Gotank Wiyadi : UMKM Harus Menghadapi Kompetisi Brutal

Pertumbuhan lingkungan ekonomi yang mem-back-up bisnis, suasana dan kondisi yang melingkupi sudah sangat berberda. Bagaimana memulai, menumbuhkan, mengembangkan, dan membesarkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). “Konteks hari ini, mengajari orang merintis usaha, harus memulai dengan merevolusi mental terlebih dulu,” ungkap Gothank Wiyadi, saat mengawali perbincangan dengan Majalah UKM di kompleks kolam renang Nabura, Yogyakarta, yang dibangunya tahun 2015 silam.

Di Indonesia, lanjut mantan dosen Universitas Muhammadiyah Jogya, orang kalau mau berbisnis nyaris seperti tinggal di Negara berkompetisi brutal. Di mana pun mau memulai usaha, di mana zonanya, lingkup daerah, lingkup pasar, maupun lingkup lain selalu menyajikan kompetisi sangat brutal. Bagaimana mungkin orang hanya bermodal di bawah Rp10 juta, atau Rp3 – 5 juta, tatkala memulai usaha yang dihadapi nyaris selevel dengan mereka yang bermodal miliaran. Kompetisinya, mekanisme, peraturan, dan pasarnya hampir sama. “Sangat tidak mungkin modal kecil diadu di wilayah pasar dengan semua strata pasar yang ada itu sama,” tegas Wiyadi yang memulai usaha dari kelas UKM, dan mengalami 4 kali gagal total.

Kalau zona tengah, di perkotaan, masih dimungkinkan. Namun jika pinggiran, UKM itu ditenggelamkan dalam ruang kompetisi tanpa proteksi sama sekali, berat. Sekarang tidak ada satu pun lini peluang tanpa kompetisi brutal. Apa boleh buat, kenyataan itu terpaksa harus diterima. Untuk memulai usaha, menurut Wiyadi, konstruksi – pondasi harus dipersiapkan secara baik, dimulai dari revolusi mental. Artinya, siapa pun dia, punya uang atau tidak, karena modal usaha tidak harus selalu duit, dan mau pilih peluang apa, sesungguhnya yang harus dimiliki adalah mental gelut– mental tempur sebagai jalan hidup dan alat perlawanan.

Senjata lainnya, pengetahuan. Misalnya, seperti apa pasar besarnya, pasar sedangnya, dan pasar kecilnya. Juga bagaimana marketing – pemasaran, pengelolaan uangnya agar usaha yang dirintis bisa tumbuh, berkembang menjadi besar. Ilmu, ada yang bisa dicari sambil jalan, tetapi ada juga yang tidak bisa dicari sambil jalan. Wiyadi memberi contoh, jika modalnya cekak, katakan hanya Rp5 juta. Sementara konstruksi pengetahuan tidak punya, membaca peluang usahanya juga salah, melihat mainstream pasar terus; kalau jualan “A” atau jualan “B” itu laku. Kemudian modal Rp5 juta dibawa ke toko grosir kulakan, lalu dijual lagi. Jika uang harus menghasilkan dan untuk hidup; beli sandang, pangan, dan papan, sekali salah mengambil peluang, hancur usahanya.

Kita tahu, setiap jelang pemilihan umum (Pemilu), pemilihan presiden (Pilpres) maupun pemilihan kepada daerah (Pilkada), baik tingkat provinsi, kabupaten kota, selalu nyaring janji-jani para calon, katanya akan menciptakan ribuan wirausaha baru, dan disediakan permodalan. Alasannya, jika minimal 2% – 3% saja dari populasi penduduk suatu Negara adalah pengusaha, Negara tersebut akan maju. Tentu saja bukan usaha level UMKM. Biasanya, janji para calon itu adalah menciptakan wirausaha pemula, usaha mikro kecil (UMK). Menciptakan ribuan pengusaha baru dengan modal dikasih, kemudian dilepas begitu saja, kata Wiyadi, bisa hancur usahanya. Karena ada prinsip-prinsip yang keliru. Misalnya; dia tidak mau menaikkan kelas pengetahuannya. Yang dimaksud bukan berarti pengetahaun detail tentang manajemen itu apa. Bertahan, atau dominan dengan sikapnya bahwa bisnis itu harus nyetok barang. “Pendekatan nyetok barang sudah tidak bisa dipakai lagi,” tegas Wiyadi. Bisnis itu yang penting, lanjutnya, kulak cerdas, menjual cerdas, dan berteman cerdas.

Dari awal, pebisnis sudah harus mengkalkulasi tentang daya dorong yang akan terjadi. Belum action pun sudah harus berfikir dengan modal minim, bagaimana cara mencari jalan keluarnya jika tiba-tiba omzetnya menggila. Sejak awal harus berhitung dengan cara apa daya dorong akan diambil. Sistem yang bisa diakses adalah pemilik uang. Bank, problemnya soal jaminan. Maka jalan keluarnya mencari mitra lembaga keuangan yang bisa memberikan pinjaman uang tanpa jaminan. Koperasi, sebagai salah satu lembaga keuangan yang dimungkinkan. Namun yang diperbolehkan pinjam ke koperasi hanya anggota koperasi tersebut. Bagi anggota baru, yang tabungannya masih kecil juga ada persoalan, pinjamnya masih terbatas. Sementara kebutuhannya mendesak, dan jumlahnya cukup besar.

Sebagai lembaga usaha, apa yang harus dilakukan koperasi guna mendukung anggota baru, namun produktif dan potensi bisnisnya besar. Sehingga keduanya dapat berkembang dan maju bersama. Sayangnya, kebanyakan pengurus koperasi bukan seorang entrepreneur – pebisnis. Sehingga rata-rata, tidak mengerti skema lapangan, problem para dan basic-basic problem yang ada di tingkatan pemain bisnis. Akibatnya apa yang dilakukan anggota koperasi itu susah ditangkap oleh pengurus koperasi. Sehingga kebijakannya jarang bisa menyentuh problem dasar dari pelaku bisnis level UMKM.

Menurut Wiyadi, yang juga mantan pengurus Credit Union Cindelaras Tumangkar (CU CT), pengurus yang saat ini diketuai Wakidi, baru bisa. Sekarang dibentuk kelompok-kelompok, misalnya kelompok pedagang mie ayam. Dalam satu kelompok terdiri 5 orang. Namun tidak diistilahkan pemberdayaan. Disebutnya kumpul bersama, menyatakan kesadaran basis bahwa kita tidak bisa makmur sendiri-sendiri, tapi bisa makmur bareng. Mereka diminta untuk menceritakan sukses story masing-masing. Setelah berkumpul 2 – 3 kali dibuatkan mekanisme dan tanggung jawab bersama, namanya Tanggung Renteng, untuk disepakati. Atas nama kelompok, mereka langsung bisa pinjam Rp10 juta, jaminannya bukan sertifikat tanah, atau surat-surat berharga lainnya, melainkan 5 orang anggota kelompok tersebut.

Di sebagian besar koperasi, pengurus dan manajemen yang mengerti bisbis di luar koperasi hanya sebagian kecil saja. Secara sistem tidak ada pengkondisian kepada pengurus dan manajemen, supporting program juga tidak punya. Jadi, an sich hanya tentang manajemen koperasi. “Karena pengurus koperasi pada umumnya bukan pebisnis, kecerdasannya di bidang entrepreneur – kewirausahaan perlu ditingkatkan,” jelas Wiyadi, seraya memberi contoh menarik, pengurus di CU Angudi Laras (CUAL) Purworejo, Jawa Tengah, pengurusnya diwajibkan mengikuti workshop entrepreneur –pendidikan dan pelatihan kewirausahaan yang diadakan di CUAL. Bahkan, sekecil apa pun semua pengurus diwajibkan menjadi pelaku usaha. Dengan demikian mereka akan mengerti tentang bisnis, sehingga ada dampak mutualisme, dan semua berjalan. Kalau tidak, koperasi berkembangnya akan lambat, UKM juga sama.

Jika pelaku UKM yang juga anggota koperasi mendapat pendidikan, pelatihan kewirausahaan dan pendampingan, mereka akan cepat naik kelas, koperasi pun akan berkembang lebih pesat. Tidak usah ngomongi dari level mikro ke makro, tetapi dari modal Rp10 juta menjadi Rp20 juta pasti akan lebih cepat. Kalau pengurus tahu ada model pembacaan peluang bisnis, koperasi tak perlu khawatir. Sebab, sebelum belanja, anggota yang akan mengakses dana sudah mengisi formulir, dan harus berjanji, misalnya, uang untuk belanja mie. Kemudian, bagaimana belanjanya mie, juga kasih ilmu pengetahuan dan akses.

Belanja mie, kata Wiyadi, jangan langsung ke pasar, tetapi tanya dulu ke yellow pages di buku telepon. Di situ ada tidak, grosir mie. Kalau tidak ada, perlu dibantu, kulak mie yang bisa murah sekali di mana? Lalu, mie itu dijual dengan cara bagaimana. Yang terakhir, bagaimana mengelola duit jika mie sudah laku. Sebab ada cicilan dan tambahan dari modal pinjaman ke koperasi. Wiyadi meyakini, jika semua dikelola dengan baik berdasarkan keilmuan, 99% tidak akan rugi. “Dengan kegiatan produktif, rantai setannya sudah terputus. Rantai setan itu adalah sifat konsumtif, uang hanya untuk belanja konsumtif. Ketika kran konsumtif ditutup, usaha anggota pasti maju,” tegas Wiyadi.

Pada dasarnya, setiap orang punya basic – dasar modal, dan dasar aset. Modal dan aset hendaknya tidak selalu dihitung nominal, berupa uang. Aset yang bukan, katakan kita pegang mulut; “Kalau aku bisa jahit. Maka, usaha yang harus dilakukan, kursus jahit, gratis.” Kalau punya tangan, bisa gunting rambut. Dengan memiliki skill atau keterampilan gunting rambut berarti sudah punya modal. Di mana pun seseorang tinggal, di mana pun dia hidup tanpa modal uang, jika punya semangat, dan berani menghadapi medan pertempuran yang brutal, dia pasti bisa menjadi pengusaha,” kata Wiyadi menyemangati. Sebetulnya, menurut dia, tidak ada satu orang pun yang tidak punya apa-apa. Setiap orang punya potensi. Persoalannya, bagaimana orang tersebut mau menggali potensi diri, dan mengembangkannya.

Revolusi mental untuk menjadi pengusaha itu kata Wiyadi; “Ayo berani gelut, tidak usah mikir S1, S2, S3, yang penting, siapa pun musuhnya lawan!” Berdasarkan pengalamannya sebagai pelaku UKM, yang paling elok dan indah dalam kompetisi pasar saat ini adalah menjadi produsen. Problemnya, siklusnya menjadi satu, multifungsi; ya pemodal, produsen sekaligus penjual. Hal ini kadang-kadang membuat bisnis tidak fisibel. Berproduksi perlu inovasi, kreativitas dan standar ilmu tinggi untuk menjaga kualitas produk. Setelah itu dipusingkan urusan distribusi, menjual, narik tagihan, dan kulakan bahan baku. Akhirnya kelelahan sendiri karena otak, tenaga dan fikirannya sudah habis terkuras. Namun, jika mengawalinya dari modal kecil, mau tidak mau semua memang harus kita kerjakan sendiri. Dan ini pun ada nilai positifnya, bisa menciptakan pasar baru.

Hukum bisnis, naik kelas menjadi keharusan. Yang mikro menjadi kecil, yang kecil naik menjadi menengah, kemudian menjadi besar, dan ingin menjadi konglomerat, multinasional – internasional. Namun rata-rata pelaku UKM, setelah operasional bisnisnya jalan, seperti hanya menjadi ritual sendiri. Usahanya tidak dikembangkan. Tidak seperti memelihara hewan yang dirawat dengan baik agar kesehatannya terjaga, atau tanaman yang terus dipupuk supaya subur dan cepat besar. Kalau biasanya panen setelah 2 bulan, kemudian baru sebulan sudah bisa panen.

Pelaku UKM lupa, bisnis itu mestinya tumbuh persis seperti tanaman, seperti hewan, atau bayi yang setiap hari semakin besar. Sebagai pelaku bisnis harus selalu up date pengetahuan dan menciptakan terobosan-terobsan baru. “Bukan hanya itu, bagaimana pula preventifnya. Bila kompetisi di lapangan makin menggila, bagaimana cara menghindar dari kompetisi brutal. Daya dorong modal yang masuk seberapa besar, peluang-peluang apa yang ada di sekitar sebagai ceruk peluang baru, sering tidak dipikirkan,” urai Wiyadi.

Dari dosen banting setir menjadi pengusaha, mengawalinya melakukan revolusi mental; pertama merevolusi basis spiritual. Kedua, revolusi mempersepsikan hidup yang lebih baik. Misalnya, membuat anak isteri menjadi bahagia, cukup sandang pangan dan papan. Kemudian yang ketiga, bagaimana cara mencetak duit. “Menurut saya, jika ketiga hal tersebut bisa klop, melompat kerja apa pun mudah. Kalau mau memperoleh penghasilan yang lebih besar, jangan menjadi orang gajian. Maka jadilah orang non gajian, dengan cara menggaji dirinya sendiri,” tegasnya. Dalam praktik lapangan ada pepatah kuno mengatakan; “Siapa yang memegang perut bumi dia yang menentukan wajah atasnya.”

Menurut perhitungan Wiyadi, sebelum mengundurkan diri sebagai dosen, kalau tetap ngajar sebulan hanya dapat gaji Rp3.750.000 x 12 bulan = Rp45 juta setahun. Dengan penghasilan sebesar itu, kemudian melihat potensi, berfikir; “Saya gendheng banget. Hidup saya sudah dibatasi, ini tidak logis.” Karena merasa mampu berkarir – berkarya lebih, tekadnya bulat mundur dari kampus. Pertanyaannya, bagaimana caranya mencari uang. Pilihannya, menjadi entrepreneur. Dengan semangat membara, mulai bisnis jualan pupuk tanaman. Kulakan, ambil dari teman lalu dijual lagi.

“Ternyata tidak semudah berteori, bisa memasarkan. Bisnis pupuk tidak bisa menyuburkan rezeki, dan akhirnya modal pun habis. Kemudian bisnis kedua jualan krupuk – trasi, ambil dari Juwono, Pati, Jawa Tengah, dijual di pasar Jogya. Nasib belum baik, gagal lagi, modal juga habis lagi. Yang ketiga, jualan burung. Tidak jalan, modal bais. Dan yang keempat jualan elektronik, ambil dari pegadaian-pegadaian yang tidak ditebus penggadai, dijual lagi. Tersendat, tetapi modal juga tidak habis,” urai Wiyadi tentang perjuangannya menggapai mimpi.

Dari pengalaman jatuh bangun, setelah dicermati, dievaluasi, dan dikristalkan, cara bisnis ada 6 model mencari peluang, seperti telah diraikan sebelumnya. Kini, Wiyadi punya beberapa jenis bisnis. Salah satunya, kolam renang Nabura. Usaha kolam renang itu, katanya, juga tidak langsung meraih keuntungan. Dibuka tahun 2013, pada tahun pertama gagal total, lantaran pendekatannya berbasis modal. Merasa punya uang cukup banyak, beli tanah, bikin kolam renang. Setelah kolam selesai, apa yang terjadi? Konsultan membuat pesanan kolam, perspekstifnya bukan perspektif entrepreneur, tetapi perspektif orang bangun kolam, tidak memikirkan bagaimana menjualnya kepada konsumen.

Kolam renang yang dibangun menghabiskan biaya sekitar Rp2 miliar itu setelah dioperasikan membutuhkan biaya sangat besar. Setrum listrik untuk menggerakkan pompa saja 7.700 W, bayar rekeningnya sebulan Rp20 juta – Rp25 juta. Belum obat untuk menjaga kebersihan air, dan kesejahteraan tenaga kerjanya. Akibatnya harus jual karcis minimal Rp25.000 per orang. Karena harga tiketnya terlalu tinggi, tidak ada yang masuk mau berenang. Pada tahun pertama tidak ada penghasilan. Wiyadi pun melakukan riset. Akhirnya ketemu cara, mengurangi penggunaan listrik yang berlebih. Supaya air tetap jernih, sekarang menggunakan garam dapur untuk memanen kotoran. Garam ditebar di kolam pada sore hari setelah tutup kegiatan. Juga ada bantuan paranet–jaring untuk mengurangi sinar matahari masuk ke kolam yang biasa digunakan oleh para petani. Untuk keperluan siklus air pada malam hari menggunakan pompa kecil, yang setrum listriknya 70 W.

Wiyadi mengaku, untuk membersihkan – perawatan air tidak menggunakan zat kimia – granulasi yang harganya 1 tablet Rp2,3 juta, atau Poly Alumunium Chloride (PAC) 1 tablet harganya Rp450.000. Keduanya untuk penggunaan 1 minggu. Sedangkan menggunakan garam 50 Kg untuk 1 bulan dengan harga Rp75.000. Penggunaan garam dapur harus dengan perhitungan yang baik, porsinya benar. Dihitung besarnya kolam, jumlah pengunjung yang berenang, mereka bertelanjang dada atau mengenakan jeans. Kemudian debet sinar matahari yang masuk kolam, musim hujan atau kemarau. Bisnis kolam renang pun harus dengan hitungan-hitungan yang cermat. Jika tidak, akan bangkrut. Karena perbedaan biaya operasional yang sangat besar itu akhirnya memberikan keuntungan.

Kolam renang banyak yang mahal, karena menggunakan teknologi standar. Tidak berinovasi. Sedangkan kolam renang Nabura menggunakan teknologi sangat sederhana. Sehingga harga tiketnya murah, orang kampung bisa berenang setiap hari. Inovasi itu oleh Wiyadi sekarang jual. Orang kalau mau belajar mengelola kolam renang bisa kursus selama 1 minggu, bayar Rp25 juta. Wirausaha mengelola kolam renang, sangat menguntungkan. Jika dikonversi seluruh biaya pengelolaan tidak sampai Rp100.000 per hari. Sedangkan jumlah pengunjung hariannya di kisaran 250 – 400 orang. Mereka boleh berenang suka-suka, dari pagi sampai sore. Sekali isi air, ibaratnya untuk seumur hidup. “Selain ada sesuatu yang membuat hancur, seperti kerontokan debu dan pasir dari gunung merapi, yang membuat air menjadi kotor, akan aman-aman saja. Dalam 2 tahun sudah BEP.

Wiyadi mengaku, bisnis kolam renang, ada alasan internal dan alasan eksternal. Alasan internal, ingin anak isteri tidak meninggalkan rumah. Dan yang kedua, di kampungnya ada sentra ekonomi baru yang bisa melibatkan orang banyak. Dengan mereka bisa titip kue, bisa bekerja mengurus kolam renang. Kemudian yang ketiga, ini sangat penting, pendapatannya fantastis. Alasan eksternalnya, kolam renang pasarnya abadi, dan nonstop karena tidak bisa disubtitutkan ke tempat yang lain. Di mana pun tempat memproses, gampang. Yang penting, harus menjadi kebutuhan orang tua. Cari hiburan yang murah. “Kebetulan, tahun-tahun belakangan renang ini sedang booming. Bagi umat Muslim, termasuk salah satu olah raga sunah. Ada  tiga olah raga sunah yaitu; memanah, berkuda, dan berenang. Sehingga muatan lokal sekolah-sekolah Islam hampir semua berenang itu wajib,” jelas Wiyadi.

Sekarang Wiyadi menjalin kerja sama dengan 78 sekolah yang punya jadual tetap siswa-siswanya berenang di Nabura. Ini resmi kontrak paket per semester. Dan bisa diperpanjang. Untuk menjalin kemitraan dengan sekolah-sekolah, melalui paguyuban guru-guru olah raga se kecamatan. Mereka setiap 3 bulan sekali pasti ada pertemuan, dan Wiyadi hadir bersilahturahmi. Ibaratnya titip ke pasar yang sudah ada. Sekolah-sekolah sangat terbantu dengan keberadaan Nabura. Penawarannya, jika sekolah menggunakan kolam renang Nabura, hanya membayar 50% dari harga standar.

Guru semuanya tidak membayar, bahkan dapat fasilitas minum dan snack. Nabura bisa menciptakan pasar baru, karena pedagang kecil. Khususnya pembuat kue bisa titip dijualkan. Bukan hanya usaha snack, tapi juga membuka sekolah renang Nabura yang melibatkan 12 orang instruktur – pelatih renang yang bukan dari sekolah. Kalau dari sekolah, mereka harus rutin datang. Pada kaktu – jam dan kurikulumnya yang ditentukan oleh guru sekolah. Kalau yang kursus, tergantung yang ikut. Waktunya fleksibel. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *