Zaman Paradoks Penuh Kontroversi

Dalam suatu acara perpisahan yang berlangsung cukup singkat, hanya sekitar 2 jam, antara Wakil Presiden (Wapres) Yusuf Kalla (JK) dengan mereka yang menyebut dirinya 100 ekonom Indonesia, Wapres menceritakan perjalanan bangsa Indonesia. Juga diceritakan kondisi yang kita alami saat ini. Karena sudah mau pensiun – selesai masa baktinya sebagai Wapres mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi), Wapres sebagai tuan rumah bercerita dengan santai, terbuka, dan terus terang. Dikemukakan berbagai kesulitan yang dihadapi bangsa kita, kesulitan menghadapi perubahan-perubahan yang tidak diduga.

Dikatakan bahwa zaman ini, zaman punuh paradoks, zaman penuh kontroversi. Wapres katakan; waktu sekolah dulu kita belajar perekonomian yang kapitalis dan liberalis itu adalah perekonomian yang sangat terbuka dan memberikan kesempatan kepada siapa saja. Namun sekarang sebaliknya. Justru perekonomian yang kapitalis dan liberalis seperti Amerika Serikat (AS) menutup dirinya dengan langkah-langkah proteksionis. Sedangkan perekonomian sosialis, perekonomian komunis seperti China, sekarang justru minta keterbukaan, liberal. Jadi, situasi ini sangat membingungkan kita. Diakui terus terang oleh Wapres bahwa, dari dulu kita ini memang ikut-ikutan.

Hal itu diungkapkan oleh Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) Prof. DR. Ir Burhanuddin Abdullah, MA, saat memberi sambutan pada pembukaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kewirausahaan bagi anggota Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, yang jelang purna tugas pada 3 – 5 tahun ke depan. Diklat kewirausahaan ini merupakan sejarah baru bagi Ikopin – KPPD DKI, sebagai realisasi kerja sama yang ditandatangani pada 5 Juli 2019 silam.

 Dalam kesempatan memberikan pembekalan kepada para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang baru terpilih, periode 2019 – 2024, Burhanuddin menyampaikan sebuah pertanyaan; “Sebetulnya apa yang missing – salah dalam DNA kita. Di dalam diri kita sebagai bangsa, apa yang kurang, apa yang hilang. Karena kita sekarang ini menjadi bangsa yang sangat tercecer di belakang.”

Sebagai contoh, misalnya, tahun 1990-an kita menerima delegasi, tim anak-anak muda dari Vietnam yang ingin belajar di Indonesia. Sekarang Vietnam sudah jauh melampaui kita. Ekspornya sudah lebih dari US$ 225 miliar. Sedangkan kita  macet di US$ 150 miliar. Dan, tidak ke mana-mana. Kita tidak punya barang untuk dijual sebagai andalan kecuali batubara dan CPO.

“Saya masih ingat, tahun 1990-an mengantar satu romobongan dari Vietnam yang ingin belajar mengenai perikanan darat di Jawa Barat. Mereka saya perkenalkan dengan koperasi dan para pengusaha perikanan tambak di selatan Jawa Barat, di Tasikmalaya dan Ciamis. Mereka belajar mengembangbiakan dan menggemukan ikan nila. Sekarang Vietnam eksportir terbesar ikan nila. Kita belum ke mana-mana. Jadi, apa sich yang missing di dalam diri kita selama 20 tahun terakhir ini,” tutur mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), prihatin.

Burhanuddin sendiri mencoba menjawab beberapa pertanyaannya tersebut. Biasanya orang, kalau ada masalah akan muncul jawaban dari masalah tersebut. Dan jawaban dari masalah yang baru itu adalah sebuah cerita yang lain. Contoh, pada tahun 1700-an, pada saat perekonomian waktu itu masih sangat berhubungan dengan pertanian, munculah kapitalis yang dibawa oleh Adam Smith, sampai tahun 1930-an, hampir 200 tahun. Kemudian muncul masalah dan terjadilah depresi besar. Karena itu dibebaskan kepada perusahaan. Kapital yang menentukan. Depresi besar yang terjadi pada tahun 1930 itu berujung pada terjadinya Perang Dunia II.

Lalu muncul cerita baru yang dibawa oleh Jhon Maynard Keynes, ekonom Ingris. Jadi, jangan dibiarkan perusahaan itu. Pemerintah harus campur tangan. Maka pada tahun 1940-an pemerintah mulai campur tangan. Tahun 1945 dibentuklah Badan Internasional; IMF, Word Bank, dan WTO. Campur tatangan pemerintah mulai jalan, dan ekonomi jalan kembali sampai tahun 1970-an. Namun kemudian macet karena pemerintah terlalu campur tangan. Kemudian dipikirkan, swasta yang harus ke depan. Enterprenuership – kewirausahaan harus yang utama.  

 Keynes membawa gagasan mengubah teori dan praktik ekonomi makro serta kebijakan ekonomi dunia. Ia melanjutkan dan memperbaiki teori sebelumnya yang menjelaskan penyebab terjadinya siklus bisnis. Keynes diakui sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh abad-20 dan pendiri ekonomi makro modern. Pemikiran-pemikirannya menjadi dasar mazab ekonomi Keynesian dan semua turunnya.

Pada tahun 1930-an, Keynes memimpin revolusi pemikiran ekonomi yang menantang gagasan ekonomi neoklasik bahwa pasar bebas, dalam jangka pendek hingga menengah, akan mengisi seluruh lapangan pekerjaan asalkan tuntutan upah pekerja tetap fleksibel. Ia berpendapat bahwa permintaan agregat menentukan tingkat seluruh aktivitas ekonomi dan kurangnya permintaan agregat akan memicu pengangguran tingkat tinggi yang bertahan lama.

Menurut ekonomi Keynesian, campur tangan pemerintah diperlukan untuk menstabilkan “kempis kembangnya” siklus aktivitas ekonomi. Keynes mendukung penerapan kebijakan fiscal dan moneter untuk mencegah dampak buruk resesi dan depresi ekonomi. Setelah Perang Dunia II, sejumlah ekonomi Barat ternama menerima saran kebijakan Keynes. Dua puluh tahun setelah Keynes meninggal dunia tahun 1946, hampir semua negara kapitalis di dunia menerapkan kebijakan Keynes.

Pengaruh Keynes memudar pada tahun 1970-an, salah satu karena stagflasi parah yang menghambat ekonomi Inggris – Amerika sepanjang dasawarsa tersebut serta “kenaifan teori Keynesian yang dilontarkan oleh Milton Friedman, ekonom yang memprediksi krisis tersebut. Ia bersama ekonom lainnya meragukan kemampuan pemerintah untuk mengatur siklus bisnis secara positif menggunakan kebijakan fiskal.

Meski beberapa pihak menyebut bahwa teori moneter Friedman memengaruhi tanggapan Federal Reserve terhadap krisis keuangan global, 2007 – 2008, ada pula yang menyebut bahwa kebijakan ekonomi pemerintah yang diambil pada tahun itu bagian dari kemunculan kembali Keynesianisme modern. Pada tahun 2008 terjadi krisis keuangan dunia yang dimulai dari Amerika. Namun dari tahun 2008 sampai sekarang tidak ada cerita baru dan tidak ada pikiran baru. Semua masih tetap bersandar pada kwirausahaan, peran pemerintah harus ada. Paling ditambah dengan Good Corporate Governance (GCG) – tata kelola yang baik. Kita harus hati-hati.

Sebagai bangsa semestinya kita mulai berpikir, setelah krisis 2008 cerita yang harus kita ajukan kepada bangsa ini adalah cerita tentang keberhasilan bangsa-bangsa lain di dalam bekerjasama. Dan koperasilah yang seharusnya ditonjolkan oleh bangsa kita. Pemerintah seharusnya mulai mengarah ke sana – membangun koperasi sesuai dengan perkembangan zaman – globalisasi.

***

Era globalisasi sangat mempengaruhi pola hidup kita, termasuk pola hidup organisasi. Tidak ada satu negara pun di dunia yang tujuan nasionalnya sama persis. Kita dengan Singapur, untuk kesejahteraan, iya. Tetapi untuk keadilannya berbeda. Dengan Malaysia, Thailand, dan Negara-negara lain juga seperti itu.

Setelah dipelajari, tidak ada satu Negara pun di dunia yang sama persis. Artinya, setiap negara ada perbedaan. Ketika ada perbedaan, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, pasti bergesekan. Bahkan mungkin harus perang dengan perbedaan itu. Yang perlu diwaspadai, setelah dunia berubah, perang dingin berakhir dan Negara adi daya tinggal satu, Amerika Serikat (AS).

Menjadi sangat penting diwaspadai karena ternyata pola hidup dan peperangan di dunia sudah berubah. Yang sedang popular sekarang adalah perang dengan senjata ekonomi. Bikinlah bangsa itu lapar, bangsa itu susah, maka bangsa itu akan mengikuti kehendak bangsa lain. Semua by design, tidak ada yang kebetulan. Siasat peperangan yang dikembangkan saat ini sangat halus, yaitu dengan dalih kerja sama ekonomi.

Dengan bahasa kerja sama, Negara kuat – kaya menekan Negara lain untuk mengikuti kebijakan ekonominya. Istilah gampangnya, perang itu urusan perut. Coba saja kalau rakyatnya lapar, kekurangan pangan, pasti mereka merampok, Presidennya disuruh turun – mundur. Coba saja tutup seluruh pasar di Jakarta selama seminggu, apa yang terjadi. Pasti kacau balau.

Karena perang ekonomi setiap Negara ingin main dulu-duluan. Siapa yang lebih dulu mensejahterakan rakyatnya, Negara itu tidak mudah dikalahkan Negara lain. Untuk menghancurkan ekonomi suatu negara, kadang menghalalkan segala cara. Bukan tidak mungkin, bank-bank asing yang menyerbu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki desain besar untuk menghancurkan perekonomian Indonesia.

Betapa pentingnya gerakkan koperasi bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Dan gerakkan koperasi pasti punya musuh. Entah musuh dari luar negeri, maupun musuh dari dalam negeri sendiri, termasuk bangsa Indonesia yang pola pikirnya sudah dicekoki oleh orang luar. Rambut kepala sama hitam, warna kulit sama-sama sawo matang, paspor sama garudanya, tetapi pola pikirnya liberal. Banyak pejabat Indonesia terkontaminasi pola pikir liberal sehingga kebijakan-kebijakannya merugikan koperasi.

Ada contoh, karena kebijakan pejabat berpola pikir liberal, bank swasta modal asing, bisa memberi pinjaman dengan proses relatif cepat, 2 – 3 hari cair. Nasabahnya diikat, diberi pinjaman pokok Rp 100 juta. Setiap bulan nasabah tersebut hanya membayar bunganya saja. Ini contoh kurang baik, masyarakat bisa kejeblos. Karena itu jangan terpengaruh oleh cara-cara bank swasta tersebut. Berbeda jika pinjamnya ke koperasi sendiri. Ketika kita sedang sulit, masih bisa dinego, dibicarakan bersama. Sedangkan pinjam di bank, terlambat bayar disegel, jaminannya pun disita. Itu bedanya koperasi dengan bank.

Dalam suatu perjuangan, pedagang kadang harus rugi. Tetapi apabila kompak semua pedagang pasar tutup apa yang terjadi? Itulah makna perang ekonomi yang kini dilakukan Negara-negara maju. Mereka membuat Negara lain bergantung kepadanya. Masyarakat pun sangat bergantung dengan keberadaan pasar. Artinya, pedagang pasar pun berpengaruh pada pola hidup perekonomian kita. Inilah pentingnya koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Agar Negara kita tidak hancur ekonominya, maka ketahanan ekonomi nasional harus diciptakan dan dibangun menjadi kuat – mumpuni melalui berkoperasi.

Yang juga tak kalah penting adalah mengenai system pengelolaan koperasi. Kalau dulu serba manual, serba pakai otot, misalnya, membuat laporan keuangan pakai buku besar, tabelaris, sekarang menggunakan sistem komputerisasi. Hal itu menjadi sangat penting, untuk mengontrol hari ini punya dana di bank berapa, ada utang jatuh tempo berapa atau ada piutang yang jatuh tempo berapa. Komputerisasi, ibarat mobil ada dashbort yang bisa dilihat. Bensinya sudah mau habis atau belum, amper meternya jalan atau tidak. Dengan komputerasi, memudahkan kita. Meningkatkan kualitas SDM dan membangun sistem menjadi prioritas agar dalam menghadapi persaingan bisnis yang demikian ketat, koperasi mampu bersaing dan mampu menghindari resiko-resiko.

Soal resiko, membandingkan koperasi dengan PT, dimana orang lebih berani menanamkan modal untuk mendirikan PT, pada umumnya karena orang tersebut sudah punya napas bisnis di dalam jiwanya, sehingga siap menghadapi tantangan. Sedangkan di koperasi umumnya bukan pebisnis. Koperasi nelayan, koperasi petani, koperasi pegawai – karyawan, mereka bukan pembisnis. Karena itu ketika ada suatu tantangan, belum tentu mereka siap menghadapinya.

Seseorang yang sudah terlatih menjadi karyawan, pasti hanya akan mengikuti sistem yang sudah dibuat. Pegawai – karyawan yang berkoperasi perlu pembinaan intensif. Berbeda, misalnya, koperasi itu sekumpulan pedagang. Karena anggotanya pengusaha, mereka berani mengambil resiko, dan jeli melihat peluang. Bedanya, pegawai bekerja berdasarkan sistem yang sudah jadi, sedangkan pedagang akan membangun sistem. Pedagang itu akan selalu mencari tantangan, kemudian tantangan itu dipilih untuk membangun sistem.

Menejemen chas flow sangat berkaitan dengan sistem. Ibarat gunung es, yang muncul di permukaan adalah kesulitan modal. Padahal, sebenarnya modal itu ada. Jika menenjemen dan sistem sudah terpecahkan, masalah permodalan banyak sumber. Koperasi juga belum memaksimalkan potensi dari simpanan sukarela anggota. Kalau punya sistem cukup solid, bisa menawarkan kepada anggota, misalnya, jika anggota menabung di koperasi diberikan jasa 7%, pasti akan tertarik, karena di bank bunganya hanya 5% – 6%. Potensi sumber dana dari anggota ini pada umumnya belum tergali.

Jika pinjam modal ke bank bunganya 13% – 14% per tahun, lalu dipinjamkan ke anggota 18% per tahun. Koperasi dapat selisih antara 4% – 5%. Seandainya sistem koperasi sudah bagus, bisa menarik simpanan suka rela dari anggota dengan jasa 7% kemudian dipinjamkan kepada yang membutuhkan 12% koperasi sudah mendapat selisih 5%, anggota yang pinjam tidak terlalu dibebani jasa tinggi, koperasi sudah ada keuntungan.

Koperasi sebagai badan usaha dan gerakkan masyarakat, memegang peranan sangat penting dalam tata perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Koperasi bisa menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan anggota yang punya kegiatan usaha dalam memperoleh pinjaman penguatan modal.

Di masa krisis ketika banyak lembaga keuangan mengalami kesulitan, koperasi justru tumbuh dengan baik. Koperasi mampu melayani anggotanya secara baik, omset puluhan – ratusan miliar, tingkat pengembalian nyaris sempurna. Koperasi adalah sebuah model yang mampu menjawab persoalannya secara mandiri. Di luar negeri, koperasi diberi hak untuk mengelola sektor perekonomian dari hulu sampai hilir dan dibebaskan dari beban pajak.

Koperasi merupakan instrument paling efektif untuk menjamin pemerataan dan keadilan, sehingga dapat menghindarkan keresahan sosial. Itu sebabnya di semua negara maju, dan negara berkembang seperti Vietnam, Korea, Thailand, China, dan India, koperasi diperlakuan khusus, tidak disamakan dengan badan-badan usaha lainnya. Dalam sistem keuangan Indonesia, koperasi sejajar dengan lembaga keuangan non bank, seperti asuransi, pembiayaan, modal ventura, pasar modal, dan pegadaian. Koperasi itu melaksanakan prinsip demokrasi ekonomi. Artinya, tidak saja ada partisipasi dari rakyat, tetapi juga ada emansipasi.

Melihat perannya yang begitu penting, koperasi perlu mengetahui perkembangan pergerakkan domestik maupun internasional terkini, dan respon kebijakan yang diambil untuk dapat mengetahui usaha-usaha yang dapat dikembangkan serta resiko-resiko yang mungkin timbul. Tantangan eksternal, bagaimana mengelola ekonomi di tengah perekonomian global. Lalu tantangan domestik, bagaimana meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dan fungsi intermediasi di tengah ekses likuiditas dan derasnya arus modal masuk ke dalam negeri.

 Memperhatikan perkembangan dan tantangan ekonomi domestik maupun global, dan mempertimbangkan bahwa koperasi juga mengelola dana yang bersumber dari anggota, untuk lebih meningkatkan peran koperasi dalam perekonomian nasional, ada beberapa hal yang harus dilakukan koperasi. Antara lain; Pengelolaan koperasi harus memperhatikan aspek kehati-hatian dan mengutamakan kepentingan anggota. Untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial, koperasi dalam menyalurkan pinjaman lebih mengutamakan kepada usaha-usaha yang produktif.

Dahulu, tidak pernah terfikir akan ada kebijakan pemerintah tentang Good Corporate Governance (GCG) – tata kelola yang baik, dimana koperasi fungsional pun harus disapih dari instansi induk. Koperasi fungsional, seperti halnya KPPD didirikan secara top down, oleh atasan – pejabat. Padahal, koperasi seharusnya dibangun batom up atau dari bawah berdasarkan kebutuhan anggota. Di koperasi perlu ada pembagian kerja secara jelas – distinktif antara yang menata bisnis, menggerakan cooperative entrepreneurship dan urusan organisasi memperhatikan solidaritas dan aspek sosial dari koperasi.

Membangun culture – budaya berkoperasi perlu kerja keras. Terutama koperasi pegawai yang masuk menjadi anggota karena “terpaksa”. Koperasi yang dibentuk dari atas sering terjadi kesulitan dalam membangun dan mengembangkan. Ketika koperasi itu disapih; harus mandiri, berbisnis sendiri terjadi sock. Dilihat dari budaya berkoperasi, koperasi yang dibangun dari bawah, pertumbuhannya agak lambat, tapi makin solid. Sedangkan yang dibentuk dari atas, mungkin modalnya besar dan mendapat berbagai fasilitas, koperasi itu cepat menjadi besar, tetapi kemungkinan mudah rapuh.

Untuk mencapai koperasi besar, kuat dan sehat, punya daya saing; berbagai proses, fungsi dan sistem harus digunakan sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Karena koperasi berbasis anggota, maka peningkatan jumlah anggota sangat penting. Soal permodalan, misalnya, bila partisipasi anggota bagus, akan mendapatkan sumber dana yang murah. Jika jumlah anggota besar, modal sendiri otomatis akan besar. Untuk consumer, semakin besar jumlah anggota, pangsa pasarnya juga besar.

***

Sebagai business entity  koperasi tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan untuk memacu rasionalitas dan meningkatkan efisiensi. Dari pendekatan keorganisasian efesiensi dapat dilihat sebagai perpaduan berbagai variable, seperti; penataan pola manajemen, manajemen strategis, tujuan operasional, peranan dan partisipasi anggota, kelompok kerja, insentif-insentif dalam lingkup ekonomi, sikap dan perilaku yang menunjang usaha kolektif, teknologi, skala usaha, kontak-kontak bisnis dan sosial.

Faktor-faktor tersebut dapat dikatakan sebagai masukan (input) yang dapat menghasilkan beberapa output, seperti peningkatan produksi, layanan, pendapatan atau SHU perluasan volume usaha, peningkatan turn over dan manfaat (benefit) dari beragam pelayanan. Berkaitan dengan upaya memacu rasionalitas sering kita dengar upaya-upaya yang berkaitan dengan sub contracting antar koperasi untuk memacu sinergi. Pemekaran usaha supaya berjalan lugas ada beberapa faktor antara lain: penghematan biaya, pemanfaatan modal, spesialisasi, keorganisasian, fleksibilitas, pemekaran kesempatan kerja.

Yang juga terus dikembangkan KPPD DKI, kerja sama dengan banyak pihak. Sebagian koperasi tidak besar, tidak maju karena berjalan sandiri-sandiri, orang Betawi bilang; saik-saik sendokir – asyik sendiri. Pola pikir seperti ini harus diubah. Koperasi harus gaul, dan membangun jejaring. KPPD DKI juga terus meningkatkan ketrampilan SDM pengurus, pengawas maupun anggota, dan menumbuhkan kemandirian bersama anggota, sehingga menjadi kemandirian kolektif.

Koperasi sebagai business entity, mengelola sumber daya ekonomi untuk menghasilkan output yang optimal, perlu menata efisiensi secara lebih serasi. Koperasi bisa saja mengombinasikan lingkup efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi sosial. Penataan efisiensi yang baik oleh koperasi dapat membantu berprosesnya low cost economy dalam masyarakat.

 Makna koperasi dan ekonomi rakyat sebagai strategi pembangunan antara lain; Dengan rakyat yang secara parsipatori-emansipatori berkesempatan aktif dalam kegiatan ekonomi akan lebih menjamin nilai tambah ekonomi. Pemerataan akan terjadi seiring dengan pertumbuhan koperasi tersebut. Memberdayakan rakyat dalam wadah koperasi merupakan tugas nasional untuk meningkatkan produktivitas rakyat sehingga rakyat secara konkret menjadi aset aktif pembangunan. Subsidi dan proteksi kepada rakyat untuk membangun diri dan kehidupan ekonominya merupakan investasi ekonomi nasional dalam bentuk human investment (bukan pemborosan atau inefficiency).

Pembangunan ekonomi rakyat melalui koperasi, meningkatkan daya beli rakyat yang kemudian akan menjadi energi untuk lebih mampu membangun dirinya sendiri (self-empowering), sehingga rakyat – anggota mampu meraih nilai tambah ekonomi, sekaligus nilai tambah sosial, nilai tambah kemartabatan. Pembangunan koperasi sebagai pemberdayaan rakyat akan merupakan peningkatan collective bargening position untuk lebih mampu mencegah eksploitasi dan subordinasi ekonomi terhadap rakyat.

Dengan rakyat yang lebih aktif dan lebih produktif dalam kegiatan ekonomi melalui koperasi maka nilai tambah ekonomi akan sebanyak mungkin terjadi di dalam negeri dan untuk kepentingan ekonomi dalam negeri. Pembangunan koperasi akan lebih menyesuaikan kemampuan rakyat yang ada dengan sumber-sumber alam dalam negeri yang tersedia (endowment factor Indonesia) berdasar setrategi resources-based dan people centered. Pembangunan koperasi akan lebih banyak emnyerap tenaga kerja dan mengentaskan rakyat dari kemiskinan.

Pembangunan koperasi akan bersifat lebih cepat menghasilkan (quick-yielding) dalam suasana ekonomi yang sesak napas dan langka modal. Pembangunan koperasi sebagai sokoguru perkonomian nasional akan meningkatkan kemandirian ekonomi dalam negeri, akan menekan sebanyak mungkin ketergantungan akan import components dan meningkatkan domestic contents produk-produk dalam negeri yang selanjutnya akan lebih mampu mengembangkan pasaran dalam negeri.

Pemberdayaan koperasi akan lebih mampu memperkukuh pasaran dalam negeri yang akan menjadi dasar bagi pengembangan pasar luar negeri. Dalam globalisasi ini kita harus tetap waspada terhadap paham globalisme yang cenderung menyingkirkan paham nasionalisme. Kepentingan nasional Indonesia harus tetap kita utamakan sebagaimana negara-negara adidaya selalu mempertahankannya pula dengan berbagai dalih ekonomi ataupun politik. Pembangunan koperasi akan menjadi akar penguatan fundamental ekonomi nasional dan menjadi dasar utama bagi realisasi nasionalisme ekonomi.

Pembangunan koperasi dapat dilaksnakan tanpa mempergunjingkan ekstremitas positif-negatifnya peran dan mekanisme pasar. Karena pembangunan koperasi merupakan misi politik dalam melaksanakan demokrasi ekonomi sebagai sumber rasionalitas bagi pemihakan kepada rakyat kecil. Orang yang mencintai koperasi, pada umumnya mereka yang punya idealisme kerakyatan. Orang yang berharap SHU, sesunggunya menyalahi konsep awal, cita-cita berkoperasi. Karena koperasi itu yang diinginkan adalah kerja sama mengatasi diri sendiri secara bersama-sama, bukan besarnya SHU. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *