Distro dan Pasar Batik Terus Berkembang

Distro dan Pasar Batik Terus BerkembangSejak beberapa tahun silam, sekitar pertengahan tahun 1990-an, distribution outlet, atau yang biasa dikenal dengan sebutan distro menjadi fenomena di tengah masyarakat, khususnya remaja. Keberadaan distro menjadi trend setter untuk menghadirkan gaya busana anak muda yang unik. Namun, di mana posisi mereka setelah ada system belanja online – daring yang marak di kalangan remaja?

Distro menjadi fenomena, dimulai dari kota kembang, Bandung, Jawa Barat, yang juga dikenal sebagai kota mode, kota tempat tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif. Distro awalnya hanya toko kecil, menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan pusat belanja. Hal itu memunculkan ketertarikan masyarakat terhadap distro sehingga semakin hari distro semakin digandrungi dan berkembang pesat hingga kini.

Distro kini tak hanya menjual pakaian yang jarang ditemui di toko biasa, tetapi sudah menyediakan berbagai kebutuhan sandang, mulai dari pakaian, sepatu hingga aksesori seperti tas, topi, kalung dan dompet. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul online shop – belanja daring. Lewat cara baru itu konsumen bisa memilih produk yang mereka inginkan tanpa harus datang ke gerai. Hal ini jelas memudahkan pembeli, terutama bagi konsumen yang tak memiliki banyak waktu luang, tetapi ingin sekali membeli sebuah produk secara praktis. Lantas bagaimana distro mempertahankan eksistensinya di tengah pesatnya bisnis belanja secara daring?

Ternyata mereka mencoba bertahan dengan cara terus berinovasi. Distro Lovely di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, misalnya, mempertahankan eksistensinya dengan terus berinovasi untuk terus menghasilkan produk-produk baru yang berkualitas, dengan mengikuti perkembangan mode di kalangan anak muda sehingga produknya tetap dicari, dan pelanggan akan kembali lagi. Distro lain pun punya cara yang berbeda. “Kami memenuhi kebutuhan mode masyarakat dengan menawarkan produk yang sifatnya ‘mereka’ banget” tutur, Yuliana, pemilik disrtro Yuliet.

Selain mengikuti perkembangan tren mode distro juga memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media sosial, seperti Facebook, Twetter, dan Instagram. Semua sarana media sosial itu tidak luput menjadi sara untuk mempromosikan produk-produk distro. Media sosial menjadi komponen primer bagi distro agar dapat memperkenalkan produknya ke pasar. Media sosial sangat membantu mereka dalam penjualan karena iklannya sangat cepat. Hari ini diiklan, besok sudah banyak yang pesan.

Kini dengan banyaknya belanja daring, apakah hal ini menjadi “ancaman” bagi distro dalam mengembangkan usahanya? Ternyata tidak. Keberadaan belanja daring justru memicu para pemilik distro untuk ikut memanfaatkan media digital yang ada dengan membuka situs web resmi distro mereka. Namun, ada pula beberapa distro justru sengaja tak punya situs seb resmi dengan alasan agar pengunjung – pelanggan tetap setia menjadi konsumen distro mereka.

Perkembangan gaya hidup masyarakat yang saat ini lebih memilih belanja daring tidak mematahkan semangat pemilik distro yang tetap memilih open store. Pemilik dan pengelola distro percaya terhadap kualitas produk yang mereka tawarkan. Para pemilik distro ini tetap optimis usaha distro di Indonesia tidak akan mati. Buktinya, semakin banyak wirausaha muda menjadi pengusaha distro. Dan memang, wirausaha adalah profesi yang paling banyak diminati anak muda.

Banyak alasan mengapa mereka yang masih sekolah atau kuliah dan bekerja di perusahaan memilih keluar kemudian membangun usaha sendiri. satu alasan terpenting, karena mereka ingin bebas. Maksudnya, tidak mau terikat dengan cara kerja konvensional yang kerap mengikat karyawan. Masalahnya, buat mereka yang masih sekolah atau kuliah, tak mudah melakukan dua hal, belajar dan mengelola usaha. di situlah tantangannya.

Makin besar minat jadi wirausaha menggembirakan sebab membuka usaha berarti menurunkan angka pengangguran dan memberi pendapatan bagi si wirausaha dan orang berkait usahanya. Untuk membentuk wirausaha muda yang brilian, kalangan akademisi – perguruan tinggi, dan lembaga keuangan – perbankan harus mau menjalin kerja sama, memberi bimbingan, dan pendampingan maupun permodalan kepada para wirausaha pemula tersebut.

Menjadi wirausaha tak semudah mendengarkan cerita mereka yang sukses membangun usaha. Di balik kesuksesan itu ada kerja keras dan passion kuat yang terus memberi semangat ketika niat melemah. Dea Valencia (21) desainer batik asal Semarang, Jawa Tengah dan Sutrisna desainer batik Setio Utomo membagi pengalamannya. Menjual kain batik mengawali usaha Dea yang kini punya omzet ratusan juta per bulan. Saat itu Dea masih kuliah di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang. “Aku senang punya usaha ini sehingga sekarang jadi fokus hidupku, ujar gadis yang lulu kuliah pada usia 18 tahun itu.

Usaha yang berlanjut dengan menjual busana rancangannya dia sendiri tersebut kini berkembang pesat. Dea punya 75 karyawan, tetapi ia sempat mengalami kesulitan saat harus membagi waktu antara melayani pembeli lewat penjualan online – daring dan belajar. Tekadnya, harus bisa melayani pembeli dengan baik, dan juga pingin dapat nilai yang bagus. Itu sempat membuatnya kurang istirahat dan jadi “asosial” – kurang bergaul dengan lingkungan. Tak hanya itu, akibat kelelahan, ia bahkan terlambat bangun pada hari ujian. Akibatnya ia mendapat nilai D yang memupuskan harapan harapan mendapatkan predikat cum laude. Dari kisah itu ia belajar kepiawaian membagi waktu dan fisik kuat menjadi hal penting bagi wirausaha yang masih sekolah – kuliah.

Industri batik yang kini juga masuk ke distro-distro diyakini akan terus tumbuh karena ditopang kreativitas pembatik. Produk batik yang tak hanya digemari konsumen dalam negeri, tetapi juga luar negeri, berdampak pada nilai ekspor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), ekspor batik pada 2011 sebesar US$ 43,96 juta. Nilai ekspor itu naik menjadi US$ 46,16 juta pada tahun 2012. Ekspor batik terus meningkat menjadi US$ 47,54 juta pada tahun 2013 dan US$ 48,97 pada tahun 2014. Dalam upaya terus meningkatkan pasar batik di luar negeri, beberapa waktu lalu digelar peragaan busana di New York, Amerika Serikat, yang khusus menghadirkan batik. Kreativitas seniman batik mampu memberikan nilai lebih. Kondisi ini membuat batik yang bernilai jual jutaan rupiah hingga puluhan juta rupiah tetap memiliki pasar.

Hal agak merepotkan dialami batik-batik yang dijual tidak mahal. Pasar kewalahan karena persoalan daya beli masyarakat sehingga batik yang dinilai bagian mode untuk sementara tidak menjadi prioritas. Pameran batik merupakan salah satu upaya memperluas produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) batik. Tujuannya, agar batik menjadi komoditas perdagangan berdaya saing tinggi, khususnya saat pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tinggal menghitung hari, karena akan dimulai pada pukul 00,01 tahun 2016 mendatang.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah menetapkan batik sebagai warisan budaya. Batik menjadi warisan budaya bukan terletak pada kain batiknya, melainkan melalui teknik dan prosesnya. Perlindungan karya batik bertujuan mencegah kesalahan penggunaan atau pemanfaatan budaya batik tradisional Indonesia. perlindungan merupakan langkah utama melestarikan seni batik.

Terkait ekonomi kreatif, perusahaan penjaminan syariah bisa mulai menyasar usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kegiatan ekonomi kreatif yang berorientasi ekspor juga bisa disasar. Sudah terbukti ketahanan UMKM dalam menghadapi krisis. Apalagi jumlah UMKM mencapai 97% dari pelaku usaha yang ada. Selain itu ada 16 sektor yang masuk dalam katagori industri kreatif. Jadi, sudah waktunya perusahaan penjamin masuk ke UMKM dan industri kreatif. Penjaminan syariah berperan memitigasi resiko penyaluran pembiayaan sekaligus menciptakan inklusi keuangan yang menyasar entitas bisnis atau sektor riil.

Pemerintah terus mendorong pertumbuhan pasar produk batik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Berbagai upaya dilakukan, mulai memperkuat desain, memperkuat kluster batik daerah, hingga promosi ke luar negeri. Hal itu mengemuka dalam peringatan Hari Batik Nasional di Museum Tekstil, Jakarta, 2 Oktober 2015 yang juga dihadiri Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin. Menperin mengatakan, dunia mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya. Ini menjadi peluang untuk Indonesia untuk terus meningkatkan kreasi dan inovasi batik. Keberagaman daerah di Indonesia merupakan modal keunggulan batik Indonesia. Dari daerah-daerah itu lahir berbagai motif batik dan cara pengerjaan batik, seperti batik tulis dan cap.

“Untuk meperkuat kualitas batik Indonesia, kami tengah menyusun rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk batik tulis, cap, dan kombinasi. Kami juga berupaya menumbuhkan batik-batik ramah lingkungan dengan menggunakan pewarna dari alam,” kata Saleh Husin. Kemenperin dan Kemendag menargetkan ekspor batik meningkat 5% pada 2016. Saat ini sudah ada 49.700 usaha kecil menengah yang telah mengekspor batik. “Kami terus memperkuat kluster-kluster batik dan mempertahankan batik tradisional dann kreasi baru,” katanya. Pemerintah juga terus mempromisikan batik ke negera lain. Hal itu dilakukan melalui atase perdagangan, pameran internasional, dan Indinesia Trade Promotion Center di sejumlah negara.

Pada 2014, nilai eksppor batik Indonesia US$ 340,77 juta dan nilai impor US$ 19,42 juta. Tren peningkatan nilai ekspor batik selama lima tahun terakhir (2010-2014) sebesar 153,75%, yaitu nilai ekspor pada 2010 sebesar US$ 22,32 juta dan pada 2014 sebesar US$ 340,77 juta. Lima tujuan ekspor batik Indonesia pada 2014 adalah AS sebesar US$ 146,91 juta, Korea US$ 24,72 juta, Jerman US$ 21,14 juta, Jepang US$ 20,72 juta, dan Kanada US$ 16,58 juta. Setelah penetapan daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia pada Oktober 2014, ekspor produk tekstil batik dari provinsi itu meningkat. Pada Januari -Agustus 2015, nilai ekspor produk batik berupa pakaian jadi sebesar US$ 11,6 juta atau naik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Pada Januari – Agustus 2014, nilai ekspor batik DIY US$ 6 juta. Peningkatan tahun ini hampir dua kali lipat. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *