Ambu Naptamis, S.H., M.H. : Bukan Primordialis Sempit

Melihat pengalaman yang dilakukan aktivis Credit Union (CU) di Kalimantan Barat yang sukses membangun dan mengembangkan ekonomi rakyat kecil, muncul ide serupa dari masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya warga Palangka Raya untuk membangun dan mengembangkan CU guna meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil.

Aula Nazaret, Kompleks Gereja Katolik Santa Maria, Palangka Raya 10 tahun silam, tepatnya Rabu 26 Maret 2003 menjadi saksi bisu sejarah kelahiran CU Betang Asi, yang kini diketuai oleh seorang advokat, Ambu Naptamis, S.H.., M.H.. Yang melatarbelakangi lahirnya CU Betang Asi salah satunya, karena terpinggirkannya orang-orang lokal (Dayak). Melalui CU masyarakat termarjinalkan diorganisir untuk saling membantu, saling tolong menolong, bergotong-royong, solidaritas, berswadaya dan mandiri. “CU menyadarkan dan mendorong anggota berjuang secara kolektif membangun kehidupan yang lebih baik – sejahtera,” tegasnya.

Beranjak dari keprihatinan terhadap termarjinalisasikannya masyarakat Dayak, Ambu bersama rekan-rekannya pada tahun 2001 mendirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Lembaga Dayak Panarung (LDP), dan dia dipercaya sebagai Direktur Eksekutifnya. Ambu juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan NGO baik tingkat lokal, regional maupun nasional dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, mengajar di Fakultas Hukum Universitas PGRI Palangka Raya.

Kegiatan CU Betang Asi ini berada dalam wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang secara administratif pemerintahan memiliki 13 kabupaten dan 1 kota. Wilayahnya sebagian besar masih kosong. Secara topografis daerahnya relatif datar di bagian selatan, dan ke utara makin meningkat, tetapi tidak terlalu tinggi. Penduduknya khas Kalimantan Tengah, tersebar di wilayah pinggiran sungai-sungai besar seperti Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Lamandau, Sungai Mahakam, dan sebagainya. Secara etnografis, sebagian besar Suku Dayak.

Ketika transportasi dan infrastruktur jalan mulai berkembang, banyak dibangun jalan-jalan besar, terjadi perubahan proses budaya. Yang tadinya dekat dengan sungai sekarang lebih akrab dengan budaya darat. Karena transportasinya makin mudah, semakin banyak masyarakat yang pindah ke pinggir jalan raya. Transportasi juga bergeser, dari kapal, menjadi transportasi darat menggunakan bus, mobil, motor dan sebagainya. Setelah infrastruktur jalan banyak dibangun, kultur masyarakat juga mulai berubah. Masyarakat yang dekat dengan sungai semangat hidupnya makin tipis. Bagi aktivis CU perubahan kultur itu merupakan tantangan tersendiri.

Hanya dengan kerja keras dan kerja cerdas para aktivis, CU bisa terus tumbuh dan berkembang. Terbukti, CU Betang Asi yang kini berkantor pusat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akhir Desember 2012 memiliki anggota 31.956 orang, terdiri dari 15.336 laki-laki dan 16.620 perempuan. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Jawa Barat yang memiliki 78 anggota primer, tetapi anggota individunya hanya 24.361 orang. Demikian pula asetnya, CU Betang Asi sampai akhir Maret 2013 memiliki asset Rp 516,122 miliar, aset gerakan Puskopdit Jabar akhir Desember 2012 hanya Rp 484,734 miliar.

Karena budaya lokal, ikatan-ikatan lokal, primodialis masih sangat kuat, maka pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan CU menggunakan pendekatan primodial. Hal itu sangat jelas seperti tertuang dalam Visi Betang Asi; Credit Union Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya, Abadi dan Terbesar di Kalimantan Tengah. “Terkesan kedaerahan dan primodialis. Tetapi bukan primodialis sempit,” jelas Wakil Ketua I Dewan Pengurus, Bambang Mantikei, yang juga diamini Ambu.

Penyebutan masyarakat Dayak dilekatkan dalam visi, kata dia, karena sebagian besar anggotanya memang masyarakat Dayak. Namun tidak tertutup bagi orang lain, atau di luar Suku Dayak. Anggota yang bukan dari Suku Dayak sekarang banyak sekali. Jadi sebutan Dayak “Nusantara” tetapi ketika bicara CU dan interaksi dengan CU-CU lain sebagai alat – indentitas. “Bukan sebagai sekat untuk membeda-bedakan, dan bukan primodialis yang sempit,” jelas Ambu yang kini menjabat sebagai Direktur Lembaga Dayak Panarung.

Dalam pengembangan CU, katanya, ingin mengangkat kearifan lokal. Itu sebabnya, Slogan CU Betang Asi menggunakan bahasa Dayak Ngaju; “Handep Hapakat Sewut Batarung.” Terjemahannya; Kita bekerja bersama-sama untuk bisa berhasil. Slogan itu selalu dikumandangkan ketika ada pertemuan-pertemuan di CU Betang Asi. Dengan motto; Setia Melayani Sepenuh Hati, ingin mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi anggota melalui pelayanan keuangan yang prima.

Ambu yang menikah dengan Mastuati SH, pada Juli 1995, kini telah dikaruniai 3 (tiga) orang anak, 2 (dua) laki-laki dan 1 (satu) perempuan, mengatakan bahwa dalam mengembangkan CU Betang Asi banyak belajar dari CU di Kalimantan Barat. Ketika Betang Asi didirikan, memagangkan 2 orang staf untuk belajar di CU-CU di Kalimantan Barat. Kini, mereka berdua sudah menduduki jabatan kunci, sebagai Genaral Manager (GM), dan Manajer.

Misi yang dikembangkan CU Betang Asi adalah mewujudkan kesejahteraan sosial anggota melalui pelayanan professional. Itu sebabnya pengurus terus berusaha meningkatkan profesionalisme para pengelola, dan staf manajemen. CU Betang Asi merekrut orang-orang muda dari berbagai tempat di mana wilayah pelayanan CU Betang Asi dikembangkan. Orang-orang muda potensial itu direkrut dengan seleksi ketat, termasuk seleksi psikologi, kemudian dimagangkan menjadi calon anggota. Kalau dia benar-benar baik dijadikan calon staf, lalu menjadi staf. Itu proses yang dilalui.

Kegiatan CU Betang Asi yang berkantor pusat di Jln Tjilik Riwut Km I No 32-A Palangka Raya didukung oleh 7 Tempat Pelayanan (TP) dan 10 Tempat Pelayanan Khusus TPK. TPK diberi kesempatan berproses menjadi TP. Bahasa yang digunakan untuk menyebutnya juga bahasa lokal. Hal ini dimaksudkan untuk mengeratkan hubungan dengan masyarakat agar lebih mudah dibangun oleh para anggota.

Nama-nama TP Cu Betang Asi yaitu; TP Penyang Hinje Simpei di Pulang Pisau, TP Betang Sinta di Desa Sepang Kota, TP Lampang di Desa Telok, TP Betang Baturung di Kota Kuala Kurun, TP Penyang Hatampung di Desa Tumbang Malahoi, TP Batuah Marajaki di Desa Petuk Liti, TP Tahasak Batu Sepan di Desa Pujon, TPK Jabiren di Kabupaten Pulpis, TPK Banjarmasin di Provinsi Kalsel, TPK Tumbang Talaken di Kabupaten Gunung Mas, TPK Tumbang Manggo di Kabupaten Katingan, TPK Tumbang Sangai di Kabupaten Kotim, TPK Kuala Kapuas di Kabupaten Kapuas, TPK Kasongan di Kabupaten Katingan, TPK Tewah di Kabupaten Gunung Mas, TPK Tumbang Jutuh di Kabupaten Gunung Mas.

Salah satu daya tarik untuk service quality – kualitas pelayanan faktornya adalah bisa dilihat secara nyata supaya orang percaya. Yang bisa dilihat dengan nyata. Salah satunya adalah kantor. Kantor yang dimiliki CU Betang Asi sebagian bangunannya masih bangunan lama, sebagian lainnya sudah direnovasi, dan juga punya gedung yang benar-benar baru. Sebagai cirikhas, kantor yang direnovasi dibuat hampir sama.

Dalam menjalankan roda organisasi, kata Bambang, dari aspek manajerial CU Betang Asi diakui tidak ada yang istimewa, atau biasa-biasa saja. Mengacu pada proses manajemen, aturan-aturan, dan petunjuk-petunjuk yang sudah ditetapkan untuk CU. Aspek-aspek manajerial, aspek manajemen pada perencanaan memang harus tepat. CU Betang Asi memulainya dengan Perencanaan Strategik, sebuah perencana untuk waktu yang agak panjang. Tetapi kemudian, sekian tahun, sambil jalan diperbaiki.

Di dalam perencana strategi, melihat berbagai potensi yang ada, dan mampu dikembangkan. Sebab keberadaan CU juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan faktor internal, sehingga CU tidak hidup di ruang hampa. Dia dipengaruhi oleh berbagai faktor dari luar dirinya. Seperti halnya kita bicara tentang konsumerisme, sekarang sampai ke tempat-tempat dimana CU berada produk-produk yang ditawarkan luar biasa, dan itu terus-menerus dilakukan oleh produsen. Kita tidak bisa melarang produsen untuk menghentikan produksinya. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana mengatasi. Seperti halnya anak-anak kita sekarang kalau dilepas di Swalayan mereka bisa memilih sendiri barang-barang yang diinginkan.

Dalam melihat ke depan, CU Betang Asi menggunakan pendekatan yang disebut STP, (Sekmentif, Targeting, Posisition). Langkah sekmentasinya mulai dari anak. Dalam perencanaan strategis dan bisnis, mulai dipikirkan target. Misalnya, di TP A tahun depan mentargetkan 1000 anggota. Untuk mencapai target tersebut potensinya seperti apa, dibuat maping – peta yang jelas. Potensi jumlah pendudukya, berapa yang sudah menjadi anggota, dan berapa yang masih berpotensi menjadi anggota, sehingga akan bisa diperoleh gambaran yang jelas. Setelah itu kemudian diadakan pendidikan dasar dan lain-lain. Begitu pula perencanaan bisnis harus dilakukan secara baik. “Kami mencoba seakurat mungkin menggali informasi dan menganalisinya,” tutur Ambu.

Pengorganisasian, ada penasehat, pengurus, pengawas, manajemen, kemudian ada kelompok inti, dan ada kolektor. Ada kantor pusat, tempat pelayanan dan tempat pelayanan khusus. Penggeraknya semua, mulai dari pengurus, pengawas, manajemen dan ada fasilitator untuk pelatihan-pelatihan. Dan ini terus diupdate sehingga waktu mereka memberikan pelatihan selalu dengan yang terbaik – terbaru.

Aspek-aspek pemberdayaan sebagian tidak bisa ditangani sehingga melakukan kerja sama – bermitra. Ada Koperasi Persekutuan Dayak (KPD) lalu ada Lembaga Dayak Panarung (LDP), yang melakukan advokasi. Ada juga Serikat Petani Karet, karena sebagian besar yang di pedesaan usahanya karet. Kondisinya, karena dalam perkembangannya ada perkebunan sawit sampai ke pedesaan, ketika para anggota ada masalah lahan, diperlukan berbagai advokasi untuk bisa eksis dengan berbagai sumber daya yang ada. Dengan perbankan dan asuransi juga dilakukan kerja sama. Contohnya, pinjaman di atas jaminan diasuransikan.

Perkembangan yang terkait dengan perubahan budaya, setelah ada jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan antar kabupaten, menjadi urat nadi perekonomian Kalimantan Tengah. Karena itu sebagian masyarakat pindah ke sana, “Kami akan memberdayakan anggota yang ada di sepanjang jalur Trans Kalimantan tersebut supaya dikemudian hari mereka tidak hanya menjadi penonton,” jelas Ambu. Ketika berkembang, mulai menguasai lahan di tepi jalan. Karena ada daya tarik ekonomi banyak orang datang membawa modal sehingga daerah tersebut perekonomiannya akan tumbuh.

Jumlah anggota CU Betang Asi yang demikian besar, menjadi kendala tersendiri untuk melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) di satu tempat. Jalan keluar agar semua anggota bisa mengikuti RAT, karena itu hak anggota, dan pengurus melihatnya sebagai Badan Musyawarah, maka RAT dilaksanakan 8 kali, di masing-masing TP. Kebijakan seperti ini sangat besar manfaatnya. Anggota semakin memahami apa manfaat ber-CU. Yang tadinya tidak tahu apa itu Pokja, dan lain-lain, sudah mulai mengkritisi. Semakin banyak anggota yang kritis, berarti keberhasilan dari subuah pendidikan.

Diakui bahwa untuk melaksanakan RAT di berbagai tempat itu ada biaya yang cukup besar. Tetapi tingkat partisipasi anggota juga sangat besar. “RAT juga sebagai salah satu bentuk edukasi, bentuk pemberdayaan kepada anggota. Selain belajar berdemokrasi, juga memahami bagaimana CU itu dan apa Rohnya. Proses RAT biasanya berlangsung sejak minggu ketiga Januari sampai minggu ketiga Februari, kemudian dilakukan Rapat Anggota Konsulidasi di Palangka Raya dengan menerapkan pola perwakilan. Satu perwakilan untuk 200 anggota dari masing-masing TP. Perwakilan untuk menghadiri Rapat Anggota Konsultasi dipilih oleh para anggota.

Karena biayanya cukup besar, strategi yang dikembangkan meningkatkan modal lembaga. Maka mulai tahun depan, RAT tahun buku 2013, biayanya ditanggung oleh anggota. Sudah disepakati, untuk RAT semua anggota dewasa berkontribusi Rp 30.000,- Menurut Bamabang, cara seperti itu dulu sudah dilakukan, tetapi terhenti. “Cara itu merupakan bentuk partisipasi nyata anggota di dalam turut mengawasi CU. Itu salah satu strategi,” urainya.

Salah satu kegiatan lain adalah Koperasi Persekutuan Dayak (KPD) Kalimantan Tengah. Ini entitas lain dari CU, yang memiliki kegiatan usaha di bidang ritil. Sangat dipahami bahwa CU hanya bergerak di bidang keuangan. Dulu ketika mengembangkan KPD yang saat ini kebetulan Ketua Dewan Pengurus-nya juga dipercayakan kepada Amu, untuk bisa menjadi anggota KPD harus menjadi anggota CU Betang Asi. Walaupun berbeda entitas – berbeda badan hukumnya, namun ada keterkaitannya.

Di dalam perjalanannya, KPD mengalami krisis manajemen. Sehingga secara moral CU ikut bertanggung jawab. Sebab, anggotanya juga anggota CU Betang Asi. Karena secara kelembagaan CU Betang Asi juga menyertakan dan di KPD, maka dalam rangka recovery – pemulihan, untuk sementara manajemennya diambil alih oleh CU. KPD yang bergerak di bidang riil bisnis mengelola swalayan, perkembangannya kini semakin baik. “Kami ingin memberikan contoh kepada anggota bahwa sebetulnya mereka juga bisa bisnis seperti itu,” tutur Bambang.

Untuk melakukan pengawasan, perangkat yang ada PEARLS sebagai dash board, pengurus melihat indikator-indikator, mana indikator yang harus segera diperbaiki. Kemudian diaudit oleh pengawas. Yang duduk sebagai pengawas juga ada anggota yang memang memahami akuntansi dan proses-prosesnya.

Kepada manajer TP – TPK pengurus Betang Asi memberikan kewenangan dalam memberikan pinjaman. Untuk pinjaman Rp 100 juta ke bawah diputuskan oleh TPK, dan di atas Rp 100 juta sampai Rp 500 juta oleh TP. Sedangkan pemberian pinjaman di atas Rp 500 juta diputuskan melalui rapat pengurus. Untuk menghindari terjadinya kredit – pinjaman lalai, setiap bulan manajemen melakukan monitoring secara intensif kepada 20 peminjam terbesar.

Terkait dengan persaingan merebut pangsa pasar yang Kunjungan Menteri Koperasi & UKM, Dr. Syarifuddin Hasan beserta rombongan begitu ketat dengan lembaga keuangan lain, dimana saat ini banyak bank besar, baik bank swasta nasional, atau bank swasta asing yang masih menggunakan nama Indonesia karena ingin menghindari berbagai ketentuan dan kewajiban, maupun bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan intervensi, Credit Union harus terus berinovasi. Persaingan terberat terutama di perkotaan yang karakteristiknya berbeda.

Karena di perkotaan tingkat pendidikan masyarakatnya jauh lebih tinggi, cerdas, wawasannya lebih luas, pekerjaan dan informasi yang dimiliki juga lebih, bagi CU cukup berat untuk bersaing. Ada perilaku-perilaku yang harus diperbaiki. Ada sebagian yang hanya ingin memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan sendiri. Perbedaan tingkat suku bunga – jasa, misalnya, kadang ada orang yang memanfaatkannya untuk berspekulasi. Dia pinjam di bank kemudian ditempatkan di CU, di simpanan unggulan.

Karena menurut evaluasi ada over liquid, sehingga harus melakukan aktivitas pemasaran yang lebih baik, dan melakukan pengawasan serta monitoring setiap bulan. Ada kesadaran baru dengan financial literacy, dimulai dari pengurus – pengawas dan manajemen. Karena itu ketika ada pelatihan tentang financial literacy di Surabaya, kata dia, mengikutsertakan semua manajer, juga unsur pengurus dan pengawas.

Yang sekarang juga sedang dilakukan oleh tim kecil adalah menyempurnakan meng-update bahan pendidikan dasar dan memasukkan beberapa komponen tentang financial literacy. “Kalau diilustrasikan sebagai kapal, penumpangnya sangat banyak, kami tidak ingin tergesa-gesa. Mesti pelan-pelan, tidak bisa manuver dengan cepat. Meski pelan-pelan tetapi arahnya jelas,” tutur Ambu.
(my)

 

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *