibuhar), Simpanan Dana Pendidikan (Sidandik), Simpanan Wisata Rohani (Sipintar), Simpanan Sukarela Berjangka (Sisuka), dan Simpanan Masa Depan (Simada). Untuk mendapatkan pemasukan tambahan Kopdit Pintu Air membuka usaha  Pintar Asia Swalayan, Media Ekora NTT, dan Jasa Transportasi.

Unit usaha terbaru yang semula diharapkan bisa diresmikan oleh Presiden pesta perak adalah rumah produksi dan pengolahan minyak kelapa mentah (crude coconut oil) menjadi minyak goreng kelapa. Usaha mengolah potensi kopra hasil pekebun masyarakat dimulai tepat pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74, bertempat di Kantor Pusat dilakukan transaksi perdana pembelian minyak kelapa mentah dari petani. Pembelian minyak kelapa mentah dari petani secara langsung dengan harga layak. Selama ini petani terbelenggu oleh harga penjualan yang tak berpihak kepada mereka.

Harga komoditi kelapa terutama kopra, yang bertahun-tahun sangat rendah tidak memberikan kesejahteraan kepada pekebun kelapa. Gagasan menjadikan produk minyak goreng kelapa sebagai produk lokal yang unggul dan berdaya saing di Flores NTT, merupakan jawaban dan kepedulian Kodpit Pintu Air meningkatkan kesejahteraan anggota dan perekonomian rumah tangga pekebun kelapa pada umumnya.

Akibat banyak pekebun kelapa kecewa karena harga komoditi kopra terlalu rendah membuka peluang tumbuhnya budaya instan – ingin cepat dapat uang. Maka buah kelapa tidak diolah dan diproduksi menghasilkan produk turunan, namun dijual gelondongan ke luar Pulau Flores. Kini Kopdit Pintu Air mulai memberdayakan anggota, membali minyak kelapa untuk kemudian diolah kembali agar memiliki nilai tambah.

 Menyadari kebutuhan transporasi udara di wilayah timur Indonesia sangat tinggi, sejak 2 – 3 tahun silam Kopdit Pintu Air juga telah mempersiapkan rencana pembelian pesawat terbang untuk melayani penerbangan komersial. Pengurus pun telah melakukan pendekatan dengan calon mitra, PT Trans Nusa, yang telah lama membangun bisnis penerbangan di kepulauann Provinsi NTT. Bahkan, Jakobus didampingi GM, Gabriel Pito Sorowutun, Ketua Pengawas, Barnabas Hening, Sekretaris Martonsius Juang, Kepala Humas, Agustinus Nong, telah melakukan pembicaraan serius dengan Boss PT Trans Nusa Leo Budiman, di Kantor Pusat PT.Trans Nusa di Jakarta Pusat.

Leo memaparkan secara gamblang peluang dan tantangan bisnis penerbangan. Bisnis di bidang transportasi udara tidak mudah, resikonya sangat tinggi. Selain harga pesawat mahal, biaya operasional dan pemeliharaan juga butuh biaya besar. Karena itu, harus dikaji dan dipertimbangkan secara matang mengenai untung dan rugi. Kini, rencana beli pesawat untuk sementara waktu ditunda, karena situasi perekonomian juga sedang kurang baik akibat wabah global Covid-19. Persiapan lainnya, membangun pabrik air minum dalam kemasan, SPBU, peternakan dan holticultura.

Tentang alasan mendasar mengundang Presiden, kata Jano, begitu dia sering dipanggil, karena kerinduan seluruh anggota Kopdit Pintu Air – kaum Nelayan, pe-Tani, pe-Ternak dan Buruh (NTTB) ingin melihat secara langsung Presiden, yang selama ini hanya disaksikan lewat teve. Kehadiran seorang pemimpin yang berasal dari rakyat biasa, sederhana, jujur, pekerja keras membangun perusahaan sendiri dari bawah menjadi sukses, kemudian menjadi Walikota, Gubernur sampai menjadi Presiden, pasti menjadi motivasi dan pemberi semangat yang luar biasa. “Sudah puluhan tahun kami orang kampung memiliki impian bisa melihat secara langsung Presiden hadir di tengah-tengah perjuangan kami,” jelas Jano.

Menurut Yakobus, usia 25 tahun menjadi satu batu loncatatan, sebuah tongkat estafet yang harus dilanjutkan untuk mengantar Kopdit Pintu Air menuju Usia Emas, 50 tahun kelak yang juga bertepatan dengan seabad (100 th) Indonesia Merdeka. “Ini menjadi sejarah, ketika kita merayakan ulang tahun ke-25, diberikan hadiah oleh Tuhan dengan sebuah wabah. Dalam hal ini kita tidak hanya melihat peristiwa Covid-19 dari perspektif jasmani semata, tetapi juga dari perspektif iman, bahwa rencana Tuhan bukan rancangan manusia. Anggota Kopdit Pintu Air juga harus merefleksikan bahwa inilah kehidupan. Mari mensyukuri peristiwa Covid-19 ini dari dua sisi. Saya ibaratkan seperti dunia yang diciptakan dengan adanya siang dan malam, sehingga kita harus mensyukuri itu, baik itu siang maupun malam,” urai Yakobus tetap bersyukur.

***

Sejak awal didirikan, lanjut Yakobus, ada saja tantangan yang menghadang. Ketika digagas mendirikan koperasi, tidak serta merta peserta arisan menerimanya. Bahkan banyak menolaknya. “Namun kami tidak patah semangat. Ada 50 warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kab. Sikka, NTT akhirnya sepakat mendirikan koperasi. Ke-50 perintis itu tahu betul betapa sakit melahirkan usaha bersama bernama Kopdit Pintu Air,” jelas Yakob. Sejak awal, para perintis berhadapan dengan situasi sosial di kampung yang kurang baik. Era 90-an kehidupan masyarakat NTT, Rotat khususnya, diselimuti berbagai kesulitan, terutama masalah kemiskinan.

Sebagian besar warga Rotat bermatapencaharian sebagai petani atau buruh tani karena tidak punya tanah sendiri. Celakanya, tidak semua lahan pertanian tanahnya subur. Karena itu banyak yang memanfaatkan lahan di sekitar Sungai Wair Puang yang tanahnya cukup subur, dan dimusim kemaraupun mata airnya tetap menalir. Sungai Wair Puang bermata air dari balik rimba pepohonan besar berusia puluhan – bahkan ratusan tahun. Alam nan elok itu tetap terjaga dengan baik oleh masyarakat setempat.

Dua wartawan Majalah UKM, majalahukm.com dan Chanel Youtube ukm auvi, D. Marjono dan F. Adityo, dipandu oleh salah seorang penduduk asli Dusun Rotat, Lukas, yang juga anggota Kopdit Pintu Air, berkesempatan menelusuri jalan setapak di punggung Gunung Kimang Buleng. Lereng-lerengnya cukup terjal berbahaya, hanya bisa dilewati orang berjalan kaki dan kuda mengangkut hasil panen. Perjalanan dari jalan kecamatan masuk hutan untuk mencapai sumber air bersih di lembah yang mengalir jauh sampai ke Kota Maumere, jaraknya kurang lebih 20 kilometer, dibutuhkan waktu sejam lebih. Perjalanan lebih lama ketika mendaki, pulang.

Menuruni lereng yang diselimuti semak belukar, harus ekstra hati-hati. Lengah, terpeleset kaget karena tiba-tiba muncul ular besar dan berbisa yang konon masih banyak, bisa masuk jurang yang dalamnya tidak kurang dari 40 – 50 meter. Sebelum masuk hutan, Lukas sudah berpesan; “Kita pelan-pelan saja! Karena wajah baru (belum dikenal), perlu pakai ini,” kata Lukas seraya melingkarkan gelang di tangan kami berdua sebagai “tanda persahabatan” dengan alam seisinya. Gelang itu terbuat dari tumbuhan merambat entah apa namanya.

Bagi orang-orang seperti Lukas yang terbiasa keluar masuk rimba belukar, bisa berjalan cepat. Tetapi bagi pendatang yang terbiasa melewati rimba kendaraan macet di jalanan, harus berjalan pelan-pelan seperti keong. Belum lagi ketika harus berjalan di atas pipa besi yang menghantarkan air minum ke masyarakat Kota Maumere, tidak bisa menjaga keseimbangan, jatuh ke sawah atau ke kali. Yang menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara membawa pipa-pipa besi berdiameter cukup besar sampai ke lembah, kemudian menyambungnya melewati lereng terjal. Menurut Lukas, semua dikerjakan secara tradisional, padat karya digotong ramai-ramai.

Sampai di lembah berfnafas lega bisa melewati tantangan berat berbahaya. Namun masih harus berjalan lagi cukup jauh untuk sampai di pusat mata air. Gemericik air membentur bebatuan mengalir jernih di anak sungai, ditimpali sayup-sayup gesekan ranting pepohonan berdaun lebat tertiup angin lembut, menimbulkan simponi sahdu, membuat siapa pun betah menikmati kedamaian alam. Menurut kitab suci, utamanya Injil Tuhan, AIR adalah sumber kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa setetes air. Pun tak ada rumah tanpa pintu. Secara harafiah, orang hidup memang selalu membutuhkan air untuk minum, dan pintu untuk masuk – keluar rumah.

Di lembah alam nan asri, hamparan padi menguning, juga tanaman palawija dan sayur-sayuran tumbuh subur. Saat itu bulan April, masih musim hujan. Kadang pagi hari pun turun hujan lebat. Siang itu, seorang ibu berusia sekitaran 60 tahun, sibuk memetik kangkung di sawah untuk dijual. Dia menyapa ramah dengan bahasa daerah, sehingga Lukas harus menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata wanita perkasa itu fasih juga berbahasa Indonesia.

Di lahan berbeda ada beberapa petani, ada yang pasangan suami isteri paruh baya sedang panen. Mereka bahu-membahu, ada yang potong jerami dengan padinya, ada yang merontokan gabah untuk dijemur, baru kemudian dibawa pulang. Sore hari yang perempuan pulang ke rumah, sedangkan laki-laki bermalam di gubuk yang dibuat permanen, menjaga gabah supaya aman. Para petani tersebut mengaku, mereka juga anggota Kopdit Pintu Air. Hampir 100% warga Dusun Rotat memang anggota koperasi.

 Sebagai petani, masyarakat Dusun Rotat membudidayakan lahannya dengan menanan padi, jagung, palawija dan sayur-sayuran, terutama kangkung. Hasilnya, dijual ke pasar-pasar di Kota Maumere. Waktu itu kangkung Wair Puang sempat jadi primadona. Kecuali tanaman berusia pendek, 2 – 3 bulan sudah bisa panen, banyak juga yang berkebun kakao – cokelat dan kelapa. Bahkan, sejak berabad-abad silam, kakao dari NTT pada umumnya sudah terkenal di manca negara. Karena kualitasnya sangat baik diekspor ke luar negeri, kebanyakan ke Eropa. Namun hasil pertanian itu setiap tahun terus menurun, sehingga tak lagi menjadi andalan ekonomi keluarga.

Persoalan lain, kehadiran rentenir sangat meresahkan. Para lintah darat menjual uangnya dengan bunga tinggi untuk meraup keuntungan besar, sehingga mencekik orang yang sedang mengalami kesulitan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, warga Rotat yang bergejolak akibat hasil panen minim harus menelan pil pahit perilaku kotor rentenir. Karena beban ekonomi keluarga makin berat, banyak orang tua tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Terpaksa anak-anak harapan masa depan bangsa itu putus sekolah.  

Sebenarnya, tahun 1990-an di Kabupaten Sikka bermunculan koperasi baru. Ada beberapa koperasi, Koperasi Unit Desa (KUD), misalnya, sering menebarkan cerita suksesnya. Salah satu koperasi sukses dan terkenal, Koperasi Kopra. Kecuali koperasi yang didirikan masyarakat Rotat sendiri, kata Yakobus, ada juga koperasi dari luar yang membuka kantor cabang – pelayanan, di Rotat. Sayangnya, koperasi-koperasi itu tidak berusia panjang. Lebih banyak cerita koperasi yang ambruk dalam usia muda. Baru 2 – 3 tahun didirikan mati, lantaran salah kelola pengurusnya tidak paham berkoperasi. Dampaknya, orang tidak percaya lagi jika akan mendirikan koperasi baru.

Masalah-masalah sosial dan ekonomi itu merupakan tantangan sangat berat bagi para perintis Kopdit Pintu Air yang kini memiliki kantor pusat sangat megah, bahkan kantor koperasi termegah di NTT yang dibangun di dusun kelahirannya, Rotat. Adalah Maria Densiana, seorang bidan desa mengajak kerabat dekatnya untuk membentuk usaha bersama simpan pinjam (UBSP) yang ternyata menjadi cikal bakal Kopdit Pintu Air. Ajakan itu tujuannya untuk perbaikan ekonomi keluarga.

Kebetulan dia pernah belajar koperasi di Dinas Kesehatan Sikka. Pernah pula menjabat sekretaris di Koperasi Bola. Karena berkoperasi itu sangat baik, dan banyak manfaatnya maka dia ajak orang sekampung mendirikan koperasi. Ada yang tertarik kemudian bergabung, banyak pula yang ragu-ragu. Mereka sanksi, lantaran banyak koperasi salah kelola lalu gulung tikar. Menjadi anggota koperasi memang pilihan, dan sukarela.

Yang mengecewakan, ada pihak yang menghasut agar tidak bergabung menjadi anggota koperasi rintisan Maria. Maria tidak peduli suara miring, cibiran dan olok-olokan orang yang meragukan keseriusannya mendirikan koperasi. Setiap bulan mereka berkumpul di bawah rimbunan pohon kakao di tengah kampung, membahas usaha bersama yang baru dimulai. Untuk urusan konsumsi, swadaya. Ada yang membawa beras, kayu api kopi dan gula. Kadang, ada yang membawa lebih dari yang disepakati.

Karena semua sedang proses belajar berkoperasi, hampir setiap pertemuan membahas masa depan koperasi terjadi debat kusir, ngotot, gaduh, mempertahankan pendapatnya, ingin menang sendiri. Karena perdebatan-perdebatan itulah pelan namun pasti yang membuat koperasi menjadi besar. Adalah Yakobus Jano orang yang selalu tampil di depan dan mampu mengendalikan suasana. Karena mimpi-mimpinya yang sering tak terjangkau orang lain, dia dianggap “orang gila”. Dan itu diakui, memang gila untuk membuat masyarakat lebih sejahtera.

Kamu susah aku bantu, aku susah kamu bantu adalah spirit gotong-royong yang digelorakan Kopdit Pintu Air dan bermuara pada satu visi mendampingi anggota menjadi orang kaya, sangat tepat. Ya kaya semangat, kaya ide, kaya usaha dan akhirnya meraih sukses yang dinantikan. Sebuah semboyan yang sekilas nampak ambisius dan hanya slogan namun syarat nilai kasih dan optimisme.

Mantan pejabat kantor cabang bank plat merah, Bank BRI di Maumere yang sering disebut kerah putih, pencuri uang dengan santun, berhasil mengolah selisih paham, ocehan, ejekan, cemooh, fitnah menjadi energi untuk membangun koperasi. Putera pasangan Petrus Moa dan Yuliana Sareng ini punya credo tersendiri; “Tidak ada yang tidak mungkin karena kita berjalan bersama Moang Gete – Tuhan”. Kalimat itu memiliki roh penyemangat kebersamaan untuk membangun Kopdit Pintu Air.

Berkat kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dengan dukungan pengurus dan manajemen Kopdit Pintu Air berkembang pesat. Ide kreatif, visioner dan kepiawaian Yakobus dalam manajemen, mematahkan tradisi lama bahwa membangun koperasi itu hanya menunggu kapan waktunya bubar. Kini pelayanan Kopdit Pintu Air genap berusia ke-25 tahun. Usai yang cukup matang dengan berbagai prestasi yang diraih.

Cabang Kota Maumere sekitar 12 Km arah timur dari Dusun Rotat, merupakan ‘sulung’ yang lahir dari ibu kandung Rotat. Setelah mendapatkan status badan hukum primer kabupaten tahun 2004 dan dinilai jumlah anggota di Kota Maumere sudah banyak, pengurus Kopdit Pintu Air memutuskan membuka cabang pada 1 November 2008. Sejak saat itu, sayap pelayanan terus dikepakkan ke berbagai wilayah lain. Manajemen Cabang Kota Maumere melayani belasan ribu anggota dan beberapa kelompok seperti; Watubuku, Wolomude, Unit Habi, Tomu, Neleloran, Nele Urun, Nangahure, Kolisia, Magepanda, Watuwa, Ndete, Koro.

Bagaikan mata air di lereng Gunung Kimang Buleng terus yang mengalirkan kehidupan ke berbagai penjuru, dan terus mengalir makin jauh ke Alor, Lembata, Adonara, Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Sumba, Larantuka, Maumere, Paga, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Lembor, hingga Labuan Bajo. Manajemen juga serius merintis beberapa kota lainnya seperti Jogjakarta, Sidoarjo, Depok, Jakarta, Batam, Kalimatan dan Papua. Tim yang diketuai Sekretaris Pintu Air Pusat, Marton Djuang dan Humas Vinsen Deo terus bergerak mensosialisasikan keunggulan Kopdit Pintu Air ke pelosok Nusantara.

Karena telah melintasi beberapa provinsi, maka pengakuan level nasional ditandai dengan naiknya status Kopdit Pintu Air menjadi Koperasi Primer Nasional tertanggal 23 Oktober 2017. Itu artinya Kopdit Pintu Air akan dapat membuka cabang lebih banyak di luar provinsi NTT dan mendapat pembinaan langsung dari Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia. Total kantor cabang ada 51 dan 26 KCP Pintu Air. Sedangkan jumlah anggota per 31 Desember 2019 sebanyak 260.000 orang lebih, dan total aset Rp 1,4 triliun. Fakta membuktikan, apapun tantangan yang dihadapi para perintis Kopdit Pintu Air berhasil disingkirkan. Namun, bukan tidak mungkin tantangan dalam wujud yang berbeda akan dihadapi esok hari.

Kopdit Pintu Air telah berhasil membangun gedung megah sebagai Kantor Pusat berukuran 30 X 40 meter, terdiri 3 lantai senilai Rp 15 miliar. Arsitekturnya modern dilengkapi lif. Sangat kontras dengan bangunan lain yang ada disekitarnya. Ini adalah monument keberhasilan masyarakat dusun yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Idenya saat itu sederhana. Setiap anggota dibebankan sumbangan Rp 100 ribu atau seharga 2 ekor ayam pedaging. Pengurus dan pengelola dibebani sumbangan Rp 200.000,-

Filosofi penting dari pembangunan gedung, kata Yakobus, kawanan semut yang telah menyatu, ayam bahkan gajah sekalipun tak bisa melawan. Anggota Kopdit Pintu Air yang 90% kaum nelayan, tani, ternak dan buruh (NTTB) itulah yang diumpamakan sebagai semut yang mandiri. Gedung megah yang dibangun langsung di Dusun Rotat itu menjadi cerminan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak berasal dari mana-mana, tetapi dari masyarakat Desa. Kalau orang desa digerakan dengan benar maka mereka akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk kemajuan daerah dan dan bangsa.

***

Adalah Romanus Woga (Rommy) salah seorang tokoh gerakkan Credit Union (CU), Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama Maumere yang pernah memimpin Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), kini menjabat Wakil Bupati Sikka, NTT, berperan besar menghantar sukses Kopdit Pintu Air, sehingga kini berada di jajaran 4 besar dari 800-an Kopdit prime di Indonesia.

Kepada Majalah UKM yang mewawancarai khusus di rumah dinas, Wakil Bupati mengatakan; “Ketika diminta oleh Pak Yakobus memperkenalkan CU kepada 50 orang yang hadir dalam pertemuan 5 April 1995 di bawah pohon kakao, saya tidak percaya kalau mau ber-CU. Bagaimana orang bank, sudah 30 tahun, mengundang untuk bicara koperasi. Namun, karena itu adalah kewajiban, saya datang untuk memperkenalkan koperasi kredit, terutama, di mana pun dan kapan pun.”

Setelah mendapat jawaban, Yakobus pun mengatakan; “Bapa di bank kami bikin uang, di CU kami bikin manusia.” Jawaban Yakobus itu membuat Rommy merasa yakin bahwa Raiffeisen muda asal Rotat ini akan mampu membawa CU seperti diharapkan Frederich William Raiffeisen pendiri credit union dunia. Raiffeisen sedari awal sudah berpesan; “Jangan berfikir tentang uang. Uang akan datang bila manusia mau bersatu.”

Di bawah pohon cokelat, yang tanahnya juga miring sehingga kursi pun tidak bisa berdiri tegak, kenang Rommy, mereka berembuk – berdiskusi membicarakan bagaimana cara menanggulangi ekonomi yang saat itu bernar-benar morat-marit, banyak petani di kampung susah untuk menyekolahkan anaknya. Mereka saat itu juga banyak yang menjadi korban rentenir.

Para rentenir memberikan pinjaman dengan bunga 30% per bulan. Bahkan ada yang 6 bulan bunganya 1 ½ kali dari pokok. Saat itu banyak warga masyarakat yang sawahnya – sebidang tanah untuk kehidupan, terpaksa digadaikan karena sulit mendapatkan uang tunai untuk biaya keluarga yang dirawat di rumah sakit, atau pendidikan anak. Kini, para perintis Kopdit Pintu Air boleh tersenyum bahagia lantaran perjuangan dan halang rintang yang dihadapi saat membangun kepercayaan berhasil.

Menerapkan konsep intervensi ala BRI ke berbagai daerah terus dikembangkan. Bagi Yakobus Jano sebagai mantan petinggi kantor cabang BRI di Maumere, konsep tersebut memang dikuasai dengan baik. Membangun jejaring melalui warga NTT yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia, bisa diibaratkan sebagai jalan tol untuk mencapai tujuan.

Kepala Badan Penghubung Provinsi NTT, Viktorius Manek, menyambut baik program Kopdit Pintu Air membuka kantor cabang di Jakarta. Menurutnya, kehadiran Kopdit Pintu Air tentu sangat mendukung ekonomi warga NTT yang ada di Jakarta dan di daerah lain. Dia bahkan membolehkan Kopdit Pintu Air membuka kantor pelayanan di Badan Penghubung NTT, karena menjadi pusat berbagai pertemuan seluruh ikatan keluarga besar (IKN) dari seluruh kabupaten.

Sebagai corong Pemprov NTT di Jakarta, Viktorius siap fasilitasi seluruh warga NTT yang datang ke Jakarta untuk membangun berbagai usaha dalam mendukung pembangunan ekonomi rakyat NTT. “Ini terobosan ekonomi yang baik bagi peningkatan ekonomi dan partisipasi rakyat dalam mendukung pembangunan di NTT,” kata Viktor yang juga sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Badan Penghubung Seluruh Indonesia (FORKABSI), yang berkantor Tebet Jakarta Selatan.

Jembatan tol untuk menyeberang ke berbagai daerah melalui warga NTT yang merantau di seluruh Indonesia, meski berbau kedaerahan, hanyalah sarana untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Karena yang menjadi anggota Kopdit Pintu Air semua lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. “Orang sukses itu bukannya tidak pernah gagal. Tetapi orang yang tidak pernah menyerah, berakhir happy ending – bahagia” tutur Romanus.

Berdasarkan hasil penelitian dari pengalaman CU Asia maupun CU di seluruh dunia, lanjut dia, ada 10 kunci sukses. Antara lain; SDM yang berkualitas. Ini penting. Karena itu di cabang-cabang SDM anggota perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kreteria anggota berkualitas seperti hymne credit union; simpan teratur, pinjam bijaksana, angsur tepat waktu, terencana, pendidikan selalu ikut, rapat-rapat selalu ikut.

Kemudian, kepercayaan anggota tinggi. Jadi, setiap cabang harus selalu melihat dan memantau berapa banyak anggota yang betul-betul mempunyai kepercayaan tinggi kepada cabang tersebut. Lalu, pelayanan yang berkualitas menjadi batu penjuru. Tokoh, pimpinan yang kompak, strong – kuat. Tokoh – pimpinan itu bukan hanya di pengurus pusat, tetapi juga di cabang-cabang, maupun di kelompok basis. Semua harus kompak dan kuat, karena anggota akan melihat. Jika pengurusnya tidak kompak, yang lalai mulai merasa punya kesempatan. Tetapi, jika pengurus kompak dan kuat, mereka juga akan takut.

Rommy juga berpesan, rolling – safari kunjungan pengurus ke semua cabang harus tetap dilakukan. Jangan lihat biaya, tetapi yang harus dilihat hasilnya kelak. Dan, produk koperasi harus yang betul-betul dibutuhkan anggota. Media komunikasi pun termasuk salah satu dari 10 kunci sukses. Kopdit Pintu Air telah melaksanakan dengan menerbitkan Ekorantt.

Untuk meningkatkan loyalitas dan militasi anggota, hal yang paling utama adalah melalui pendidikan. Pendidikan di koperasi tidak seperti di pendidikan formal di sekolah-sekolah. Pendidikan melalui pertemuan bulanan harus net working – mata rantai, masing-masing cabang yang harus mempertanggungjawabkan. Contoh, cabang A di Maumere, punya kelompok di dusun X, maka kelompok basis di dusun X itu yang harus dibimbing militansi.

Artinya, memberi pemahaman orang per orang sehingga menjadi komunitas yang siap pakai. Satu kelompok anggotanya 10 – 20 orang. Masing-masing kelompok, setiap bulan wajib ketemu di tempat yang mereka sudah sepakati. Bisa saja di rumah pengurus kelompok, atau di tempat bangunan yang telah ditetapkan.

Anggota, khususnya kelom[ok basis yang memiliki kegiatan produktif – pelaku UMKM, harus terus diingatkan bahwa koperasi adalah salah satu pilar penggerak ekonomi masyarakat terkhusus bagi UMKM. Jadi, anggota koperasi adalah penggerak ekonomi bangsa. Anggota koperasi harus menjadi pelaku ekonomi yang profesional untuk menghidupkan roda usaha, agar berdampak pada masa depan masyarakat mandiri dan maju.

Kopdit Pintu Air memberikan kemudahan mendapatkan dana tanpa agunan bagi anggota. Tujuannya agar anggota mengelola potensi yang dimiliki, misalnya, membuka usaha warung, pertanian atau peternakan, sesuai kondisi wilayahnya guna peningkatan kualitas ekonomi keluarga. Masyarakat, khususnya anggota perlu menangkap peluang tersebut. Pemerintah, seperti dijanjikan oleh Gubernur NTT akan mensuport koperasi yang meningkatkan kualitas anggotanya melalui pelatihan ketrampilan.

“Kopdit Pintu Air bertekad menciptakan usahawan baru melalui pemberdayaan NTTB. Sebagai investor lokal ingin menjadi pemain utama bukan sebagai penonton. Untuk itu siap menggulirkan pembiayaan hingga Rp 1,22 triliun,” tegas Yakobus. (mar – adit)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *